
Mendengar percakapan Frans dan Stevi di telepon, Sarah mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi sebelum Frans mengatakan padanya, Dia bicara terlebih dahulu.
"Pergilah...! Aku tidak apa." kata Sarah berusaha tegar di depan Frans.
"Terimakasih kau sudah mengerti, baiklah aku pergi dulu, kau bisa kembali ke rumah sendirikan?" tanya Frans.
"Iya, aku bisa pulang sendiri, pergilah!" kata Sarah dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya.
Begitu Frans membalikkan badannya pergi meninggalkan Sarah, Sarah langsung menitihkan air matanya, karena Ia tak mampu membendung kesedihannya.
Frans pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang melihat Sarah. Sarah menatap kepergian Frans dengan wajah yang sangat sedih dan terluka.
"Sampai kapan aku harus menahan ini semua? Dulu ayah berjanji ingin mengajakku ke sini, tapi ayah tidak pernah menepatinya. Dan sekarang orang yang aku cintai meninggalkanku sendiri di sini. Apa aku tidak boleh bahagia walaupun sebentar...?" kata Sarah dengan tangisannya.
Sarah pulang ke rumah dengan naik taksi, di lampu merah pemberhentian jalan, Sarah melihat Frans dan Stevi yang tersenyum bahagia di dalam mobil, karena melihat itu Sarah menangis lagi di perjalanan sampai pulang ke rumah.
__ADS_1
Malamnya Sarah berdiri di depan jendela kamarnya, Ia menatap ke arah pintu gerbang, seperti sedang menantikan kehadiran seseorang, namun orang tersebut tidak kunjung datang sampai tengah malam.
"Hari ini...Dia tidak pulang lagi..." kata Sarah dengan suara lirih.
Sarah selalu menunggu Frans pulang ke rumah sampai tengah malam, meskipun Ia tahu Frans tidak akan pulang, Ia tetap menunggunya di depan jendela kamarnya.
Setelah itu Sarah duduk di meja samping tempat tidurnya, Dia mengambil kertas dan menulis sesuatu dengan berurai air mata, di tengah-tengah menulis, darah menetes dari hidungnya, karena sakit kepalanya kambuh lagi.
Lalu Ia menyimpan kertas tersebut di laci mejanya, dan segera berbaring di ranjang. Sarah tidur dengan menangis menahan sakit kepalanya yang teramat sakit.
"Bibi mau kemana kok bawa tas segala?" tanya Sarah yang heran melihatnya.
"Saya mau pulang kampung non, anak saya sakit tidak ada yang jagain, jadi saya harus pulang untuk merawatnya." jawab bi Inah dengan alasannya.
Sarah jadi sedih karena bi Inah akan meninggalkannya sendirian di rumah, Dia pun kembali bertanya, "Apa Frans sudah tahu kalau bibi akan pulang kampung?"
__ADS_1
"Iya, saya sudah minta izin ke tuan Frans lewat telepon non." jawab bi Inah menjelaskan.
"Kapan bibi akan kembali ke sini lagi?" tanya Sarah dengan wajah sedih.
"Mungkin semingguan non." jawab bi Inah.
Sarah diam sejenak dia memikirkan sesuatu sebelum dia bicara, "Bibi tunggu dulu sebentar."
Sarah segera berlalu pergi ke kamarnya, dan tidak lama kemudian Dia kembali dengan sepucuk surat di tangannya.
"Tolong bibi simpan surat ini, bibi kasikan pada Frans ketika bibi kembali ke sini nanti." kata Sarah dengan menggenggam tangan bi Inah.
Bi Inah yang bingung dengan maksud Sarah Dia pun bertanya, "Kenapa tidak non Sarah sendiri yang kasikan ke tuan Frans?"
"Saat itu, saya tidak bisa memberikan ini padanya, jadi saya mohon pada bibi, tolong sampaikan surat saya ini pada Frans, ketika bibi kembali ke sini nanti." kata Sarah dengan memohon.
__ADS_1