
"Irwan, Ayo Sayang berangkat!" ujar Rita sembari mengetuk pintu kamar Irwan dengan berpakaian rapi dan sudah mengenakan tas dilengannya.
"Mama manggil, ngk, ngk gue belum siap, mampus gue tadi mengiyakan permintaan Papa gitu aja, mati gue " rutuk Irwan mulai panik. Lelaki itu meletakan remote vs yang ada ditanganya diatas karpet, dan berusaha untuk mencari ide, ia tetap membiarkan vsnya hidup dan melangkahkan kakinya menuju gorden yang menutupin jendela kamarnya dan bersembunyi didalamnya.
"Aman" gumam Irwan. Menghela nafasnya panjang setelah tidak lagi mendengar teriakan Mamanya dari luar
"Irwan, keluar Sayang" teriak Rita lebih kuat dari sebelumnya. Irwan kembali panik mendengar suara wanita yang melahirkanya itu ternyata masih berada ditempat itu dan terus menyebut namanya, Irwan menolehkan pandanganya kearah bawah dan melihat ternyata kedua kakinya tidak tertutup oleh gorden itu.
"Akhhh sudahlah lagian aku sudah putus dari Suli" ucap Irwan pasrah. Dengan malas ia menidurkan badanya diatas ranjang dan menyelimutin tubuhnya dengan selimut dan pura pura sedang tertidur dengan pulas.
"Irwan, kamu tidak bisa seperti ini terus kamu sudah dewasa" teriak Rita dengan tegas.
"Masuk aja Ma" pinta Irwan dengan suara khas orang bangun tidur
Sesuai perintah dari Anak sulungnya, wanita itu memasukin ruangan yang menjadi privasi Irwan yang sudah menjadi miliknya sejak 20 tahun lebih. Ia melihat putranya itu yang sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur seperti ia baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak karena mendengar suara bisikan darinya pikir wanita paruh baya itu.
"Kamu capek ya Sayang?" tanya Rita. Dengan kelembutanya Mama dari dua Anak itu ia mengelus rambut Irwan dengan tulus
"Irwan capek banget Ma, mau istrirahat" elak lelaki kembali menutup matanya palsu
"Yaudah kamu tidur lagi" balas Rita tersenyum
"Bener Ma?" Mata Irwan seketika berbinar penuh kebahagian ia segera bangkit dan duduk dihadapan wanita itu dan langsung mengengam tangan Rita dengan erat.
"Kita ngk jadi kerumah wanita itukan?" perasaan senang tidak dapat lelaki itu sembunyikan dari wajah dan bibirnya, seketika jiwanya kembali hidup dan bersemangat akhirnya apa yang diinginkanya terjadi, tidak akan ada perjodohan yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Tapi nanti setelah kita pulang dari rumah Icha" jawab Rita kembali tersenyum penuh makna
"Maksud Mama?" binggung Irwan dengan mengerutkan keningnya
"Tidurnya nanti setelah pulang dari rumah Icha biar sekarang sekalian capeknya" Mendengar jawaban Mamanya yang benar benar membuatnya kecewa Irwan kembali merebahkan badanya dan memeluk guling yang ada didekatnya serta mengalihkan pandangan dan badanya dari Rita.
"Irwan capek banget Ma, kepala Irwan juga pusing" jawab Irwan dengan lemas
"Loh kok tiba tiba sakit begini tapi tadi sehat" heran wanita itu
"Mana ada orang Irwan sakit dari tadi kok" jawab Irwan dengan memanyunkan bibirnya
"Masak ia kamu sakit? Mama ngk yakin paling juga alasan doang"
"Irwan sakit Ma, Mama mau nanti Irwan bersin bersin didepan Besan Mama?"
Uhhhuuuuukkkk
Lelaki itu kembali bersandiwara dengan mengeluarkan suara batuk palsu dari mulutnya dan bangkit dari tidurnya serta kembali mendudukan bokongnya dihadapan Mamanya dengan memelaskan wajahnya agar terlihat pucat dan Rita percaya kalau dia sedang sakit dan pertemuanya dengan keluarga Harmansyah tidak terjadi.
"Yang mana sakit Sayang?" tanya Rita. ia mengeluarkan suaranya dengan nada manja agar usaha putra sulungnya itu tidak begitu sia sia, ia juga meperhatikan setiap tubuh Irwan dengan seksama dan wajah cemas.
