
Aku masih termangu menatap benda dihadapanku ini, senyumku mulai mengembang kembali mengingat ada yang menganjal di ingatanku.
Senyum tipis ku masih setia menghiasi wajahku, hingga papa datang dengan dua cangkir di tangannya, kemudian meletakkan salah satu cangkir di hadapanku.
"Imas sudah ingat belum?"
Dari pertanyaan papa sebenarnya aku sedikit ragu menjawabnya, karena jawabanku menurutku agak aneh juga nyeleneh.
Setelah terdiam, aku mengganguk dengan yakin. Ku amati raut papa yang terlihat sangat letih mungkin karena bekerja terlalu keras, untuk menyelamatkan perusahaan agar tidak bangkrut. Aku sungguh salut mempunyai papa yang bertanggung jawab.
"Imas ingat apa?" tanya papa yang nampak sangat penasaran dengan apa yang aku ingat.
Imas POV End.
.
.
.
.
Imas nampak gugup untuk mengutarakan jawabannya, sementara Azka memilih diam untuk memberi Imas waktu.
"Imas inget kalo..."
Imas menggantung ucapannya, rautnya masih datar tapi dari tatapannya tersirat kegugupan.
"Imas nggak inget liat jepit ini, tapi Imas pernah inget denger."
"Jadi yang benar ingat apa dengar?" tanya Azka sedikit bingung dengan pernyataan putrinya.
Imas sempat terdiam, kemudian ia mengangkat kedua bahunya, tanda tak tahu.
"Kalau menurut Imas menakutkan, nggak usah diceritakan." ucap Azka membuat Imas mengerenyit bingung.
__ADS_1
"Papa nggak bakal maksa Imas buat ingat kok, jadi jangan dipaksakan." kata Azka lagi.
Imas menukikkan alisnya kala menatap Azka, sebenarnya yang dimaksud apa?
"Imas nggak takut!" tukas Imas cepat.
"Imas inget dan denger kalo semangka itu....sering diputar di kamar Ravi!" ucap Imas seakan bangga.
Azka menatap Imas heran, semangka? diputar di kamar Ravi, apa putrinya sedang bercanda?
"Papa nggak paham, coba dijelaskan." ucap Azka seraya menggeleng lemah.
Imas berdecak kesal, "Itu loh yang bunyinya... Tarik sis! Semongko." sahut Imas.
Sontak saja tawa Azka pecah mendengar penuturan gadis dihadapannya, sedangkan Imas tengah menatap Azka dengan kesal karena ditertawakan.
"Itukan lagu, ini soal masa lalu kamu!" ucap Azka membuat Imas sedikit tersentak.
"Maksud papa, Imas nggak ngerti." kata Imas.
"Iya!" tukas Imas cepat.
"Kalau begitu Imas cari tahu sendiri." kata Azka dengan diiringi tawa renyahnya.
Imas menatap Azka datar, sebenarnya Imas ingin marah tapi ia sudah terlanjur malas menanggapi papanya.
"Imas serius!" seru Imas.
Azka menyesap kopi dihadapannya, kemudian bergidik pelan. Kepanasan mungkin.
"Papa lebih serius." tukasnya penuh yakin.
Imas berdiri mengambil cangkir dihadapannya,dan melambai kepada ayahnya kemudian pergi dari sana.
Imas berjalan gontai melewati anak-anak tangga, Imas berhenti sejenak saat melewati kamar Ravi yang sedikit bising.
__ADS_1
Lagu dengan bahasa jawa terputar dikamar dihadapannya, Imas menghela nafas panjang. Ingatannya kembali pada jawaban nyelenehnya yang tak masuk di akal.
Imas mengendap, mengintip melalui celah pintu di kamar Ravi. Terlihat nuansa kamar yang berwarna merah hitam dengan beberapa aksesoris K-Pop yang tak diketahui Imas, ia juga pernah melihatnya di kamar Ibel.
Imas menatap tak percaya pada apa yang dilihat matanya sendiri, saat melihat Ravi sedang bergoyang ria dari goyang itik hingga goyang ntah apalah Imas tidak mengetahuinya. Ketika Ravi menggelepar di lantai seraya berteriak seperti orang kesurupan.
*Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane yen entek tak tukokne
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno*
"Tarik sis! Semongko!!" seru Ravi.
Pemuda itu masih saja asik bergoyang mengikuti irama yang memekakkan telinga.
Imas menatap Ravi datar, kemudian segera menutup kamar Ravi rapat-rapat dan ia memilih masuk ke kamarnya.
"Yang tadi asli bukan abang gue!"
.
.
.
.
To be continued...
Jangan lupa klik LIKE juga kasih VOTE ya, makasih🤩
Mohon dukungannya juga di novelku yang lainnya
-Suamiku Pangeran Es
__ADS_1
Thank you, and see you again💖