ICHA Is My Wife

ICHA Is My Wife
Berdua dikamar


__ADS_3

Sedangkan Darius ia membawa Afdhal ketempat yang sebelumnya tidak pernah Afdhal kunjungi yaitu tempat dimana orang orang melakukan party malam dan tempat menyewa wanita wanita murah.


Afdhal sempat menolak ajakan Darius sebelum ia benar benar masuk kedalam tempat tidak benar ini namun, Darius tetap memaksa Afdhal agar terus ikut denganya saat masih dipekarangan tempat ini.


Dengan fikiran kosong dan otak yang belum mampu merancang apa yang akan terjadi kedepanya, Afdhal mengiyakanya dan mengikuti rencana licik yang sedang dimainkan Darius.


Afdhal sempat batuk batuk saat memasuki ruangan yang sudah banyak dihuni oleh orang orang yang tengah berjoget joget tidak karuan ditempat ini dan tidak sedikit dari mereka yang menghisap batang rokok, hal itulah yang membuat Afdhal sedikit merasa sesak karena ia termasuk golongan pria yang sangat membenci rokok.


"Bawa aku keluar dari ruangan ini!" ujar Afdhal yang mulai tidak tahan dengan udara yang sedang dihirupnya. Ia mengibas ibaskan tanganya disekitar hidungnya agar asap rokok itu setidaknya sedikit menjauh darinya.


"Kita sudah sampai dan sekarang kamu mengajak pulang, apa kamu tidak merasa sia sia dengan usahamu?"


Darius yang sudah mengetahui lingkungan seperti ini tidak cocok untuk tubuh Afdhal, Sedikit memberi kenyaman pada Afdhal dengan menjauhkan dirinya dari sekerumunan orang orang itu, membawanya ketempat yang lebih sepi.


"Aku tidak suka tempat ini, Kau bilang akan membawaku ketempat yang bisa membuat sedikit tenang!" ucap Afdhal.


"Aku akan siapkan ruangan VIP untukmu!"


"Kau kemana?" tanya Afdhal saat Darius mulai melangkahkan kakinya menjauh darinya.


"Aku akan siapkan ruangan spesial untukmu!"


Afdhal memilih untuk mendudukan bokongnya disofa yang berada didekatnya sembari menunggu Darius ia memainkan ponselnya dengan santai.


"Tangkaplah!" ucap Darius dengan melempar sebuah kunci kearah Afdhal.


"Apa ini?" tanya Afdhal binggung sembari memperhatikan seluruh bagian kunci dengan seksama.


"Ikuti pelayan itu, dia akan menunjukan sebuah tempat yang akan membuat mu puas hari ini!"

__ADS_1


Afdhal mengalihkan pandanganya mengikuti gerakan tangan Darius yang menunjukan seorang gadis berbaju putih dengan rok span hitam selutut. Kemudian kembali mengalihkan pandanganya kembali menatap bola mata Darius dan Darius hanya membalasnya dengan menaikan kedua alisnya sebagai isarat, Afdhal harus mengikuti perintahnya.


Sesuai intruksi dari Darius, Afdhal mengikuti langkah pelayan itu dari belakang hingga pelayan itu berhenti didepan sebuah pintu yang masih tertutup rapat.


"Silahkan masuk Tuan!" ujar pelayan itu setelah membukan pintunya.


"Ada apa didalam?" tanya Afdhal yang sama sekali tidak mengerti dengan tempat tempat seperti ini.


"Kami sudah menyiapkan yang terbaik buat Tuan dan kami juga menyediakan wanita yang paling cantik yang kami punya buat Tuan!" ujar pelayan itu sembari tertunduk.


"Perempuan? Apa maksud mu?"


"Menurut cerita Tuan Darius, Tuan sedang mengalami patah hati dan Tuan bisa meluapkanya pada gadis yang berada didalam kamar ini, gadis yang kami berikan pada Tuan adalah gadis yang sangat spesial dan belum pernah melakukan hubungan **** dengan siapa pun dan Tuan yang akan menjadi pertama kalinya, jika ucapan saya tidak benar Tuan bisa menuntut saya!" jelas pelayan itu.


Dengan bimbang Afdhal memasuki kamar yang sudah diunboxingnya, benar saja kata pelayan itu, disana sudah terdapat seorang gadis yang terduduk diatas kasurnya dengan mengunakan pakaian seksi yang sangat kekurangan bahan.


