
Tian melajukan motornya dengan kecepatan sedang,kanan kiri jalan yang dilewati Tian dan Imas dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun ditambah dengan bunga yang memperindah mereka.
Imas menikmati keindahan yang dilewatinya,maklumlah Imas tak mengerti arah jalan yang di tuju oleh Tian.
Imas menilik ke arah pemuda berkemeja flanel tersebut dengan heran,saat mereka berhenti di sebuah toko bunga di perempatan jalan.
Tak lama kemudian seorang lelaki dengan langkah gemulai menghampiri mereka.
"Halo kakak ada yang bisa saya bantu,atau kakak mau beli bunga apa?" tanyanya dengan ramah yang disambut senyuman oleh Tian.
"Gue mau beli bunga lily."
"Ditunggu sebentar ya kak," Lelaki itu segera masuk ke toko dan nampak mengambil beberapa tangkai bunga.
"Elo nggak pegel berdiri terus?" tanya Tian saat melihat Imas yang masih berdiri dengan helm ditangannya.
Tian duduk di salah satu bangku di depan toko tersebut yang di teduhi oleh pohon besar di samping toko.
"Eh! lo kenapa ajak gue kesini?" tanya Imas kembali seraya duduk di kursi yang terbuat dari kayu.
"Gue nanya malah nanya balik!" tukas Tian yang membuat Imas menatapnya jengah.
Melihat Imas yang terlihat kesal Tian mengulum senyumnya dan menatap gadis manis dihadapannya.
"Nanti lo juga tahu sendiri,elo tuh kalo kesel makin cantik!" ucap Tian yang mendapatkan tatapan tajam Imas.
__ADS_1
"Lo tuh receh tau nggak!! udah gitu nyebelin!" timpal Imas seraya menatap jalanan yang nampak lengang.
"Mas,ini bunganya!!" seru lelaki tadi dengan sebuket bunga ditangannya.
Tian segera menghampiri lelaki itu,tak lupa ia menjulurkan lidahnya pada Imas yang membuat Imas bertambah kesal.
Tian mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya,dan lelaki gemulai tersebut menyerahkan bunga di tangannya pada Imas. Imas sendiri kebingungan melihat ekspresi lelaki gemulai dihadapannya yang nampak menatapnya kasihan dan sedikit ketakutan.
Tian kembali melajukan motornya menembus asrinya udara disana,melewati beberapa motor dan mobil yang menghalanginya.
Tetapi salah satu mobil menyita perhatian Imas,sedan berwarna putih yang lewat mendahului mereka.
"Kayak pernah liat tuh mobil,tapi dimana ya?" gumam Imas seraya menatap mobil yang melesat jauh didepan.
Tak lama berselang setelah melewati perempatan sampailah mereka pada lahan pemakaman umum.
"Kok kita kesini?" tanya Imas seraya menengok ke kanan-kiri.
Tian menatap Imas lembut seraya mengandeng ya memasuki pintu masuk pemakaman. Imas terus mengikuti Tian yang berjalan ke salah satu nisan di bawah pohon kamboja,yang tak jauh dari mereka berjalan.
"Yah,Tian dateng." lirih Tian seraya berjongkok di samping makam ayahnya,kemudian ia mencabuti ilalang yang tumbuh disekitarnya.
Imas ikut mencabuti rumput dihadapannya,sesekali ia menilik Tian yang nampak berkaca-kaca kala menatap makam sang ayah.
Melihat Tian yang butuh waktu untuk sendiri,Imas segera pamit menunggu Tian di tempat mereka memarkirkan motor Tian.
__ADS_1
Imas mengedarkan pandangannya,menatap peziarah yang datang dan pergi. Sorot mata Imas tak sengaja menangkap wanita paruh baya yang berada cukup jauh disebelah kanan Imas.
"Kok kayak Tante Fani," terka Imas yang seketika menatap wanita itu tajam.
Imas mengerenyit kala melihat wanita itu seperti menangis seraya mengusap-usap nisan disampingnya.
"Tante Fani kesini,ke makam siapa," Imas memilih tak ambil pusing dan segera pergi sebelum Tian sampai di sana terlebih dahulu.
Saat melewati ibu tirinya yang tengah bersimpuh Imas sedikit memalingkan wajahnya ke kiri,sedangkan Fani sepertinya tidak menyadari keberadaan Imas.
"Maafkan aku,Diana."
Langkah Imas kembali berhenti,kini jantung Imas berdegup kencang. Tangannya sudah menggenggam erat,kala Fania menyebut nama Diana.
.
.
.
.
To be continued....
Mohon dukungannya juga di novelku yang lain :
__ADS_1
-Suamiku Pangeran Es
See you all💖