
Seorang gadis cantik baru saja keluar dari kamarnya dengan gaun panjang berwarna lilax yang dipadukan dengan warna putih pada bagian bawahnya dan kepalanya dibalut oleh hijab berwarna putih dan polesan make up natural diwajahnya. Ia menghampiri Mama dan Papanya yang sudah berada diruang keluarga ditemani Bi Iyem yang membantunya berjalan, diruangan itu juga sudah terdapat Ramli dan Rita yang tengah menunggu kehadiranya dan ada pula seorang lelaki muda yang duduk disebelah Ramli.
Semua orang yang ada ditempat itu menatap memukau pada penampilan Icha yang dinilai luar biasa, Selain wajahnya yang cantik hari ini ia juga memakai baju syar'i yang baru saja dibelinya dari mall bersama ayahnya tadi karena gadis itu sebelumnya tidak pernah mengunakan baju gamis apalagi mengenangkan hijab dikepalanya.
Dengan senyuman dibibirnya gadis itu duduk ditengah tengah papa dan mamanya yang duduk bersampingan. Rasanya kenyaman ini sudah belasan tahun tidak dirasakanya dan ini baru terjadi lagi sejak pertengkaran hebat orang tuanya dan juga neneknya yang selalu menuduh dan memfitnah Rosmala dan sejak kejadian itu pula mama dan papanya tidak lagi pernah akur dan selalu bertengkar walaupun hanya masalah kecil.
Ingin rasanya Icha berlama lama dalam posisi ini agar terus menikmati kasih sayang yang sudah hilang sejak lama darinya namun, ini juga akan segera berakhir karena keputusanya untuk menikah dengan Irwan sudah bulat, Seandainya pun ia membatalkanya, orang tuanya tetap tidak akan memberikanya kasih sayang, kasih sayang yang baru saja ia dapatkan hanyalah semata mata karena ini adalah detik detik terakhir ia menjadi tanggung orang tua karena sebentar lagi Icha sepenuhnya akan menjadi milik Irwan.
"Sebelum acaranya dimulai saya kebelakang dulu ya!" pamit Iyem yang hendak beranjak dari tempatnya.
"Jangan dong Bi!" cegah Icha mencekram tangan Iyem yang akan meninggalkan tempat ini setelah menghampiri pembantunya itu.
"Bibi gak mau gangu acara Non, apalagi ini akan menjadi hari bersejarah bagi Non," ucap Iyem.
"Justru acara ini tidak akan menjadi spesial jika tidak ada Bibi!"
"Ta ... ta ... tapi Non!"
"Sudahlah Bi ayo!" ujar Icha yang langsung mendudukan Iyem disalah satu sofa yang masih kosong dan kemudian duduk ketempat semula.
"Baiklah tujuan dan maksud kedatangan kami kekediaman keluarga Harmansyah adalah untuk meminang putri dari Bapak Ady Harmansyah dan Ibu Rosmala yaitu Icha Harmansyah untuk Putra kami Muhamad Hotmadia Irwansyah!" ujar Ramli dengan suara lantang ditengah tengah keheningan yang sedang terjadi.
"Baiklah!, Saya sebagai Orang tua dan Ayah dari Icha Harmansyah menerima niatan baik dari Bapak dan Ibu selagi hal itu membahagiakan putri kami Icha namun, kembali keputusan kepada yang bersangkutan anak kami karena kami sebagai Orang tua hanya mampu mendoakan yang terbaik Saja." balas Ady Harmansyah.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ibu Rosmala?" tanya Ramli dengan penuh kehormatan.
"Saya sebagai wanita yang melahirkanya dengan ikhlas menyerahkan anak saya pada Irwan jika sudah ada kata sah diantara keduanya namun, jika tangisan terlalu sering terjadi pada putri saya dengan berat hati maka, Icha kembali saya bawa pulang, itu syarat dari saya," ucap Rosmala dengan tegas.
"Bagaimana Irwan kamu bersedia?" tanya Ramli mengarahkan pandanganya pada Irwan yang masih saja fokus pada layar ponselnya.
"Saya bersedia!" ujar Irwan dengan malas.
