
"Papa emang ngk sayang sama aku dari kemarin bilangnya ngk mau jadi Wali nikah aku, kalau ngk Papa terus siapa yang akan menikahkan aku? Apa aku akan terus menjadi perawan tua?" ucap Icha setelah duduk disebelah Rosmala dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Kamu diam dulu ya biar Papa bicara" ucap Rosmala. Menutup bibir Icha dengan jari kelingkingnya dengan lembut dan memberikan isyarat kepada Ady untuk segera berbicara karena kondisi Icha sudah lebih tenang.
"Kamu sebenarnya ..." ujar Ady menarik nafas dalam dalam.
"Aku kenapa?" tanya Icha yang langsung berdiri dihadapan Papanya.
"Kamu ..."
"Iya aku kenapa?"
"Kamuu ...."
"Kenapa Papa ngk sayang sama aku atau aku bukan Anak Papa makanya Papa ngk mau nikahin aku".
"Bukan".
"Terus apa Pa?" tanya Icha. Mendongkakan kepalanya dan mengarahkan tatapanya pada Ady yang lebih tinggi darinya.
"Kamu Anak haram" jawab Ady tertunduk.
"Anak haram?" ucap Icha mengulang kata itu dengan suara melemah dan langsung terjatuh diatas sofa, Membuat orang yang ada diruangan itu langsung berdiri menyaksikan drama yang muncul dari keluarga kecil ini.
__ADS_1
"Hasil perzinaan Papa dan Mama kamu" ucap Ady.
"Jadi aku adalah buah dari hasil perbuatan dosa kalian" murka Icha dengan suara keras. Menatap secara tajam dan intens pada keduanya secara bergantian.
"Aku yang sudah belasan tahun tidak mendapatkan kasih sayang dari kalian dan sekarang mengetahui bahwa aku ada hasil dari perbuatan dosa yang kalian lakukan dan sekarang aku yang menangung atas apa yang kalian lakukan dimasa lalu" ucap Icha kembali dengan suara melemah.
"Gadis yang terlihat baik ternyata Anak haram" ucap Rita dengan sinis. Mendengar pelontaraan yang tidak baik dari mulut Istrinya, Ramli menyenggol bahu Rita pelan untuk memberikan kode tidak melanjutkan ucapanya itu yang akan membuat mental Icha semakin down dan terpuruk.
"Maafkan Papa Sayang" ucap Ady yang ikut menangis. Lelaki itu berusaha mengengam tangan Icha dan berjongkok dihadapan Anaknya, Namun Icha malah mengalihkan tatapanya dari Papanya dan tidak membiarkan tanganya disentuh oleh Ady.
"Maafin Papa Sayang" ujar Ady dengan kepala tertunduk dibawah lutut Anaknya yang masih terduduk dengan lemas dikursinya.
"Maafin Mama juga karena dosa kami, kamu ikut menanggung semua ini" ucap Rosmala yang ikut berjongkok disebelah Suaminya dan berusaha untuk mengengam tangan Icha tetapi, tetap saja ditepis oleh Icha.
"Maaf Bapak dan Ibu memang tidak dapat mengubah apa pun yang sudah terjadi, tetapi apa pun yang sudah terjadi bukankah sudah tertulis disuratan takdir dan Non harus ingat surga Non tetap berada dibawah kaki Ibu Rosmala dan Non juga tidak boleh menjadikan alasan apa pun untuk membenci Orang tua Non" ujar Iyem yang sedari tadi ikut menyimak perbincangan mereka dengan seksama.
"Bi, Coba Bibi ingat lagi apa aku pernah dapat kasih sayang dari mereka dan sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa aku Anak haram, Apa Bibi bisa ikhlas kalau Bibi berada diposisi aku?" murka Icha kembali dengan buliran air mata yang semakin deras mengalir diwajahnya dan kini posisinya sudah berdiri dihadapan Iyem.
