
Part 1 - Tawaran
Selamat pagi
Selamat siang
Selamat petang
Selamat Malam
dan selamat membaca readers
Semoga senang dengan karya saya
Grace Putri Hadisasono terlahir dari keluarga yang sederhana bahkan untuk makan saja masih kesulitan. Ayahnya hanya seorang calo bus di Terminal Tertonadi yang penghasilannya tidak menentu. Sedangkan ibunya hanya seorang buruh tani yang tidak setiap hari mendapatkan kerjaan. Kalau waktu musim menanam maka ia akan bekerja sebagai buruh menanam bibit. Kalau sedang musim panen, profesinya berganti menjadi penampi jelai padi di belakang para pengirik.
Ayah Grace memang sudah meninggalkan hobinya berjudi tapi masih sering mabuk-mabukan. Itulah yang seringkali membuat dia malu memiliki Ayah seorang pemabuk. Tidak jarang hasil kerjanya sehari itu dipakainya untuk kesenangannya sendiri. Makanya tidak heran jika keluarga ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Grace sudah satu tahun tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMP karena terbentur dengan biaya. Itupun sebenarnya Ayahnya tidak mau menyekolahkan ke jenjang SMP.
"Sampai kamu nangis darahpun, aku tidak akan sekolahkan kamu ke SMP. Cukup hanya sampai SD. Toh anak perempuan itu ujung-ujungnya di dapur. Tidak perlu lanjut sekolah..." itulah kata-kata ayahnya setelah ia lulus SD.
Ibu Grace tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusan suaminya. Hanya bisa diam. Karena ia sendiri juga tidak pernah diberikan kesempatan untuk sekolah oleh orang tuanya terutama ibunya, nenek Grace.
"Sudahlah nak... Tidak sekolah juga tidak apa-apa. Maaf, Ibu tidak bisa membantu. Kamu tahu sendiri kita kesulitan keuangan. Jangankan untuk sekolah, untuk makan saja masih sulit. Terima saja keputusan Ayahmu." kata Ibunya Grace untuk menenangkan Grace.
"Tidak... Masih ada harapan. Kalau gitu saya tidak mau lagi beribadah. Biar saja. Aku harus cari uang untuk sekolah." gumam Grace.
Grace, sebenarnya anak yang rajin beribadah. Sekalipun tempat beribadahnya jauh. Dia akan tetap berjalan kaki menempuh perjalanan 6 km jauhnya menuju tempat beribadahnya.
Di kampungnya sedang musim panen tebu. Setiap orang yang bisa memotong tebu kira-kira satu jengkal panjangnya sebanyak 100 potong dalam seikat maka dihargai Rp. 250;
Ketika mendengar itu, Grace dengan penuh semangat mengumpulkan potongan tebu itu. Terkumpullah 4 ikat. Artinya, Grace hanya mendapatkan uang Rp. 1.000 saja.
"Kalau cuma mendapatkan uang Rp. 1.000, mana mungkin bisa untuk biaya sekolah? Untuk membeli seragam bagaimana? argggggggg..... Kenapa nasibku begini???" kesal Grace meratapi nasibnya yang lahir dari keluarga yang tidak mampu.
Sementara itu kakak laki-lakinya bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Apalagi bisa masuk di Sekolah Negeri 1 yang saat itu menjadi sekolah favorit.
"kenapa aku diperlakukan berbeda? Kenapa kakak saya bisa sekolah, saya tidak? aku benar-benar tidak tahu jalan pemikiran Ayah deh..." protes Grace dalam hati
Hingga akhirnya dia ditolong oleh seorang pendeta untuk melanjutkan ke jenjang SMP. Tapi setelah duduk di kelas dua SMP, Grace memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Karena ingin membantu orang tuanya di rumah. Sekalipun Grace tinggal bersama Pendeta yang menolongnya, orang tua Grace juga masih membantu biaya sekolah.
Terpaksa orang tua Grace yang membiayai sekolahnya. Tidak mungkin harus putus sekolah begitu saja.
Setelah lulus SMP, Grace memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Meskipun dia kecewa karena cita-citanya pasti tidak akan tercapai. Grace ingin mengubah ekonomi keluarganya. Grace ingin berhasil. Tapi pupus harapan.
"Grace , kamu mau bekerja?" tanya Ayah Grace.
"kerja apa yah?" jawab Grace.
"Kerja sebagai Asisten Rumah Tangga... Teman saya butuh..."
"Ya sudah... mau dehhh" setuju Grace. "Dari pada di rumah..." lanjut Grace dengan tanpa pilihan.
Grace bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga, teman dari Ayahnya. Bosnya memiliki toko di Terminal Tertonadi juga makanya Ayahnya Grace mengenalinya. Grace mengasuh dua anak majikannya yang masih kecil. Yang besar usia 9 tahun dan yang kecil usia 4 tahun.
Ternyata, kehidupan sebagai pembantu, tidak mengenakkan sekalipun bosnya adalah teman Ayahnya.
Tanpa sepengetahuan Ayahnya, baju Grace dan teman-temannya hanya diletakkan di lemari kecil teras samping rumah. Tidur di lantai tanpa alas.
