
"Pa, Papa apa apaan sih Pa? Papa sudah tahu dari awal kalau Icha anak haram dan Papa masih mau menjodohkan Irwan dengan gadis seperti dia, lalu jadi apa nanti keturunan Anak kita kalau menikah dengan Icha?"
Tak henti henti Rita terus saja mengoceh sejak perjalanan pulang hingga sampai kedalam rumah.
"Tau nih Papa, Sudahlah batalin saja pernikahanya," ujar Irwan yang merasa sedikit senang akhirnya mamanya tidak lagi mendukung papanya untuk menjodohkanya dengan Icha.
"Icha adalah gadis yang terbaik buat Irwan!"
Dengan langkah santai, Ramli memasuki pekarangan rumahnya dan melewati pintu masuk begitu saja tampa memperdulikan Rita dan Irwan yang berada dibelakangnya.
"Pa, Papa harus dengerin Mama dulu!" teriak Rita.
"Batalin aja perjodohanya Pa!" teriak Irwan. Mengikuti langkah Rita yang lebih dulu darinya dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari ibunya itu membuat remaja itu menunduk pasrah.
Dreeeeettttt.
Irwan merogoh sakunya untuk mencari benda berukuran sedang yang diselipkanya didalam tempat itu dan mengangkat sambungan udara dari seseorang yang menghubunginya.
"Halo!" ujar Irwan tanpa melihat nama sipenelpon.
"Bg!"
Irwan langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya dan melihat orang yang kini tengah berbicara denganya.
"Ha! Ada apa Dhal?" respon Irwan santai.
"Lo beneran sudah tunangan sama Icha?" ujar seseorang yang menelpon Irwan tak lain adalah adiknya, lelaki yang Icha cintai.
"Iya, emang kenapa?"
"Lo gila, nanya gue kenapa? loh kan tau siapa yang selama ini gue cintai terus loh malah mau nikah sama dia? loh mikir ngk sih Bang?"
"Ini kemauan bokap bukan gue, kalau lo mau kemplen sama papa aja jangan sama gue, gue juga ngk sudi menikah dengan wanita yang lo cintai itu!" ujar Irwan mematikan sambungan telponya secara sepihak.
"Siapa Wan?" tanya Rita yang sedari tadi memperhatikan anak sulungnya mengangkat telpon yang tidak ia ketahui dari siapa.
__ADS_1
"Afdhal Ma!" jawab Irwan singkat. Lelaki itu langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan meninggalkan ibunya sendiri ditempatnya.
"Afdhal, kenapa anak itu menelpon Irwan? Ada apa? biasanya juga dia menghubungi orang yang disini kalau sedang ada hal penting lalu, Apa yang barusan Afdhal sampaikan ke Irwan sampai Irwan bicara seperti itu dan muka Irwan langsung cemberut seperti tadi?" gumam Rita memandang pundak Irwan yang semakin menjauh darinya.
Tak mau berfikir panjang lagi, Rita segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan menghubungi anak bungsunya yang sedang berada diluar negeri.
"Apa Ma?" jawab Afdhal dengan suara yang terdengar malas.
"Ada apa kamu nelpon Irwan?" tanya Rita dengan suara berbisik takut sewaktu waktu Ramli keluar dan mendengar pembicaraanya dengan Afdhal atau pun Irwan yang akan mendengar perbincanganya.
"Mama sama Papa apa apaan sih masak mau nikahi Bg Irwan sama Icha terus aku gimana Ma?. Aku cinta sama Icha!, aku ngk mau gadis yang aku cintai malah menjadi kakak iparku sekali pun dia bukan jodohku setidaknya jangan jadikan kami saudara."
"Tau dari mana kamu?" tanya Rita dengan sinis. Saat mendengar pengakuan anaknya yang mencintai gadis yang ternyata hasil dari hubungan haram orang tuanya.
Sejak pengakuan Ady pada Icha didepan keluarga Hotmadia, Rita tak lagi mengingikan Icha menjadi bagian keluarganya apalagi akan sebagai menantunya karena baginya anak haram adalah buah dari perbuatan yang sangat menjijikan walau pun itu kesalahan masa lalu yang dilakukan oleh orang tuanya.
