ICHA Is My Wife

ICHA Is My Wife
Afdhal


__ADS_3

Setelah kepergian semua orang yang mengantar Irwan dan Icha menuju rumah barunya, Afdhal seorang diri mengurung dirinya didalam kamarnya.


Seumur hidupnya ini adalah rasa sakit yang paling perih dirasakanya karena sebelumnya setiap dia memiliki masalah dia selalu curhat dan menumpahkan masalahnya pada Icha dan gadis itu selalu saja punya cara agar Afdhal kembali tersenyum dan sekarang dia harus bercerita kesiapa. Papanya? adalah orang pertama yang sangat menginginkan pernikahan ini. Mamanya? selalu marah jika dia berkata dia sangat mencintai Icha. Kakaknya? Irwan? adalah suami dari gadis yang dicintainya. Lantas, kesiapa sekarang dia mengadu?.


Hari ini Afdhal benar benar diyakinkan oleh kenyataan bahwa setiap masalah harus dihadapi sendiri walau tanpa pendukung bagi orang lain.


Untuk meluapkan amarahnya, Afdhal menendang semua meja yang ada didalam kamarnya tanpa tersisa satu pun, fikiranya kini sudah tidak dapat lagi berfikir jernih dan logis yang ada dibenaknya sekarang adalah bagaimana cara meluapkan semua amarahnya.


Lelaki itu mengambil kunci mobil yang terletak diatas meja dan pergi keluar dari rumahnya itu tampa sepengetahuan siapa pun dan ia juga sengaja meninggalkan handphonenya agar tidak ada seorang pun yang mengangunya.


Afdhal mengendarai mobilnya dengan sangat laju dan melarang peraturan lalu lintas, membelokan mobilnya tidak sesuai dengan tempatnya seperti lelaki ini benar benar sedang hancur dan akan sangat sulit untuk dikendalikan.


Hingga mobilnya terhenti dipinggir jalan dan duduk ditepi aspal, nafasnya masih tersenggal senggal, fikiranya masih buyar, penampilanya sangat berantakan sangat berbeda dengan Afdhal sebelumnya yang selalu tampak rapi dan berwibawa, cinta benar benar sudah menghancurkanya.


Kesempatan itu ternyata dimanfaat oleh geng Darius yang tidak sengaja melihat Afdhal yang berpenampilan urak urakan dari kejauhan.


Darius bersama teman temannya ikut memparkirkan motornya disebelah mobil Afdhal dan duduk disamping Afdhal yang sedang kacau.


"Ada apa dengan mu, Bro?" sapa Darius. Dengan sok akrabnya lelaki itu menepukan tanganya dipundak kanan Afdhal dan tentu Afdhal mengabaikan hal tidak penting itu.


"Apa maksudmu menemuiku?" tanya Afdhal dingin.


"Aku tidak sengaja melihat ditempat seperti ini dan dengan penampilan seperti ini, ada apa dengan mu?" tanya Darius lagi.


"Bukan urusan mu!" ujar Afdhal yang hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Darius dan gengnya itu. Namun, langkahnya langsung dihadang oleh anak buah Darius yang sudah berdiri dihadapan Afdhal.


"Suruh mereka pergi dari hadapanku!" pinta Afdhal.


"Aku tidak akan memerintahkan hal itu kecuali kau memberitahu ku mengapa kau duduk disini? sudah begitu besarkah masalah mu? "


"Itu bukan urusanmu!" ujar Afdhal lagi dengan tegas.


"Ayolah! setidaknya kamu bisa meluapkan amarahmu dengan menceritakan semua kesedihan mu padaku bahkan kau juga bisa memceritakanya dengan membentaku!" bujuk Darius.


"Kau tidak perlu tau tentang hidupku!" ujar Afdhal lagi.

__ADS_1


Namun, kali ini anak buah Darius mencengkram dengan kuat pergelangan tangan Afdhal yang kembali hendak meninggalkan mereka.


Mendapat perlakuan seperti itu, Afdhal langsung menendang bagian perut anak buah Darius dan tanpa aba aba anak buah Darius yang lain ikut menyerang bagian punggung Afdhal dari belakang.


