
"Pa, Mama cuma pengen yang terbaik buat Irwan,"
"Iya, Papa percaya Ma tapi Mama juga harus percaya sama Papa kalau Icha itu yang terbaik buat Irwan!"
"Kenapa Papa begitu yakin sama gadis itu?"
"Karena Icha bukan hanya pilihan Papa tapi juga pilihan Almarhum mama Irwan" ucap Ramli tanpa berani memandang wajah Rita dan hanya mampu memandangkan penglihatanya pada langit langit dinding yang ada dikamarnya.
"Kenapa sih Papa selalu aja ngingatin mamanya Irwan dan Papa juga harus tahu kalau aku adalah mama Irwan sekarang dan selamanya bukan Viona!" tegas Rita.
"Biar pun mama bicara seperti itu berulang kali tapi kenyataan tidak dapat berbohong dan darah yang mengalir tidak akan pernah sama walau pun sepanjang hidup Irwan, Mama yang mengurusnya!" ujar Ramli tak kalah tegas. Kini ia sudah membalikan badanya dan menatap tajam pada Rita.
"Satu hari setelah kelahiran Irwan, Viona meninggal dan siapa yang merawat Irwan Pa? aku bukan Istri pertama kamu!" balas Rita.
"Aku tahu Ma, Mama sudah menganggap Irwan sebagai Anak Mama sendiri bahkan kasih sayang mama ke Irwan dan Afdhal itu sama tapi Mama juga tidak bisa membohongin Irwan terus terusan, Viona juga butuh doa dari anaknya!"
"Viona sudah mati Pa!"
"Justru karena Viona sudah mati dia butuh doa dari Irwan!"
"Sampai kapan pun Irwan tidak boleh tau dia punya mama selain aku dan Irwan akan tetap menjadi anak aku!" ujar Rita.
Wanita itu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Ramli seorang diri didalam kamar.
Arrrrggggggggghhhhh.
Dalam perasaan frustasi yang tengah melandanya, Ramli melempar selimutnya kelantai dan mengacak acak rambutnya serta menendang benda benda kecil yang ada didekatnya.
Setelah merasa sedikit tenang, lelaki itu mendudukan bokongnya ditepi ranjang.
"Maafkan aku Rita kali ini aku tidak bisa menuruti kemauan mu karena Icha adalah gadis pilihan Viona, wanita yang melahirkan Irwan." gumam Ramli tertunduk dengan ujung telapak tangan yang menyentuh keningnya.
Setetas air mata membasahi wajah pria yang telah berumur itu, fikiranya diingatkan pada kejadian masa lalunya, otaknya harus kembali menerawang kejadian masa silam yang tidak akan pernah dilupakanya sampai kapan pun, bahkan pria itu sudah berniat nanti jika Irwan sudah menikah maka, ia akan memberitahu sosok asli Ibu kandungnya.
"Masuk!" ujar Ramli. Meletakan bekas makanannya diatas meja yang ada didekatnya dan menatap kearah pintu rumah sakit untuk melihat orang yang baru saja menjenguk istrinya selesai lahiran.
__ADS_1
"Ya Allah, Mas gemes sekali bayi ini!"
Setelah mendengar respon dari dalam ruangan, Rosmala bersama Ady segera memasuki ruangan itu dan menghampiri ketiganya.
Dengan gemasnya wanita yang tengah hamil dua bulan itu, menepuk pelan wajah seorang bayi lelaki yang tengah berada diatas dada ibunya dan tersenyum manis pada anak itu.
"Mirip Papanya ya?" ujar suami dari wanita hamil itu sembari merangkul Rosmala.
"Bagaimana dengan kandungan Istri mu?" tanya Ramli pada Ady. Ramli duduk diatas kasur Viona disebelah wanita itu dekat bagian kepalanya sembari mengelus kepala Viona dengan lembut, Viona adalah istri pertamanya sebelum menikah dengan Rita.
"Kandunganya baik baik saja!" jawab Ady
"Aku doakan semoga lahir dengan selamat dan kelak jika sudah dewasa anak itu menjadi anak yang berbakti dan membanggakan orang tuanya." ujar Ramli.
"Amin!" ucap Rosmala tersenyum dan mengelus perutnya.
