ICHA Is My Wife

ICHA Is My Wife
Susah bangun


__ADS_3

"Pa, Mama ikutkan?" Tanya Icha. Posisinya kini ia sudah berada diruang keluarga, matanya mengarah pada Ady yang tengah menonton televisi


"Hmm kalau itu kamu tanya saja sama Mama kamu langsung" jawab Ady mematikan siaran televisinya dengan repot yang ada ditanganya


"Mama ikut?" tanya Icha lagi


Saat wanita paruh baya hendak lewat dari hadapan keduanya sembari merapikan tas yang bergantung dilengan kananya


"Kemana Sayang?" tanya Rosmala yang masih sibuk memastikan barang barang yang dibutuhkan sudah lengkap didalam tasnya.


"Jalan sama Papa" jawab gadis itu


Rosmala langsung menatap lelaki yang masih duduk disofa itu, Ia sedang bermimpi atau salah dengar, Suaminya mau mengajak Anaknya jalan tanpa ada perintah darinya


"Gimana ikut atau tidak?" tanya Ady pada Istrinya itu sembari bangkit dari duduknya


"Kalian mau kemana?" Rosmala


"Belum tahu kita lihat nanti saja, yang jelas aku ingin menghabiskan waktu ku hari ini bersama Anak kesayanganku" ucap Ady seraya merangkul bahu Putrinya itu. Icha menatap tangan Papanya yang menempel dipundak kirinya, mungkin bagi kebanyakan Anak ini adalah kasih sayang yang kecil tetapi, bagi Icha ini adalah perlakuan yang sangat istimewa dari Papanya.


"Aku tidak bisa ikut aku sedang ada arisan mungkin lain waktu" jawab Rosmala yang langsung meninggalkan keduanya dan melewati pintu masuk begitu saja.


*****


"Irwan buka pintunya!" teriak Ramli dari balik pintu kamar Irwan


"Irwan bangun" teriak Ramli lagi karena tak ada sahutan


"Irwan" karena Anaknya itu terus saja memancing amarahnya terpaksa Ramli harus mendobrak pintu kamar Putra sulungnya itu

__ADS_1


Sesampainya didalam kamar Anaknya, lelaki itu menemukan Irwan yang masih tertidur dengan lelap sebenarnya mata Anaknya seperti apa sampai ia mendobrak pintu pun Irwan tidak mendengarnya. Ramli mulai membuka gorden kamar Irwan agar Anaknya itu terbangun tampa harus merusak pinta suaranya, namun harapan tak sesuai ekpetasi setelah memberi cahaya pada kamarnya lelaki itu tetap juga tidak terbangun justru ia malah menutupi wajahnya dengan selimut.


Karena tak melihat tanda tanda Irwan akan membuka matanya, Ayah dari dua Anak itu mengambil benda yang terbuat dari aluminum yang ada dikamar Irwan dan memukulnya dengan keras namun, tetap tidak membuahkan hasil, ia melihat sepintas kearah telinga Anaknya itu yang ternyata telinganya saja tertutup oleh handset dengan volume suara yang kuat.


Ramli berusaha menarik selimut yang menutupin tubuh Irwan dengan paksa sepertinya kali ini Irwan menyadari kalau ada sesuatu yang mengangu tidurnya. Dengan mata yang masih tertutup ia juga menahan selimut itu agar tetap berada diatas badanya.


"Irwan bangun!" teriak Ramli tepat ditelinga Irwan setelah membuka hendset yang terpasang ditelinga Anak itu


"Apa sih Pa akhh" jawab Irwan yang masih dilanda kantuk. Remaja itu memutar badanya membelakangin Ramli agar tidak terus mendapat ganguan dari Papanya


"Irwan bangun, ini sudah jam berapa?" ujar Ramli melempar selimut Irwan kelantai barulah lelaki itu menyadarin kalau Papanya sudah benar benar marah padanya. Dengan malas ia mendudukan tubuhnya diatas kasurnya dan mata yang masih tertutup.


"Irwan ngantuk Pa, baru juga tidur" jawab Irwan dengan nada yang sangat lemas


"Baru tidur ini sudah jam berapa Irwan?" amuk Ramli


"Semalam kamu pasti begadang lagikan"


"Iya Pa, baru tidur jam empat shubuh dan masih pagi buta begini sudah Papa bangunin"


"Ngapain aja kamu semalam?"


"Main ps Pa"


"Main ps sampai jam segitu?"


"Namanya lagi banyak masalah Pa"


"Masalah apa?"

__ADS_1


"Sudahlah Pa ngk usah dibahas, Irwan mau mandi" ujar Irwan yang bangkit dari duduknya dan mengambil handuknya yang sudah tergantung rapi


"Nanti kita lamaran, Icha tadi telpon Papa kalau Papanya bisa hari ini" ucap Ramli, ternyata saat Icha menganti bajunya dan menyuruh Papanya untuk menunggu diluar ia menyempatkan untuk menelpon Ramli dan memberitahu hal itu


"Yaudah"


"Kamu jangan keluar kemana pun untuk hari ini apalagi menemui Pacar tidak jelas kamu itu"


"Papa itu yang ngk jelas" ucap Irwan langsung memasukin kamar mandi


Icha dan Ady keduanya saat ini sudah berada didalam mall, Icha yang tampak dengan asyik memilih milih baju ditemanin oleh Ady yang berada dibelakangnya


"Pa ini cantik ga?" tanya Icha menunjukan baju sepotong pada Ady yang digantungkan dibagian dadanya dan direspon gelengan kepala oleh Ady yang tidal menyetujui pilihan Anaknya itu.


"Kenapa?"


"Terlalu pendek Sayang kan ngk boleh yang nampak nampak gitu" balas Ady


"Ini gimana Sayang?" tanya Ady menunjukan sebuah dress yang cukup panjang pada Icha


"Icha ngk suka Pa terlalu wah warnanya norak dipake" balas Icha yang langsung mengalihkan pandanganya dari Ady dan mencari pakaian yang lainya


"Pa Pa Pa ini cocok ngk buat aku?" ucap Icha bersemangat dengan menunjukan sebuah baju gamis yang bagian bawah dan dipinggirnya terdapat renda yang sedemikian mewah dan unik, bagian pinggang yang dibuat bertingkat dan rok span yang tidak terlalu ketat, bagian ujung tangan yang tampak mekar bermotif bunga.


"Kamu yakin?" tanya Ady tak percaya, Lelaki itu menatap seluruh bagian baju itu dari atas hingga bawah yang tampak menutup seluruh lekukan tubuh Icha, bukankah sebelumnya Anaknya itu tidak pernah memakai baju seperti itu.


"Icha yakin Pa" jawab Icha dengan mata yang terus menatap bajunya itu sepertinya ia sudah benar benar jatuh hati pada pakaian itu


"Yasudah kalau kamu yakin, tambahin hijab biar tambah cantik dan perfeck" ujar Ady yang dibalas anggukan oleh Icha

__ADS_1


__ADS_2