
Sore itu, Frans pulang ke rumah setelah bekerja seharian di kantornya, jadi dia merasa lelah. Begitu sampai di rumah, dia langsung duduk di kursi ruang tamu sambil melepas jasnya di sofa.
"Bi...!! Tolong buatkan aku teh hijau, aku haus!" teriak Frans memanggil bi Inah. Tapi bi Inah tidak kunjung datang menjawab panggilannya, tidak lama kemudian Sarah yang datang padanya.
"Ngapain kau ke sini? Aku panggil Bi Inah bukan kau. Bi...!! Cepat ke sini…!!" teriak Frans memanggil bi Inah lagi.
"Bi Inah tidak ada di rumah, dia sedang pergi ke pasar untuk belanja bahan makanan. Aku akan buatkan untukmu teh hijaunya." Sarah segera berlalu pergi ke dapur. Beberapa saat kemudian dia datang membawa segelas teh hijau di tangannya.
"Ini silakan diminum tehnya!" Sarah menyodorkan segelas teh hijau di tangannya itu pada Frans.
Frans segera mengambil segelas teh itu darinya. Dia merasa canggung karena Sarah terus memperhatikannya, dia jadi tidak fokus dengan pikirannya, sampai dia meminum langsung teh yang masih panas tersebut.
"Aaah…!! Panasss...!!" teriak Frans yang kesakitan karena lidahnya terkena air teh yang masih panas, dan secara refleks dia melepaskan gelas itu dari genggaman tangan kanannya dan jatuh mengenai tangan kirinya. "Aduhh…!! Panasss…!!" teriak Frans semakin kencang sambil mengibas-ngibaskan tangan kirinya.
PYARRRR...!!!!
Sarah yang melihat itu langsung khawatir pada Frans dan segera menghampirinya.
"Mana tanganmu, biar kulihat!" Sarah segera meraih tangan Frans. "Ini harus segera diobati supaya tidak melepuh, tunggu di sini, aku akan ambilkan air es dan salep luka bakar untukmu!" Sarah segera pergi mengambilkan Frans air es dan salep luka bakar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian bi Inah tiba di rumah. "Tuan, ada apa ini? Apa Tuan terluka?" tanya bi Inah yang melihat pecahan gelas berserakan di lantai.
"Aku tidak apa, Bibi bersihkan saja ini semua!" sahut Frans memerintah.
"Baik, Tuan," jawab Bi Inah dengan anggukan kepalanya. Dia segera pergi mengambil alat untuk bersih-bersih.
Tidak lama kemudian Sarah kembali dengan membawa air es dan salep luka bakar di tangannya, dia duduk di samping Frans.
"Sini tanganmu...!" Sarah mengulurkan tangannya pada Frans, lalu Frans menyodorkan tangan kirinya yang terluka tadi. Sarah merendam dulu tangan Frans di ember yang berisi air es, lalu Sarah mengelap tangan Frans dengan handuk. Frans menatap lekat wajah Sarah yang merawat tangannya dengan sangat lembut dan hati-hati.
"Ahhh…!!" rintih Frans yang kesakitan saat Sarah mengoleskan salep luka bakar di tangannya.
"Maaf..., aku akan lebih pelan lagi," ujar Sarah dengan wajah khawatirnya.
Dukkk…!!!
Bi Inah menjatuhkan sapu di tangannya.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja," tutur bi Inah dengan menundukkan kepalanya karena dia merasa datang di waktu yang tidak tepat.
Karena terkejut mendengar suara sapu yang jatuh, pikiran rasional Frans kembali tersadar. Dia segera memalingkan mukanya dari Sarah dan bangkit dari kursi seolah-olah tidak terjadi apapun.
__ADS_1
"Lanjutkan pekerjaanmu!" perintah Frans pada bi Inah. Dia segera berlalu pergi kembali ke kamarnya.
Di dalam kamarnya Frans terlihat gelisah, dia berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambut karena bingung dengan perasaan hatinya. Dia memikirkan apa yang baru saja ingin dia lakukan pada Sarah.
"Apa aku gila...? Frans mencengkram kepalanya dengan keras supaya pikiran sadarnya kembali. “Apa yang baru saja ingin aku lakukan? Apa tadi aku ingin menciumnya? Ini tidak mungkin. Aku harus menjauh darinya!" ucap Frans kesal dengan dirinya sendiri.
Di dapur, Sarah sedang melamun. Dia bersandar di tembok sambil memegangi bibirnya, dia memikirkan apa yang baru saja terjadi,
“Apa tadi Frans ingin menciumku? Tidak mungkin! Dia tidak pernah mencintaiku, pasti hanya aku saja yang kegeer-an,” kata Sarah mengalihkan pikirannya, dia kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya.
Malam harinya, Sarah membantu bi Inah memasak di dapur menyiapkan makan malam untuk Frans. Setelah Sarah selesai memasak, dia menyajikan makanannya di atas meja makan, dan tepat saat itu Frans turun ke bawah dengan berpakaian rapi seperti hendak pergi keluar rumah. Melihat hal itu Sarah segera menghentikannya.
"Kamu mau ke mana Frans malam-malam begini? Makanlah dulu!" tanya Sarah khawatir.
"Aku mau ke mana itu bukan urusanmu," jawab Frans dingin segera berlalu pergi meninggalkan Sarah.
Malam itu Frans pergi ke kelab malam, dia ingin mengalihkan pikirannya dari Sarah. Frans duduk sendirian meneguk minuman alkohol di tangannya, wajahnya terlihat sangat frustrasi dan tertekan. Kebetulan Aldo baru saja tiba di sana, dia segera menghampiri Frans.
"Apa yang kau lakukan di sini?” Aldo merebut gelas minuman dari tangan Frans dan meneguknya. “Kau harusnya di rumah bersenang-senang dengan istrimu, kenapa malah keluyuran di sini?" tanya Aldo menggoda Frans.
"Sudahlah, jangan ganggu aku!” Frans merebut kembali gelasnya dari tangan Aldo.
__ADS_1
“Aku sedang stres sekarang, jangan tambah lagi dengan ocehanmu itu!" sahut Frans dengan kesal. Dia menggenggam erat gelas di tangannya itu.
"Baiklah Frans, maafkan aku! Aku tidak akan mengganggu kesenanganmu.” Aldo menuangkan botol minuman alkohol ke dalam gelas Frans. “Silakan bermainlah sepuasnya di sini, jika itu bisa melupakan masalahmu!" ucap Aldo dengan tersenyum.