
"Akhhh sudahlah lupakan saja" ujar Irwan menghentikan pertanyaannya itu yang membuat Suli mampu bernafas lega
"Sekarang kita jalan jalan yuk, aku kangen banget sama kamu" lanjut Irwan yang kini sudah mengengam tangan Suli dengan erat dengan wajah memelas dan kemudian mencium tangan itu cukup lama
"Aduh gimana nih mana aku ada janji lagi sama Doni aku tolak aja kali ya? tapi kalo aku tolak sayang dong ngk jadi belanja di Mall, kalo sama Doni mah paling kalo belanja dibatasin ama dia, Doni kan ngk setajir Irwan, mending sama Doni aja yang ngk jadi deh" gumam Suli dalam hati mulai mempertimbangkan tawaran Irwan dan menatap sinis pada Irwan
"Sayang" panggil Irwan dengan manja. Ia mengerutkan keningnya seakan meminta jawaban gadis itu dengan tangan yang masih mengengam tangan Suli.
"Haa.. iya sayang" kaget Suli
"Gimana kamu mau ngk?"
"Iya maulah Sayang! kitakan udah lama ngk jumpa" ucap Suli yang langsung memeluk lengan tangan kanan Irwan dengan manja
"Ihh kamu mah bikin aku tambah sayang tau ngk?" ucap Irwan yang kembali mengacak acak rambut Suli
"Ihhh Sayang berantakan lagi nih" ucap Suli manyun dan merapikan kembali rambutnya
*****
Sementara ditempat lain didalam suatu ruangan yang cukup besar terlihat lelaki paruh baya yang tengah menonton tayangan tv dengan ditemanin secangkir kopi disampingnya
"Pah!" sapa Icha tertunduk. Ia langsung duduk dilantai dibawah sofa yang didudukin Papanya itu
"Hmm" sahut Adi sembari menikmati secangkir kopi miliknya itu tanpa mengalihkan pandangannya kearah Icha
"Icha mau menikah" ucapnya yang masih menunduk takut akan amuk lelaki yang ada dihadapanya itu
"Kapan?" tanya Adi dengan mata yang terus menatap layar tv itu dengan santai
"tiga minggu lagi Pa"
"Sama siapa?" tanya lelaki itu kini menatap Icha dengan serius
"Sama Kak Irwan Pah"
"Sini duduk disebelah Papa!" ucap Adi sambil menunjuk tempat yang ia maksud, Icha menatap Papanya itu penuh tanya
"Sini!" Adi menarik tangan Icha dengan lembut agar segera menaiki sofa dan duduk disebelahnya
"Kamu sudah yakin dengan pilihan kamu?" tanya Adi menatap serius pada Anak gadis yang ada di hadapannya itu dan hanya dibalas anggukan oleh Icha
"Papa do'ain yang terbaik buat kamu" ucap Ady tersenyum manis dan menepuk pelan pundak Icha
"Papa ngk marah sama Icha?" tanya icha mulai memberanikan diri menatap Papanya itu
"Buat apa Papa marah Anak Papa kan udah besar, sudah bisa nentuin pilihan hidupnya sendiri" ucap Adi dan langsung disambut pelukan hangat dari Icha
"Baru ini Icha ngerasain pelukan dari seorang Papa" gumam Icha dalam hati ditengah tengah pelukanya
__ADS_1
"Tapi... " Icha melepaskan pelukanya kala mendengar ucapan Papanya yang terdengar sendu
"Tapi apa Pah?" tanya Icha penasaran
"Papa ngk bisa jadi Wali nikah kamu" ucap Adi menunduk
"Kenapa Pah?" tanya Icha mengangkat dagu Ady perlahan dengan sopan agar menatapnya
"Kamu pakai Wali hakim saja ya" ucap Adi tersenyum dan bangkit dari duduknya dan meninggalkan Icha diruangan itu sendiri
"Maafin Papa Sayang" gumam Adi menarik pelan nafasnya sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya, ia masih menatap Anak gadisnya itu yang masih duduk disofa dengan tertunduk lesu dari tempatnya yang sudah berjauhan dari Icha.
"Papa kenapa sih kirain udah berubah ternyata masih aja kek gitu, aku juga pengen Pa nikah didampingin oleh Papa aku" ucap Icha yang kini menatap kepergian Ady dengan cairan bening dari matanya
"Sayang kamu kenapa?" tanya Rosmala. Wanita paruh baya yang baru sampai dirumah dan mendapatin Putri kesayanganya tengah menangis diruang keluarga. Ia langsung menghampiri Anak gadisnya itu Dan duduk disebelah Icha.
"Kok nangis sih Sayang" ujar wanita beranakan satu itu. Ia menghapus air mata yang mengalir diwajah Icha dan membawanya kedalam dekapan hangatnya sebagai seorang Ibu.
