
Didalam Bandara seorang lelaki muda, tampan dengan kulit putih ditubuhnya, mengandeng kopernya kesana kemari. Matanya yang terus mengelilingin sekitarnya dan mencari sosok yang akan membawanya pergi dari tempat ini.
"Mana nih kok ngk datang datang" keluh lelaki itu sembari mengelap keningnya dengan lengan baju panjang yang dipakainya dan melirik arloji yang melingkar dipergelangan tanganya.
Matahari yang mulai menaik membuat udara memanas dan keringat yang mulai bertumpahan dari sekujur tubuh lelaki itu namun, orang yang dicari tetap tak kunjung datang.
Akhirnya lelaki yang bernama Afdhal Hotmadia itu mendudukan bokonngnya disalah satu kursi yang ada didekatnya dan mengotak atik ponsel miliknya. Panggilan pertama yang tertuju pada Irwan.
Mendengar suara deringan ponselnya membuat tidur Irwan terusik. Ia terus mengerak tanganya diatas meja untuk mencari benda bersuara itu dengan mata yang masih tertutup. Setelah menemukan hpnya bukannya mengangkat, Irwan malah mengecilkan volume suaranya tanpa memperhatikan nama yang tertera dan kembali tertidur dengan nyenyak tampa ada yang menganggunya.
Afdhal terus mengulang panggilannya berharap agar orang yang dihubungungin segera mengangkatnya dan berbicara denganya. Namun, nihil usahanya tidak membuahkan hasil, Irwan tetap tidak mengangkatnya.
Afdhal juga mencoba menghubungin Mamanya, Rita yang tengah ditanganin oleh para wanita wanita yang akan mempercantik dirinya, membiarkan ponselnya terus mengeluarkan suara dari dalam tasnya. Wanita itu sebenarnya menjadi mendengar deringan ponselnya, Dalam posisi tertidur dan kedua mata yang ditutupin oleh timun serta wajah yang sedang dipegang orang dan juga keberadaan tasnya yang lumayan jauh dari tempatnya, membuat Rita membiarkan benda itu terus berbunyi.
Panggilan keduanya juga tidak memberikan hasil apa pun, akhirnya Afdhal menghubungin nomor Ramli dan usahanya kali ini tidak mengecawakanya karena Ayahnya itu mengangkat telepon darinya.
"Apa ada Dhal?" tanya Ramli ketika sambungan telponya sudah terhubung. Lelaki itu tampak kerepotan dengan berbagai berkas sitanganya dan merapikan lembaran lembaran kertas yang ada dimejanya.
"Aku sudah di Bandara Pa" jawab Afdhal
"Yasudah kamu telpon Bg Irwan suruh jemput kamu" balas Ramli santai. Kini ia sudah terduduk di kursi kewibawaannya dengan tangan yang sedang disibukan menandatangin file file yang akan di persentasekan.
"Aku sudah hubungin Pa tapi, Bg Irwan ngk angkat"
"Mungkin dia masih tidur"
"Jadi, aku gimana Pa?"
__ADS_1
"Mama, sudah kamu hubungin?"
"Sudah Pa, sama sama ngk diangkat"
"Kalau begitu kamu pulang naik taksi online saja, Papa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga" ujar Ramli mematikan sambungan telponya secara sepihak tanpa ada persetujuan dari Anaknya itu.
Afdhal menatap layar ponselnya dengan kesal bisa bisanya orang rumahnya, satu pun tidak ada yang bisa menjemputnya. Setelah menghembus nafasnya panjang akhirnya, lelaki itu pergi meninggalkan tempat duduknya dan membawa kopernya keluar dari Bandara.
Ditepi jalan raya dengan koper yang tidak lepas dari peganganya, Lelaki itu mencoba untuk mencari kendaraan online namun, ponselnya mati karena kehabisan daya, Afdhal melirik ke kanan kiri untuk mencari angkutan umum yang lewat didepanya namun tak ada satu pun taksi yang lewat, sedari tadi hanya angkot dan bus yang muncul dihadapanya.
