IF I NEVER MET YOU

IF I NEVER MET YOU
Kenyataan


__ADS_3

Tidak terasa satu bulan telah berlalu sejak mereka berdua menikah, setiap hari selalu mereka lalui dengan mesra sebagai pasangan suami istri.


Sampai suatu hari, saat itu hujan mengguyur cukup deras di desa Maulinjo, jadi Sarah dan Frans tidak pergi bekerja di perkebunan, mereka sedang menikmati sarapan bersama dan tiba-tiba,


Huekk…!! Huekkk...!!!


Sarah menutup mulut dengan kedua tangannya karena perutnya yang terasa sangat mual. Dia segera berlari ke dalam kamar mandi karena rasa mualnya yang tidak tertahankan.


Frans yang khawatir melihat Sarah, dia segera mengikutinya pergi ke kamar mandi. Sarah memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan, dia curiga jika dirinya sedang hamil karena bulan ini dia belum menstruasi, makanya beberapa hari yang lalu dia membeli testpack di apotek.


Lalu Sarah segera mencoba menggunakan testpack tersebut untuk mengecek apa dia memang sedang hamil. Di luar pintu kamar mandi, Frans terus mengetuk pintu karena khawatir pada Sarah.


"Sarah, apa kamu baik-baik saja...? Kamu kenapa? Buka pintunya Sarah!” teriak Frans yang khawatir, karena Sarah belum juga keluar dari kamar mandi.


Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Sarah melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dengan wajah murung. Dia menyembunyikan tangannya yang memegang testpack di belakang tubuhnya.


"Frans….”


“Kamu kenapa? Apa kamu sakit, cepat katakan padaku?” tanya Frans yang panik sambil memegangi bahu Sarah.


“Selamat Frans... kamu akan segera jadi ayah! Aku hamil Frans…!!" kata Sarah dengan tersenyum bahagia, dia menyodorkan testpack di tangannya itu kepada Frans.


Testpack itu terdapat tanda dua garis merah yang berarti dia sedang hamil. Seharusnya seorang suami bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya, tapi tidak begitu dengan Frans. Raut mukanya langsung berubah menjadi dingin begitu dia mendengar perkataan Sarah yang hamil.


"Apa…?! Kamu hamil?!!" tanya Frans dengan mata terbelalak karena saking terkejutnya, dia mencoba meyakinkan apa yang didengarnya itu tidak salah. Dia segera melepaskan tangannya yang memegangi bahu Sarah.


"Iya, Frans. Aku hamil. Kita akan segera punya anak," sahut Sarah dengan tersenyum bahagia sambil memeluk erat Frans, karena dia begitu senang akan menjadi seorang ibu.


"Gugurkan anak itu...!" ucap Frans dingin dengan wajah tanpa ekspresinya.

__ADS_1


Mendengar itu raut muka Sarah langsung berubah, senyumnya yang tadi mengembang kini menghilang seketika di wajahnya. Sarah langsung melepaskan tangannya yang memeluk Frans, dia mendongakkan kepalanya menatap Frans dengan mata berkaca-kaca.


"A-a… apa yang kamu katakan Frans...? Ini tidak lucu, kamu jangan bercanda seperti ini," tanya Sarah dengan suara gemetar. Wajahnya langsung memucat karena mendengar perkataan Frans yang sangat mengejutkan hatinya.


"Aku tidak bercanda,” jawab Frans dingin dengan tatapan seriusnya. “Gugurkan kandunganmu, aku tidak mau bertanggung jawab pada anak itu!"


BLARRRZTT…!!!!!


Bahkan alampun seperti mengerti tentang perasaan Sarah, gemuruh petir terdengar jelas menggelegar seperti ditujukan padanya.



Sarah yang mendengar ucapan Frans tersebut bagai di sambar petir di siang hari, tubuhnya mulai gemetar dan bulir-bulir air mata langsung meluncur di wajah cantiknya yang putih.


"Apa maksudmu Frans...? Ini anakmu, darah dagingmu, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu…?" tanya Sarah yang masih tidak percaya dengan apa yang Frans ucapkan padanya.


"Tapi mengapa Frans...? Bukankah kamu sangat mencintaiku? Mengapa kamu menyuruhku menggugurkan kandungan ini...?" tanya Sarah dengan berurai air mata sambil memegangi lengan Frans.


"Hehehe… aku mencintaimu?” Frans tertawa mendengar ucapan Sarah. “Apa kau tidak waras? Bagaimana mungkin aku yang punya segalanya bisa jatuh cinta dengan gadis kampungan sepertimu?!" hina Frans dengan kasar.


