
Tak lama setelah itu pula, Afdhal kembali menerima telpon dari Darius yang yang telah mengantar dan menunjukan tempat terbang*at yang pernah didatanginya.
"Ada apa?" tanya Afdhal.
"Dimana kau sekarang?" tanya Darius melalui sambungan udara.
"Aku masih dikamar yang kau sewakan untuk ku!" balas Afdhal.
"Keluarlah! ada banyak hal yang ini kutunjukkan, agar membuat mu terbebas dari masalah mu!"
"Apa kata mu? terbebas? justru kau menambah masalahku, wanita itu marah dan membenci ku sekarang!"
"Itu memang sudah tugas dia, memuaskan setiap pria yang ingin menikmati tubuhnya!"
"Kau sudah gila! bagaimana jika dia hamil?"
"Itu bukan tanggung jawab mu dan sebelum melakukan hal itu mereka sudah mengatur dan merancang apa yang seharusnya mereka lakukan dan sudah mengerjakan agar hal itu tidak terjadi!" jelas Darius santai.
"Bagaimana pun aku sudah menodai gadis yang tidak menaruh salah padaku!"
"Ini tidak salah mu, dia ketempat itu untuk mencari pekerjaan dan kau telah membantunya, jika kau tidak menyewanya malam itu, dia tidak akan mendapatkan upah apa pun, bayaran mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan!" jelas Darius lagi.
"Kau beber benar sudah gila!"
"Sudah aku katakan keluarlah dari tempat itu dan carilah tempat yang membuat mu tenang!" ucap Darius lagi.
Tak mau membantah dan mengoceh panjang lebar lagi, Afdhal mematikan sambungan telponya dan menatap langit langit atap kamar itu dengan penuh penyesalan. Bagaimana jika Ramli mengetahui ini, bagaimana jika Rita mengetahui dia telah merusak wanita yang belum pernah melakukan sebelumnya?.
Tak dapat dibayangkan lagi oleh Afdhal bagaimana raut wajah kekecawaan orang tuanya saat mengetahui hal bodoh yang telah dilakukanya dan apa respon yang akan Irwan berikan padanya saat tahu kalau yang mengajarinya seperti ini adalah musuh kakaknya sendiri.
__ADS_1
Arrrrrgghhhhhhh.
Afdhal meledakan amarahnya dengan menendang anak kaki meja yang ada didekatnya dan berteriak sekencang mungkin.
Ternyata, sejak tadi Sisilya sudah selesai mandi dan menganti pakaianya dengan baju yang lebih sopan dari malam itu. Ia memperhatikan Afdhal yang terus merutuki dirinya dari balik pintu kamar mandi.
Ada rasa kasihan dihati wanita itu saat melihat Afdhal yang sangat menyesali perbuataanya dan melihat betapa hancurnya sekarang hati lelaki itu. Tetapi, bagaimana pun rasa kecewa Sisilya jauh lebih besar dari pada rasa kasihanya.
"Carilah tempat yang membuatmu tenang!"
Kalimat yang Darius ucapkan itu padanya seketika terngiang giang dibenaknya. Terlintas sejenak difikiranya kalimat yang pernah Ramli ucapkan padanya dan selalu papanya itu beritahu padanya sampai sekarang.
"Hanya masjid tempat yang bisa membuat kita tenang saat menyesali semua perbuatan kita!"
Setelah menghembuskan nafasnya berkali kali, Afdhal segera mengambil kunci mobilnya dan memakai kemeja yang semalam dipakainya.
Ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera mendapat tempat yang diinginkanya itu, tak perlu menunggu lama akhirnya ia menemukan sebuah masjid yang berukuran sedang dan kebetulan sedang sepi yang hanya ada pengurus masjid itu saja.
Entah mengapa tiba tiba saja penglihatanya kini beralih pada kemeja yang dipakainya itu. Seketika ia merasa jijik dengan bajunya itu, baju yang digunakanya untuk merusak kehormatan wanita.
Dengan cepat Afdhal menarik kemejanya itu, melepaskan dari tubuhnya dan disobek sobeknya mengunakan jari jemarinya, sisa sisa kain itu ia bawa keluar mobil dan membuangnya ketempat sampah yang ada dimasjid itu.
