Incess Es Balok

Incess Es Balok
Chapter 21- Map Merah


__ADS_3

Langit yang tadinya biru telah banyak ditaburi bintang, sinar sang suryapun telah pergi berganti remangnya sinar rembulan yang menyinari kedua remaja yang melintasi jalanan perumahan dengan sesekali gurauan terdengar dari mereka.


Hingga sampailah mereka di depan sebuah gerbang berwarna putih yang menjulang tinggi.


"Perasaan gue kalo kesini lama deh,tapi kok tadi cepet banget. Nggak adil deh!" Kata Tian,kemudian ia memajukan bibirnya seraya menatap jalanan yang tadi mereka lalui.


"Sama aja kok,lo aja jalannya lelet," Tian menoleh pada Imas yang sudah membuka sedikit pagar besi di belakangnya.


"Bukan gara-gara itu,tapi gegara gue jalan sama elo," Tukas Tian hingga mendapat tatapan sengit dari Imas.


"Halah receh," Cerca Imas yang membuat Tian kembali mencetut.


"Kapan coba lo bakal bilang...aaa baper gitu??" Lirih Tian seraya menatap Imas penuh arti membuat Imas gelagapan.


"Kapan-kapan," Tian menghela nafas sejenak dan kembali menatap gadis tomboy disampingnya.


"Gue tunggu, Yaudah masuk gih diluar dingin." Imas sedikit menunduk menutupi pipinya yang terasa panas melihat senyuman maut dari Tian.


"Lo pulangnya hati-hati ya. Gue masuk dulu," Kali ini giliran Tian yang bersemu mendengar penuturan calon pacarnya tersebut.


Setelah menutup pagar kembali Imas segera masuk ke dalam rumahnya,dan kembali menutup pintu berwarna putih tersebut rapat-rapat.


Lampu diruang tengah masih menyala tapi rumah nampak sepi,sepertinya para penghuni sudah beristirahat di kamar mereka.

__ADS_1


Saat melewati ruang keluarga Imas kembali teringat saat dirinya dulu memergoki ayahnya tengah memukul sang ibu dan menghujaninya dengan kata-kata kasar.


Hati Imas kembali pilu kala memori itu terputar kembali,melihat ibunya yang ditendang,dimaki,dan dipukul membuat ulu hati Imas terasa nyeri kembali.


Gumaman kecil mengagetkan Imas dari ingatan masa lalunya,gadis belia itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga untuk mendengar lebih jelas.


Suara tersebut terdengar dari ruangan di pojok dekat tangga,tepatnya ruang kerja ayah Imas. Imas melirik sekilas ke kamar kedua orangtuanya yang tak berada jauh dari sana.


"Apa papa masih kerja,tapi biasanya juga nggak pernah?" gumam Imas


Karena penasaran Imas mulai mendekati ruangan tersebut, dibukanya handel pintu yang menampilkan seorang pria paruh baya yang sedang meringkuk di sudut ruangan dengan beberapa botol minuman beralkohol.


Imas mendekati ayahnya yang sudah terbaring seraya memegangi sebuah botol yang tinggal berisikan setengah.


"Maafin ayah nak," Imas menilik ayahnya yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu seraya berkali-kali mengulangi kalimatnya.


Tangan Imas hendak mengusap sang ayah tapi tak sengaja tangan Imas menampik setumpuk dokumen di atas meja.


Imas mendengus pelan,kemudian ia mengumpulkan dokumen-dokumen tersebut kembali,saat Imas menarik sebuah map merah membuat selembar kertas lusuh terjatuh.


Imas memungut potongan kertas itu dan mendekatkan kertas tersebut ke wajahnya.


Dan membaca judul sebuah artikel.

__ADS_1


"Istri dari pengusaha muda kaya raya Azka Prayoga tewas dalam tragedi mall Seko"


Jantung Imas berpacu lebih cepat, bayang-bayang mimpinya kembali berputar membuat kepala Imas berdenyut hebat.


Tangan Imas mulai bertumpu pada meja,ia menyandarkan tubuhnya di tepi meja. Perlahan Imas menekan pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang ia rasakan.


. . . .


. . .


. .


.


To be continued...


Mohon dukungannya ya,di novel\=


_ Marriage Without Love


_ Suamiku Pangeran Es


See you all😘😘

__ADS_1


__ADS_2