
"Oh..., ini sudah waktunya untuk periksa lagi ya? Baiklah..., aku akan ikut denganmu ke rumah sakit," jawab Frans berjanji akan mengantar Sarah. "Stev, kamu di rumah saja ya, aku mau mengantar Sarah dulu ke rumah sakit."
Stevi yang tidak mau membiarkan Frans berduaan saja dengan Sarah, ia pun bertanya, "Apa aku juga boleh ikut Frans?"
"Tentu saja, kamu boleh ikut, ayo kita berangkat!"
Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Stevi duduk di kursi depan di samping Frans, sedangkan Sarah duduk di kursi belakang. Sepanjang perjalanan mereka berdua asyik mengobrol dan tidak menganggap Sarah ada di sana, tapi Sarah berusaha tegar demi anaknya.
Sesampainya di rumah sakit, Sarah masuk ke ruang pemeriksaan ditemani oleh Frans, dan saat Stevi ingin masuk juga, dia dihadang oleh Rani, "Maaf Stev..., tapi yang tidak berkepentingan dilarang masuk, kamu tunggu saja di luar!"
Stevi dengan kesal terpaksa menuruti ucapan Rani, dia hanya bisa melihat mereka dari balik pintu. Di dalam ruang pemeriksaan Sarah sedang menjalani tes USG kehamilan.
"Lihat…! Itu bayinya sedang bergerak, dia sangat aktif sekali," kata Rani sambil menjelaskan gambar di layar monitor.
"Lucu sekali Dia..." Sarah tersenyum bahagia melihat bayinya sehat.
__ADS_1
"Anakku, apa jenis kelaminnya?" tanya Frans penasaran.
"Lihat bagian sini...! Ini menunjukan dia berjenis kelamin laki-laki," jawab Rani menjelaskan.
"Sungguh...? Aku senang sekali mendengar jika anakku laki-laki." Frans tersenyum bahagia sambil menggenggam tangan Sarah.
"Iya, kau cukup beruntung punya anak laki-laki," ujar Rani.
Di luar pintu, Stevi mengepalkan kedua tangannya karena kesal melihat Frans yang terlihat senang dengan bayi di kandungan Sarah. "Aku harus merencanakan sesuatu, aku tidak mau membiarkan ini terjadi," ucap Stevi dengan pikiran liciknya.
"Frans, aku ada pemotretan mendadak, tolong cepat antar aku ke tempat pemotretan, ini sudah sangat terlambat!" pinta Stevi seraya memegangi lengan Frans.
"Tapi, bagaimana dengan Sarah?" tanya Frans bingung.
"Dia bisa naik taksi kan, ini sangat penting untukku Frans." pinta Stevi dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Baiklah.” Frans mengangguk. “Sarah kau pulanglah sendiri naik taksi, aku akan mengantar Stevi dulu," kata Frans sambil menoleh pada Sarah.
"Iya, aku mengerti," jawab Sarah dengan tatapan sedih melihat kepergian Frans.
Stevi dengan sengaja berjalan sambil memeluk Frans, dia menoleh ke belakang melihat Sarah dengan tatapan senyum kemenangan di wajahnya, karena Frans lebih peduli padanya.
Melihat sahabatnya yang sedih Rani segera menghampiri Sarah seraya menepuk pundaknya, "Sarah, apa kamu tidak apa-apa dengan semua ini?"
"Aku tidak tahu Ran apa yang aku rasakan, rasanya setiap hari hatiku tercabik-cabik hingga hancur," jawab Sarah lirih.
"Sarah, kamu harus hati-hati, Stevi itu wanita ular, dia sangat licik. Kamu harus kuat untuk bayimu, apapun yang terjadi aku akan selalu mendukungmu, kamu tidak sendirian," Rani memeluk Sarah untuk menyemangatinya.
"Terima kasih Ran." Sarah membalas pelukan sahabatnya itu.
Sepulangnya di rumah, Sarah langsung pergi tidur karena kehamilannya membuatnya cepat mengantuk. Di tengah malam Sarah merasa kehausan, jadi dia turun ke dapur untuk mengambil minuman. Setelah Sarah meneguk minumannya tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Sarah mengenali parfum orang yang memeluknya itu, itu adalah parfum Frans.
__ADS_1