
Icha terus mengikutin langkah Ibunya dari belakang, hingga keduanya berhenti diruang keluarga yang kebetulan saat itu Ady baru saja pulang dan berdiri dihadapan mereka
"Papa" ujar Icha
"Mas"
"Aku capek dan mau istrirahat jika kalian ingin membicarakan sesuatu sebaiknya nanti atau besok saja" ujar lelaki itu yang langsung berlalu dari hadapan keduanya dengan membawa tas kerja ke kamarnya. Icha dan Rosmala hanya dapat memandangin kepergian lelaki itu dari tempatnya.
Rosmala melirik wajah Putrinya yang tampak sedih dan murung ia memang mengerti perasaan Anaknya itu padahal Icha yang sedari tadi menunggu kepulangan Papanya untuk menyampaikan bahwa ia besok akan dilamar oleh Irwan tetapi yang ditunggu malah mengabaikanya begitu saja.
"Sabar ya Sayang, nanti biar Mama yang bicara Sama Papa" ucap Rosmala memegang kedua pundak Icha untuk menguatkan Anaknya itu, Tak menjawab Icha langsung berlari menuju kamarnya dengan deraian air mata
Sementara Rosmala ia memilih kekamar untuk menghampiri Suaminya dan memberitahu bahwa Anaknya akan segera dimilikin orang
"Mas" panggil Rosmala yang sudah memasukin kamarnya dan menemui Suaminya yang sedang mengerikan rambutnya dengan handuk dikelapalanya
"Ada apa?" tanya Ady cuek
"Mas, Icha mau menikah" ucap Rosmala berusaha lembut pada lelaki yang sudah menjadi patner hidupnya lebih dari dua puluh tahun itu, Ia sebenarnya emosi melihat Anaknya tadi diperlakukan seperti itu oleh Ady namun demi menyampaikan pesan dari Icha pada Papanya ia berusaha sekeras mungkin menahan emosinya.
"Aku sudah tahu, kamu tidak perlu memberi tahunya" jawab lelaki itu yang kini menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi dan keren dari sebelumnya.
"Dan Icha besok akan dilamar"
Seketika mata Ady langsung membulat sempurna menatap wanita yang ada dihadapanya, Mata hitamnya seakan ingin keluar memandang Istrinya itu
"Kenapa Icha tidak beri tahu padaku?"
__ADS_1
"Bagaimana Icha akan memberi tahumu jika kamu saja mengabaikanya seperti tadi lalu sekarang kamu menyalahkan Anak ku?"
"Anak mu juga Anak ku, jangan bicara seenaknya!" ujar lelaki itu mengalihkan tatapanyaa dari Rosmala
"Bukankah Orang tua mu hingga sekarang tidak mengakui Icha sebagai keturunanya, bahkan Kau juga dulu tidak mengakuinya sebagai darah daging mu lalu, mengapa saat aku bicara Icha adalah Anak ku, kau marah?"
"Dengarlah baik baik rumah tangga ini sudah hancur sejak belasan tahun yang lalu sejak fitnah Mama dan Keluarga mu yang menuduhku? lalu, kau marah aku mengatakan hal seperti tadi, kau lupa atau hanya berpura pura lupa dengan kejadian masa lalu yang benar benar meninggalkan luka padaku, bukanya membela ku, justru kau malah terhasut dengan ucapan mereka dan ikut menuduh ku melakukan perselingkuhan yang tidak benar aku lakukan"
"Kejadian itu sudah lama tidak bisakah kau melupakanya dan membuka lembaran baru" ujar Ady
"Kejadianya sudah lama dan telah berlalu tetapi, adakah sampai sekarang Mama mu datang kesini meminta maaf padaku padahal aku sudah terbukti tidak bersalah atau pun tidak usah menemuiku, Pernahkan ia melihat Cucunya yang kini telah tumbuh dewasa? jangankan melihat mengakuinya saja dia tidak mau" ucap Rosmala yang berada dibelakang tubuh Ady
"Walaupun Mama ku tidak mengakuinya tapi sampai kapan pun Icha adalah Putriku dan nanti aku akan menyaksikan pernikahan Anak ku secara langsung walaupun aku tidak bisa menjadi Wali nikah baginya"
"Kalau bukan karena Icha, aku tidak akan mungkin sampai sekarang bertahan dengan mu" ucap Rosmala penuh amarah
"Dan kau juga harus ingat, Mamaku memiliki rasa sakit hati yang sangat dalam pada mu karena sampai sekarang kau selalu mengatakan pada Icha kalau Neneknya dari aku sudah meninggal sejak lama"
"Sudahlah aku malas berdebat dengan mu" ujar Ady. Ia mengambil laptopnya yang masih berada ditasnya dan melatakanya diatas meja kerjanya, Ia memang sengaja mengerjakan seluruh pekerjaanya malam ini agar besok dia tidak lagi memiliki tugas dan dapat menghadirin acara lamaran Icha dirumahnya.
