ICHA Is My Wife

ICHA Is My Wife
Sikap Aneh Irwan


__ADS_3

Irwan semakin menguatkan genggaman tanganya pada Icha dan tersenyum manis menatap wajah Icha yang mulus dan dibalut make up natural diwajahnya.


Icha membalas senyuman itu dengan senyum bahagia pula, Irwan melangkahkan kakinya menuju mobil dengan mengandeng tangan Icha.


Entah mengapa sejak mengendarai mobil Irwan selalu menatap wajah Icha yang duduk dikursi sebelahnya, terkadang ia juga mengalamin kesalahan dalam membawa mobil karena pandanganya terus saja tertuju pada gadis yang ada disebelahnya. Icha yang merasa sedang dilihatin membuatnya semakin gugup dengan pandangan Irwan.


"Ka ... kamu"


"Kamu cantik" gumam Irwan.


"Kak .. itu, awas" teriak Icha menunjuk sebuah benda yang ada di arah depan, melihat mobil yang dikendarainnya mulai memasukin area jalan lain dan akan menabrak motor yang akan menyebrang dihadapanya.


Dengan kesigapaan Irwan mengotak atik setir mobilnya dan dengan cepat langsung menghindar dari motor yang berlawanan arah denganya. Icha mampu bernafas lega saat melihat ia dan orang yang mengendarai motor itu selamat kemudian, melemparkan pandanganya pada Irwan dan hanya dibalas cengiran oleh Suaminya itu.


Tak perlu waktu lama akhirnya, mobil yang dikendarai keduanya berhenti disebuah pekarangan luas dan lebar yang tak lain adalah halaman rumah Irwan, Irwan memberikan kode keluar dari dalam mobilnya pada Icha dengan memakai sebelah alisnya.


Keduanya keluar secara bersamaan dari dalam mobil dan Irwan langsung kembali mengandeng tangan Icha yang sempat terlepas dari gengamanya. Seperti tak menyangka dengan apa yang terjadi dan tak pernah dibayangkan oleh Icha sebelumnya kalau Irwan akan bersikap semanis ini padanya. Ia melirik kekanan kekiri dan seluruh sekitaranya untuk melihat ada atau tidak orang yang menyaksikanya dengan Irwan, mungkin saja Irwan lakukan ini hanya untuk mendapat pujian dari orang orang dan tidak tulus dari dalam hatinya.

__ADS_1


Namun, sepertinya dugaan gadis ini salah tidak ada orang yang melihat perlakuan Irwan, Apa mungkin Irwan memiliki rasa padanya? tapi sejak kapan? bukankah, Irwan adalah orang tidak menginginkan perjodohan ini. Ahhh sudahlah, Icha berusaha menepis seluruh fikiran kotor yang terlintas dibenaknya.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah, langkah selanjutnya keduanya harus terhenti ketika suara besar mulai mengema, suara yang sangat familiar ditelinga keduanya.


Icha dan Irwan sempat saling pandang saat mendengar suara dari Ayah Irwan, dan kemudian membalikan tubuhnya menghadap belakang yang ternyata sudah terdapat Orang tua dan Mertua Irwan yang termasuk orang tua dari Icha dan disana juga sudah ada Iyem dan Afdhal.


Afdhal menatap kedua tangan yang saling mengengam erat itu, tatapan sinisnya seketika muncul dan ada rasa tidak suka pada Irwan yang mengengam tangan yang sebelumnya pernah digengamnya. Icha melihat jelas ada ketidak sukaan dibinaran mata Afdhal saat ia mengengam tangan Irwan, karena itu pula Icha melepaskan gengamanya perlahan dari Irwan.


"Kenapa kalian masih disini?" tanya Ramli yang semakin mendekati keduanya.


"Jadi, kita mau kemana Pa?" tanya Irwan pula yang dibikin binggung oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh Ramli padanya yang dianggap aneh.


"Tapikan .. kit ... kita belum punya rumah" jawab Icha dengan suara pelan tetapi, masih terdengar oleh siapa saja yang ada disekitarnya.


"Buat sementara kalian tinggal dirumah kami setelah, kalian memiliki tabungan sendiri maka wajib bagi kalian meninggalkan rumah pemberian kami dan membeli rumah untuk kalian sendiri" jelas Rita dengan sinis.


"Kenapa kita tidak tinggal serumah sama Mama aja?" tanya Icha.

__ADS_1


"Biar kalian belajar mandiri sekalian biar bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri" jawab Ady.


"Sudahlah, Ayo masuk!" sewot Afdhal yang langsung menerobos Irwan dan Icha dan langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah besarnya.


"Afdhal kok gitu ya" fikiran Icha kembali melayang saat melihat tingkah Afdhal yang tidak seperti biasanya, biasanya Afdhal selalu bersikap sopan dengan siapa saja dan dimana pun itu tapi, kenapa kali ini sikapnya beda seperti orang yang tidak memiliki tata krama, ada apa dengannya?.


"Yasudah, ayo masuk!" ajak Ramli.


Seketika lamunan Icha buyar saat mendengar suara Mertuanya. Ia langsung mengalihkan pandangannya dari Afdhal yang masih berada didaun pintu dan menutupi semua pertanyaan yang masih terlintas diotaknya.


Semua anggota keluarga mulai mendudukan bokongnya dikursi yang ada diruang tamu keluarga Ramli ditemanin secangkir kopi setiap orang yang sudah disediakan oleh pembantu rumah tangga dirumahnya.


Afdhal menatap Icha dengan mata yang berkaca kaca, rasanya baru kemarin dia bermain lari lari, bercanda bareng, tertawa renyah dan menikmati indahnya senja disore hari. Seperti belum bisa menerima kenyataan dan belum mampu berdamai dengan keadaan kalau gadis yang dicintai telah menjadi Kakak Iparnya, tak lain adalah Istri dari Abangnya.


Kenapa perasaan yang bertahun tahun dipendamnya sedikit pun tidak memberi celah baginya untuk memiliki Icha sepenuhnya. Kesalahan ini terjadi bukan hanya karena Icha tetapi juga karena Afdhal yang sampai saat ini tidak pernah mengungkapkan isi hati dan perasaanya pada Icha sampai ia menjadi Istri orang pun, Afdhal belum pernah menyatakan kalau dia memiliki rasa yang berbeda pada Icha selain rasa teman.


"Ma, Aku kekamar dulu ya" izin Irwan bangkit dari kursi yang didudukinya dan ikut membangkitkan Icha.

__ADS_1


"Yasudah"


__ADS_2