
Imas menarik dirinya dari pelukan hangat pemuda tadi, kini dadanya kembali terasa bergemuruh setelah sekian lama break. Rasa hangat juga menjalar ke tubuhnya.
Tapi terselip sedikit kekecewaan dalam diri Imas karena lelaki yang mungkin sudah merebut hatinya itu tidak mengenalinya. Apa ia sudah lupa? Entahlah, beberapa hari ini mereka juga jarang bertemu.
"Mbaknya nggak apa?" tanya Tian.
Imas menggeleng, "Kenapa elo kerja disini?"
"Ya karena saya kerja disini mbak! Mbaknya ada-ada saja." kata Tian diselingi tawa renyah darinya.
"Kenapa harus kerja disini?" tanya Imas lagi, Rupanya ia sangat ingin tahu mengapa calon pacar masa depannya ini bekerja lagi.
"Disini gajinya lumayan mbak, bisa buat kirim uang ke ibu saya di kampung. Sama buat nabung buat lamar cewek saya mbak!"oceh Tian yang membuat Imas tercekat.
Tian barusan bilang untuk melamar pacarnya? siapa??
Imas mengerjap cepat, ia merasa ada perasaan yang menjalar ditubuhnya. Sulit untuk dijelaskan tapi bisa dirasakan.
Imas mengurungkan niatnya untuk menurunkan masker yang ia pakai, "Memang pacarnya siapa?"
"Ada deh mbak, dia tuh orangnya cantik, baik, terus yang paling saya sukai dia itu ramah." tukas Tian.
Deg
Ramah? Imas bahkan jauh dari kata itu. Atau mungkin sifat itu sudah lama hilang dari diri Imas.
Mata Imas perih, hatinya juga seolah teriris mendengar ucapan pemuda dihadapannya. Apa Tian benar-benar tidak mengenal Imas? atau mungkin dia memang sengaja berkata demikian? entahlah Imas sedang tidak ingin beropini.
Imas berlari menjauh, ia juga mengabaikan teriakan Tian di belakang. Niat hati ingin membeli indomie malah diberi berita mengiris hati dengan kadar bawang tinggi.
__ADS_1
Tangan Imas melepas masker yang masih menempel di wajahnya, kakinya juga masih setia berlari menjauh sejauh-jauhnya.
Air mata itu akhirnya luruh, setelah Imas mati-matian menahannya agar tidak tumpah. Isakan demi isakan terdengar dari mulut kecilnya. Langkah kakinya juga semakin melamban hingga akhirnya ia terhenti dan berjongkok seraya menagkupkan kedua tangannya di wajah.
* * *
Sedangkan Tian sedang mengecek barang di gudang, tapi fokusnya terbagi dengan pelanggan yang menariknya tadi ke luar. Apa Tian mengenalnya, tapi siapa?
Tapi sepertinya suara serak basah itu cukup familiar bagi Tian, seperti suara Imas? mungkin Tian terlalu rindu hingga ia menghayal mendengar suara sang pujaan hati. Begitu pikirnya.
Tian semakin tidak fokus, hati kecilnya merasa bersalah. Ia pun memutuskan mencuci wajahnya ke toilet.
Wajah Tian kembali segar, juga cerah bercahaya setelah Tian mencuci wajahnya. Ia juga membasahi rambutnya membuatnya semakin terasa segar dipandang.
Kembalinya dari toilet beberapa anak SMA melirik Tian genit, yang ditanggapi senyuman kecil olehnya yang semakin membuat para gadis itu histeris.
* * *
Pagi ini matahari nampak malu-malu untuk menampakkan dirinya, beberapa awan hitam menghiasi langit pagi itu.
Ravi mengawali aktivitas nya dengan menengok adik kecilnya ke kamarnya, Ravi membuka perlahan knop pintu. Raut wajah lelaki kekar itu berubah kala mendapati kamar adiknya terlihat berantakan, bau parfum dimana-mana, berserakan, kaca pecah.
Ravi melangkah hati-hati mendekati gadis yang tengah berbalut selimut itu. Ravi kembali dikejutkan dengan keadaan adiknya yang mengenaskan, rambut awut-awutan, mata sembab, dan isakan kecil yang kadang terdengar.
Pupil mata Ravi membulat melihat tangan Imas berdarah, Ravi menduga akibat pecahan kaca. Ia pun segera mengambil obat P3K dan mengobati Imas.
* * *
Ravi semakin dibuat khawatir melihat Imas seakan enggan hidup, ia bahkan belum makan seharian ini. Sudah beberapa kali Ravi menyuapinya tapi Imas selalu menolaknya. Imas juga hanya duduk termangu di sofa ruang tengah.
__ADS_1
Karena melihat keadaan Imas yang menghawatirkan, Ravi segera menelepon Ibel dan menyuruhnya untuk menemui adiknya. Secarakan Ibel pawangnya Imas.
Tak berselang lama, dari luar terdengar deru mobil masuk ke garasi. Pasti Ibel, pikir Ravi.
"MANA YANG KESURUPAN?!!!" seru Ibel heboh membuat Imas dan Ravi menatap searah.
"Gosah teriak-teriak deh, kuping gue sakittt nih!" gerutu Ravi yang ditanggapi cengiran oleh Ibel.
Imas menatap Ibel yang sedang mengoceh seperti biasa dengan datar, ia tidak sedang mood untuk berdebat. Dari kemarin seperti ada yang mengempur hati Imas, yang membuatnya merasa perih.
Sementara Imas melamun, Ibel mengintrogasi Ravi habis-habisan.
"Ini kenapa sahabat gue jadi loyo begini, Lo apain?!!" pekiknya menggelegar, membuat spontan Ravi menutup telinganya.
"Gue juga udah nemu dia kayak gini, mana tau gue! tanyain tuh sama dia sendiri." ucap Ravi.
"Lo nemuin dia dimana, kapan, kenapa gak nelepon gue, keadaannya gimana, apa di..."
"Udah, Stop!" ujar Ravi.
"Mumet aku ambek takonanmu, kyone aku wae sek salah!".
["Pusing aku sama pertanyaanmu, kayak aku aja yang salah!"]
"Keluar deh bahasa planettt-nyaaa"
Ibel yang mendapat serangan mendadak hampir terlonjak kaget, ia mengusap pelan rambut sahabatnya itu.
"Lo pasti kuat, gue disini!" gumam Ibel.
__ADS_1