
"Arrrrrggggggghhhhhhhhh"
Irwan hampir saja melempar handphonenya kekolam namun, karena melihat nama panggilan yang tertera dilayar ponselnya dengan sigap ia mengangkatnya
"Halo Nek!" ucap Irwan merendahkan volume suaranya berusaha untuk berbicara lembut pada wanita yang sudah beranjak usia tua
"Ada apa kamu nelpon Nenek, Irwan?" tanya wanita yang memiliki nama Marni itu melalui sambungan udara.
"Irwan mau cerita sama Nenek"
"Kamu mau kerumah Nenek atau ceritanya melalui telpon aja?"
"Irwan kerumah Nenek sekarang ya"
"Yasudah Nenek tunggu ya"
"Assalamualaikum Nek"
"Waalikum salam!" setelah menjawab salam darinya, Irwan mematikan sambungan telponya
Irwan melangkahkan kakinya menuju rumah dan saat menoleh kebelakang Irwan menemui Rita yang sudah berdiri dihadapanya
"Irwan mau kerumah Nenek, Ma" izin Irwan tertunduk takut dengan kedua tangan yang masih memegang ponsel ditanganya.
"Yasudah kamu hati hati!" ucap Rita mengizinkan dan mengelus pundak Irwan dengan lembut
"Irwan diizinin Ma?" tanya Irwan senang yang kini mendongkakan wajahnya untuk menatap wanita paruh baya dihadapanya.
Rita menjawab pertanyaan Putranya dengan senyuman manis miliknya
"Makasih ya Ma" ujar Irwan dengan semangat dan langsung memeluk Rita dengan sangat erat
"Yasudah sana berangkat!" Rita melepas pelukanya dan Irwan langsung berlari meninggalkan Mamanya yang masih berdiri ditepi kolam renang.
"Irwan mau kemana Ma?" tanya Ramli yang baru saja menghampiri Rita dan menatap Irwan yang masih berlari dengan riang.
"Kerumah Neneknya Pa" jawab Rita yang masih menatap Irwan dengan senyumannya.
"Terus Mama izinin?" tanya Ramli kini menatap serius kearah Rita.
__ADS_1
"Iya Pa biarkan Irwan mencari kesenanganya sendiri" ucap Rita mulai berjalan meninggalkan Suaminya dan memasukin rumahnya.
*****
"Pasti Nenek juga ngk bakal setuju dengan ide konyol Mama dan Papa yang mau menjodohkan aku dengan gadis pilihan mereka itu" gumam Irwan dengan senyum tipis dibibirnya
Ia menatap wajahnya dari kaca mobilnya dan merapikan beberapa helai rambutnya serta tidak mengarahkan pandanganya pada jalan. Dalam keadaan menyetir, hal seperti itu sedikit membahayakan keselamatan bagi sang pengendara.
Cittthhhhhhhhhh
Dalam keadaan mendadak Irwan harus menghentikan mobilnya secara paksa dan menginjak rem secepatnya, diarah yang berlawanan terdapat sebuah mobil mewah bercat putih kilau yang hampir saja tertabrak olehnya
"Siapa sih yang bawa mobil itu" gumam Irwan membanting setir mobilnya.
"Uhhhhhhfffffff alhamdulillah masih selamat" gumam seorang gadis sambil mengelus dadanya dengan kedua tanganya setelah beberapa kali menghembus nafas lega.
"Gue harus kasih pelajaran tuh Anak dia ngk tau apa gue lagi banyak masalah" gumam Irwan lagi dan membuka pintu mobilnya serta langsung menghampiri mobil yang memiliki arah berlawanan darinya
Irwan menghampiri mobil itu dan mengetuk kaca mobil dengan sangat kasar, melihat seseorang yang tengah mengamuk padanya gadis yang mengendarai mobil bercat putih kilau itu segera keluar dari dalam mobil dengan tertunduk takut.
"Loh bawa mobil bisa ngk sih, liat tuh mobil mahal gue hampir aja nabrak loh, kalo ngk bisa bawa mobil ngk usah bawa mobil naik taksi aja" ujar Irwan sambil menujuk gadis yang ada dihadapanya dengan jari telunjuknya.
"LOHH"
Teriak Irwan bersama gadis itu secara bersamaan dan saling tunjuk serta mata yang membulat ketika saling menatap.
"Kok bisa bisanya sih gue jumpa sama cewek macam loh" teriak Irwan memalingkan wajahnya dari gadis yang tak lain adalah Icha, jodoh pilihan orang tuanya.
"Ehhh gue juga ngk sudi ya jumpa sama loh" teriak Icha tak kalah keras. Menujuk dan menatap tajam kearah Irwan
"Terus kenapa loh mau dijodohin sama gue?" tanya Irwan menatap tajam kearah Icha.
