
Di Jakarta,
Frans sedang sibuk dengan pekerjaan di kantornya, dia terlihat lelah dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya. Tidak lama kemudian, asistennya Aldo melenggang masuk ke dalam ruangannya.
"Bagaimana perkembangannya, apa kau sudah menemukannya?" tanya Frans yang langsung menatap ke Aldo dan mengabaikan berkas yang tadi dia baca di mejanya.
"Belum, Frans. Aku sudah berusaha, tapi sulit untuk menemukan anak itu," jawab Aldo dengan wajah bersalah karena dia masih belum bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Frans padanya.
"Baiklah, teruskan pencariannya!" Terlihat kekecewaan di wajah Frans, karena dia belum juga mendapatkan berita bagus yang ia nanti.
"Tapi Frans, sampai kapan kau akan terus mencarinya? Kita sudah berusaha mencarinya selama delapan tahun ini, tapi kita masih belum juga bisa menemukannya," tanya Aldo yang penasaran dengan alasan Frans yang tetap bersikukuh.
"Sampai kapanpun! Aku akan terus mencarinya," jawab Frans dengan wajah serius menatap Aldo.
"Mengapa kau harus sekeras ini hanya untuk mencari seorang anak yang bahkan tidak kau kenal?" Aldo penasaran mengapa Frans bisa peduli pada seseorang yang bahkan tidak dia kenal sama sekali, itu tidak seperti karakter dirinya.
Frans sedikit tersinggung mendengar ucapan Aldo tersebut. Dia beranjak dari kursinya dan berjalan menghadap ke jendela kaca besar di belakangnya, dia menatap nanar menerawang jauh ke luar jendela.
"Karena aku berutang nyawa pada anak itu. Dia kehilangan ayahnya karena aku, jadi utang ini akan terus kubawa, sampai aku mati." Raut muka Frans langsung berubah sedih, karena dia kembali teringat kenangan peristiwa hari itu.
***
8 tahun yang lalu di Jakarta,
__ADS_1
Malam itu pukul 20.00 WIB, terjadi sebuah kebakaran besar yang melahap sebuah asrama sekolah terkemuka di Jakarta. Semua siswa berlarian, berhamburan ke jalanan, berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api yang mengepul. Frans salah satu siswa di asrama itu, dia terjebak dalam kebakaran tersebut.
"Huk... hukk…!! Tolong... tolong saya...!!" teriak Frans sambil terbatuk-batuk karena asap yang mengepul memenuhi seluruh ruangan. Dia tidak bisa keluar menyelamatkan diri, karena kakinya yang tertimpa material bangunan membuatnya tidak bisa bergerak. Dia hampir putus asa karena tidak ada seorang pun yang datang untuk menolongnya.
Tidak lama kemudian masuklah seorang pemadam kebakaran yang mendengar teriakan Frans tersebut. Pria itu bernama Rusdiyanto, berusia 37 tahun. Dia anggota pemadam kebakaran yang paling berani menerjang bahaya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
"Ya Tuhan… ternyata masih ada seseorang disini! Tunggu Nak, aku akan membantumu!" Rusdiyanto berjalan mendekati Frans. Dia berusaha mengangkat material bangunan yang menimpa di kaki Frans, dengan susah payah dia mengerahkan tenaganya sampai akhirnya bisa mengangkat material bangunan tersebut. Setelah itu Rusdiyanto memapah Frans untuk membantunya berjalan.
"Ya ampun, ini buruk sekali…!” Rusdiyanto menatap sekelilingnya dengan wajah khawatir karena apinya yang semakin membesar. “Kita harus cepat keluar dari sini, sepertinya bangunan ini akan segera roboh."
Disaat mereka berusaha mencari jalan keluar dari bangunan tersebut, Rusdiyanto terus melihat jam tangannya, seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa Pak, mengapa Anda terus melihat jam tangan seperti kebingungan?" tanya Frans penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Rusdiyanto.
"Hari ini adalah hari ulang tahun putriku, aku berjanji untuk mengajaknya pergi ke taman hiburan setelah aku pulang kerja, tapi sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku padanya." jawab Rusdiyanto dengan wajah sedih karena teringat putrinya.
Panasnya kobaran api yang menyala terlalu lama menyebabkan bangunan tersebut menjadi rapuh hingga puing-puing bangunan berjatuhan.
