Incess Es Balok

Incess Es Balok
Chapter 22- Kepercayaan


__ADS_3

Tangan Imas terlihat putih pucat,seperti tak dialiri darah. Dengan tangan yang sudah dingin dan mengiggil.


Imas kembali melirik ayahnya yang sedang terlelap sebelum melihat kertas di tangannya kembali.


Memori Mami dan dirinya sepeti diputar kembali dalam ingatan Imas membuatnya kembali tercekat,dengan rasa mual yang semakin menjadi-jadi.


Setelah merasa lebih baik Imas segera memungut kembali kertas yang ia jatuhkan tadi dan bergegas pergi dari ruang kerja ayahnya.


Imas menaiki anak tangga hingga ia sampai di depan pintu kamar Ravi,dengan ragu-ragu Imas mengetuk pintu tersebut.


Lama Imas menunggu hingga keluarlah seorang lelaki bercelana boxer sedang menguap dengan rambut yang awut-awutan.


"Hoaam siapa sih,eh elo mas ada apaan?," Ravi mengernyitkan keningnya kala melihat Imas sedang terlihat tegang seraya mengenggam sebuah kertas.


"Papa mabuk di ruang kerja," kata Imas seraya membenarkan rambutnya berusaha menutupi ketegangannya.


"Yaudah biar gue yang urus,elo tidur gih udah malem," Sahut Ravi seraya berjalan menuruni tangga.


Imas menoleh pada Ravi sesaat sebelum kembali melangkah menuju kamarnya,saat memasuki kamar Imas segera menyahut handuk dan membersihkan dirinya.


Setelah mandi Imas merebahkan tubuhnya pada ranjang seraya mengamati kembali kertas yang ia ambil tadi.

__ADS_1


"Gue harus percaya yang mana,apa papa bakal bohongin gue lagi?"


"Dan apa gue bakal percaya gitu aja?" Imas kembali menghela nafas dan menatap lurus langit-langit kamarnya.


Imas merasa matanya kian berat membuat ia tak dapat menahannnya untuk tetap terjaga.


* * *


Sedangkan Ravi sedang memapah papanya menuju kamar tamu di samping kamar utama yang mengharuskan Ravi menaiki tangga.


Ravi memilih mengantar ayahnya ke kamar tamu karena jika mamanya tahu bahwa suaminya sedang stres maka ia akan sedih,dan Ravi tak mau melihat ibunya sedih.


Peluh telah membanjiri wajah manis Ravi membuatnya harus kembali berhenti di tengah tangga.


"Lah siapa sih yang panjangin nih tangga perasaan kemaren gue naik cepet," Gerutu Ravi.


Akhirnya dengan segenap tenaga yang ia kerahkan ia berhasil memapah ayahnya yang mempunyai badan kekar tersebut menaiki tangga rumahnya.


Sesampainya di depan pintu kamar tamu tersebut Ravi kemudian memapah ayahnya memasuki kamar bernuansa abu-abu tersebut.


Ravi menidurkan ayahnya perlahan, melepaskan sepatu juga kaus kaki dari kaki ayahnya,dan menyelimutinya.

__ADS_1


Ravi menatap pria yang berumur setengah abad tersebut dengan iba,terlihat garis-garis halus di kening ayahnya yang menandakan umur yang tidak muda lagi.


"Maafkan ayah nak," racau Azka yang membuat Ravi tersentak.


Guratan kesedihan terpancar jelas dari lelaki tua itu membuat Ravi ingin menanyakan seberapa besar masalah yang dihadapinya,penyesalan pun datang dari lubuk hati Ravi karena ia tak pernah melihat pengorbanan sang ayah untuknya.


Ravi keluar kamar agar ayahnya bisa beristirahat,Ravi masih memikirkan racauan papanya tadi. Kenapa ayahnya memohon seperti merasa sangat bersalah,jika benar kepada siapa ia bersalah?


Langkah Ravi berhenti di depan kamar Imas ia kemudian lantas memutar handel pintu yang menampilkan seorang gadis sedang terlelap,membuat Ravi bernafas lega.


Kemudian dengan hati-hati Ravi menutup kembali pintu kamar Imas,dan berjalan menuju kamarnya.


Tak berselang lama setelah menidurkan dirinya Ravi kembali terbuai ke dalam mimpinya yang tadi sempat tertunda.


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2