
Tangan Ibel tak berhenti membelai rambut hitam Imas, sesekali ia memberi semangat untuk sahabat kecilnya itu. Sedangkan Imas masih memeluk erat Ibel, seraya menahan tangisnya.
Perlahan Imas mendongak menatap Ibel yang tengah tersenyum lembut, khas keibu-ibuan. Membuat hati Imas semakin tenang berada di dekat Ibel.
Ravi yang melihat adegan itu, sedikit terharu. Lelaki kekar itu tersenyum menatap ke arah gadis berambut pendek yang tengah memeluk adiknya.
Ada rasa haru sekaligus kagum akan sosok yang selama beberapa tahun terakhir ini ia kagumi. Ah andai saja gadis cerewet itu tahu, setiap Ravi didekatnya jantungnya pasti akan berdetak kencang.
"Cantik." lirih Ravi yang masih didengar oleh Ibel.
"Apa, elo ngomong apa tadi?" tanya Ibel seraya menatap intens pada Ravi, membuat lelaki itu sedikit gugup.
"E-eh! itu rambut elo bagus, iya bagus!" ucap Ravi seraya mengganguk meyakinkan Ibel.
"Oh kirain apaan, secara gue gitu loh. Gimana bagus nggak gaya gue pake rambut gini??" tanya Ibel yang diangguki Imas.
"Iya, lo cantik!" ucap Ravi tanpa sadar.
"Bel, ke kamar gue yuk!" ajak Imas.
"Kamar elo kotor, bibi belum dateng jadi belum diberesin. Disini aja!" jelas Ravi membuat Imas menggeleng.
"Ke kamar Ravi yuk, ya??!" pinta Imas yang membuat mata Ravi melotot.
"Kamar gue juga kotor banget, baju dimana-mana, bungkus makan, kaleng, semua berserakan, kotor po..."
"Udah, yuk Belll?" rengek Imas yang membuat Ibel beranjak mengikuti imas ke lantai atas.
"Betina selalu benar!" gerutu Ravi.
* * *
Sore ini Tian merebahkan dirinya beralaskan kasur tipis di lantai kosannya, hari ini Tian mendapat sift malam mengantikan temannya.
Tiba-tiba ingatan Tian kembali pada kejadian kemarin malam -di gang samping supermarket- Tian menghela nafas panjang, ingatannya hari ini dipenuhi oleh Imas membuatnya sulit berpikir jernih.
__ADS_1
Hatinya juga merasa kosong dan hampa, seperti telah kehilangan setengah jiwanya yang entah kemana. Sebenarnya Tian sudah menelepon Imas berkali-kali tetapi nomornya tidak aktif membuat Tian semakin Frustasi.
"Misi anak ganteng numpang makan." ucap Angga.
Sontak lamunan indah milik Tian harus menghilang, karena ulah sahabatnya itu.
"Tuh lo ambil aja, mie ada di kardus." jelas Tian lesu.
"Letoy amat lo, masih laki kagak?" ledek Angga yang dijawab pelototan oleh Tian.
Dering ponsel memecah perkelahian batin mereka, Tian memberi isyarat pada Angga untuk diam.
"Assalamualaikum bang, ada apa ya?"
Tian nampak mendengarkan ucapan lawan bicaranya dengan seksama, raut wajahnya dibuat lebih masam.
"Iya bang, nanti Tian transfer."
Seusai mematikan panggilan tersebut, Tian terduduk lemas di kasur kosnya. Sedih dan marahnya bercampur aduk membuat sudut mata Tian sedikit berair.
"Bang Yunus bilang ibu dibawa ke puskesmas, terus adek gue minta uang buat bayar uang ujiannya, kalo dia nggak bayar dia nggak boleh ikut ujian." terang Tian.
Angga menepuk pundak Tian, "Gue ada dikit duit kiriman dari Om gue, elo pake aja dulu."
"Nggak Cung, itukan uang buat elu bayar kuliah. Lagian gue masih ada." tukas Tian segan.
Angga tertawa renyah, " Elo kayak sama siapa aja, nggak usah sungkan!"
"Uang gue cukup kok cung kalo cuma buat neransfer ibu, tapi kayaknya gue nggak bisa ikut pulang. Uang gue cuma cukup buat itu." jelas Tian lirih.
"Gue kan udah bilang elo pa..."
"Enggak cung, makasih tapi elo lebih butuh."
* * *
__ADS_1
Ravi POV
Sekarang aku sedang sedikit membungkuk dan menempelkan telingaku di pintu berwarna putih, sayup-sayup aku mendengar para perempuan membahas tentang...Drama?
Aku mendengus, memundurkan diriku dan menegrutu kesal. Jadi mereka selama berjam-jam didalam hanya membahas drama? sementara aku menunggu mereka khawatir.
Tunggu, semenjak kapan Imas suka menonton tontonan membosankan itu? ah ya sudahlah.
Aku mengetuk pelan pintu kamar, satu kali masih tidak ada yang membuka, dua kali masih sama. Aku mulai kesal dan mengedor pintu sedikit kencang, tapi masih tak ada respon.
Sebenarnya mereka sedang apa, mereka tidak mungkin tertidurkan? aku harus ke kampus siang ini, tapi mereka belum juga keluar.
"Woy! bukain gue ada mata kuliah!" pekikku.
Tak lama kemudian pintu dibuka, terlihat Ibel menatapku sebal dengan mata sipitnya itu. Sungguh menggemaskan.
"Apaan sih elu teriak-teriak, ketok pintukan bisa?!!" bentaknya dengan wajah yang sudah memerah.
"Heh! gue dari tadi udah gedor-gedor pintu, telinga elo aja kali bermasalah." sahutku tak kalah kesal.
Tanpa aba-aba Ibel melemparkan tas juga beberapa pakaianku, membuatku reflek menangkapnya.
"Udah ya, bye!" sentaknya ketus.
Aku menahan pintu dengan tubuhku, hingga jarak kami terkikis. Hingga aku dapat merasakan deru nafasnya di lenganku.
Hidung mancung, kulit seputih susu, mata sipit, dan bibir yang dipoles dengan liptint membuatnya terlihat sangat cantik. Rasanya aku enggan beranjak, jika bisa aku juga ingin memberhentikan waktu sekarang juga.
"Apaan lagi sih?!!!" bentaknya dengan bibir manyunnya.
"Itu daleman gue ketinggalan."
"Ihhh nggak usah pake, sana pergi!"
Ibel mendorongku dan langsung menutup pintu dengan kencang, sebelumya aku dapat melihat pipinya yang merah merona.
__ADS_1
Ravi POV End