
Saat ini seluruh anggota keluarga sudah berkumpul dirumah baru Irwan hanya keberadaan Afdhal yang tidak diketahui sedang kemana. Semua berkumpul diruang keluarga didepan tv yang ada diruang tengah dengan beberapa cemilan dihadapanya.
"Kalian sudah berrumah tangga, masa gadis dan lajang kalian sudah habis maka singkirkan ego kalian disetiap permasalahan yang ada karena cobaan setelah menikah itu akan lebih banyak dari pada pacaran!" ujar Ady.
"Iya Pah, doain Icha agar mampu membangun rumah tangga dengan Kak Irwan," ucap Icha.
"Iya dong sayang!" balas Ady dengan mengelus rambut Icha yang duduk disebelahnya dan dengan manjanya pula Icha malah menyenderkan kepalanya didada bidang milik Ady.
"Ada hal penting yang harus kalian ketahui!" ujar Ramli dengan raut wajah yang sedikit tegang kini semua pandangan tertuju padanya.
"Irwan!"
Baru berkata demikian Ramli langsung dihadiahi tatapan tatapan tajam dari istrinya yaitu Rita, sepertinya Rita sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan Ramli katakan dihadapan orang ramai ini.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Ram?" tanya Ady yang mendengar nada tegas dari Ramli ia langsung membenarkan posisi duduknya untuk mendengarkan cerita Ramli dengan seksama.
"Berat aku mengatakan ini tetapi harus kukatakan," Ramli.
"Pah, aku sudah bilang jangan katakan apa pun pada Irwan!" ucap Rita yang kini posisinya sudah berdiri dihadapan suaminya.
"Tapi Irwan harus tahu, Ma!" balas Ramli sedikit mengeserkan tubuh Rita dari hadapanya agar tidak menghalangi penglihatanya dari putra sulungnya itu.
"Emang apa yang ingin Papa katakan?" tanya Irwan yang ikut penasaran dan ia juga sudah berdiri.
"Papa harus mengatakan ini Irwan walau pun nanti kamu tidak percaya atau akan membenci Papa karena tidak memberitahu mu sebelumnya dan Papa juga akan memenuhi janji Papa akan memberitahu mu jika kamu sudah menikah dan ini sudah waktunya, Papa harap kamu tidak akan kecewa!"
"Jangan pernah katakan hal apa pun pada Irwan!" teriak Rita.
__ADS_1
"Mau seperti apa pun kamu menutupi kenyataan, ada masanya ia akan terbuka karena sepandai pandainya katak melompat sekali kali pasti terjatuh dan sebelum Irwan tahu dari orang lain lebih baik ia tahu langsung dari orang tuanya."
"Ini ada apa sih Pa?" binggung Irwan.
"Kamu jangan dengerin omongan Papa kamu!" ujar Rita yang kini mendekati Irwan dan memegang kedua pundak putranya itu.
"Ini kenyataanya Irwan!" Ramli.
"Kenyataan apa sih Pa?" Irwan.
"Mama Rita bukanlah Mama kandung kamu, kamu hanyalah anak tirinya!"
Deghhhh jantung Irwan seakan berhenti berdetak saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut papanya. Wanita yang bertahun tahun itu merawatnya kini diketahuinya bukanlah wanita yang melahirkanya. Rasa sakit dari kalimat yang keluar dari mulut papanya ini rasa jauh lebih sakit dari pada diputuskan oleh kekasihnya.
"Papa bercandanya ngk lucu," ujar Irwan dengan disertai tawa renyah dibibirnya.
"Papa ngk bercanda Irwan!" ujar Ramli dengan raut wajah tegas hingga membuat semua orang yang ada diruangan itu ikut berdiri. Ady dan Rosmala yang sudah mengetahui tentang hal itu memilih diam agar tidak memperkeruh suasana yang tengah terjadi.
"Sampai kapan kamu akan terus menutupi kebenaran ini Rita?"
"Viona, Mama Irwan butuh doa dari anak yang dilahirkanya,"
Puncak amarah Ramli kini benar benar sudah berada diubun ubunya, Istrinya ini benar benar akan terus menutup rahasianya rapat rapat sedangkan ia sendiri sudah berjanji pada dirinya akan memberitahu hal ini ketika Irwan sudah menikah dan memiliki istri dan ini saat yang tepat untuk menyampaikannya.
"Viona? Viona siapa, Pa?" ujar Irwan meremehkan.
"Viona adalah Mama kandung kamu!" kali ini nada bicara Ramli agak meredah dan mulai mengecil.
__ADS_1
"Mama aku cuma Mama Rita ngk ada yang lain, apalagi Viona Viona yang Papa bilang itu!" ujar Irwan.
"Jaga ucapan kamu Irwan! Rita yang kamu bilang Mama kamu adalah Ibu tiri kamu bukan wanita yang melahirkan mu!" Ramli.
"Aku yang merawatnya, aku yang mencarikanya asi, aku yang mendidiknya dan aku yang menemani setiap harinya." Rita.
"Iya kamu tidak salah dengan ucapanmu, semua perkataan mu benar tetapi kamu juga harus sadar dengan posisi kamu, kamu hanya ibu sambung Irwan, Mama tetaplah orang yang mengandung dan melahirkanya!"
"Kamu masih sayangkan sama Viona?" ujar Rita yang kini berdiri tepat diwajah suaminya itu dengan buliran air mata yang sangat banyak menetes dan nafas yang tersenggal senggal.
"Ini bukan tentang rasa tetapi ini adalah kenyataan yang harus aku sampaikan!" Ramli.
"Tidak ada Ibu Irwan selain aku!" tegas Rita yang kini memalingkan wajahnya dari Ramli.
"Kamu terlalu egois Rita hingga tidak memberi cela bagi Irwan untuk mengetahui sosok wanita yang melahirkanya!"
Rosmala yang sedari tadi hanya diam, Kini mengeluarkan suaranya dan mengutarakan pendapatnya karena bagaimana pun Viona adalah sosok sahabat terbaiknya sejak SMA dan bahkan Viona rela melakukan apa pun demi membantu kesulitanya jadi, wajar saja jika Rosmala tersulut emosi mendengar penuturan dari mulut Rita.
"Kamu tidak perlu ikut campur!" ujar Rita menunjuk dan menatap tajam kearah Rosmala.
"Irwan, Dengarkan perkataan Papamu, kamu memang anak Rita tapi Rita bukan orang yang mengandung mu!" balas Ady yang ikut membela istrinya dan ikut memberitahu kebenaranya.
"Kalian tutup mulut kalian!"
"Rita, harusnya kamu yang nutup mulutmu!" bentak Ramli.
"Mama tetap Mama aku dan ngk ada yang bisa gantiin posisi Mama," ucap Irwan dengan lembut sembari mengengam erat tangan Rita yang kini sudah berhadapan denganya.
__ADS_1
"Mama memang Mama kamu, Sayang!" balas Rita dengan memeluk tubuh Irwan dengan penuh kehangatan. Seegois egoisnya Rita ia tetap menyanyangin Irwan layaknya anak kandungnya dan tidak pernah membeda bedakan antara Irwan dan Afdhal karena sejak Irwan kecil, ia yang merawatnya bahkan sebelum Afdhal terlahir mungkin dari situlah terbentuk kasih sayang seorang Rita pada Irwan.
Ramli hanya dapat menarik nafasnya panjang, Ia juga tidak dapat membohongin hatinya kalau istrinya ini sangat menyanyangin Irwan.