
Didalam rumah mewahnya Ramli bersama Rita duduk didalam ruangan yang sudah biasa mereka jadikan sebagai ruang keluarga
Rita duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu, dengan asyik ia menonton tayangan televisi dihadapanya sementara Ramli disibukan dengan membaca koran dan duduk disebelah Rita.
Dengan penuh kekesalan Irwan memasukin rumahnya tanpa menoleh sedikit pun kearah Orang tuanya.
"Irwan dari mana kamu?" tanya Ramli meletakan koranya diatas meja, Irwan menghentikan langkahnya dan menatap malas sekilas kearah lelaki itu dan kemudian kembali melanjutkan langkahnya
"Irwan Papa kamu nanya tuh" ujar Rita berdiri dari tempatnya dan mematikan siaran tv mengunakan remote yang ada ditangannya
"Irwan capek Ma, Pa jadi Irwan mau istirahat dulu" jawab Irwan yang mulai menaikin anak tangga yang ada dirumahnya satu persatu
"Irwan jika sikap kamu masih terus begini maka pernikahan kamu dengan Icha akan dipercepat" ucap Ramli setelah menarik nafasnya
"Ngk Pa, pernikahan itu bukan permainan dan Irwan akan menikah satu kali seumur hidup Irwan hanya dengan orang yang Irwan cintai" ujar Irwan kembali menghentikan langkahnya yang sudah berada dilantai atas
"Suli maksud kamu? orang yang kamu cintai adalah wanita matre" teriak Ramli penuh amarah, Irwan tak ingin lagi melanjutkan perdebatannya dengan lelaki yang memiliki darah yang sama dengannya itu, ia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar
"Sabar Pa sabar" Rita mengelus kedua pundak Ramli dengan lembut untuk memberi ketenangan pada Suaminya
Dengan beberapa tarikan nafas Ramli sembari mengelus dadanya dan dengan bantuan Rita ia kembali mendudukan bokongnya disofa
"Anak itu memang susah sekali dikasih tahu Orang tuanya sangat berbeda dengan Afdhal" keluh Ramli
"Pa nanti biar Mama yang kasih tahu Irwan pelan pelan ya" ujar Rita menenangkan Ramli
Sementara didalam kamarnya Irwan langsung merebahkan badanya diatas kasur empuk miliknya, matanya menatap langit langit kamarnya dengan sesekali ia menutup matanya mencari keheningan sesaat
"Kenapa sih harus gue yang dijodohin?" gumam Irwan melempar guling yang ada ditanganya kelantai
"Gue Sayang sama Suli, gue cinta sama Suli tapi kenapa Mama sama Papa ngotot banget buat ngejodohin gue sama gadis itu" teriak Irwan yang sudah bangkit dari kasurnya dan menendang kuat kaki ranjangnya yang sudah tak ada lagi memberikan rasa sakit baginya karena saking kesalnya
"ARRGHHHH"
Irwan melempar semua barang yang ada diatas salah satu meja mulai dari yang berbentuk plastik maupun kaca yang berada didekatnya. Bahkan pecahan barang barangnya ada yang mengenai tanganya hingga mengeluarkan cairan berwarna merah
"Gue benci kenyataan ini" kali ini Irwan menendang meja yang tersisa dengan kuat hingga kaki meja itu patah dan tak dapat lagi digunakan
"Gue akan bikin hidup gadis itu menderita hingga ia akan meminta cerai nanti" ucap Irwan merendahkan volume suaranya dan mendudukan bokongnya diatas kasurnya dengan perasaan amarah yang sudah mengebu gebu.
"Gue harus kasih tau ini ke Nenek, Nenek pasti bakal belain gue" ucap Irwan mengambil ponselnya dari saku celananya
Ia segera membuka aplikasi telepon dari handphonenya dan menekan no telepon milik Neneknya itu
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi"
__ADS_1
"Akkkhhhhh"
Irwan membanting ponselnya keranjangnya, dan berjalan mondar mandir didalam ruangan kamarnya
"Apa lagi yang harus gue lakuin" teriak Irwan merapatkan kepalanya dengan dinding dan sesekali ia merantukanya kedinding
"Siapa?" tanya Irwan ketika mendengar suara ketukan dari arah pintunya
"Ini Mama Sayang" jawab Rita yang langsung membuka pintu yang tidak dikunci oleh Irwan dan betapa terkejutnya ia saat memasukin kamar Irwan yang sangat berantakan serta melihat kondisi Irwan yang sudak acak acakan bahkan tangannya pun sudah dilumurin oleh darah dan kepalanya tampak memar.
"Kamu kenapa Irwan?" tanya Rita membawa Irwan duduk diatas kasurnya
"Irwan ngk mau dijodohin Ma"
"Iya Mama ngerti Sayang tapi ini yang terbaik buat kamu" ujar Rita memengangin tangan Irwan yang masih mengalir darah segar itu dan menekanya agar menghambat darah itu keluar
"Tapi Irwan cinta sama Suli Ma" ucap Irwan menekan kata cinta yang ia lontarkan, kini air mata mengalir dari wajah tampanya dan menatap Rita dengan tatapan pilu
"Bi tolong ambilin alat kompres" teriak Rita pada Pembantunya dengan tangan yang masih memegang tangan putra sulungnya
"Sayang kamu dengar ya jika Suli mencintai kamu dengan tulus sama seperti kamu mencintainya maka Mama sama Papa ngk mungkin jodohin kamu" ucap Rita dengan lembut dan membelai kepala Irwan dengan tangan kananya
"Suli tulus sama Irwan Ma" Irwan mengengam erat kedua tangan Rita berusaha untuk menyakinkan wanita yang ada dihadapanya itu
"Bu ini alat kompresnya" ucap Pembantu rumah tangga Irwan dengan sopan sambil menyodorkan lap bersih dan wadah yang berisi air hangat dengan tertunduk hormat.