"Awasss...!! Sebelah kananmu…!!" teriak Rusdiyanto dengan mata terbelalak sambil mendorong tubuh Frans ke depan.
BRUKKK...!!!!
Frans yang selamat karena dorongan Rusdiyanto tersebut, dia langsung menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia melihat Rusdiyanto yang sudah terkapar, tertimpa tiang yang sangat besar.
"PAKKK...!!!” teriak Frans panik. Dia segera mendekat untuk menolong Rusdiyanto. “Apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda mau berkorban demi menolong saya?!" Frans berusaha mengangkat reruntuhan tiang bangunan itu dengan kedua tangannya, namun usahanya sia-sia saja, karena dia tidak bisa menggerakkan sedikitpun reruntuhan bangunan tersebut.
__ADS_1
"I-ini... memang sudah tugasku Nak,” ucap Rusdiyanto berusaha bicara dengan terbata-bata sambil menahan rasa sakitnya. “Cepatlah pergi, Selamatkan dirimu! Bangunan ini akan segera—!"
Hueekkk…!!!
Belum selesai Rusdiyanto bicara tiba-tiba dia muntah darah. Sepertinya organ dalam tubuhnya sudah terluka parah karena tertimpa tiang bangunan itu, dia terlihat sangat lemah dan rapuh.
"PAKKK...!!!” teriak Frans panik, air matanya meluruh melihat Rusdiyanto muntah darah. “Bertahanlah Pak, saya akan berusaha mengeluarkan Anda dari sini," tutur Frans dengan tangisannya. Dia tetap bersikeras untuk mengangkat tiang bangunan tersebut tanpa menuruti perintah Rusdiyanto.
"Aku tidak akan bisa keluar dari sini, Nak. Selamatkan dirimu! Kau masih punya masa depan yang panjang, cepat pergilah...! Atau pengorbananku untuk menyelamatkanmu akan sia-sia," kata Rusdiyanto dengan suaranya yang semakin melemah.
Mendengar ucapan Rusdiyanto tersebut, membuat Frans terpaksa menuruti ucapannya.
"Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk Bapak sebelum saya pergi?"
"Putriku... tolong temui putriku...! Katakan padanya, maaf ayahnya tidak bisa menepati janjinya, katakan aku sangat menyayanginya. Cepatlah pergi Nak, waktumu tidak banyak lagi!"
Setelah mendengar permintaan terakhirnya tersebut, Frans langsung berdiri untuk segera keluar dari kemelut api yang membakar bangunan tersebut, dan tepat setelah dia berhasil keluar dari ruangan itu, bangunan tersebut roboh.
BRUKKKK…!!!!!!!
Frans langsung berbalik badan karena mendengar suara tersebut. Air matanya kembali meluruh di wajahnya, tubuhnya langsung lemas sampai dia jatuh terduduk di tanah, dia sangat syok melihat apa yang baru saja terjadi.
“TIDAKKK…!!!” teriak Frans dengan wajah yang sangat terluka. Dia menangis terisak melihat bangunan tersebut roboh di depan matanya, itu berarti Rusdiyanto yang menyelamatkan nyawanya juga sudah mati di dalam sana. Dia segera bangkit dari tanah hendak mendekat ke bangunan yang roboh itu, tapi orang-orang di sana segera memegangi dia untuk menghentikannya.
“Lepaskan aku…!! Aku harus menolongnya, dia masih bisa selamat jika aku menolongnya, lepaskan aku…!!” teriak Frans dengan meronta-ronta supaya mereka melepaskannya. Dia tetap bersikeras untuk mendekat ke bangunan tersebut, tapi tiba-tiba pandangan matanya mulai kabur dan dia jatuh pingsan karena luka di kakinya yang banyak mengucurkan darah.
__ADS_1
Keesokan harinya, setelah Frans siuman, dia langsung bergegas keluar dari rumah sakit untuk pergi ke rumah Rusdiyanto. Dia ingin menepati permintaan terakhir Rusdiyanto padanya, untuk menyampaikan pesan terakhir ia kepada putrinya. Namun sayangnya, sesampainya Frans di sana, putri Rusdiyanto sudah tidak ada di rumahnya. Sejak hari itu Frans terus mencari anak tersebut sampai sekarang.
***