IF I NEVER MET YOU

IF I NEVER MET YOU
Pemeriksaan


__ADS_3

Keesokan harinya, di meja makan. Saat Frans sedang menikmati sarapan paginya sebelum berangkat ke kantor, dia heran dengan rasa makanannya.


"Hmm… apa ini...? Kok rasanya beda dari biasanya,” gumam Frans sambil mengecap-ngecapkan lidahnya. Dia bingung dengan rasa makanan tersebut.


"Kenapa, Tuan? Apa makanannya tidak enak?" tanya bi Inah khawatir, dia takut rasa masakan itu tidak sesuai dengan selera Frans.


"Tidak. Ini enak kok! Cuma rasanya beda, tidak seperti biasanya. Apa ini resep baru?" tanya Frans penasaran. Dia merasa makanan yang dia santap jadi semakin lezat.


"Tidak, Tuan. Itu bukan saya yang memasak, itu Non Sarah yang memasaknya," jawab bi Inah menjelaskan pada Frans.


"Ke mana dia, aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya Frans dingin.


"Non Sarah ada di halaman depan, Tuan. Dia sedang melihat-lihat tanaman bunga," jawab bi Inah memberitahu lokasi keberadaan Sarah.


Setelah selesai sarapan, Frans bersiap untuk pergi ke kantornya. Namun sebelum Frans masuk ke dalam mobilnya, dia melihat Sarah dan segera memanggilnya.


"Sarah...!! Cepat kemarilah...!!" panggil Frans sambil melambaikan tangan kanannya pada Sarah.


"Ada apa...?" tanya Sarah dengan wajah ragu-ragu, dia takut berbuat salah lagi karena tiba-tiba Frans memanggilnya.


"Bersiaplah! Sebentar lagi mama akan segera ke sini untuk mengantarmu memeriksakan kandunganmu ke dokter," ujar Frans dengan wajah dingin.


"Iya, aku mengerti," jawab Sarah dengan menganggukan kepalanya.


Setelah kepergian Frans, Sarah mulai terlihat khawatir. Di dalam kamarnya, Sarah berjalan mondar mondar-mandir sambil memainkan jari-jemarinya. Dia takut akan ketahuan, jika dia menderita sakit kanker otak saat pemeriksaan nanti.


"Apa yang harus aku lakukan? Kalau mereka tahu aku sakit, pasti Frans dan ibunya tidak mau menerima anak ini. Tolonglah aku Ya Tuhan…" ujar Sarah dengan gelisah.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, bi Inah datang ke kamarnya. "Non Sarah... nyonya Grace sudah tiba, Anda silakan turun untuk segera berangkat!" panggil bi Inah dari balik pintu kamarnya.


"Baik, Bi." sahut Sarah dari dalam kamarnya, dia bergegas untuk turun ke bawah supaya tidak membuat Grace menunggunya terlalu lama.


Sesampainya di bawah, di sana sudah ada Grace yang duduk manis di sofa ruang tamu. Lagi-lagi dia menatap Sarah dengan sinis.


"Jangan salah paham! Aku melakukan ini bukan karena aku menerimamu, aku melakukan ini hanya untuk kesehatan calon cucuku!" tegas Grace dingin.


"Iya, Bu. Saya mengerti," jawab Sarah lirih.


"Siapa yang kau panggil Ibu? Panggil aku N-y-o-n-y-a, kau mengerti?!" ucap Grace dingin dengan tatapan sinisnya.


"Iya, Nyonya," kata Sarah mengkoreksi ucapanya.


Mereka berdua pun segera berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di sana wajah Sarah terlihat pucat dan gelisah, tangannya berkeringat dingin karena dia terlalu tegang menunggu antrian namanya disebut.


"Iya, saya…!" jawab Sarah sambil mengangkat tangan kanannya. Dia berjalan memasuki ruang pemeriksaan dengan jantung yang berdegup kencang dan langkah kaki yang berat.


Kebetulan Dokter tersebut adalah Rani, sahabatnya Frans. Setelah pemeriksaannya selesai, Rani sangat terkejut melihat hasil pemeriksaan Sarah. Tapi sebelum Rani bicara, Sarah langsung berlutut di depan kakinya.


"Tolong saya Dok, tolong jangan beritahu mertua saya yang di luar, jika saya sakit. Tolong rahasiakan ini, Dok...!" pinta Sarah dengan berurai air mata.


Melihat Sarah yang berlutut sambil menangis di depannya, Rani segera menyuruhnya untuk duduk kembali di kursi. Setelah itu Rani membaca biodata Sarah dan dia terkejut melihatnya.


"Ternyata kamu istrinya Frans...?" tanya Rani keheranan. Sarah yang bingung mengapa Rani bisa kenal dengan Frans, dia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rani.


"Kamu tidak seperti apa yang saya bayangkan," ucap Rani dengan tersenyum.

__ADS_1


"Apa setidak pantas itukah saya untuk Frans?" tanya Sarah dengan wajah sedih karena dia mengira Rani menghinanya.


"Bukan! Bukan itu maksud saya, maksud saya kamu tidak seperti tipe wanita-wanita yang pernah dekat dengan Frans," jawab Rani menjelaskan maksudnya supaya tidak melukai perasaan Sarah. "Kalau boleh saya tahu, sejak kapan kamu tahu tentang kondisimu ini?"


"Saya tahu sejak awal kehamilan."


"Berarti kamu juga tahu, karena alasan bayimu ini mungkin usiamu tidak akan bertahan lama."


"Iya, saya sudah tahu. Karena itu saya mohon pada Dokter, tolong rahasiakan sakit saya ini dari Frans dan ibunya, karena setelah saya melahirkan, mungkin saya tidak akan bisa menjaga anak ini," jawab Sarah menjelaskan alasannya.


Setelah mendengar cerita dari Sarah, Rani jadi tidak tega dan dia menyanggupi akan merahasiakan sakitnya dari Frans dan ibunya, "Baiklah, aku janji akan merahasiakan ini."


"Terima kasih Dokter, terima kasih banyak," ujar Sarah dengan tersenyum sambil menggenggam tangan Rani.


"Panggil saja saya Rani. Saya sahabatnya Frans dari kecil, dan kamu istrinya berarti teman saya juga, kan?" ujar Rani mengkoreksi ucapan Sarah.


"Anda mau berteman dengan saya yang kampungan ini?"


"Iya, saya tidak melihat seseorang dari status sosialnya untuk berteman. Saya tahu kamu orang yang baik."


"Terima kasih, Ran. Kamu mau berteman dengan saya," sahut Sarah tersenyum senang, karena akhirnya dia punya teman juga di Jakarta.


"Ini kartu nama saya, hubungi saya jika terjadi sesuatu dengan kamu, lain kali saya akan mampir ke sana." Rani menyodorkan kertas kecil di tangannya.


Setelah itu Sarah keluar dari ruangan Rani dengan membawa kertas laporan medis tentang pemeriksaan kandungannya dan menyerahkannya pada Grace.


"Baguslah kau sehat, itu akan berpengaruh pada calon cucuku," kata Grace dingin sambil membaca laporan di tangannya. Setelah itu mereka berdua pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2