
Setelah menikah mereka menghabiskan waktu setiap hari dengan mesra sebagai pasangan suami istri. Sarah sangat bahagia dengan kehidupannya yang kini tidak sendirian lagi, karena kini dia sudah punya suami yang sebaik Frans. Frans juga masih ikut membantu Sarah untuk bekerja di perkebunan teh seperti hari itu,
"Frans, kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Sarah yang merasa tidak nyaman dengan pandangan Frans yang terus menatapnya dengan panas.
"Kamu terlihat sangat cantik Sarah," sahut Frans dengan tersenyum sambil mencolek dagu Sarah.
"Frans, kita tidak lagi di rumah, kita sedang bekerja. Lanjutkan saja memetik daun tehnya, jangan menatapku terus!" Sarah mengingatkan Frans untuk tidak bersikap aneh karena mereka sekarang sedang bekerja.
"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh menatap istriku sendiri?" tanya Frans dengan wajah kesal karena Sarah tidak menggubris rayuannya.
"Sudahlah Frans, kamu fokus saja memetik daun tehnya. Nanti kita akan dimarahi pak mandor, kalau kita banyak bicara saat bekerja." Sarah berusaha menjelaskan supaya Frans menuruti ucapannya.
"Aku tidak takut mandor itu, mana dia…?” Frans menolehkan kepalanya melihat kiri-kanan mencari mandor itu. “Awas kalau dia berani memarahi istriku, akan ku beli seluruh kebun teh ini dan aku pecat dia!" ucap Frans menyombongkan dirinya.
"Diamlah Frans, jangan berisik!" Sarah segera menutup mulut Frans dengan kedua tangannya. Dia takut ada seseorang yang mendengar ucapan Frans barusan.
Melihat tingkah Sarah yang terlihat panik tersebut menurut Frans itu terlihat imut, dia langsung mencium bibir Sarah secara spontan, dan itu membuat Sarah terdiam karena malu. Setelah mencium Sarah, Frans berbisik padanya,
"Kalau kamu melarang aku menatapmu lagi, akan ku buat kamu lebih malu dari ini!" Frans tersenyum puas karena telah mencium bibir Sarah, dia kembali melanjutkan pekerjaannya memetik daun teh sambil sesekali melirik Sarah dengan senyuman nakalnya.
Di rumah pun mereka juga selalu bersama-sama dalam melakukan aktivitas apapun, Frans selalu mengikuti ke manapun Sarah pergi, seperti lem super yang menempel sangat kuat.
Seperti hari itu saat Sarah sedang memotong sayuran untuk memasak, tiba-tiba Frans datang dan melingkarkan tangannya memeluk erat pinggang Sarah dari belakang.
“Sarah, aku kangen denganmu…” bisik Frans mesra di telinga Sarah. Dia mudah tergoda hanya dengan melihat Sarah saja, tubuhnya langsung bereaksi seperti tertarik magnet olehnya.
__ADS_1
“Frans, apa yang kamu lakukan? Aku sedang memotong sayuran." Sarah menghentikan aktivitasnya dan melirik Frans yang bersandar di bahunya. "Aku tidak bisa bergerak kalau kamu seperti ini. Lepaskan aku dulu, supaya aku bisa segera memasak untukmu!”
“Aku tidak mau melepaskanmu, lanjutkan saja memotongnya! Aku cuma mau memelukmu kok.” Frans semakin mengeratkan pelukan tangannya.
Sarah hanya bisa menghela napas melihat suaminya yang bertingkah kekanakan, dia pun melanjutkan aktivitasnya memotong sayuran tersebut. Karena Frans memeluknya cukup erat, dia jadi tidak leluasa memotong sayuran tersebut hingga akhirnya,
Sringg...!!
“Ahh...!!” Sarah meringis kesakitan karena jarinya yang terluka.
Frans yang mendengar itu segera membalikkan badan Sarah menghadap padanya.
“Kamu kenapa? Coba aku lihat!” tanya Frans panik. Dia segera meraih jari Sarah yang terluka dan mengulum di mulutnya untuk menghentikan pendarahan.
“Kamu tidak perlu melakukan itu Frans, aku ada obat merah kok di rumah.”
Setelah di rasa pendarahan di jari Sarah telah berhenti, Frans menyudahi ulumannya dan langsung memeluk Sarah ke dalam dekapannya.
“Maafkan aku, ini tidak akan terjadi kalau aku mendengarkanmu. Aku janji, aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi,” ujar Frans merasa bersalah. Sarah segera membalas pelukan Frans, dia tersenyum bahagia melihat Frans begitu peduli dengannya.
Frans seperti sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana Sarah. Dia tidak pernah sekalipun mengeluh dengan makanan yang Sarah sajikan untuknya.
Suatu hari, saat Frans menemani Sarah untuk memasak di tungku yang terbuat dari tanah liat, Sarah tiba-tiba merasa pusing sampai dia jatuh terduduk di tanah.
"Ahh...!! Kepalaku…!!" keluh Sarah yang kesakitan sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
Frans yang melihat itu langsung panik dan segera menghampiri Sarah untuk menolongnya.
"Ada apa Sayang? Kamu kenapa, apa kita perlu ke dokter?" tanya Frans yang terlihat panik. Dia segera membantu Sarah berdiri dan mendudukkannya di kursi.
"Tidak usah Frans, terima kasih. Aku tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan saja," jawab Sarah menolak ajakan Frans untuk pergi ke rumah sakit.
"Kamu istirahat saja, biar aku yang menyalakan apinya. Bagaimana caranya beritahukan saja padaku?" tanya Frans dengan antusias. Dia ingin membantu karena Sarah terlihat sakit.
"Itu ada kayu bakar, kamu siram dengan minyak tanah sedikit, lalu kamu nyalakan korek apinya ke kayu bakar yang kena minyak tanah tersebut," jawab Sarah menjelaskannya pada Frans cara menyalakan api sambil menunjuk ke arah minyak tanah di sebelah kiri Frans.
"Oh... hanya begitu saja," ucap Frans meremehkan apa yang di jelaskan Sarah padanya, karena menurutnya itu tidaklah sulit. Frans mulai melakukan apa yang Sarah ajarkan padanya, tapi dia kebanyakan menuang minyak tanahnya sehingga,
BULLL…!!!!
"Aaah…!!! Api-api...!! Tolong selamatkan aku...!!" teriak Frans histeris karena melihat apinya yang menyala terlalu besar. Wajahnya langsung memucat hingga tubuhnya gemetar ketakutan sampai dia jatuh terduduk di tanah.
Sarah yang melihat itu segera menghampiri Frans.
"Ada apa Frans, apa kamu terluka? Mengapa kamu berteriak seperti ketakutan?" tanya Sarah yang panik melihat kondisi Frans. Dia segera membantu Frans berdiri menjauh dari api, dan mendudukkannya di kursi sambil memberinya segelas air minum di tangannya.
Begitu Frans selesai minum, dia sudah lebih tenang dari sebelumnya, dia mulai bercerita pada Sarah alasan ketakutannya tadi.
"Aku takut api Sarah … karena dulu aku pernah hampir mati karena api. Pasti kamu merasa aku aneh, karena seorang pria takut pada api." Frans menjelaskan pada Sarah dengan menunduk malu, dia mengira pasti Sarah akan menganggapnya seperti pengecut.
"Tidak! Menurutku itu bukan hal yang aneh, setiap orang pasti punya ketakutannya sendiri Frans. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, bagiku kamu adalah suamiku yang terbaik," ujar Sarah mencoba menenangkan Frans sambil memeluk tubuhnya.
__ADS_1