Sinar matahari yang semakin membakar kepalanya dan keringat yang mulai bercucuran, Afdhal melihat jam tangan yang menempel dipergelanganya, bukan tiga puluh menit atau satu jam lagi ia menunggu melainkan ia sudah berdiri selama tiga jam lebih di tempat ini.
Setelah mempertimbangkannya dan rasa capek yang dirasakanya, akhirnya Afdhal menghentikan bajaj yang lewat dihadapanya. Ini adalah pertama dan perdana baginya untuk menaikin kendaraan seperti ini.
"Bg, Bg berhenti" panggil Afdhal dengan tangan yang memberikan kode henti pada bajaj itu.
"Keren doang, kendaraan bajaj" sindir Bapak itu menatap tajam pada Afdhal dengan tangan kanan memegang setirnya dalam posisi miring menghadap Anak muda yang ada didepanya.
"Emang kenapa kalau bajaj Pak?" tanya Afdhal yang tidak menyukai ucapan Bapak itu.
"Biar kelihatan keren sama cewek padahal aslinya kere" ujar Bapak itu kini memutar badanya dan memakai topi kerjanya dan bersiap untuk menjalankan kendaraannya.
"Bapak sok tahu" jawab Afdhal. Karena tak memilikin pilihan lain dengan terpaksa Afdhal memasukin bajaj butut Bapak itu sembari mengangkat kopernya kedalam pula.
"Anak muda zaman sekarang ngk ada yang pandai dalam memilih pasangan, Kalau Pacarnya ngk terima kamu kere ya putusin aja, ngapain dipertahanin" ujar Bapak itu tampa dosa sembari melajukan bajajnya.
"Pak, Saya bukan sok kaya"
__ADS_1
"Sudahlah! Anak muda memang sulit untuk diberi tahu" ujar Bapak itu menyangkal ucapan Afdhal yang belum selesai bicara.
"Kamu turun dimana?" tanya Bapak itu setelah beberapa menit terjadi keheningan diantara keduanya.
"Makanya, Bapak jangan terlalu menasehat saya sampai lupa nanya saya turun dimana" kesal Afdhal.
"Kamu tinggal jawab saja susah"
Afdhal dibuat mematung dengan jawaban Bapak yang ditumpanginya itu, mungkin ini adalah pertama baginya menemui seorang penjual jasa mau pun barang yang tidak memperlakukan pelangganya dengan baik.
Setibanya di depan bangunan besar dan megah, Bapak bajaj itu dimelongo melihat pemandangan yang ada didepanya, ternyata orang yang dibawanya bukanlah, orang yang sok kaya melainkan benar benar tajir melintir. Dia menatap sekilas kearah Afdhal dan kemudian kembali menatap rumah yang menjadi tempat tinggal Anak itu.
"Bagaimana, Pak?" tanya Afdhal melipat kedua tanganya dan diletakan diatas dadanya, dengan alis yang naik sebelah dan turun dari dalam bajaj itu.
"Maaf, Saya sempat salah sangka"
"Baiklah, lain kali jangan menilai orang dengan sebelah mata saja, apalagi tidak mendengar alasannya"
"Iya Anak muda, Maafkan saya" jawab Bapak tua itu.
Tanpa memperpanjang perdebatannya, Afdhal memberikan beberapa lembar uang lima puluhan pada Bapak itu, Namun karena merasa malu Bapak itu tidak mau menerimanya dan merasa tidak enak pada Afdhal, lelaki yang dinasehatinya itu.
"Tidak perlu dibayar, anggap saja permintaan maaf dari saya" jawab Bapak itu tertunduk.
"Tapi, bajaj Bapak juga memakai bensin yang dibeli pakai uang"
"Saya ikhlas" jawab Bapak tua kembali memasukin bajajnya dan meninggalkan pekarangan rumah Afdhal.
__ADS_1
Karena uangnya tidak jadi keluar, Afdhal kembali memasukan uangnya kedalam sakunya dan memasukin rumahnya mewahnya.