ICHA Is My Wife

ICHA Is My Wife
Nostalgia


__ADS_3

Irwan diatas ranjangnya duduk memperhatikan Icha yang disibukan memasukan baju dari dalam lemari kedalam kopernya. Tiba tiba pandanganya terhenti saat mendengar deringan suara handphonenya, matanya kini tertuju pada layar ponselnya dan segera mengangkat panggilan itu.


"Iya dong, aku pasti mau" jawab Irwan setelah ponselnya menempel ditelinga kananya dengan senyum manis yang terbit dibibirnya.


Icha menghentikan sejenak kegiatanya dan menatap heran pada Irwan yang tersenyum seorang diri didepan layar ponselnya. Padahal baru saja tadi Irwan bersikap manis padanya kini disaksikan didepan matanya Irwan bertelponan dengan wanita lain begitu bermesraanya dan suara yang begitu lembut terdengar.


"Siapa Kak?" tanya Icha saat Irwan memasukan ponselnya kedalam saku celananya.


"Bukan urusan lo!" ketus Irwan


"aku cuma nanya kok, Kak!" ujar Icha tertunduk.


"Kamu cepat cepat beres beresnya biar kita cepat keluar dari rumah ini" ucap Irwan yang ikut membantu pekerjaan Icha memasukan baju bajunya kedalam koper walaupun berantakan.


"Kok Kakak semangat gitu buat pindah?"


"Suka suka gue!" balas Irwan.


Selesai membereskan beberapa pakaianya kedalam koper dengan semangat Irwan mengeret koper itu keluar dari dalam kamarnya dan tangan kirinya yang mengengam tangan Icha dengan erat membuat Icha semakin aneh dengan sikap lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


"Ma, Pa, semua sudah beers!" ucap Irwan.


"Kamu semangat sekali pindahnya, Sayang!" ujar Rita dengan mata yang sedikit sinis menatap besan perempuanya itu.


"Iya Ma, mulai sekarangkan Icha tanggung jawab aku!" ujar Irwan tersenyum manis.


Icha hanya menunduk dengan sikap manis yang dilontarkan Irwan pada semua orang yang ada didalam rumah mertuanya itu.

__ADS_1


Afdhal yang menyaksikan wanita yang dicintainya bersanding mesra dengan kakaknya sendiri membuat hati hancur terlebur begitu saja, ia hanya mampu menelan ludahnya sendiri menyaksikan pemandangan tak sedap yang ada dihadapanya.


Dendam? tentu tidak! namun, perasaan hancur tetaplah melabui hati seorang Afdhal yang selalu terlihat ceria dihadapan banyak orang, kini ia hanya mampu menundukan pandanganya kearah bawah agar tidak menambah rasa perihnya.


"Papa titip Icha sama kamu ya!" ujar Ady dengan menepuk pundak kanan Irwan.


"Iya Pa!" balas Irwan tersenyum.


"Mulai sekarang Icha menjadi milik mu seutuhnya tapi jangan sekali kali kamu sakiti dia!" ujar Rosmala pula.


Iyem yang menjadi saksi dihari bahagianya Icha justru menaruh rasa iba pada Afdhal yang hanya tertunduk sedari tadi tampa mengatakan sepata kata pun.


Iyem juga menjadi saksi diantara persahabatan yang dijalin oleh Icha dan Afdhal sejak kecil yang membuat Icha menaruh hati pada Afdhal namun, jodoh tak mempersatukan mereka, justru kini keduanya malah menjadi ipar.


Icha juga menatap kearah Afdhal sekilas, cairan bening yang mengalir diwajah sahabatnya itu disaksikan dengan jelas oleh Icha, ingin saat itu Icha mengambil tisu dan mengelap air mata yang jatuh dari pelupuk mata lelaki yang ia cintai.


Tak disadari Icha, ternyata Irwan juga menatap Icha yang menatap adiknya itu dengan tatapan sendu, sebenarnya ada rasa kasihan dihati Irwan pada Afdhal dan juga Icha karena dirinya, dua sejoli yang saling mencintai itu harus berpisah apalagi Irwan tau betul kalau Afdhal sangat mencintai Icha namun, ini juga bukan kemauanya melainkan kemauan Papanya yang sangat menginginkan perjodohan ini.


"Yasudah mari kita berangkat!" ajak Ramli.


"Afdhal tinggal, Pa!" ujar Afdhal pada akhirnya, Berusaha sekuat mungkin agar tetesan bening itu tidak kembali jatuh.


"Afdhal, kamu tidak boleh seperti itu, ayo ikut!" ucap Rita yang langsung berjalan mendahului semua orang yang ada dirumah mewah ini.


"Afdhal ngk bisa, Ma!" ujar Afdhal yang langsung menaiki anak tangga yang ada dirumahnya menuju kamar pribadi miliknya.


"Afdhal, jangan seperti anak anak!" teriak Ramli karena anak bungsunya itu hampir mencapai puncak tangga.

__ADS_1


"Sudahlah Pa, tidak apa!" ujar Irwan.


Didalam mobil menuju rumah barunya bersama Irwan hanya ada keheningan diantara keduanya, Wajah lesu Afdhal masih terlintas jelas dibenak Icha.


Pikiran buyarnya kembali memenuhi otaknya, nostalgia beberapa tahun lalu masih melekat jelas diingatakanya dan memori itu masih tersimpan dengan jelas diubun ubunya.


"Kamu kenapa, Cha?" tanya seorang anak lelaki yang baru saja menghampiri Icha dengan beberapa buah kelereng ditanganya yang kemudian diletakanya diatas tanah dan ikut berjongkok ditanah untuk mensejajarkan posisinya dengan sahabat wanitanya itu.


"Doni, Doni, dia mengambil kuncir rambutku!" balas Icha sesegukan karena terlalu banyak menangis.


"Sudahlah, jangan menagis, nanti aku akan pukul dia dan ambil lagi kuncir rambutmu!" balas Afdhal sembari kembali merapikan rambut Icha yang sudah berantakan.


"Jangan nangis lagi ya!" ujar Afdhal yang kini membantu Icha berdiri dan membersihkan baju Icha yang sedikit dilumuri oleh pasir.


"Kamu kemana aja? kok kamu ninggali aku disini?" ujar Icha yang masih saja menangis.


"Maaf, tadi aku bermain kelereng bersama teman cowok!" ucap Afdhal.


"Kamu jangan tinggali aku lagi ya!" ucap Icha yang langsung memeluk dengan erat tubuh Afdhal.


"Aku janji akan terus jagai kamu!" ucap Afdhal yang membalas pelukan itu sembari tersenyum hangat.


"Aku mau nanti kamu jadi suami aku, kayak Papa sama mama kamu!" ujar Icha dengan polosnya.


Icha masih saja termenung, mengingat kejadian 15 tahun lalu membuat hatinya semakin hancur dan teriris. Dulu ia yang meminta agar menjadi istri Afdhal, sekarang justru ia sendiri yang melingkari janjinya itu dan malah menikah dengan Irwan.


Sedangkan Irwan yang duduk disebelahnya terus memainkan ponselnya tampa sedikit pun berniat untuk menanyakan pada Icha mengapa wajah terlihat begitu lesu.

__ADS_1


__ADS_2