ICHA Is My Wife

ICHA Is My Wife
Mengulah


__ADS_3

"Selain Suli matre gadis itu juga adalah keturunan dari Kardi Pangso yang merupakan musuh besar yang sudah mendarah daging hingga 3 keturunan berturut turut" ujar Rita. Kini wanita itu menoleh kearah belakang dan sudah tidak ditemukanya lagi putranya itu, Ia mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Anak sulungnya itu yang dianggap tidak memiliki sopan santun


Tanpa memperdulikanya ia segera menghampiri lemari besar yang ada didalam kamar Irwan dan mengambil celana dan baju sepasang yang akan dipakainya nanti malam saat berkunjung kekeluarga Harmansyah serta meletakanya diatas ranjang Irwan setelah itu ia keluar dari ruangan yang menjadi privasi Irwan.


"Mama apa apaan sih selalu aja berperasangka buruk sama Suli jelas jelas Suli adalah gadis yang baik dan selalu mengerti dengan kondisi Orang tuanya bahkan kadang ia juga membantu perekonomian keluarganya" kesal Irwan. Lelaki itu berdiri ditengah teriknya matahari yang didepanya terdapat kolam renang yang berukuran besar dan sangat luas


"Aaaaaaaaaaaaa" teriak Irwan keras


"Kenapa kamu Irwan?" tanya Ramli.


Ramli yang sedari tadi menunggu kehadiran Istri dan Anaknya diruang keluar yang tak juga kunjung datang akhirnya, memutuskan untuk menghampiri mereka yang dipastikanya sedang berada dikamar Irwan, Namun saat akan melintasi kolam renang ia melihat Anak sulungnya yang berada ditepi kolam renang dengan berteriak kencang.


"Irwan kesal sama Mama" jawab Irwan acuh. Tanpa menolehkan pandanganya pada Papanya yang sudah berdiri tegak dibelakangnya


"Memang Mama kenapa?"


"Mama selalu aja ngejelekin Suli"


"Memang Suli sudah jelekan?"


"Mama sama Papa sama aja ngk pernah melihat sisi baik Suli tetapi kelakuan jahatnya selalu Mama dan Papa ingat" kesal Irwan


"Kamu mau Mama dan Papa tidak lagi menjelek jelekan Suli sampai kapan pun"


"Ya jelaslah Pa"


"Nikahin Icha maka kita akan berhenti menghina wanita matre itu"


"Itu sama aja Papa secara ngk langsung ngehancurin hubungan aku sama Suli"


"Kata orang jika kamu mencintai seseorang maka kamu harus siap melepasnya jika itu untuk kebahagiaan dia, apa salahnya jika kamu lakukan itu biar Suli juga bahagia"


"Kebahagiaan Suli ada sama aku Pa"


"Kebahagian Suli bukan Pada kamu tapi pada kondisi keuangan kamu"


"Berapa kali aku harus bilang Pa, Suli ngk matre coba Papa lihat lagi baik baik"


Tak mau lagi memperpanjang perdebatanya dengan Anaknya, Ramli mengambil ponselnya dari dalam sakunya dan menunjukan sebuah vidio pada Irwan yang menampakan tubuh Kekasihnya itu dengan jelas.

__ADS_1


"Aku adalah wanita yang membutuhkan banyak uang bukan lelaki setia karena hidup butuh biaya bukan cinta"


Suara itu muncul dari bibir wanita yang bernama Suli, ia tengah duduk bersama seorang Sahabat perempuanya disebuah café santai dengan secangkir minuman dihadapan keduanya.


"Tapi suatu saat kamu akan mengerti bahwa hidup tidak selalu tentang uang dan kamu pasti akan membutuhkan lelaki yang bisa memberikan mu cinta bukan hanya harta dan kamu juga akan mengerti bahwa kamu butuh seorang lelaki yang paham akan diriku bukan hanya mengirimin kebutuhan mu saja" jawab wanita yang duduk dihadapan Suli


"Kamu yang akan mengerti nanti kalau semua kegiatan membutuhkan uang bukan cinta"


Ramli mematikan ponselnya dan kembali menyimpanya kedalam sakunya setelah durasi vidio yang baru saja diputarnya habis, Irwan juga memperhatikan gerak dan gerak dari Suli Kekasihnya itu.


