
Sekarang Imas dan Tian tengah berdiri di depan sebuah bangunan dengan papan besar bertuliskan Santa Restorant dengan lampu-lampu yang menghiasinya.
"Ayo masuk," Tian melangkahkan kakinya ke dalam seraya mengandeng tangan Imas.
"Baru dateng Tian?" Tanya seorang perempuan bercelemek hitam seraya melirik Imas.
"Iya mbak Maya,Gue ke belakang ya!" Kata Tian seraya melewati penjaga kasir tersebut dan menuju dapur .
Sesampainya di dapur Tian segera menyambar celemeknya dan dengan cekatan membawa beberapa piring berisi hidangan pelanggan ke meja mereka.
"Lo jadi waiters disini?" Tanya Imas setelah Tian kembali dengan senyum manisnya yang membuat beberapa kaum hawa di dapur tersebut berteriak histeris.
"Iya,kenapa?" Tian duduk di pojok ruangan tepat di samping Imas.
"Nggak papa. Terus gue disini lo suruh ngapain?" Imas bertanya dengan nada datarnya membuat para perempuan meliriknya sinis.
"Ya nungguin gue lah,biar tau kalo gue kerja."Kata Tian tanpa beban sedikitpun seraya menatap Imas.
Seorang lelaki dengan baju seragam berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Tian, sepertinya ia penjaga kasir.
"Yan lo dipanggil bu bos," Katanya kemudian ia hilang dibalik pintu.
"Lo mau tunggu disini apa diluar,gue cuma bentar kok." Isma nampak berfikir kemudian keluar ke depan,disusul Tian dibelakangnya.
Imas duduk di sebuah bangku dan memainkan ponselnya seraya menunggu Tian bertemu bosnya.
Hampir setengah jam Imas menunggu hingga ia sudah habis dua porsi nasi goreng dengan dua kaleng soda.
__ADS_1
"Ah,lama. Gue samperin ajaa lah!" Kata Imas seraya menuju ruang yang ditunjukkan oleh Maya setelah Imas bertanya.
"Lurus belok kiri,disini?" Imas kemudian mengetuk pintu berwarna coklat tersebut,tetapi tak ada sahutan dari dalam.
Karena ia sudah kesal akhirnya Imas membuka pintu tersebut,masa bodo jika bos Tian marah.
"Ehh Imas?" Sapa Tian seraya menghampiri Imas.
"Maaf ya gue lama,kita keasikan ngobrol jadi lupa waktu hehe," Tampaknya Imas masih tak menggubris perkataan Tian membuat Tian ikut mengikuti sorot mata Imas.
"Lo kaget ya,kalo Cahya ini bos gue?!" Tanya Tian dengan polosnya hingga mendapat tatapan tajam dari Imas.
Imas kemudian mendatarkan wajahnya,hingga Tian menatap Imas ngeri dengan tangan yang mengusap tengkuknya sendiri.
"Halo Imas,kok kesini ada masalah apa?" Tanya Cahya dengan seringkaian yang tentu hanya Imas yang paham.
"Lo kan nggak ada kerjaan,temenin gue ya. Gue janji deh nggak ninggalin elo lagi," Kali ini Tian mengeluarkan pupy's eyesnya,Tapi sepertinya Imas masih kuekeh pada pendiriannya.
"Lagian jam kerja gue bentar lagi abis Im,ayolah gue mohon Please," Pinta Tian seraya mengetuk-ngetukkan kedua jari telunjuknya.
Imas kembali menatap Tian jengah hingga ia membawanya kembali ke dapur,dan Imas memilih duduk seraya memainkan game dengan earphone di telinganya.
Sedangkan Tian tak henti-hentinya tersenyum dan ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar dapat lama-lama bersama gadis yang telah menggoyahkan hatinya tersebut.
"Bang gue duluan ya!" Kata Tian seraya menepuk pundak salah seorang juru masak yang sedang memotong sayur.
"Oke Yan. Eh btw siapa tuh yang lo bawa kenalin ya," Tanyanya seraya mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
"Idih ganjen banget lo bang, punya gue itu!" Ketus Tian yang ditanggapi kekehan pelan dari pria bertubuh penuh tato tersebut.
Tian segera menghampiri Imas yang masih asyik memainkan ponselnya seraya bergumam. Tian menatap Imas seraya menopang dagunya dengan senyum yang merekah.
"Im,udahan dong main hp nya," Kata Tian seraya merebut ponsel Imas yang membuat sang pemilik menatap Tian ganas.
"Nggak baik loh main handphone terus. Udah yuk!," Tian menarik tangan Imas keluar Restoran dengan disaksikan para wanita yang haus akan gandengan lelaki.
Hingga teriakan-teriakan mereka membuat pipi Imas terasa panas,dengan jantung yang mulai naik ritme.
.
.
.
*To be continued...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian,dan favoritkan pada rak yang memudahkan kalian mengetahui jika Incess Es Balok telah update*.
Mampir ke novel lainku yuk:
~Marriage Without Love
~ Suamiku Pangeran Es
See you all❤️
__ADS_1