Selepas mengambil wudhu, Afdhal kembali menarik nafasnya panjang saat akan memasuki pintu masjid itu. Ia merasa tidak pantas untuk berada ditempat sesuci ini. Namun, tidak ada salahnyakan jika ia meminta ampunan pada sang penciptanya, begitulah pikir Afdhal untuk menyakinkan hatinya agar tetap memasuki tempat bersih ini.
Selesai melakukan sholat, Afdhal mengangkat kedua tanganya sejajar dengan wajahnya untuk melangitkan beberapa doa dan meminta pada Tuhanya untuk menghapuskan dosa yang pernah dilakukanya dan dosa besar yang baru dilakukanya.
Doa dan harapan itu ia panjatkan dengan sungguh sungguh dan penuh penghayatan, hingga air mata yang menjelaskan betapa menyesalnya ia atas perbuatan yang dilakukan.
"Ada apa dengan mu, Sobat?" tanya seorang anak muda yang usianya tidak terpaut jauh dari Afdhal.
__ADS_1
Ternyata lelaki itu sedari tadi memperhatikan Afdhal yang terus menangis sembari berdoa hingga sesugukan itu.
Afdhal menatap pemuda itu dengan samar samar karena matanya yang sembab dan kemerahan akibat terlalu banyak menangis.
"Aku hanya ingin berdoa!" jawab Afdhal.
"Apakah kau sedang banyak masalah?" tanya pemuda itu lagi yang kini sudah duduk didekat Afdhal.
"Aku hanya ingin merasakan ketenangan!" balas Afdhal tampak berani menatap sosok lelaki itu.
"Namaku Danuar, kamu bisa menganggapku sebagai teman dan aku juga bisa mendengarkan cerita dan jika mampu aku juga akan membantu masalahmu!" balasnya tersenyum tulus.
"Aku ingin sendiri!" jawab Afdhal dengan wajah yang menahan buliran air mata itu agar tak kembali jatuh.
"Baiklah, bertanyalah apabila ada sesuatu yang ingin ditanyakan!" balasnya.
Selesai berkata demikian Danuar meranjakan kakinya untuk mengambil Al quran dan membacanya tak jauh dari Afdhal.
Afdhal mendengar setiap lantunan yang keluar dari mulut Danuar, suaranya yang merdu dan bacaanya yang tepat membuat hati Afdhal tersentuh dan semakin damai mendengarnya, fikirannya semakin dibuat tenang dan hatinya yang tadinya sesak kini sedikit terasa lapang.
"Aku ingin bercerita sedikit!" ucap Afdhal ketika Danuar menjeda bacaanya!"
Mendengar perkataan Afdhal, Danuar menghentikan dan menyudahi bacaanya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Danuar setelah menyimpan Al qurannya dan kini duduk berhadapan dengan Afdhal.
"Tidak ada!" jawab Afdhal.
Sungguh sikap Afdhal kini benar benar aneh dan membingungkan, padahal Danuar sudah berniat baik padanya untuk mendengarkan ceritanya tetapi lelaki itu justru malah pergi meninggalkan Danuar dengan berjalan cepat seperti orang yang sedang dikerjar kejar. Ada apa denganya?
__ADS_1
Didalam mobil Afdhal kembali meneteskan air matanya ingin sekali rasanya ia menceritakan masalahnya ini tapi, kesiapa? tidak mungkin dia menceritakan pada seseorang yang baru saja dikenalnya, bukanya tidak percaya namun mencegah lebih baik pikirnya.
Biasanya setiap ada masalah seperti ini ia selalu menceritakan pada mama atau papanya, tetapi sekarang dia harus menceritakan kesiapa, tidak mungkin baginya untuk menceritakan kekotoranya pada orang tuanya, sama saja seperti dia sedang minta dibunuh oleh mereka karena sepengtahuanya orang yang ada didalam rumahnya itu adalah orang orang yang sangat membenci orang yang melukai dan menyepelekan wanita, apalagi hal seperti ini, sama saja ia sedang mencari mati.