
Dengan anggunya Icha turun dari dalam mobil putih silver milik Ady mengunakan kebaya yang Rita kirimkan, didampingi oleh Ady dan Rosmala yang berdiri dibelakangnya. Icha mengangakat sedikit ujung rok spanya yang menampak hilss putih bermatakan merah kekuningan dibagian permata selop itu.
Kedatangan mereka ternyata sudah dinanti oleh Keluarga Hotmadia yang sudah berada dihalaman kantor KUA, disana juga sudah terdapat dua orang asing yang tidak dikenalin oleh Icha, mungkin orang itu akan menjadi saksi dalam pernikahanya nanti.
"Jika sudah semua sudah kumpul, mari kita masuk!" ajak bapak berkopiah putih dikepalanya dengan baju batik kebiruan muda yang melekat ditubuhnya.
Mengikuti perintah bapak itu, Icha beserta orang tuanya dan anggota keluarga Irwan yang lain ikut masuk kedalam ruangan KUA yang didalamnya sudah terdapat penghulu yang usianya mungkin tidak terpaut jauh dari Irwan.
Irwan lebih dulu duduk dikursi yang berada dihadapan Penghulu muda itu dengan raut wajah malas yang tertempel dimukanya setelah menghembuskan nafasnya perlahan.
Icha sesaat melirik pada wajah Iyem yang tampak memberikan seuntai senyum dibibirnya untuk menyakinkan bahwa pilihan Icha ini adalah yang terbaik untuknya. Setelah membalas dengan ragu senyuman Iyem, Icha melontarkan pandanganya pada Rosmala seakan meminta restu pada wanita yang telah melahirkanya itu, sama seperti Iyem, Rosmala hanya melemparkan senyumanya pada Icha. Kini gadis bertubuh mungil itu mengarahakan kedua matanya tertuju pada Ady yang berdiri disebelah Rosmala, Ady hanya mengangukan kepalanya sekali anggukan yang pertanda sangat menyetujui pernikahanya dengan Irwan.
Melihat respon orang orang yang ada disekitarnya yang tidak ada sama sekali keberatan dengan pernikahan ini. Icha mendudukan bokongnya dikursi yang berada disamping kanan Irwan. Irwan menolehkan kepalanya menatap Icha beberapa detik dan kemudian membalikan kembali pandanganya dengan senyum sombong dibibirnya.
"Baiklah, Mari kita mulai" ujar bapak Penghulu. Ia mulai menegakan otot otot dan tulang tulangnya untuk menghadap Irwan dengan jelas dan membenarkan peci hitam yang melingkar dikepalanya yang hanya ditumbuhin beberapa rambut.
__ADS_1
Semua orang yang berada didalam ruangan berbentuk segi empat ini. Mulai menduduki kursinya masing masing dan saling duduk didekat pasanganya masing masing, sementara Afdhal duduk didekat Iyem yang sudah lama dikenalnya. Dua lelaki yang tidak dikenalin Icha duduk bersampingan dibelakang Afdhal dan Iyem.
Dengan gagahnya, bapak itu menjulurkan tanganya pada Irwan, Irwan justru menatap tangan itu dengan sadis dan menerima uluran tangan itu dengan malas.
Dengan uluran tangan Irwan dan Pengehulu itu saling bersalaman dan mengucap kalimat pernikahan yang biasa setiap orang ucapkan ketika ingin menghalal seorang wanita yang dicintainya.
Seketika kata amin mengema didalam ruangan ini, kata kata do'a mulai dipanjatkan dan lantunan janji mulai diucapkan. Mata Irwan dan Icha saling pandang dalam hitungan menit yang sangat sebentar, saat keduanya akan mencorehkan tinta hitam diatas kertas putih yang tertulis beberapa kalimat diatasnya.
Icha tersenyum pada Irwan dengan senyum paling manis yang ia punya untuk mengakhiri tatapanya pada Irwan. Melihat senyuman yang begitu mengoda dibibir wanita mungil yang ada didekatnya. Irwan tersontak dari lamunanya dan tersadar dari khayalanya yang hampir mendalam, seketika lelaki dengan kopiah putih dikepalanya itu mengarahkan pandanganya pada kertas yang ada dihadapanya dan menuliskan tanda tangannya diatas buku nikah yang baru saja dimilikinya.