Tak sedikit orang berpendapat kalau buah jatuh tidak akan jauh dari pohonya dan salah satunya adalah mama Irwan, Ia juga menilai kalau suatu saat nanti sifat Icha akan keluar yang menyerupai mama atau papanya.
"Papa, Ma!"
"Jadi, Mama gak akan merestuinya?"
"Tidak!"
"Kalau begitu aku akan perjuangkan Icha sebagai istri aku walau pun aku harus membantah perintah dari papa!"
"Kamu juga tidak akan mama restui karena mama tidak akan pernah mau menjadikan gadis itu sebagai menantu Mama!"
Dengan perasaan marah dan membara Rita mematikan sambungan telponya tampa ada kata pamit pada Afdhal dan kembali menaruh ponselnya kedalam tasnya.
"Afdhal juga malah ikut ikutan cinta sama Icha, selain harus mengagalkan pernikahan Irwan, aku juga harus menghapus perasaan Afdhal pada gadis itu!" gumam Rita.
Wanita itu melangkahkan kakinya menuju kamar dan menghampiri suaminya yang lebih dulu berada ditempat itu
"Pa!" teriak Rita yang baru memasuki ruangan berbentuk segi empat itu.
__ADS_1
Ramli yang sedang tertidur terpaksa membuka matanya karena mendengar suara istrinya yang tengah mengamuk tanpa sebab pasti yang belum diketahuinya.
"Ada apa sih Ma?" jawab Ramli yang masih dilanda kantuk. Ia mendudukan bokongnya diatas kasurnya dan menutup mulutnya mengunakan telapak tanganya untuk menutup uapan yang sedang terjadi dimulutnya.
"Mama tidak setuju Irwan menikah dengan Icha!" ujar Rita meletakan tasnya diatas meja rias dengan kasar.
"Kenapa Ma?" tanya Ramli dengan lembut. Ramli kini sudah berdiri disebelah Istrinya dan merangkul bahu Rita.
"Icha itu anak haram Pa!" ucap Rita menatap bola mata Ramli.
"Anak haram itukan kesalahan orang tuanya, Ma, justru Icha itu korban dari dosa mereka" ucap Ramli untuk memberikan penjelasan pada istrinya yang tengah dikuasai oleh fikiranya saat ini.
"Tapi, sifat anak itu kebanyakan niru dari mamanya"
"Bukan dari mamanya tetapi dari siapa yang mendidik dia dan dilingkungan mana dia hidup!" ujar Ramli yang malas dengan pembicaraan Rita yang selalu mengungkit masa lalu dan asal usul Icha.
"Mungkin belum sekarang dia niru sikap mamanya bisa jadi nanti setelah menikah dia akan berselingkuh dan meninggalkan Irwan," ujar Rita yang dihantui oleh perasaan cemas dan khawatir. Ia menghampiri suaminya yang sudah duduk diatas ranjang dan duduk disebelah Ramli.
"Ma, dengerin Papa!, Icha adalah gadis terbaik buat Irwan!" ucap Ramli menyakinkan Rita. Lelaki itu memegang dengan erat kedua pundak Rita yang kini sudah berhadapan denganya.
"Tapi Pa!"
"Tapi apa lagi Ma?"
"Mama cuma mau Irwan menikah sekali seumur hidup!"
"Pernikahan ini akan menjadi pernikahan pertama dan paling penting adalah terakhir buat Irwan," jawab Ramli mengengam kedua tangan Rita yang sudah tidak lagi menatap Ramli.
"Feeling Mama ngk enak apa,"
"Bukan feeling mama yang tidak enak tapi kekhawatiran mama yang terlalu berlebihan pada Irwan dan sikap Mama yang tidak bisa menerima kesalahan orang dimasa lalu, Mama juga harus ingat Ma, semua orang punya kesalahan dimasa depan mau pun masa lalu, sekarang tergantung kita mau atau tidak memaafkanya."
"Tapi Pa!"
"Papa tau Mama sayang banget sama Irwan, Mama juga ngak mau kalau Irwan salah memilih pasangan tapi ini yang terbaik buat Irwan!"
__ADS_1