
Tok..Tok..
Imas menatap pintu kamarnya jengah, akhirnya Imas melempar gelas di samping nakasnya hingga mengenai pintu.
Membuat seseorang di balik pintu tak henti-hentinya mengerutu karena terkejut.
"Sabar Vi,sabar"Gumam Ravi seraya mengelus dadanya.
"Mas,Ada yang mau ketemu sama lo!"Teriak Ravi.
Tak ada jawaban dari Imas,"Gue suruh pulang aja ya?"tanya Ravi.
lagi dan lagi Imas melempar sendalnya mengenai pintu,hingga mengagetkan Ravi yang sedari tadi menempelkan telinganya di pintu.
"Dasar bocah,demen banget dah bikin gue senam jantung aerobik!"gerutu Ravi seraya masuk kamarnya.
Mau tak mau akhirnya Imas keluar untuk menemui orang tersebut,tapi naas menimpanya
Imas lupa bahwa di depan pintunya banyak beling pecahan gelas,dan Imas sudah menginjaknya.
"Dasar beling bngst!"Umpat Imas. lelah hayati lelah,salah mulu eyke.bunuh aja bunuh!
Ting...Tong
"Sabar anjk,gue lagi jalan!"Kata Imas seraya berlari kecil menuju pintu.
Sesampainya di depan pintu rupanya sudah disambut seorang pria berkemeja dengan senyum yang terang benderang.
"Hai,Imas."Sapa Arda seraya melambaikan tangannya pada Imas yang disambut tatapan malas darinya.
"ternyata lo,tau gitu mending gue panggil satpam!"kata Imas.
__ADS_1
"Aku nggak disuruh masuk nih?"tanya Arda seraya tersenyum manis.
"Terserah lo!"ketus Imas,seraya masuk Yang diikuti oleh Arda.
"Astaga,kaki kamu berdarah!"kata Arda panik.
Imas menatap kakinya,dihentak-hentakkan kakinya namun dihalangi oleh Arda.
"Nanti tambah banyak darahnya,kotak P3K kamu dimana??"
"Di laci nomor dua."kata Imas.
Ting...Tong...
"Biar aku aja!,Kamu duduk aja."Kata Arda yang bergegas membukakan pintu.
"Dasar Rempong!"Gumam Imas.
"Katanya ada perlu sama kamu!"kata Arda yang menatap Tian sinis.
"Astoge kaki lo kenapa??!"Tanya Tian yang menyentuh kaki Imas.
"Aww,sakit beg*!!"Umpat Imas seraya menepis kasar tangan Tian.
"Selow dong ****,Jan nge-gas!" Sahut Tian.
Arda menatap heran Imas dan Tian yang nampak akrab,"Lo,minggir gue mau obatin Imas!"Kata Arda seraya mendorong Tian agar menjauh.
"Biar gue aja!"Ujar Tian yang langsung merebut obat merah dan kapas dari tangan Arda.
Tian duduk dengan memangku kaki Imas yang terluka,dengan teliti pemuda tersebut mengobati luka Imas.
__ADS_1
Imas yang kadang merasa perih meremas bahu Tian kuat hingga membuat Tian mengaduh pelan.
Arda yang duduk di sebelah kiri Imas menjadi saksi adegan tersebut dengan raut wajah yang masam.
* * * * *
Sementara,Ravi yang baru keluar dari kamarnya terkejut melihat darah berceceran di lantai.
"Darah sapa nih?!" gumam Ravi.
saat hendak turun menuju dapur,tak sengaja Ravi melihat adiknya yang sedang duduk berdua dengan dua pemuda yang sama tampannya.
"Si Imas pake pelet apaan ya, bisa-bisa nya tuh duo tampan nempel!"Kata Ravi.
Diperhatikannya mereka,Ravi menarik senyumnya melihat adiknya yang didekati dua lelaki.
Setahunya adiknya paling tidak suka disentuh lelaki manapun,termasuk dirinya.
"Kayaknya Imas cocok sama yang pake kemeja deh."kata Ravi.
"Ehh nggak deh,cocokan sama yang pake Jaket Jins deh.Lah kok gue malah kayak Mak comblang gini ya??"
Ravi memilih memperhatikan mereka dari atas,agar tidak menggangu momen langka tersebut.
.
.
.
Like dunggg✨
__ADS_1