*****
Embun pagi yang mulai menghampiri shubuh itu membuat banyak orang tertidur dengan lelap tetapi tidak halnya dengan Icha, Ia terbangun dari tidurnya dan mengambil air untuk membasuh wajah dan bagian tubunya yang lain sesuai urutan wudhu yang benar. Wanita itu mengerjakan sholat sunah yang biasa dilakukan tengah malam oleh umat Muslim yaitu sholat tahajud. Sholat tahajud adalah sholat yang biasa dikerjakannya setiap malam ketika tidak memiliki halangan dan ditambah besok akan menjadi hari spesial baginya dan malam ini adalah waktu yang tepat baginya untuk meminta petunjuk dari sangat pencipta.
"Icha" sapa Ady. Papanya itu memasukin ruangan kamar Icha yang pintunya tidak dikunci oleh Anaknya yang masih tertidur dengan balutan selimut ditubuhnya, ia membuka gorden jendela yang ada dikamar Icha agar sinar matahari memasukin kamar Putrinya itu
Mata gadis itu perlahan terbuka saat sebuah sinar melanda bagian matanya yang membuat tidurnya tergangu dengan males Icha bangkit dan segera duduk diatas ranjang, membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadaranya
__ADS_1
"Icha masih ngantuk Bi" ucap Icha yang tertunduk lemas dengan rambut yang terurai kebawah membuatnya tampak seperti makhlut gaib, gadis itu seperti benar benar sedang mengantuk besar hingga tidak melihat orang yang berada dikamarnya.
"Icha kamu akan lamarankan hari ini?" ujar Ady menghampiri dan duduk disebelah Icha
Icha yang sangat familiar dengan suara itu segera menegakan tubuhnya secara sempurna dan menatap orang yang ada didekatnya. Apakah dia sedang bermimpi Papanya duduk didekatnya setelah membangunkan, ia mengucek matanya untuk memastikan orang itu dan ternyata benar itulah adalah Papanya, Ada gerangan apa lelaki itu membangunkanya biasa juga Bi Iyem yang selalu membangunkan dan menyiapkan keperluanya
"Papa" ujar Icha percaya
"Iya Sayang" balas Ady membalas kepala Icha kedalam dekapanya
"Papa kok ada dikamar Icha? "
"Emang ngk boleh ya"
"Boleh bangetlah Pa, cuman tumben aja gitu"
"Papa mau luangin waktu Papa hari ini buat kamu full karena bentar lagikan kamu menjadi milik orang jadi, ini tinggal detik detik terakhir Papa buat kamu bahagia"
"Papa merestui keputusan Icha buat nikah dengan Kak Irwan"
"Tentu Sayang, apa pun yang buat kamu bahagia pasti Papa restuin"
"Makasih ya Pa" ucap Icha tersenyum bahagia yang langsung memeluk Papanya dengan erat. Rasanya ini adalah kenyaman yang yang benar benar tiada duanya dan tidak dapat terganti oleh siapa pun, Mungkin ini adalah alasan mengapa kebanyakan Anak perempuan selalu menyebut Orang tua lelakinya sebagai cinta pertamanya karena ketika berada dalam lindungan seorang Ayah, Anak perempuan pasti merasa nyaman dan pastinya lebih aman.
"Yaudah kamu siap siap gih kita berangkat ke mall beli baju buat tunangan kamu nanti"
"Tapi baju Icha masih banyak Pa"
__ADS_1
"Iyakan ini baju dari Papa langsung"
"Yaudah Papa tunggu diluar dulu ya, Aku mau siap siap" ucap Icha yang diakhirin cengiran. Dan sesuai perintah Anaknya Ady segera keluar dari ruangan itu menuju keruang keluarga