
Hal itu kembali mengagetkan Afdhal dengan spontan ia juga langsung membalas pelukan itu dengan sangat erat bahkan bagian dada wanita itu mengenai bagian pipi Afdhal, Afdhal sedikit menjauhkan wajahnya dari Sisilya agar ***** yang tengah bergelora dijiwa segera tersingkirkan.
Aura mengoda itu bukanya menghilang justru semakin menghantam dirinya, Sisilya semakin mendekatkan tubuhnya dibagian dada Afdhal. Afdhal yang sudah setengah mati menahan nafsunya itu, kini tidak dapat dikendalikanya.
Dengan lembut Afdhal menidurkan tubuh Sisilya diatas kasur dan menatap gadis itu penuh na*su.
Sisilya dibuat benggong dengan apa yang dilakukan Afdhal padanya, lelaki itu mulai menindih tubuhnya dengan pandangan mata yang tidak lepas dari bagian d*danya yang semakin terbuka lebar.
Afdhal benar benar sudah diluar nalarnya, Ia mulai mencumbui Sisilya dengan mendekatkan wajahnya dibagian l*her wanita itu dan menciumya berulang kali dan tanganya yang mulai merabah bagian menonjol yang ada didada Sisilya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Sisilya sembari menunjang bagian perut Afdhal hingga membuat lelaki itu sedikit terjungkal dari posisinya.
Tak menyerah Afdhal kembali mendekatkan tubuhnya dengan gadis mungil itu dan bahkan kini tangan Afdhal sudah dapat merobek b*ju bagian atas Sisilya.
Sisilya semakin dibuat ketakutan oleh ditingkah Afdhal yang semakin aneh baginya. Ia berusaha melakukan perlawanan dengan terus memberontak, berteriak sekencang mungkin dan terus menunjang bagian perut Afdhal walau tidak memberi rasa sakit sedikit pun pada pria itu.
Afdhal mulai memegang bagian b*bir Sisilya yang terus bergerak karena berteriak, awalanya Afdhal hanya memegangnya dengan lembut dan mulai menguatkan pergerakan tanganya pada bagian b*bir gadis itu hingga membuat Sisilya tidak dapat lagi bersuara dan disaat itulah Afdhal mendekatkan b*birnya dengan gadis itu.
Tak sampai disitu Afdhal juga mulai merobek p*kaian bawah Sisilya dan terus mengelusnya.
Malam itu adalah kehancuran keho*matan Sisilya sebagai wanita habis direngut Afdhal, lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya.
Malam itu juga Sisilya tidak dapat memejamkan matanya, apa yang sudah terjadi ditubuhnya terus menghantui fikiranya, kehormatan yang bertahun tahun dijaganya hancur dengan semalam dan bersama orang yang tidak dikenalnya.
Ia memuguti seluruh bagian bajunya yang sudah menjadi beberapa bagian yang terletak diatas lantai. Menatapnya dengan penuh penyesalan, malam yang begitu menyakitkannya. Terus menangis dan terseguk diatas kain kain yang dipegangnya.
"Ayah, maafkan Putri mu ini yang tidak dapat menjaga harga dirinya!" gumamya yang masih saja sesegukan hingga suaranya saja sudah serak.
__ADS_1
"Anak perempuan adalah harta yang paling berharga bagi Ayah karena wanita itu ibarat berlian yang sangat mahal harganya dan Ayah dipercaya Tuhan untuk menjaga berlian itu dan itu adalah suatu kebanggan bagi Ayah!"
Kalimat itu terlintas dibenak Sisilya bagaimana dulu pahlawanya yang selalu memuji dan membanggakanya, kini justru ia sendiri yang mematahkan perasaan cinta pertama dalam hidupnya itu hanya karena ia harus memenuhi ***** lelaki yang sekarang dianggapnya bejat itu.
Sinar matahari yang masuk kedalam ruang kamar yang disewa Afdhal mulai mengusik tidur lelaki itu, perlahan ia mulai mengucek matanya dan mengumpulkan kesadaranya.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati seorang wanita yang tengah menangis dilantai dengan selimut yang masih mengulung ditubuh wanita itu.