"Jika anaknya lelaki, aku ingin dia menjadi teman anak ku tetapi jika wanita, aku ingin menikahkan putra ku denganya." ucap Viona.
"Aku setuju!" balas Rosmala
Ramli kembali mengangkat kepalanya menatap dinding kamarnya dan berdiri dipinggir jendela untuk menghapus kembali nostalgia masa lalunya.
Fikiranya benar benar sudah tidak dapat lagi memikirakan jalan keluar dari permasalahnya yang semakin rumit. Kemarin permasalahanya hanya Irwan yang tidak mencintai Icha dan sekarang Rita pun tidak menyetujuinya hanya karena Icha adalah hasil hubungan haram orang tuanya.
"Andai kamu masih hidup Viona, apa kamu tetap berniat untuk menikahkan Irwan dengan Icha dengan kondisi seperti ini? " gumam Ramli.
Matanya menatap kearah luar, langit biru yang tampak cerah tampa ada mendung didalamnya. Lelaki itu menutup matanya dan menikmati sinar matahari yang mengenai wajahnya.
*****
Didalam ruangan berbentuk persegi panjang tampak seorang gadis dan seorang wanita paruh baya ditempat itu, keduanya duduk diatas kasur dalam posisi gadis itu menyandar diatas dada wanita paruh baya itu dengan isak tangis yang mengalir diwajahnya dan wanita paruh baya yang mengelus kepalanya dengan lembut.
"Icha, masih ngk nyangka Bi," lirih wanita itu.
"Non, harus kuat!" balas Iyem tersenyum.
__ADS_1
Tok tok tokkkk
"Siapa Bi?" tanya gadis itu menatap Iyem dengan penuh tanda tanya dan menyeka air mata yang mengalir diwajahnya. Saat mendengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya.
"Bibi ngk tau Non," jawab Iyem.
"Masuk!" ujar Icha pada orang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Sayang!" ucap Rosmala pelan dan tertunduk.
"Maafin Papa!" ujar Ady tertunduk
"Aku sudah maafin kalian kok" jawab Icha tersenyum dan bangkit dari duduknya serta menghampiri orang tuanya yang masih berada didaun pintu.
"Maafin Mama, Sayang!" ucap Rosmala dengan tangisan diwajahnya yang langsung memeluk tubuh Putrinya kedalam dekapanya.
"Maafin Icha, tadi kebawa emosi," ujar Icha sesesukan didalam pelukan Mamanya itu.
"Mama yang minta maaf sayang sudah ngecewain kamu!" ujar Rosmala melepaskan pelukanya.
"Tapi harusnya Icha ngk bersikap seperti tadi karena bagaimana pun mama dan papa adalah orang tua aku, surga aku ada pada kalian," balas Icha tersenyum dan memegang kedua pundak wanita yang ada dihadapanya.
"Papa janji pasti hadir dipernikahan kamu," ucap Ady.
"Ngk hanya hadir Pa, Papa juga harus mencarikan aku Wali yang benar benar bisa menikahkan aku sebagai perwakilan Papa." ucap Icha yang kini sudah mengarahkan pandanganya pada Ady.
"Pasti Sayang!" balas Ady tersenyum.
"Pa, Ma, aku mau ketika pernikahan aku nanti Bi Iyem dan anaknya memakai baju couple yang sama dengan keluarga kita," Icha.
"Itu bisa kita buat Sayang," Rosmala.
"Tidak usah Non, Bibi pakai baju biasa saja karenakan Bibi juga harus ngurus dapur jadi, buat apa Bibi pakai baju bagus?" ujar Iyem yang sudah berdiri disebelah Icha dengan tertunduk tak enak hati.
"Selama pernikahan aku berlangsung, Bibi tidak aku perbolehkan memasuki dapur untuk memasak atau beres beres karena Bibi juga harus hadir dipernikahan aku dan menemani aku dipelaminan, Bibi sudah menjadi bagian hidup aku." ujar Icha menatap Iyem dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Yang Icha bilang benar Bi, Bibikan sudah bertahun tahun kerja dirumah kami dan selalu menjaga nama baik dikeluarga ini maka, Bibi juga sudah termasuk keluarga kami." Ady.