Perlahan Afdhal mendekati wanita yang tertunduk itu, Dengan lembut Afdhal mengangkat dagu wanita itu untuk melihat wajahnya yang tertutupi oleh rambut panjangnya.


"Apakah kau wanita yang dimaksud pelayan itu?" tanya Afdhal dan hanya dibalas anggukan pelan oleh wanita itu.


"Siapa namamu?" tanya Afdhal yang kini duduk disebelah wanita cantik itu.


"Aku Sisilya" jawabnya tanpa berani menatap wajah Afdhal.


"Kamu terlihat begitu lelah, silahkanlah kamu istirahat!" ucap Afdhal.


"Aaa.. apa ... apakah kamu akan melaporkan ku kemajikan ku?" tanyanya ragu.


"Tentu tidak, Aku yang menyuruh mu!"

__ADS_1


Tanpa merasa ragu sedikit pun, Wanita itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang itu tanpa menutupi dres yang tidak menutupi paha mulus miliknya.


Pemandangan ini benar benar merusak penglihatan Afdhal, Fikiran kotor sempat terlintas dibenaknya namun, segera disingkirkanya karena tidak mungkin baginya untuk merusak seorang wanita. Untuk menyingkirkan hal itu dari fikiranya Afdhal mengambil selimut panjang yang ada diatas ranjang dan melebarkanya diatas tubuh Sisilya untuk menutupi bagian paha dan dada wanita itu.


Setelah beberapa menit dalam keheningan, Afdhal memperhatikan seluruh bagian tubuh Sisilya dan kemudian ikut merebahkan tubuhnya diatas ranjang, disebelah tubuh gadis mungil itu.


Ditengah ketenangan yang terjadi, ditengah kelelapan mereka tiba tiba saja hujan lebat disertai petir hebat melanda kota itu. Sisilya terbangun dari tidurnya dengan air mata yang kembali menetes dengan deras, ia memeluk lututnya dan meletakan kepalanya diatas lututnya itu.


Dengan cepat Sisilya langsung menyambar tubuh Afdhal yang masih tertidur dan meletakan kepalanya diatas dada bidang Afdhal saat petir kuat itu kembali menghantam pendengaranya.


Sisilya adalah gadis yang sangat takut akan suara petir, setiap ia mendengar petir ia pasti menangis dan langsung memeluk tubuh adiknya kesayanganya.


Merasa ada yang menyentuh tubuhnya membuat tidur Afdhal terusik dan terbangun namun, kesadaraanya masih belum penuh total ia masih menatap gadis yang tengah memeluknya dengan samar samar.


Hal pertama dilihat oleh pria itu adalah Icha yang tengah memeluknya dengan penuh ketakutan dan terus menangis padanya. Tak ingin melihat air mata sahabatnya Afdhal langsung membenarkan posisinya dan duduk berhadapan dengan Sisilya dan memberikanya kehangatan padanya dengan memeluknya dengan sangat erat.


"Kamu jangan takut ya ada aku disini!" ujar Afdhal dengan lembut sembari mengelus rambut Sisilya penuh kasih sayang.


"Aku takut!" ucap Sisilya ditengah tengah isak tangisnya.


"Ada aku buat kamu, Cha!" balas Afdhal.


Ketenangan dan kehangatan yang diberikan Afdhal pada gadis yang baru dikenalnya, membuat Sisilya merasa sedikit tenang hingga akhirnya ia tertidur didada bidang milik Afdhal.


Afdhal memperhatikan dengan jelas raut wajah gadis itu dengan seksama, wajahnya tampak tenang walau dengan mata sembab dan pandanya mungkin gadis terlalu banyak menangis hingga terisak.


Lagi lagi pemandangan tak sedap mengusik penglihatanya dres pendek yang dipakai Sisilya terbuka dibagian dadanya, rok mini yang dikenanganya terangkat hingga bagian pahanya.


Untuk mencegah fikiran kotor yang terlintas dibenaknya, Afdhal kembali merebahkan tubuh Sisilya diatas kasur dan kembali menutup tubuh wanita itu dengan selimut.

__ADS_1


Lagi dan lagi petir itu kembali menghampiri dua sejoli itu dan dengan cepat itu pula Sisilya langsung terbangun dari tidurnya dan langsung memeluk tubuh Afdhal untuk yang kedua kalinya tanpa merasa ragu sedikit pun.


__ADS_2