
Sedangkan Irwan dan Icha yang kini sudah berada dalam satu atap dan hanya berdua didalam rumah besar itu setelah seluruh tamu dan orang tuanya pulang.
"Kak, Apa tidak sebaiknya kak cari tahu yang sebenarnya mengenai hal yang Papa bilang!" ucap Icha sembari memasukan baju bajunya kedalam lemari yang ada dihadapanya.
Irwan yang tadinya terkurap diatas kasurnya, kini menatap Icha dengan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Irwan.
"Kan tidak ada salahnya jika kita mencari tahunya!" balas Icha.
"Apa kau juga meragukan kalau Mama Rita adalah sosok wanita yang melahirkan ku dengan susah payah?" ucap Irwan yang kini sudah berada dihadapan istrinya itu.
"Bukan seperti itu Kak, Papa juga tidak mungkin mengatakan sebuah perkataan yang hanya menimbulkan perdebatan saja, bisa jadi ada suatu hal yang terjadi dikeluarga ini yang belum Kakak ketahui!" ucap Icha.
"Tutup mulutmu! Kau belum sehari menjadi Istriku kini sudah berani mengatakan kalau Mamaku bukan orang yang melahirkan ku!"
"Kak, tidak ada salahnya kita mencari tahu kebenaranya bersama!"
"Tidak ada kebenaran yang perlu dicari, Mama Rita adalah Mama ku sekarang dan selamanya!" tegas Irwan.
"Baiklah!" pasrah Icha pada akhirnya dan memilih melanjutkan kegiatanya merapikan dan memasukan baju bajunya kedalam lemarinya.
Irwan kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur sembari memainkan ponselnya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu ponsel Irwan berdering dan tertera nama kontak "Sayang" dan Irwan langsung mengangkat telpon itu dengan cepat.
"Ada apa?" acuh Irwan.
"Apa benar kamu sudah menikah?" tanya Suli dengan suara sendunya.
"Apa urusan mu?" tanya Irwan balik.
"Bukan urusanku! aku hanya ingin memastikan saja!" balasnya.
"Bukankah kita sudah putus?"
"Tapi aku masih sangat menyanyangi mu!"
"Aku terbawa emosi!"
"oh!"
"Irwan, plis dengerin aku! Aku yakin kamu juga masih sangat menyanyangiku!"
"Tidak perlu sok tahu tentangku!"
Irwan kemudian langsung mematikan sambungan telponnya itu secara sepihak, sebenarnya Irwan sendiri juga tega melakukan hal itu pada gadis yang sangat dicintainya, tapi apa boleh buat ia harus melakukan hal itu agar memberi efek jera pada gadis itu dan tidak mudah untuk mengucapkan kata putus sekali lagi.
__ADS_1
"Kak, Tolong ambilkan koper itu!" ujar Icha dengan ragu dan sedikit takut.
Irwan menorehkan pandanganya pada Icha yang tengah membawa pakaian yang hampir setinggi tubuhnya. Lelaki itu bukanya membantu justru ia membalikan tubuhnya agar tidak terus menatap wanita yang tengah kerepotan itu.
"Aku minta maaf kejadian kemarin, aku belum siap putus!"
Irwan terus menatap pesan singkat yang dikirim Suli itu padanya, senyum tipis terbit dibibirnya saat membaca kalimat itu karena sebenarnya ia sendiri masih sangat mencintai Suli.
"Plis, aku ingin bicara! bolehkah kita bertemu sebentar saja!"
Lagi lagi Suli terus saja mengirimkan pesan padanya, apa mungkin wanita ini betul betul menyesali perbuataanya. Dengan jari jemarinya Irwan membalas pesan itu.
"Ketemu ditempat biasa!" balas Irwan pada pesan itu.
"Baiklah!" balas Suli hanya dalam hitungan detik.
"Kak!" panggil Icha lagi yang semakin kewalahan dengan pakaian pakaian yang ada ditanganya.
Tak menghiraukan panggilan dari Icha, Irwan memilih mengambil jam tangannya yang terletak diatas mejanya dan merekatnya dipergelangan tanganya.
Ada rasa sakit yang sebenarnya dirasakan oleh Icha melihat perlakuan suaminya itu, harusnya ini adalah malam pertamanya tetapi, suaminya itu malah pergi meninggalkanya tanpa memberitahunya.
Ia ibarat sebuah patung yang dipajangkan disebuah ruangan terlihat indah namun, tidak memiliki arti lain selain menambah kesan indah saja. Berusaha berfikir positif Icha mengangap suaminya itu akan melakukan kegiatan kantornya hingga tidak sempat membantu dan memberitahunya.
__ADS_1
Gadis itu kembali melanjutkan kegiatanya setelah menghembus nafas gusarnya.