
"Apa yang harus aku lakukan, kalau mereka tahu aku sakit, pasti Frans dan ibunya tidak mau menerima anak ini." ucap Sarah khawatir, dia mondar-mandir di kamarnya karena gelisah.
Tidak lama kemudian bi Inah datang ke kamarnya. "Non Sarah...nyonya Grace sudah tiba, silahkan turun untuk segera berangkat." panggil bi Inah.
"Baik bi." jawab Sarah. Dia sudah bersiap untuk turun. Saat Sarah bertemu Grace, lagi-lagi ucapannya menusuk.
"Jangan salah paham, saya melakukan ini bukan karena saya menerima kamu, saya melakukan ini untuk kesehatan calon cucu saya." kata Grace menyindir.
"Iya bu, saya mengerti." kata Sarah.
"Siapa yang kamu panggil ibu? panggil saya nyonya, mengerti!" kata Grace memerintah.
"Iya nyonya." kata Sarah mengkoreksi ucapannya.
Sesampainya di rumah sakit, Sarah terus gelisah menunggu antrian namanya disebut.
"Bu Sarah...apa ada yang namanya bu Sarah?" panggil suster tersebut.
"Iya...saya..." jawab Sarah sambil mengangkat tangan kanannya. Sarah berjalan memasuki ruangan Dokter, yang kebetulan Dokter tersebut adalah Rani.
__ADS_1
Setelah pemeriksaannya selesai, Rani terkejut melihat hasilnya, tapi sebelum Rani bicara, Sarah berlutut di depan kakinya.
"Tolong saya Dok...tolong jangan beritahu mertua saya yang di luar, jika saya sakit, saya mohon pada Dokter..." kata Sarah memohon sambil menangis.
Melihat Sarah yang berlutut sambil menangis di depannya, Rani segera menyuruhnya untuk duduk kembali di kursi. Setelah Rani membaca biodata Sarah, Dia terkejut.
"Ternyata...kamu istrinya Frans...?" tanya Rani.
Sarah yang bingung mengapa Rani bisa kenal dengan Frans, Dia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rani.
"Kamu tidak seperti apa yang saya bayangkan." kata Rani.
"Apa setidak pantas itukah saya untuk Frans?" tanya Sarah sedih.
"Kalau saya boleh tahu, sejak kapan kamu tahu kalau kamu sakit?" tanya Rani penasaran.
"Saya tahu sejak awal kehamilan." jawab Sarah lirih.
"Berarti kamu juga tahu, karena alasan bayimu ini, mungkin usiamu tidak akan bertahan lama." tanya Rani terkejut.
__ADS_1
"Iya...saya tahu, karena itu saya mohon pada Dokter, tolong rahasiakan sakit saya dari Frans dan Ibunya, karena setelah saya melahirkan, mungkin saya tidak akan bisa menjaga anak ini." jawab Sarah sambil menangis.
Mendengar cerita Sarah, Rani tidak tega dan Ia menyanggupi akan merahasiakan sakitnya dari Frans dan ibunya.
"Baiklah aku janji akan merahasiakan ini." kata Rani menyanggupi.
"Terima kasih Dokter...terima kasih banyak..." kata Sarah sambil menggenggam tangan Rani.
"Panggil saja saya Rani, saya sahabatnya Frans dari kecil dan kamu istrinya, berarti teman saya juga kan." kata Rani dengan tersenyum.
"Anda mau berteman dengan saya yang kampungan ini?" tanya Sarah.
"Iya...saya tidak melihat seseorang dari status sosialnya untuk berteman. Saya tahu kamu orang baik." kata Rani.
"Terimakasih Ran, kamu mau berteman dengan saya." kata Sarah.
"Ini kartu nama saya, hubungi saya jika terjadi sesuatu dengan kamu, lain kali saya akan mampir ke sana." kata Rani.
Setelah itu Sarah keluar dari ruangan Rani membawa kertas laporan medis kandungannya dan menyerahkannya pada Grace.
__ADS_1
"Baguslah kamu sehat, itu akan berpengaruh pada calon cucuku." kata Grace dingin.
Setelah itu mereka berdua pulang dari rumah sakit.