"Bibi memang tidak pernah diposisi kamu dan tidak akan pernah, Tapi kamu juga harus tahu kenapa Tuhan memilih kamu karena kamu adalah gadis yang kuat dan tangguh bahkan jika Bibi berada diposisimu mungkin Bibi tidak akan sekuat kamu dan kamu juga harus tahu Allah tidak akan pernah memberikan cobaan diluar kemampuan Hambanya" ucap Iyem dengan tegas.
"Tapi kenyataannya Bi, aku ngk sekuat yang Bibi bilang bahkan fisik dan bathin aku melemah" balas Icha dengan suara melemah.
"Bibi yakin kamu pasti bisa nerima kenyataan ini" ujar Iyem yang langsung membawa tubuh Icha kedalam dekapanya.
__ADS_1
Sebenarnya wanita itu juga tidak tega melihat kondisi Anak Majikanya itu yang sedang down dan belum bisa menerima kenyataan yang baru ia ketahui ditambah ia juga mamemarahinya habis habisan. Tapi ia lakukan semua itu juga demi menguatkan dan memberikan semangat pada Icha serta tidak membenci Orang tuanya secara berlebihan, karena bagaimana pun dia sudah mengangap Icha sebagai Anaknya dan begitu pula pada Icha yang sudah mengangap Iyem sebagai Ibu yang selalu ada untuknya. Jadi, ketika Icha melakukan kesalahan Iyem tidak segan segan lagi untuk menegurnya dan Icha juga tidak pernah membenci Iyem ketika ia sedang dinasehatin bahkan terkadang ia merasa lebih nyaman ketika curhat pada Iyem dari pada Ibu kandungnya sendiri.
"Kamu yang kuat ya" ujar Iyem melepas pelukanya dan tersenyum manis pada Icha.
Tampa membalas ucapan Iyem, Icha kembali memeluk Iyem dengan erat dalam isak tangis yang mulai reda.
Sedangkan Rosmala ikut menangis haru menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya, entahlah tangisan itu tangisan haru, bahagia, atau sakit hati. Yang jelas dada Rosmala terasa sesak melihat Putrinya memeluk wanita lain sementara dia juga berada ditempat ini, ia merasa terasingkan dan tidak dianggap keberadaanya, Namun apa mau dikata ini juga kesalahanya dimasa lalu dan sampai sekarang ia tidak pernah memberikan kasih sayang pada Putrinya itu dan beruntung ada Iyem yang selalu mengerti dengan posisi Icha dan menjadikan Anaknya sebagai bagian dari hidupnya.
"Kamu tidak pernah memeluk Mama seperti itu Sayang" gumam Rosmala sembari menyeka air mata yang akan kembali menetes.
"Ternyata cewek resek ini cobaanya lebih berat dari gue ya" gumam Irwan dengan senyum miring yang terbit dibibirnya dan kedua tangan yang dimasukan kedalam sakunya.
"Semoga Irwan bisa membahagiakan kamu Icha dan kamu segera keluar dari pahitnya hidup kamu sekarang" gumam Ramli yang menatap Icha dengan tatapan haru dan sedih, menyaksikan kejadian yang terjadi didepan matanya dengan seuntai senyum yang terbit dibibirnya.
"Jadi, Papa sudah tahu lebih dulu kalau Icha adalah Anak haram dan masih tetap mau menjodohkan Irwan dengan gadis itu, mau jadi apa Anak ku menikah dengan Anak seperti itu karena biasaya buah jatuh tidak akan jauh dari pohonya" gumam Rita menatap Icha dengan sinis. Kemudian menatap Suaminya yang tengah tersenyum, sebenarnya apa yang Ramli fikirkan hingga ingin menjodohkan Anaknya dengan Anak yang keluarganya saja tidak beres.
"Bagaimana apa pernikahanya akan tetap dilanjutkan?" tanya Ramli. Setelah suasana hening yang telah terjadi dan Icha telah melepaskan pelukanya dari Iyem.
"Bagaimana?" tanya Iyem pada Icha yang berdiri disebelahnya dan menyenderkan kepalanya diatas bahunya dan hanya dibalas anggukan oleh Icha.
"Icha tetap bersedia" jawab Iyem pada mereka.
"Alhamdulilah" balas Ramli
__ADS_1