"Suka suka gue dong" jawab Icha yang tak tahu lagi harus mengatakan apa, memang perjodohan ini atas dasar persetujuannya. Ia berusaha memalingkan wajahnya dari hadapan Irwan untuk menghindari rasa malunya dengan kedua tangan dlipat dan diletakan diatas dada serta bersikap sok acuh dan tidak peduli.
"Gini aja deh gue ada saran yang lebih baik dari pada rencana licik loh dan uangnya juga halal dari pada cara picik loh itu" ujar Irwan penuh penekanan, berusaha untuk menatap wajah Icha walau dengan tatapan merendahkan
"Uang halal? Maksud loh apa?" tanya Icha yang tak mengerti arah tujuan pembicaraan Irwan, ia juga menatap Irwan tak kalah tajam.
"Ngk sok polos deh loh, loh mau dijodohin sama gue karena loh mau harta gue kan, jawab aja, dasar Cewek Matre" ujar Irwan. Menekan kata terakhir yang keluar dari bibirnya yang cukup meninggalkan luka dihati Icha.
__ADS_1
"Heeyyy asal loh tau ya ngk ada sejarahnya seorang Icha mendekatin lelaki bajingan seperti loh hanya untuk mendapatkan hartanya" ujar Icha dengan lantang. Kini air mata kembali menetes dari pipi chubynya dan tangan yang mengarah pada Irwan untuk menunjuk wajah pria itu.
"Ngk usah sok nangis loh, dah banyak kok yang akting begitu dihadapan gue hanya untuk menarik simpati gue dan untuk mendapatkan kekayaan keluarga Hotmadia" ucap Irwan. Tanpa merasa bersalah sedikit pun dan berlalu meninggalkan Icha yang masih berdiri dengan air mata yang masih mengalir.
"Andai loh tau alasan gue mau dijodohin sama loh, apa loh tetap tega ngatain hal seperti ini lagi?" gumam Icha sembari menyeka air matanya dan menatap kepergian Irwan yang mulai jauh dari pandanganya.
"Gue juga ingin seperti yang lain menikah dengan orang yang kita cintai tapi, apalah daya ku yang terlahir dari keluarga berantakan seperti ini" gumam Icha lagi yang kini sudah terduduk ditengah tengah aspal yang cukup panas namun, rasa panas itu tak lagi ia rasakan karena ucapan Irwan yang benar benar menyayat hatinya.
"Oh ya gue juga akan nawarin sejumlah uang yang cukup besar jika loh mau menolak perjodohan ini"
Icha mendongkakan wajahnya menatap pria yang kini berdiri dihadapanya, ntahlah ia juga tidak mengetahui alasan mengapa pria itu kembali menghampirinya
"Loh pikir gue cewek apaan?" ucap Icha menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Ngk usah munafik kalau matre, matre aja" teriak Irwan lagi yang sudah berjongkok dihadapan Icha itu sambil memegang dagu Icha dengan cukup kuat.
"Dasar lelaki bajingan" ujar Icha menyingkirkan tangan Irwan darinya dan langsung melangkahkan kakinya menuju mobilnya namun, langkahnya terhenti saat Irwan kembali mengatakan
"Cewek kayak loh, ngk mungkin ngk matre" teriak Irwan berharap Icha mendengarkanya. Kata kata itu kembali menyayat perasaan Icha namun ia tak membalas perkataan Irwan, ia justru menghapus air matanya dan melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
"Gue benci lelaki bajingan itu" ujar Icha yang kini sudah duduk dikursi setir mobilnya, ia memukul keras setir mobilnya untuk meluapkan amarahnya.
"Apa gue mampu menjalin rumah tangga bersama lelaki bajingan seperti dia, apa yang akan dirasakan Anak gue kelak punya Papa seperti dia" teriak Icha lagi
*****
"Assalamualaikum Nek" ucap Irwan dengan sopan. Kini ia sudah berdiri dipintu masuk rumah Neneknya dengan membawa beberapa bungkusan makanan yang ia beli saat perjalanan menuju rumah Neneknya dan setelah perdebatanya dengan Icha.
"Nenek, Irwan datang" ucap Irwan lagi dengan menekan bel rumahnya namun, karena tak ada jawaban Irwan memilih untuk langsung masuk karena kebetulan pintunya tidak dikunci oleh Nek Marni.
"Nenek, Irwan datang" ujar Irwan. Saat mendapatin Neneknya yang tengah asik dengan tayangan yang disiarkan oleh stasiun tv. Ia mengengam tangan Neneknya yang duduk disofa dan kemudian mencium punggung tangan Marni, dan Irwan terduduk dilantai lebih rendah dari Neneknya
"Sudah datang kamu Nak" ujar Nenek lembut, mengelus rambut Irwan.
"Sudah Nek" irwan
"Kamu mau cerita tentang apa?" tanya Nenek
"Sebelumnya Irwan boleh duduk disebelah nenek ngk?" tanya Irwan dengan sopan
__ADS_1
"Boleh dong Sayang sini duduk deket Nenek" ujar Nenek sembari membantu Irwan untuk duduk disampingnya.