
Imas masih termangu di atas motor yang Tian lajukan dengan kecepatan sedang,ucapan Fania masih terngiang di telinga Imas dengan jelas yang membuat ia meringis memegangi kepalanya yang berdenyut.
Tanpa Imas sadari Tian terus-menerus mengawasinya dari kaca spion setelah mereka pergi dari pemakaman ayahnya.
"Im,elo nggak papa?" tanya Tian,Pria itu terlihat sangat khawatir.
"Gue nggak papa,Yan," kata Imas seraya mengigit kecil bibir bawahnya dan kembali menekan kepalanya yang berdenyut hebat.
"Kita berhenti di cafe depan,elo pegangan ya. Gue takut elo jatuh," Tangan kiri Tian meraih tangan Imas dan melingkarkan tangan Imas ke pinggangnya membuat sang punya tangan terkesiap.
* * *
Tian tak henti-hentinya untuk mengamati gadis didepannya dengan lantaran ia terlihat pucat,dan tak bertenaga seperti biasanya. Tian terus meningat-ingat hal apa yang terjadi di pemakaman,tapi nihil. Sepertinya tak terjadi hal yang dapat membuat Imas sakit.
"Elo kenapa sih,Im?" Imas menatap Tian sendu ada sedikit semburat emosi dari tatapannya.
"Gue cuma kurang enak badan."
"Tapi elo pucet banget,elo nggak ada riwayat penyakit yang parahkan?" tanya Tian seraya mencondongkan badannya kedepan.
"Nggak."
Mendengar penuturan Imas membuat Tian sedikit lega dan duduk kembali,tapi matanya tak berhenti menatap lekat Imas yang sedang terpejam.
"Mata lu minta gue colok ya?!" kata Imas dengan mata yang masih setia tertutup.
"Gue tuh takut elo kenapa-kenapa kan gue yang ajak elo kesini,siapa tahu elo kena sawan gegara liat setan di kuburan." tukas Tian yang membuat Imas membuka matanya.
"Idih amit-amit,bilang aja kalo elo khawatir sama gue!" Imas menatap Tian seraya mengangkat satu alisnya yang membuat Tian salah tingkah.
__ADS_1
"Pede banget ya elo,ya nggak lah!" sahut Tian.
Perkataan Tian tadi membuat Imas kembali mendatarkan wajah,entah kenapa Imas merasakan secuil rasa kecewa yang berseliweran dihatinya.
"Yaudah,gue duluan." Tian nampak terkejut melihat Imas berdiri dan hendak pergi.
"Elo mau kemana?!" tanya Tian yang juga ikut berdiri.
"Pulang."
"Gue bayar dulu,tungguin gue!" kata Tian hendak pergi ke kasir.
"Nggak usah,gue pulang sendiri aja." timpal Imas seraya beranjak pergi keluar cafe.
Dengan terburu-buru Tian pergi ke kasir dan membayar makanan mereka,kemudian ia menyusul Imas.
"Elo harus pulang sama gue,inget gue nggak nerima penolakan!" kata Tian
"Gue nggak nerima penawaran tuh."
Tian nampak menggeram,"Elo tuh kenapa seenaknya sendiri sih,nanti kalo lo kenapa-kenapa gimana?? bukannya lo lagi sakit!"
"Terserah gue dong,bukannya elo nggak peduli sama gue." timpal Imas dengan nada serendah mungkin.
Sejenak Tian terdiam kemudian ia menarik nafas dalam-dalam,"Nggak. Gue khawatir sama elo,maaf gue nggak bisa ngalahin gengsi gue." kata Tian seraya memalingkan wajahnya.
"Udah bac*t,buruan!" kata Imas seraya menahan senyumnya.
"Mana bisa gue pulang sendiri. Dasar Tian b*go" seru Imas dalam hati.
__ADS_1
* * *
Sebuah mobil sedan berwarna putih melesat menembus dinginnya udara kota siang itu.
Di dalam mobil itu Nyonya besar keluarga Prayoga sedang duduk termangu membuat Ujang, supir pribadi keluarga Prayoga ikut bingung melihat majikannya.
"Permisi Nyah, setelah ini kita akan kemana?" tanya Ujang yang membuat Fania sedikit tersentak.
"Apa Ravi mengabarimu Jang dia akan kemana?" tanya Fania sedikit gusar,mengingat ia belum mendapat kabar dari putranya dari pagi tadi.
"Belum nyonya,kenapa nyonya tidak bertanya pada nona Imas." saran Ujang.
"Mana mau dia mengangkat teleponku, Jang." lirih Fania seraya membenarkan kain hitam di kepalanya, sementara Ujang memilih diam dan fokus menyetir.
.
.
.
.
To be continued...
Mohon dukungannya juga di novelku yang lain :
-Suamiku Pangeran Es
See you all💖
__ADS_1