"Gimana?" tanya Ramli yang melihat eksperesi yang keluar dari wajah Irwan sekan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya


"I ... itu cuman"


"Cuman apa ha?"


"Papa salah paham kok"


"Salah paham katamu ini sudah ada buktinya


"Mu .. mung kin dia itu lagi jadi itu"


"Pa, Suli gadis baik aku tidak akan percaya jika aku tidak menanyanya langsung Pada orangnya"


"Tidak ada maling yang mengaku Irwan"


"Tapi Pa"


"Kamu sekarang siap siap atau Papa akan tetap bilang gadis itu adalah wanita matre yang hanya ingin uang mu saja"


"Pa, Irwan sudah dewasa Irwan bisa tentukan pilihan Irwan sendiri tanpa harus Papa campurin, Irwan bukan Anak anak lagi Pa"


"Buktinya kamu salah dalam memilih"


"Bukan aku yang salah tapi Papa yang tidak perna melihat kebaikan di diri Suli makanya Papa selalu bilang dia matre, justru sebaliknya wanita pilihan Papa adalah gadis yang matre"


"Icha tidak matre, dia tidak butuh uang dan kekayaan karena tanpa menikah denganmu pun dia sudah memilikin segalanya, keluarga dia justru lebih kaya dibanding kekuarga Hotmadia bahkan kekayaanya tidak akan habis sekalian pun Icha dan Papanya tidak lagi bekerja"


"Berarti disini Papa dan Mama yang matre menjodohkan aku dengan orang yang lebih kaya agar kekayaanya jatuh pada kitakan?"

__ADS_1


"Jaga mulut kamu Irwan! Papa jodohkan kamu dengan dia karena dia Anak baik, dia memiliki sopan santun yang tinggi, dia juga tahu cara memperlakukan Orang tua, bahkan Anak kecil mana yang tidak ingin dipeluknya, hanya saja dia terlahir dari keluarga yang hancur, Papa menjodohkan kamu dengan dia agar dia mendapatkan kasih sayang walau bukan dari Orang tuanya dan Papa juga yakin Icha mampu mengubahnya sifat jelek kamu ini yang tidak pernah bisa nurut akan perintah dari Orang tuanya"


"Pa tidak semua kehendak Orang tua harus kita lakukan terkadang Orang tua juga melakukan kesalahan dalam memilih"


"Icha adalah gadis terbaik buat kamu"


"Paa hmm"


Irwan menghentikan ucapanya secara paksa saat Ramli mengangkat telponya yang berdering, Lelaki itu menghempaskan tanganya keudara dengan kesal sekaligus menahan amarahnya, Ia mengalihkan pandanganya dari lelaki paruh baya itu dan menghadap kearah langit


"Ia Icha ada apa?" tanya Ramli dengan ponsel yang sudah menempel ditelinganya


"Om jadi kesini?" tanya wanita itu dari sebrang


"Ia ini bentar lagi berangkat"


"Icha minta maaf ya Om yang sebesar besarnya Icha ngk bisa kalau hari ini Papa ada meeting dikantor dan ngk bisa dicancel bisanya baru besok atau lusa" ucapnya tak enak


"Yasudah kalau begitu tidak apa apa yang penting sudah dikabarin"


"Iya Om makasih ya Om atas pengertianya"


"Iya om kan juga pekerja jadi, Om ngerti tentang kesibukan Papa kamu"


"Maafin Icha ya Om"


"Iya, kamu jangan sedih gitu masih ada waktu besok"


"Nanti pasti Icha kabarin"


"Yasudah kalau begitu"


Ramli menatap tajam kearah Anak lajang yang ada didepanya itu sembari memasukan ponselnya kedalam sakunya, Selesai melihat Papanya mengangkat telponya ia kembali memutar badanya dan menghadap kearah lelaki paruh baya itu.


"Kamu senengkan Icha cancel acaranya?"


"Baguslah kalau begitu" acuh Irwan


Ia meninggalkan Papanya yang masih berdiri di kolam renang dan berjalan menuju kamarnya dengan santai tanpa beban

__ADS_1


__ADS_2