
Selepas keluar dari kamar Icha, Rosmala mendapati Ady yang masih terduduk disofa yang ada diruang keluarga yang ada dirumah megah mereka. Rosmala mencoba damai dengan keadaan dan sudah berniat untuk tidak memperkeruh suasana yang sudah sulit.
"Aku tidak ingin ribut dengan mu, sekarang yang kuinginkan yang terbaik buat anak ku" ucap Rosmala sembari menuruni anak tangga satu persatu untuk menghampiri Suaminya itu.
Ady mendongkakan kepalanya dan menatap orang yang sedang berbicara itu, Ia langsung bangkit dari duduknya dan menatap Rosmala dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku juga ingin yang terbaik buat Icha, Aku tidak ingin keluarga Icha sama seperti keluarga ini, Icha harus mendapat perlakuan yang lebih" ucap Ady.
"Sekarang kita singkirkan ego kita dan mari memikirkan jalan terbaik untuk permasalahan Icha" ujar Rosmala yang kini sudah berdiri berhadapan dengan Ady.
"Bagaimana pun, Irwan harus bertanggung jawab"
Selesai berkata demikian, tiba tiba saja bel rumah mereka berbunyi pertanda ada seseorang yang ingin masuk kedalam rumahnya, mata Ady dan Rosmala seketika tertuju pada pintu, keduanya saling melemparkan tatapan masing masing.
"Biar saya bukakan, Non" ucap Iyem tertunduk yang baru saja menghampiri keduanya saat mendengar bel rumah itu berbunyi.
Iyem kembali menghampiri Ady dan Rosmala setelah membukan pintu dengan membawa kotak yang ada ditanganya. Dengan sopan Iyem meletakan kotak itu diatas meja yang ada disofa yang ada dihadapan Rosmala dan Iyem.
"Bu, Pak, ini ada kiriman dari Pak Ramli dan Bu Rita" ujar Iyem menunduk.
"Pesanan apa Bi?" tanya Rosmala yang kini sudah memegang kota yang berlapiskan warna biru itu.
"Bibi kurang tahu, Bu" jawab Iyem.
"Yasudah Bibi kalau mau kerja lagi silahkan Bi, biar paketanya kita yang buka sendiri" ucap Ady diakhirin senyuman manis dibibirnya.
Setelah Iyem meninggalkanya, Rosmala membuka bingkisan itu yang ternyata didalamnya terdapat sebuah kebaya berwarna putih yang dihiasin payetan dari atas hingga bawah membuat kesan mewah pada kebaya itu jika dipakai dan didominasi oleh rok batik berwarna kecoklatan muda.
Tak lama setelah memperhatikan seluruh bagian dari baju itu. Rosmala mendapat sebuah telpon dari ponselnya, Ia segera meletakan kembali kebaya itu dan mengangkat sambungan telponya, saat diletakannya diatas meja ternyata Ady juga ingin mengetahui baju itu lebih dekat, ia memengang baju itu dan mengamatinya dengan seksama.
"Halo" jawab Rosmala setelah sambungan udaranya terhubung.
"Ros, kamu sudah terima paketan yang aku kirim" ujar suara dari dalam handphone Rosmala.
__ADS_1
"Sudah, kebaya ini dari mu?" tanya Rosmala sembari memutarkan bola matanya melirik pada Ady yang masih memperhatikan baju itu.
"Iya Ros, Aku minta maaf atas kejadian di butik tadi dan kebaya itu, aku kirim buat dipakai Icha saat ijab qabulnya, maaf ya tadi pemilihan gaunya tergangu karena kelakuan Irwan yang tidak baik" ujar Rita dari seberang.
"Baiklah, tapi aku ingin ini adalah cara agar anak ku bahagian dunia akhiratnya dan aku berharap Irwan bisa mencintai dan menjadi Imam buat Icha, anak ku"
"Do'a yang terbaik saja, Ros" jawab Rita dengan sinis. Namun, tidak sedikit pun meninggalkan kecurigaan pada Rosmala ketika mendengar nada bicara Rita padanya karena setahunya Rita juga orang yang sangat menginginkan perjodohan ini terjadi.
Tanpa basa basi lagi Rita langsung mematikan sambungan telponya dengan Rosmala tanpa mengucap salam atau pun akan mengakhiri panggilan suaranya. Rosmala juga tampak binggung dengan apa yang barusan dilakukan Rita. Namun, segera ia tepis semua fikiran kotor yang ada dibenaknya yang nanti ujungnya pasti akan menimbulkan permasalahan lagi pada keduanya.
Rosmala mencoba untuk berfikir positif, mungkin tadi hanya salah sentuh atau Rita masih memiliki pekerjaan yang lain karena mungkin juga masih banyak berkas yang harus dipersiapkanya untuk pernikahan Icha dan Irwan besok pagi.