Mendengar itu hati Sarah sangat terluka, dia langsung melepaskan tangannya yang memegangi lengan Frans. Air matanya terus mengalir melihat perubahan sikap Frans padanya. Mata indah yang dulu menatapnya dengan cinta kini hanya terlihat kebencian di matanya, kata-katanya yang dulu lembut dan manis kini berubah menjadi dingin dan kasar, seolah mereka orang asing yang tak saling mengenal.


"Lalu … mengapa kamu menikahiku Frans, jika kamu tidak mencintaiku…?"


"Oh ya..., aku lupa memberitahumu satu hal.” Frans tersenyum licik menatap Sarah.


“Alasanku menikahimu hanya karena taruhan yang ku buat dengan temanku. Aku taruhan dengannya, apa aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku?!" ungkap Frans menjelaskan alasan sebenarnya dia menikahi Sarah.


Mendengar semua kenyataan itu, Sarah langsung merasa tubuhnya sangat lemas sampai dia merosot terduduk di tanah. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Frans yang sangat dia cinta dan percayai selama ini ternyata hanya menganggapnya suatu taruhan saja.

__ADS_1


“Kenapa… kenapa kamu tega melakukan ini padaku Frans? Apa salahku padamu?” tanya Sarah lirih. Dia menangis sambil memegangi dadanya yang teramat sakit karena kesedihannya.


“Kau tidak salah apapun padaku Sarah. Kesalahanmu hanya satu, takdirmu yang bertemu denganku,” jawab Frans dingin. Dia segera masuk ke dalam kamar dan mengepaki semua baju-bajunya ke dalam koper, dia ingin segera kembali ke Jakarta dan meninggalkan Sarah yang tengah hamil anaknya sendirian.


Saat melihat Frans keluar dari kamar dengan membawa kopernya. Sarah segera menghampiri Frans dan berlutut di kakinya, dia berusaha untuk menghentikannya.


"Kamu mau ke mana Frans...? Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri! Bagaimana dengan anak ini Frans...?" Sarah memohon dengan berurai air mata, dia berusaha supaya Frans tidak pergi meninggalkannya yang tengah hamil.


"Lepaskan aku! Aku mau pulang ke Jakarta, aku sudah puas bermain denganmu," ucap Frans yang kesal karena Sarah menghalangi jalannya.


"Tapi Frans, aku mengandung anakmu. Bagaimana kamu setega ini padaku? Kumohon jangan abaikan anak ini, kamu adalah ayahnya Frans!" Sarah memohon dengan berurai air mata sambil memegangi kaki Frans.


"Aku tidak peduli kau mau gugurkan atau apapun terserah, jangan halangi jalanku, minggir sana...!" bentak Frans yang acuh dan tidak peduli. Dia dengan teganya mendorong tubuh Sarah sampai jatuh tersungkur di tanah hanya karena menghalangi jalannya.


Frans berjalan ke luar rumah dan segera masuk ke dalam mobilnya bersiap untuk pergi. Sarah segera bangkit dari posisinya yang jatuh, dia berlari berusaha mengejar mobil Frans, tapi Frans tidak berhenti sedikitpun.


"Jangan pergi Frans...!! Jangan tinggalkan aku, aku mohon padamu...!!" teriak Sarah dengan tangisannya, dia berlarian di jalanan meskipun hujan deras sedang mengguyur.


Sarah berusaha mengejar mobil Frans tapi tubuhnya terlalu lemah sampai dia terpeleset dan jatuh ke tanah. Kedua lututnya berdarah karena terkena batu-batu di jalanan.


Frans melihat Sarah yang terjatuh dari spion mobilnya.


“Selamat tinggal Sarah... kita tidak akan pernah bertemu lagi, istri tercintaku yang polos, hahaha…” tawa riang Frans di dalam mobil, tidak ada rasa bersalah sedikitpun di wajahnya. Dia memang sungguh kejam, dengan teganya dia meninggalkan Sarah yang tengah mengandung anaknya sendirian di desa Maulinjo.


Sarah menangis terisak melihat kepergian mobil Frans yang semakin jauh meninggalkannya, dia menatapnya dengan putus asa.


“Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Frans...?” Sarah memegangi dadanya karena rasa sakit yang teramat pedih. Luka di lututnya tidak terasa jika dibandingkan dengan sakit di hatinya.


Cukup lama Sarah berdiam diri di tengah guyuran derasnya hujan, dia masih berharap Frans akan berbalik dan kembali pulang padanya. Tapi itu hanya angannya saja, karena Frans tidak akan pernah kembali.

__ADS_1


__ADS_2