Kepala Afdhal sempat mengenai tanah dan itu diberi jeda oleh Afdhal, Ia menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya sesaat dalam posisi yang masih tungkurap.


"Apa kamu masih tidak ingin bercerita?" tanya Darius menatap sinis kearah Afdhal.


"Untuk apa aku bercerita pada mu?"


"Setidaknya kau merasa sedikit lega!"


"Tidak akan ada seorang pun yang akan mengerti tentangku!" ujar Afdhal yang kini bangkit dari posisinya dan berdiri berhadapan dengan Darius.


"Aku akan mengerti tentang mu dan akan kupastikan untuk hal itu!" balas Darius tersenyum manis.


"Bagaimana aku dapat mempercayai ucapan mu?" tanya Afdhal yang menatap Darius dari atas hingga bawah dengan sinis.


"Apa aku pernah berkhianat dengan lidahku sendiri?"


"Silahkan bercerita padaku setidaknya akan sedikit membantu masalah mu!" ujar Darius yang kini merangkul pundak Afdhal.


"Irwan menikah dengan Icha!"


Entah mengapa tiba tiba saja kepercayaan Afdhal pada lelaki itu muncul begitu saja, padahal sebelumnya Darius adalah musuh terbesar Irwan dan Afdhal sendiri ikut membenci lelaki itu karena terlalu sering mengangu kakaknya.


"Icha Harmansyah?"


Darius kembali mengulang kata yang sempat terlintas dibibir Afdhal dan hanya dibalas anggukan oleh Afdhal.


"Sahabatmu dari kecil itu?" tanya Darius untuk kembali menyakinkan dirinya.


"Iya!" singkatnya.


Tangan Darius seketika mengepal, perasaan murka kini memenuhi otaknya namun, ia berusaha untuk menahanya karena ia sendiri harus menutup kebencianya dari Afdhal agar lelaki itu mau menceritakan lebih detail lagi.

__ADS_1


"Tapi belum ada kabar tentang pernikahan mereka,"


"Diselenggarakanya baru tadi pagi!"


"Lalu, mengapa kau disini?"


"Acaranya sudah selesai!"


"Mengapa wajahmu terlihat lesu begitu?"


"Siapa yang tidak tahu kalau Icha adalah sahabatku dari kecil dan aku pernah berjanji akan terus menjaganya dan sekarang dia menikah dengan saudara kandungku!" ujar Afdhal dengan mata berkaca kaca.


"Apa kau memiliki perasaan lebih kepada Icha selain seorang sahabat?"


"Iya, aku sangat mencintai Icha!"


"Ini adalah kesempatan bagiku!" gumam Darius dengan senyum licik yang muncul dari sudut bibirnya.


Darius adalah sesosok lelaki yang sangat membenci Irwan karena permasalahan kecil yang pernah mereka lalui sewaktu kecil dan sampai sekarang dendam itu masih ada dihati Darius dan bahkan Irwan juga selalu merespon dendam yang dimiliki Darius.


Ditambah lagi Darius juga memiliki perasaan lebih kepada Icha sejak Sma dan perasaan itu tidak pernah sedikit pun dibalas oleh Icha. Berulang kali Darius mengutarkan perasaanya namun, sekali pun tidak pernah diterima oleh Icha.


Tetapi tidak sedikit pun ada perasaan benci dihati Darius pada Icha karena Icha adalah orang yang selalu membelanya disaat semua orang membuli dan menghinanya karena dulu fisiknya tak sesempurna orang lain.


Sempat dikira Darius jika ia mengubah penampilanya dan merubah dirinya menjadi lebih baik Icha akan menerimanya namun, tetap saja Icha menolaknya dengan alasan jika Icha sudah mengganggap dirinya sebagai seorang teman.


"Sekarang kau bersedih dipinggir jalan seperti ini agar orang lain menganggap mu sebagai orang yang tidak waras." ujar Darius yang kini sudah berdiri dihadapan Afdhal.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Mari ikut dengan ku!"


"Kemana?"


"Ikut saja! aku akan membawamu ketempat yang akan membuat mu lebih dan bahkan selalu bahagia!"

__ADS_1


"Baiklah!"


__ADS_2