Mata lelaki itu menatap ayahnya dengan tatapan tidak suka dan tangan yang masih saja mengengam ponselnya sementara orang yang ditatap sangat tidak peduli dengan lirikan tajam dari Irwan.
Dan Rita tersenyum melihat tatapan yang dilontaran anaknya pada Ramli, tentu Irwan mengira pesan singkat itu dari papanya karena nomor yang mengirimkan chat itu adalah nomor yang biasa papanya pakai, padahal sms itu diketik dan dikirim oleh Rita pada Irwan mengunakan handphone suaminya, pesan singkat yang dikirim Rita berupa ancaman jika tidal memenuhi persyaratan yang Rosmala ajukan padanya.
"Lalu bagaimana Pak, Bu?" tanya Ramli.
"Kalau persyaratanya dapat dipenuhi maka sekarang tergantung pada anaknya" jawab Ady.
"Icha bersedia Om, Tante!, tetapi bolehkah Icha meminta mahar dengan surah Ar-Rahman atau An-nisa?" ujar gadis itu tertunduk malu.
Ia malu ketika mengakui keinginanya untuk dinikahin dengan ayat suci Al Quran namun, kelakuanya masih jauh dari kata baik dan mulia. Bahkan ia termasuk gadis yang berpakaian tetapi masih telanjang maksudnya adalah memakai baju tetapi masih menampakan aurat, Tetapi tidak salahkan bila dia mengutarakan keinginanya untuk dinikahin dengan mahar yang diinginkanya? dan mendapatkan pria yang dapat membimbing kedalam Jannahnya sang pencipta.
"Bagaimana Nak Irwan?" tanya Ady. Kini lelaki itu yang menanyakan langsung pada calon menantunya yang masih saja tertunduk memainkan ponselnya seperti tidak peduli dengan apa yang sedang dibahas dan dibicarakan oleh mereka.
"Bisa!" jawab Irwan dengan santai. Tampa mengalihkan pandanganya dari layar ponselnya membuat Ramli menghadiahinya tatapan tajam pada anaknya itu. Seakan mengerti dengan arti tatapan itu Irwan langsung menegakan tubuhnya dan mengarahkan matanya menghadap depan dan meletakan ponselnya diatas meja yang ada dihadapanya.
__ADS_1
"Berarti lamaran kami diterima?" tanya Rita antusias dengan wajah yang tampak berseri seri dan mata yang terus berbinar.
"Lamaran Ibu diterima!" balas Rosmala tersenyum lebar pada wanita yang duduk dihadapanya.
"Semoga lelaki ini dapat membimbing dan membahagiakan Icha, anak ku!" gumam Ady menatap Irwan penuh harap.
"Bagaimana jika pernikahanya kita selenggarakan seminggu lagi?" ujar Ramli.
"Ide yang bagus," Ady.
"Berarti mulai besok kita harus mempersiapakan segalanya," Rosmala.
"Tetapi saya minta maaf sebelumnya, saya tidak dapat menjadi Wali nikah untuk Icha" ujar Ady dengan lesu,
Deeeghhhhhhh.
Lagi lagi kata kata itu keluar dari mulut Papanya Ia sempat mengira bahwa ucapan itu hanya sekedar ucapan belaka yang keluar dari mulut Ady beberapa hari yang lalu, Namun kenyataanya sekarang lelaki itu kembali mengucapkan kalimat yang benar benar menyayat hatinya.
"Kita bisa pakai Wali hakim untuk menikahkan Icha atau siapa saja yang berkenan" ucap Ramli yang sudah mengerti dengan arah pembicaraan Ady. Rita yang semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan keduanya berusaha menyimak dan menatap Suaminya itu dengan binggung.
"Papa kenapa sih Pa? ngk pernah mau jadi Wali nikah aku?" ucap Icha yang berdiri dihadapan Ady dengan buliran cairan bening yang mengalir dari kelopak matanya.
"Dengerin Papa dulu Sayang!" ucap Ady. Berusaha menenangkan Icha dan mendudukanya kembali.
__ADS_1
"Apa yang mau didengerin Pa?" ucap Icha menyingkirkan tangan Ady dari kedua pundaknya dengan kasar.
"Kamu duduk dulu dengerin Papa bicara!" ujar Rosmala. Menarik tangan anaknya agar kembali duduk disebelahnya.