"Kok ngk ada Sayang?" tanya Rita lagi setelah merogoh seluruh badan Irwan namun tidak ditemukanya tempat atau bekas luka yang tertinggal
"Kan sakit kepala Ma mana nampak kalau jatuh tadi ia ada bekasnya" jawab Irwan
__ADS_1
"Gitu ya Sayang?"
"Iya Ma lagian ini kening Irwan panas Ma" ucap Irwan sembari menempelkan telapak tanganya diatas keningnya sendiri
"Aduh masak Anak kesayangan Mama sakit sih" ucap Rita seperti Ibu Ibu pada umumnya yang mengecek bayinya yang sedang menangis ia juga memegang kening Irwan untuk memastikan ucapan putranya itu, Membuat Irwan sedikit tegang pada Mamanya jika ketahuan ia sedang berbohong dan tidak sakit sama sekali hanya saja ia memang sedang menolak permintaan Orang tuanya yang memaksakan kehendaknya.
"Iya Sayang" balas Rita. Matanya membulat seketika keningnya berkerut dengan wajah yang ikut menegang menatap lelaki yang ada dihadapanya, Irwan ikut binggung dengan ucapan dan respon dari Mamanya yang benar benar membuatnya tidak mengerti, Apa Mamanya percaya dengan ucapannya yang sedang berbohong? atau Mamanya memang sedang tidak bercanda.
"Kamu mau coba bohongin Mama" ucap Rita mulai murka dengan menoyor kepala Irwan sedikit keras bahkan posisinya kini sudah berdiri dan kedua tangan menempel dipinggang rampinyanya.
"Bu ... bukan ... git ... gituu Ma" elak Irwan
"Jadi apa Haa" teriak Rita sembari menjewer telinga Irwan
"Ma Maa sakit Ma" ringis Irwan kesakitan berusaha untuk melepas tangan Mamanya yang menempel ditelinga kirinya namun bukanya terlepas justru tangan itu malah menempel semakin kuat
"Kamu siap siap sekarang dan secepatnya kita akan berangkat kerumah Icha"
"Ma Mama yakin mau biarin Anak Mama menderita karena menikah dengan wanita yang tidak dicintainya"
"Itu lebih baik karena lambat laun kamu dan Icha akan saling mencintai daripada kamu menikah dengan wanita matre yang hanya menguras hartamu dan akan meninggalkanmu ketika kamu tidak memiliki apa pun, bukan hanya matre wanita itu juga tukang selingkuh dan tidak bisa setia dengan satu lelaki dengan tujuan untuk menguras harta lelaki yang lain dan Mama tidak akan membiarkan Anak Mama masuk kedalam perangkap gadis itu" jelas Rita. Nampak keseriusnya dalam berbicara dan tidak sedikit pun kebohongan yang tercipta diwajahnya, ia berbicara dengan wajah datar dan nada bicara yang tidak dapat dipungkirin kebenaranya, Karena tidak akan ada seorang Ibu yang membiarkan Anaknya masuk kedalam kehidupan yang penuh dengan penderitaan, sebelum Anaknya itu benar benar masuk kedalam salah satu korban Suli.
"Mama tahu dari mana Suli tukang selingkuh, Suli wanita setia Ma dan dia bukan wanita matre seperti yang Mama tuduhkan bahkan dia berasal dari kelurga baik baik" ujar Irwan. Nada bicaranya lebih keras dari Rita, Irwan berdiri dibelakang Ibunya yang berada didepanya, walaupun hubunganya dengan Suli sudah berakhir bukan berarti cintanya hanya sampai disini ia masih saja terus membela wanita itu dihadapan Orang tuanya dan tidak akan terima jika ada orang lain yang menjelek jelekan Kekasihnya itu.
"Karena Mama sudah lihat langsung makanya Mama bicara seperti ini sama kamu dan asal kamu tahu tidak akan ada Orang yang tega membohongin Anaknya sekali pun dia berbohong pasti ada kebaikan yang tersimpan didalamnya"
__ADS_1
"Tapi Suli Bukan seperti itu Ma" jawab Irwan. Perasan tidak terima dalam hati lelaki itu semakin menjadi karena Ibunya tidak pernah memberi restu sedikit pun pada hubunganya dengan Kekasihnya itu, Dengan perasaan marah ia pergi meninggalkan Ibunya didalam kamarnya dan pergi entah kemana dengan tujuan yang tidak jelas.