Irwan beserta anggota Keluarganya yang lain keluar dari ruangan KUA dan segera menghampiri mobil putih mewah yang sudah dihiasin beraneka warna dan jenis bunga mati untuk menghiasi kendaraan itu. Irwan membolehkan bola matanya kearah belakang yang terdapat orang tua dan mertuanya. Tatapan seakan meminta jawaban atas apa maksud dari mobil yang berhiaskan bunga itu, seakan memberi kode Ramli memberi isarat kalau mobil itu akan menjadi mobil pengantinnya dan akan menjadi hadiah pernikahanya.
Dengan senyumanya pula, Irwan menjulurkan tanganya pada Icha, Icha menatap heran pada tangan itu bagaimana bisa Irwan memberikan bantuan padanya dan sejak kapan Irwan bersikap manis padanya.
"Ayolah! Icha, Suamimu sudah mengajak mu" ujar Rosmala dengan nada candaan dan merayu keduanya.
__ADS_1
Icha membalikan badanya dan menatap Rosmala yang tengah berbicara padanya. Mendengar perintah mamanya Icha menerima uluran tangan Irwan dan tak disangka setelah uluran tangannya diterima. Irwan malah merangkul pundak Icha membuat Icha semakin binggung dengan sikap Irwan ini, memang dari hatinya atau hanya dramanya saja agar terlihat baik didepan banyak orang.
Irwan terus saja menatap wajah Icha, entah mengapa sejak mengucap ijab qabulnya rasa bencinya lenyap seketika dan rasanya ingin berlama lama menatap wajah Icha yang kini sudah bersandar dipundaknya dengan manja. Entah dapat keberanian dari mana tiba tiba saja tanpa rasa enggan Icha memiringkan kepalanya diatas pundak Irwan yang dinggapnya mampu membopong tubuhnya yang memiliki berat badan masih standar dan masih masuk kedalam kategori langsing.
Nyaman banget rasanya bersandar dipundak Suami sendiri, ada rasa yang beda saat bersandar dengan Irwan maupun Ady. Kenyaman yang sebelumnya belum pernah Icha rasakanya bahkan rasanya ini lebih nyaman dari pada berada disandaran Afdhal, lelaki yang sangat dicintainya.
Menikmati iupan angin yang menerpa wajah dan membuat rambutnya berterbangan dikepalanya dan hembusan angin yang terdengar syahdu ditelinganya. Tiba tiba saja kenyaman itu terusik oleh suara cepreng wanita yang baru menghampiri mereka ketempat ini dengan raut wajah yang sangat merah api dan dipenuhin oleh amarahnya yang siap menghantam siapa pun yang akan menghalangin kegiatanya.
"Apa apaan ini?" teriak wanita itu dihadapan Irwan.
"Aku baru saja menikah dengan Icha" jawab Irwan pada wanita yang memakai baju warna kebiruan muda dan sedikit warna kebiru langit itu.
"Apa yang baru saja kau lakukan Irwan? kau baru saja melakukan hal bodoh tanpa bertanya keputusan ku" ucap wanita itu dengan menarik tubuh Irwan agar berdiri disebelahnya dan melepas gengaman tangangan dari Icha.
"Siapa kau?" tanya Irwan balik dengan berpura pura tidak mengenalin Suli, mantan Kekasih hatinya.
__ADS_1
"Irwan, aku adalah pacar mu, wanita yang sangat engkau cintai" ucap wanita itu berusaha menatap bola mata Irwan secara mendalam agar perasaan cinta Irwan kembali tertuju padanya.
"Bukankah kau telah memutuskan ku?" ucap Irwan sembari menghempaskan tubuh Suli dihalaman yang sudah disemen itu. Suli terjatuh, ia menatap Irwan dengan sangat murka dan amarah yang semakin menjadi dengan sekuat tenaga ia bangkit dan menutupin rasa malunya dengan pergi dan meninggalkan semua orang yang ada ditempat ini.