Afdhal menghampirinya dan saat akan bangkit dari posisinya betapa terkejutnya ia saat mengetahui dirinya sendiri tidak mengenangkan selembar kain pun yang menutupi tubunya. ia segera mengulung dirinya dengan sprei yang ada didalam kamar itu dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk memakai pakaianya.
Afdhal bahkan meyempatkan diri untuk membersihkan tubuhnya dan mandi bahkan ia juga keramas. Ia keluar dari dalam kamar mandi dengan santai tampa merasa bersalah sedikit pun. Namun, ia menghentikan sejenak langkahnya saat berada didepan pintu kamar mandi itu dan melihat Sisilya yang masih terus menagis.
Ada apa dengan wanita ini? pikir Afdhal. Ia juga menghentikan tangan yang sebelumnya disibukan mengeringkan rambutnya mengunakan handuk yang ada ditanganya.
Fikirannya dipaksa menerawang kejadian malam itu, malu, tentu rasa yang paling pertama dirasakan lelaki itu, apa semalam yang membuatnya begitu dikuasai oleh nafsunya hingga membuat keperawanan wanita itu menghilang dalam sekejap.
Ingin rasanya Afdhal menyembunyikan wajahnya dari wanita itu untuk menutupi rasa malunya namun, ia juga tidak akan tega membiarkan wanita itu terus menangis karena ulahnya, Dimana harga dirinya sebagai lelaki? Dan dimana rasa tanggung jawabnya? Bagaimana jika kelak hal serupa juga terjadi pada anak perempuanya kelak?.
"Pergi jauh dariku!" teriak Sisilya dengan nafas yang tersenggal senggal.
"Aku minta maaf kejadian malam tadi!" ujar Afdhal tertunduk.
"Maaf mu tidak akan merubah kenyataan yang sudah terjadi!" teriaknya lagi dengan mendorong tubuh Afdhal.
"Aku tahu!"
"Lalu kenapa kau melakukanya padaku?"
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak terpancing jika pakaian mu saja seperti ini?"
"Sekarang kau menyalahkan ku?"
"Tentu, dan semalam pelayan itu juga bilang kau yang akan memuaskan ku!"
"Dasar lelaki tidak punya ot*ak!"
Sisilya bangkit dari duduknya dan ketika akan berdiri ia menyempatkan diri untuk menendang tubuh Afdhal walaupun tidak memberi rasa sakit pada pria itu.
Sisilya membawa lari tubuhnya kedalam kamar mandi dengan selimut yang masih mengelilingi tubuhnya.
Dikamar mandi ia langsung membasahi tubuhnya dengan air sebanyak mungkin dan berteriak sekencang kencangnya untuk meluapkan amarahnya. Didalam tempat itu juga ia terus menangis dan menangis.
Sedangkan Afdhal ia mendapat sebuah telpon dari Papanya.
"Dimana kamu?" tanya Ramli melalui sambungan udara.
"Aku hanya ingin menenangkan diri, Pa! balasnya dengan tenang.
"Kamu harus terima kenyataan Afdhal kalau Icha sekarang sudah menjadi ipar kamu!"
"Dan itu semua adalah keinginan Papa bukan Kak Irwan, Papa juga harus tahu kalau Kak Irwan dan Icha ngk bahagia dipernikahannya, Papa hanya mau kemenangan Papa sendiri!"
"Kamu belum tau yang sebenarnya Afdhal makanya sekarang kamu bisa bilang begitu, jika kamu sudah mengetahuinya apa kamu akan tetap menyalahkan Papa?"
"Papa egois!" balas Afdhal dan langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.
__ADS_1
"Jangan terlalu lama menenangkan diri, jangan sampai melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal!"
Afdhal membaca pesan singkat yang dikirim Ramli sebuah akhirnya ia akan menyimpan kembali ponselnya kedalam sakunya.