Ady yang dibuat binggung dengan ekperesi yang keluar dari wajah istrinya yang masih saja menatap layar ponselnya padahal sudah jelas
sambungan telponya sudah terputus. Lalu, apa yang dipikirkan Rosmala?.
"Siapa?" tanya Ady. Tak ingin memperdalam rasa penasaranya untuk ingin tahu siapa dan mengapa orang itu menelpon Rosmala.
"Apa yang dikatakanya hingga raut wajah mu berubah?"
"Mungkin ini hanya perasaan ku saja"
"Apa kau mencurigai sesuatu?"
"Aku hanya merasa kalau Rita tidak ingin Irwan menikah dengan Icha semoga saja ini hanya feling dan tidak akan terjadi"
"Bagaimana Rita tidak menyetujuinya sedangkan ia adalah orang yang paling menginginkan Icha sebagai Istri Irwan setelah Ramli, Suaminya"
"Aku sudah bilang ini hanya feling ku saja"
Sementara setelah mematikan sambungan telpon dari Rosmala. Rita menguatkan gengaman tanganya pada handphonenya dan pandangan lurus kedepan menatap pada arah luar jendela yang tampak berbagai jenis bunga yang ada ditaman didaerah rumahnya.
"Jika ini tidak terjadi maka sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan anakku, Irwan bersanding dengan anak haram walau pun itu Icha karena mau bagaimana pun dibuat, status Icha sebagai anak yang terlahir dari hasil perzinaanya tidak akan berubah sekali pun dia sudah menjadi wanita terbaik didunia" gumam Rita.
__ADS_1
Rita membalikan badanya, betapa terkejutnya ia saat sudah mendapati Ramli yang sudah ada dibelakangnya. Rita menarik pelan nafasnya sembari memegangi dadanya saat melihat kehadirannya Suaminya secara tiba tiba.
"Sejak kapan kamu disini, Pa?" tanya Rita sedikit canggung, takut Ramli mendengar semua ucapannya tadi.
"Apa seluruh persiapan untuk pernikahan Irwan sudah dipersiapkan?" tanya Ramli.
"Sudah Pa, tinggal nunggu besok saja"
"Baguslah kalau begitu"
Rita mencekal tangan Ramli yang akan meninggalkannya, Ramli seketika kembali memutar tubuhnya dan melihat tangan Rita yang sudah melingkar sempurna dipergelangan tanganya.
"Ada apa, Ma?" tanya Ramli lagi.
"Apa Papa masih yakin ingin terus melanjutkan perjodohan ini?" tanya Rita ragu.
"Kelakuan Irwan tadi semakin menyakinkan Papa untuk menikahkan mereka berdua, Irwan sudah keterlaluan" jawab Ramli dengan emosi kembali naik dan menguasai isi kepalanya.
"Pa, kalau masalah tadi bisa kita bicarakan baik baik dan meminta maaf pada keluarga Harmasyah tanpa harus menikahi Icha"
"Itu benar Pa, sekali pun kalau Icha harus dinikahi, aku siap menghalalkan Icha sebagai istri ku" ujar Afdhal yang tiba tiba saja sudah berada dihadapan keduanya tanpa tau dari mana asalnya bisa berada bersama orang tuanya didalam ruangan ini.
"Bagaimana jika ini terjadi pada Anak perempuan mu kelak Afdhal, Apa kamu akan membiarkan lelaki yang telah menodai putri mu pergi begitu saja?" ucap Ramli yang kini menatap tajam pada Anak bungsunya itu.
"Aku siap harus menikahi Icha, Pa, ngk harus kak Irwan" jawab Afdhal yang semakin kekeh dengan ucapanya.
Mendengar pengakuan dari Afdhal membuat Rita semakin tidak berkutik, jika ia terus melarang Irwan menikah dengan Icha, kemungkinan besar adalah Afdhal yang akan menikahi Icha, Icha akan tetap menjadi menantunya. Itu akan membuatnya semakin tidak sudi karena Afdhallah yang terlahir dari rahimnya bukan Irwan, tetapi bagaiamana pun ia sudah menganggap Irwan sebagai Anak kandungnya bahkan kasih sayangnya pada Irwan dan Afdhal tidak pernah dibeda bedakanya, semua dianggapnya sama.
"Kamu tidak boleh menikung abangmu" ucap Rita dengan tegas.
"Tapi Bg Irwan ngk cinta sama Icha, aku yang sayang dan peduli pada Icha bahkan aku yang selalu ada untuk dia tapi kenapa harus abang yang menikahi dia"
"Tidak semua cinta bisa dimilikin Afdhal" Ramli.
__ADS_1