Incess Es Balok

Incess Es Balok
Chapter 30- Bertemu kembali


__ADS_3

Angin sore menerpa wajah gadis manis yang tengah duduk termenung di kursi taman dibelakang rumahnya, seraya menikmati hamparan bunga mawar putih yang memanjakan matanya.


Kicauan burung juga terdengar bising, burung itu berterbangan kesana kemari. Imas menghela nafas berat selagi mengamati burung, lagi-lagi ia harus dibuat penasaran oleh dan dengan dirinya sendiri.


Kapasitas otak gadis itu tak sebanyak yang ia dibayangkan, ia juga bukan detektif Conan yang akan memecahkan kasus sepersekian detik secepat tarikan nafas.


Sudah seharian ini ia memikirkan hal apa yang terjadi padanya di masa lalu, tapi hasilnya tetap nihil. Bukannya ingat tapi Imas malah dilanda sakit kepala. Benar-benar menyebalkan!


Belum lagi kakak laki-lakinya yang memiliki tingkat keingin tahuan yang tinggi membuat Imas harus pintar-pintar berkelit dan membantah segala opini Ravi tentang hal yang sedang diselidiki nya.


"Sebenernya gue punya masa lalu apa?"


Imas bergumam meratapi dirinya seraya menatap langit yang mulai berganti malam. Ia kemudian membawa bekas cangkir tehnya menuju dapur.


* * *


Imas duduk berhadapan dengan pria setengah baya yang sedang menyesap kopi yang baru diseduhnya beberapa menit lalu.


"Bapak kemarin lusa kemana?"


Pak Ujang nampak terdiam sejenak, seraya meminum kopi buatannya.


"Bapak anter ibu ke pemakaman di daerah pinggir kota neng." kata Pak Ujang.


"Pake Sedan?"


"Iya neng, kenapa atuh?" tanya Pak Ujang yang nampak sedikit was-was, takut.


"Oh! nggak apa. Imas pergi dulu." ucap Imas kemudian berlalu meninggalkan Pak Ujang yang sedang terheran.

__ADS_1


"Sok atuh neng mangga!" kata Pak Ujang dengan logat sundanya.


Saat hendak ke kamarnya Imas sempat terfikir untuk bertukar pendapat dengan kakak tirinya. Tapi kemudian Imas menggeleng kuat, itu ide yang bodoh. Pikirnya.


"Hah! Lo mau ngomong apaan siii??!" tanya Ravi sedikit kesal.


Ravi memajukan bibirnya lima senti, sebagai tanda bahwa ia sedang marah. Setelah sang adik esnya mematikan lagu yang ia putar.


"Gue mau nanya, bang!"


"Tanyain ke google sana, ngapain nanya ke gua!" cetus Ravi.


Gadis berambut lurus itu terdiam sejenak, kemudian ia menepuk pundak Ravi cukup keras.


"Good ide!"


* * *


"Makan yang banyak, lo modal gue nikah sama Imas." celetuk Tian dihadiahi jitakan oleh makhluk kerempeng disampingnya.


"Nikah nikah mbahmu, emang imas nya mau?" ledek Angga.


"Songong deh lo cung! Siapa coba yang kuat menolak aura ketampanan gue, Dari anak paud sampe emak-emak komplek sebelah banyak yang nagajakin gue nikah muda. Banyak juga yang nawarin gue jadi mantu mereka!"


"Halah, pikirin dulu adek lu yang mau kuliah! ibu elu yang dikampung." ucap Angga.


"Jangan jahat, inget mimpi adek lu mau jadi dokter, sekarang harapan dia cuma elu. Ibu elu juga lagi sakit!"


"Lo juga harus sering-sering tengokin ibu elo di kampung, bawain dia duit. Biar nggak sakit mikirin elu! Elu juga kerja yang rajin biar cepet nikah."

__ADS_1


Pemuda berambut poni itu terdiam, ia menatap lirih ayam jago dipangkuannya.


"Elu bener cung, gue nggak boleh egois." kata Tian.


"Elo kagak cocok ngomong pake drama gitu, nge gas dong!" ucap Angga seraya menaikkan volumenya di akhir kalimat.


"Udah lah pulang sono lu, gue mau tidur!" lirih Tian.


"Lu ngusir gue? wahh emang temen nggak ada akhlak! untung temen." kata Angga seraya berlalu pergi ke kosannya yang berada di sebelah kanan kosan Tian.


Setelah mengecek keadaan, dirasa Tian cukup aman ia segera menyambar jaket denim dan kunci motornya.


* * *


Bulan bersinar dengan gagahnya bersama ribuan bintang yang menghiasi langit malam. Angin malam juga menambah kesan indah pada malam itu.


Seorang gadis dengan jaket dan masker berjalan melewati deretan toko dengan lampu dan riyuh piyuk keramaian. Langkah gadis itu berhenti di sebuah Supermarket, tanpa pikir panjang lagi ia pun masuk.


"Ada yang bisa dibantu mbak?" tanya salah seorang penjaga dengan seragam Supermarket tersebut dengan ramah.


Gadis berjaket yang tak lain adalah Imas itu menengok mengamati si penjaga kasir, tapi seketika Imas dibuat melongo.


"Tian!" pekik Imas yang membuat beberapa pasang mata menatap mereka.


Imas yang masih syok menarik Tian keluar pusat perbelanjaan tersebut, menuju sebuah gang kecil di samping supermarket.


"Mbak permisi, saya lagi kerja." kata Tian yang tak digubris oleh Imas.


"Mbak, maaf mbaknya siapa ya? Saya lagi kerja!" ucap Tian yang tiba-tiba berhenti membuat Imas bertarik mundur menabraknya.

__ADS_1


Reflek Tian membawa gadis itu ke pelukannya, ia sempatkan juga untuk menatap manik mata milik Imas yang membuatnya enggan mengerjap. Saking indahnya.


__ADS_2