"Sayang cerita sama Mama" ucap Rosmala sambil mengelus rambut Icha penuh kasih sayang
"Icha mau menikah Ma tapi Papa ngk mau jadi Wali nikahnya Icha" jelas Icha ditengah tengah tangisanya
"AAPPAAA?" teriak Rosmala dengan mulut membulat sempurna hingga Icha kembali duduk tanpa senderan Mamanya itu
"Kamu mau nikah sama siapa Sayang?" tanya Rosmala mengengam kedua tangan Icha dengan erat
"Kak Irwan Ma" jawab Icha yang kini tangisan sudah reda
"Insya Allah Icha sanggup Mah" ucap Icha tersenyum lebar dan langsung memeluk wanita yang ada dihadapanya itu
"Kenapa kamu ngk nikah sama Afdhal saja?" pertanyaan itu sontak membuat Icha melepaskan pelukanya dan membuat ia membungkam sesaat
"Mungkin jodohnya Icha emang Kak Irwan Mah" ucap Icha tertunduk
"Yasudah kalo itu pilihan kamu" ucap Raosmala tersenyum menyakinkan
"Oh iya kapan nikahnya?" tanya Rosmala penasaran
"tiga minggu lagi Ma" jawab Icha tersimpu malu
"Semoga berjalan dengan lancar ya Sayang"
"Tapi Papa ngk mau jadi Wali nikah aku Mah" ucap Icha sendu. Kata kata itu kembali menyayat hati Rosmala, masa lalunya seperti diingatkan kembali, membuat ia bungkam seribu bahasa dan fikiran kosong yang tengah menyelimutinya.
"Ma" panggil Icha dengan mendekatkan wajahnya dengan wanita paruh baya itu
"Iya Sayang" jawab Rosmala berusaha menutup seluruh lukanya dengan tersenyum pada Anaknya itu
"Mama kok diam aja" tanya Icha
__ADS_1
"Kita pakai Wali hakim aja ya Sayang" ucap Rosmala tersenyum
"Papa kan masih ada Mah kenapa harus pakai Wali hakim"
"Kelak kamu bakal tau kok Sayang" ucap Rosmala menepuk pundak kanan Icha pelan dengan senyum yang membalut dibibir Rosmala dan kemudian meninggalkan Icha diruangan itu
"Mereka kenapa sih?" tanya Icha sambil mengaruk rambutnya yang tak gatal
*****
"Bibi" panggil Icha. Gadis itu melangkahkan kakinya dan berjalan menghampiri Iyem yang sedang memasak didapur dan langsung memeluknya dari belakang
"Ehh ada apa ini?" tanya Iyem memegang tangan Icha yang berada diatas perutnya. Wanita itu kini sedang berada didepan kompor yang tengah mengoreng ikan
"Icha kangen" ucap Icha usil dengan mendekatkan wajahnya dengan Iyem dan memanyunkan bibirnya manja
"Pasti ada maunya nih" tebak iyem yang langsung memutar badanya menghadap Icha setelah mematikan kompor gasnya
"Ajarin Icha masak dong Bi" ucap Icha dengan nada memohon dengan kedua tangan disatukan
"Tumben mau belajar masak Non?" tanya Iyem sambil mengangkat ikan goreng yang sudah matang dari wajan
"Kan Icha mau jadi Istri orang Bi" ucap Icha semangat
"Oh iya mau jadi pengantin baru too" ucap Iyem yang kini sedang memotong wortel hingga beberapa bagian
"Sini bi biar Icha yang motongin" ucap Icha seraya mengambil pisau tajam dari tangan Iyem
"Kalau aku tanya Bi Iyem dikasih tau ngk ya kira kira kenapa Papa ngk mau jadi Wali nikah aku"
"pasti bakalan ngk dikasih tau" gumam Icha lagi dengan tangan yang sudah disibukan dengan memotong wortel
"Nih Non sekalian kentangnya" ucap Iyem menyodorkan beberapa kentang yang ada ditanganya
"Makasih ya Bi tadi udah mau nemenin Icha" ucap Icha sambil memotong kentang
"Iya Non" balas Iyem yang masih sibuk berjalan kesana kemari untuk mengambil berbagai perlengkapan masaknya yang lain.
*****
"Sayang aku tuh pengen kita jalan jalan ngelilingin taman misalnya, bukanya malah nungguin kamu nyalon gini" keluh Irwan dengan kedua tangan memegang koran. Keduanya kini telah berada didalam ruangan kecantikan, Irwan yang mulai jenuh menunggu gadis itu untuk menyelesaikan rambutnya yang entah mau dibikin seperti apa.
"Sabar atuh Yang, aku cantik kan buat kamu juga" jawab Suli yang masih ditanganin beberapa karyawan kecantikan disalon itu
"Iya tapi kan ngk sekarang juga nyalonya" kesal Irwan melempar koran yang ia pegang keatas meja yang terletak disebelahnya
"Aku bosan tau nungguin kamu dari tadi" ucap Irwan bangkit dari kursinya
"Sebentar Yang bentar lagi nih" ucap Suli
__ADS_1
"Hadeuh serah kamu lah Yang"