Dengan telaten Rita membersihkan luka ditangan Irwan dengan penuh kasih sayang dan memperbanya setelah diberi betadine yang diambil dari laci meja yang ada disebelah ranjang Irwan
"Kenyataanya Suli memang begitu Ma"
"Mama melihat suatu kejanggalan diSuli yang tidak kamu perhatian dan pernikahan mu akan diselenggarakan seminggu lagi" ujar Rita meninggalkan putranya didalam kamar itu sendirian setelah selesai mengobatinya.
"Tapi Ma" Irwan berusaha memprotes ucapan Mamanya namun Rita keburu jauh dan kaki Irwan mulai terasa perih dan akhirnya memilih terduduk atas kasurnya.
Membangkang ucapan Mama dan Papanya bukanlah suatu solusi yang tepat justtu karena hal itu pernikahannya dengan gadis yang ia temui baru sekali itu malah dipercepat
Tangan Irwan berusaha meraih ujung kasur untuk mengangkat sambungan telpon yang berdering dari handphone miliknya, Ia melihat nama yang tertera dan dengan semangat ia mengangkatnya
"Iya sayang ada apa?" tanya Irwan melalui sambungan udara yang sudah terhubung dengan ponsel yang sudah menempel ditelinganya
"Temenin aku shoping dong" ucap wanita dari seberang dengan manja
"Tapikan tadi barusan shoping Sayang"
"Iya ada yang kurang Yang"
__ADS_1
"Yaudah aku otw kekosan kamu ya?
"Aku tunggu ya Sayang" Dengan senyuman manisnya Irwan mematikan sambungan telponya dan keluar dari kamarnya dengan kaki yang sedikit pincang
"Gimana kamu sudah kasih nasehat sama Irwan?" tanya Ramli yang masih duduk diruang kekuarga dengan Rita yang sudah berdiri dihadapanya
"Sudah kok Pa, Mama juga udah bilang kalo pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan" jelas Rita yang ikut duduk disebelah Ramli dan hanya dibalas senyuman oleh Suaminya itu
"Mau kemana kamu?" tanya Ramli yang melihat putra sulungnya hendak keluar dari rumahnya
"Cari angin Pa"jawab Irwan tanpa menoleh kearah Ramli
"Cari angin atau jumpain gadis matre itu" teriak Ramli yang sudah berada dihadapan Irwan dengan emosi yang kembali membara dan menghalangi jalan Irwan keluar dari rumahnya.
"Apaansih Pa, Suli itu ngk matre" ujar Irwan yang sedikit mendorong tubuh Ramli agar ia dapat melanjutkan langkah kakinya
"Sekali lagi kamu langkahkan kakimu maka kamu akan Papa keluarkan dari keluarga ini" ucap Ramli penuh amarah tanpa menoleh kearah Irwan, mendengar ucapan Papanya Irwan menghentikan langkahnya dan menoleh pada lelaki paruh baya itu
"Kenapa sih Papa itu selalu maksa apa yang Papa mau?" ucap Irwan dengan volume suara tak kalah keras
"Ini demi kebaikan kamu juga" ucap Ramli
"Kebaikan apaan" jawab Irwan yang langsung berjalan menuju kolam renang untuk menenangkan hatinya yang tengah dilumutin oleh amarah
"Sudah Pa biarkan saja Irwan sendiri" ucap Rita menghampiri suaminya
Irwan mendudukan bokongnya dikursi santai yang terdapat dipinggir kolam ia menatap air kolam sekilas yang tampak tenang, dengan perasaan yang gundah Irwan duduk ditepi kolam dan mencelupkan kakinya didalam air
"Sayang kamu dimana"
Irwan mengambil handphonenya dari dalam sakunya dan melihat notif yang muncul dilayar ponselnya, dengan cepat Irwan mengetikan beberapa kata untuk membalas pesan online itu
"Kita ngk jadi shoping" begitulah isi balasan Irwan, selesai membalasnya Irwan masih saja menatap handponenya dengan kesal
DRRTTT
Irwan mengangkat sambungan telpon yang berdering diponselnya belum mengucapkan sepata kata pun, Irwan keburu dibumbuhin berbagai omelan
"Kamu kenapa sih, kamu kan tahu kita sudah lama banget ngk ketemu, masak kamu udah di Indo tetep ngk mau ngajak aku jalan" omel seorang wanita melalui sambungan udara dengan kecepatan tinggi
"Sayang kamu dengerin aku dulu" ucap Irwan berusaha untuk tidak meluapkan amarahnya pada gadis yang tengah berbicara itu
"Tau akhh" wanita itu mematikan sambungan telponnya secara sepihak
"Arrrrggghhhhhhh" Irwan hampir saja melempar handphonenya kekolam
__ADS_1