
Sesampainya mereka di Jakarta, mobil Frans berhenti tepat di depan pintu gerbang utama rumahnya, menunggu satpam membukakan pintu gerbang untuknya. Sarah yang datang dari desa tentu sangat takjub melihat rumah Frans yang mempunyai pintu gerbang tinggi menjulang.
Setelah pintu gerbangnya dibuka terlihat jelas bangunan rumah di dalamnya, rumah itu sangat besar dan mewah, dengan halamannya yang cantik dan luas, itu hampir seperti istana bagi Sarah.
"Cepatlah turun, apa yang kau tunggu!" panggil Frans pada Sarah yang masih belum segera turun dari dalam mobilnya, dia masih takjub melihat rumah Frans sampai tidak menyadari jika mobilnya sudah berhenti.
"Iya, maafkan aku," jawab Sarah lirih, dia merasa bersalah telah membuat Frans menunggunya. Sarah segera turun dari mobil dan mengikuti Frans untuk masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah sudah ada Grace yang menanti mereka, dia duduk di kursi ruang tamu sambil membaca majalah dengan seorang wanita setengah baya yang berdiri di sebelahnya, Frans menghampiri ibunya untuk memperkenalkannya pada Sarah.
"Ma, ini Sarah!” Frans menunjuk ke arah Sarah yang berdiri di sampingnya. “Dia Ibu dari calon anakku!" ucapnya memperkenalkan Sarah pada ibunya.
Grace menatap Sarah dari atas kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menghina. Hari itu Sarah mengenakan daster kusut dengan panjang selutut, dan hanya menggunakan sandal jepit. Tentu penampilannya terlihat sangat kampungan di mata Grace.
"Sarah, ini Mamaku dan disebelahnya itu namanya Bi Inah, dia pelayan di rumah ini," ujar Frans memperkenalkan ibunya dan bi Inah kepada Sarah sambil menunjuk ke arah mereka. Sarah mendekat ke arah Grace, dia mengulurkan tangannya hendak mencium tangan Grace sebagai tanda menghormati mertuanya.
"Apa yang kau lakukan?!” Grace menepis tangan Sarah dan menatapnya sinis. “Jangan sok dekat kau denganku! Jangan kira kau bisa menjadi nyonya di rumah ini hanya karena mengandung anaknya Frans! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimamu sebagai menantu di rumah ini, ingat itu!" maki Grace pada Sarah karena dia berani untuk menyentuh tangannya.
Frans yang melihat itu segera menghentikan ibunya.
"Sudahlah…! Mama pulang saja, jangan buat keributan di sini, aku lelah!" ucap Frans menghentikan ibunya yang sedang mengomeli Sarah, karena dia merasa terganggu dengan ibunya yang membuat keributan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pulang, tapi aku akan sering datang ke sini mulai sekarang," sahut Grace dengan kesal karena Frans berani mengusirnya dari rumah.
"Bi, tolong antar Mama ke luar!" perintah Frans pada bi Inah untuk segera mengantar ibunya keluar dari rumah.
"Baik, Tuan," jawab bi Inah dengan menganggukkan kepalanya, dia segera melaksanakan perintah Frans untuk mengantar Grace keluar dari rumah.
"Sarah, kau ikuti aku!" Frans segera berjalan supaya Sarah mengikutinya, mereka berjalan ke lantai atas sampai berhenti di sebuah kamar. "Ini kamarmu! Kalau kau butuh sesuatu mintalah pada Bi Inah, aku lelah mau istirahat dulu."
Saat Frans berbalik hendak pergi, Sarah segera menghentikannya dengan pertanyaan. "Frans..., apa aku memang boleh tinggal di rumahmu? Sepertinya ibumu tidak menyukaiku," tanya Sarah dengan wajah ragu-ragu takut menyinggung perasaannya Frans.
"Meskipun dia tidak menyukaimu, dia juga tidak bisa mengusirmu dari rumahku. Ibuku tidak tinggal di rumah ini, jadi kau tidak akan sering bertemu dengannya," jawab Frans menjelaskan pada Sarah. Dia ingin segera pergi dari sana, tapi Sarah menghentikannya lagi dengan pertanyaan.
"Frans, apa kita tidak tinggal dalam satu kamar?" tanya Sarah sambil menatap Frans dengan wajah sendu.
Sarah sedih mendengar ucapan Frans tersebut, tapi dia tetap berusaha tegar demi anaknya.
Saat waktu makan malam tiba, bi Inah mengetuk pintu kamarnya.
"Non Sarah, ini sudah waktunya makan malam, turunlah untuk makan Non!" panggil bi Inah dari balik pintu kamar.
Sarah yang mendengar itu langsung menjawabnya,
"Baik Bi, saya akan segera turun.” Dia bergegas turun ke bawah untuk memenuhi panggilan bi Inah.
__ADS_1
Di meja makan sudah ada Frans yang terlebih dahulu duduk di sana. Dia sudah bersiap untuk menyantap makanan di tangannya, lalu Sarah tiba-tiba datang dan duduk disebelahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Frans dengan tatapan dingin. Dia mengurungkan niatnya untuk menyantap makanan di tangannya karena melihat Sarah yang tiba-tiba duduk di sebelah kanan kursinya.
"Aku—"
"Aku tidak mau makan satu meja denganmu, makanlah di tempat lain!" potong Frans cepat. Dia bicara dengan nada tinggi pada Sarah.
Mendengar perkataan Frans tersebut membuat hatinya terluka, Sarah segera bangkit dari kursinya.
"Maaf...!" kata Sarah lirih. Matanya berkaca-kaca karena menahan tangis, lalu dia segera berlari kembali ke kamarnya.
Melihat perilaku Frans yang kasar pada Sarah, bi Inah jadi merasa bersalah karena menyebabkan Sarah dimarahi oleh Frans, jadi dia ingin menjelaskan situasi yang sebenarannya terjadi pada Frans.
"Maaf, Tuan! Itu ... sebenarnya bukan salah Non Sarah, saya yang menyuruhnya untuk turun supaya dia ikut makan malam. Saya tidak tahu, kalau Tuan tidak suka dengan itu," tutur bi Inah menjelaskan dengan kepala menunduk karena dia merasa bersalah.
"Baiklah...!" jawab Frans tidak peduli. Dia menggerakkan tangan kirinya untuk mengkode bi Inah supaya meninggalkannya sendiri.
Di kamarnya Sarah sedang menangis karena ucapan Frans yang menyakiti hatinya. Tidak lama kemudian bi Inah mengetuk pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar Sarah, dia datang untuk meminta maaf pada Sarah.
"Non Sarah, tolong maafkan Bibi, Non! Bibi gak tahu kalau akan jadi seperti ini," tutur bi Inah dengan kepala menunduk karena ia merasa bersalah pada Sarah.
"Iya, Bi. Saya tidak apa. Itu bukan salah Bibi, itu salah saya yang tidak menyadari di mana posisi saya seharusnya berada," jawab Sarah lirih dengan berlinangan air mata.
__ADS_1