Memang majikannya terkenal kurang baik di mata tetangga-tetangga komplek. Grace pun sempat berpikir untuk keluar dari tempat itu dan mencari pekerjaan lain.
1 Minggu kemudian di rumah Grace
"Yah, bagaimana keadaan Grace?" tanya ibu Grace kepada Ayahnya yang baru pulang dari kerja.
"Dia baik-baik saja. Jangan kwatir. Majikannya kan teman saya." jawab Ayahnya
"Baiklah kalau begitu..." sahut ibunya
"Ya Tuhan... lindungi Grace, jagai Grace, dan beri kekuatan buat Grace..." serunya dalam doa.
Kembali ke Grace
__ADS_1
Saat toko majikannya tidak ada penjaga karena karyawannya resign, Grace pun menggantikannya sementara waktu. Tetapi oleh karena kecerdasan Grace, hanya beberapa hari saja dia bisa menghafal harga-harga dagangan. Grace pun dialihkan ke toko.
"Grace, mulai besok kamu pindah di toko ya..." perintah bosnya.
"Siap bos!" jawabnya lega karena sudah tidak mengurus anak-anak itu lagi. Karena anak-anak itu juga ribet. Suka melawan. Makanya Grace senang dipindahkan meskipun kadang harus mendapatkan Sif malam.
Namun kejadian yang tidak mengenakkan terjadi karena kesalahpahaman. Grace ditampar oleh majikannya di depan Ayahnya. Ayahnya pun murka. Mau bagaimanapun Grace adalah anak kesayangannya.
"Grace, ambil semua bajumu dan pulang ke rumah... tidak usah bekerja lagi disini!" perintah Ayahnya.
Grace hanya bertahan selama satu bulan saja. Dia pun jadi pengangguran. Bosan. Bingung karena tidak ada kegiatan. Ada kegiatan hanya saat tetangga punya hajatan. Sebagai anggota pemuda, otomatis terlibat di dalamnya.
Setelah beberapa lama di rumah, dia mendapat tawaran bekerja di Surabaya menjadi asisten Rumah Tangga di rumah sepupunya. Karena tidak pernah ke Surabaya, sepupunya yang lain mengantarnya karena adeknya juga bekerja disana sebagai Asisten Rumah Tangga juga.
"Grace, sekalipun di Surabaya ikut saudara, kamu harus tetap bekerja dengan baik. Jaga diri baik-baik karena Surabaya itu jauh. Jaga pergaulan. Jangan bikin malu keluarga. Mungkin kita jarang komunikasi." nasehat Ibu Grace.
"Iya ibu... Jangan kuatir." sahutnya dengan senyum manis dan pelukan.
"Jangan lupa berdoa selalu." Imbuh Ibunya
Grace hanya menganggukkan kepala untuk menjawab kekuatiran ibunya.
Grace pun berangkat diantar kakak sepupu Grace laki-laki dengan menggunakan bus jurusan Solo-Surabaya.
Tibanya di Surabaya, dia mendapatkan tugas untuk menjaga anak dan bersih-bersih.
Hari demi hari dia lalui. Suka dan duka lewati. Meskipun bekerja di tempat saudaranya tetapi tetap harus konsisten. Bangun tepat waktu. Kerja harus bersih. Tidak boleh keluar rumah sembarangan. Jadwal makan dan minum susu anak harus sesuai dan tepat waktu.
Semua tidak sesuai harapan. Tombol Rice cooker rusak. Baju setrikaan berlobang. Anak rewel meskipun dia sendiri yang membuat anak itu rewel karena keisengannya.
Dimarahi, disindir, tertekan itu sudah menjadi makanannya. Terkadang dia lampiaskan kekesalannya pada anaknya yang masih kecil dengan dikerjainnya. Yahh, untuk hiburan juga.
Selama dia bekerja ikut sepupunya, dia juga tidak pernah mendapatkan kabar dari kedua orang tuanya karena Grace memang tidak mempunyai HP.
Sesekali kakak sepupunya yang sama-sama sebagai Asisten Rumah Tangga mengajak untuk keluar dan mengenalkannya dengan teman-temannya.
"Keluar yuk... Diajak sama anak gang depan jalan-jalan ke mall." ajak sepupunya
"Tapi mbak yang minta ijin ya?" jawabnya sambil cengengesan.
"iya" jawab sepupunya
Merekapun keluar ke Tunjungan Plaza dengan naik taxi. Akhirnya mereka bertemu dan kenalan.
"Adi"
"Grace" menjabat tangan dengan rasa malasnya. Pandangan pertama kurang berkesan bagi Grace.
Mereka pun keliling Mall hingga pukul 21.00, akhirnya pulang.
Setelah pertemuan itu, Grace mendapat salam dari Adi
"Grace, dapat salam dari Adi." celetuk Yuni, sepupunya
"Berapa ikat?" jawabnya dengan malas
"ihhhh" cengir Yuni
"Apaan sih" sewot Grace
"Itu lho dapat salam dari Adi."
"Malas" jawab Grace sambil memalingkan mukanya
Dari luar jendela tampak Adi teman-temannya sambil instruksi suruh nanti malam menelpon dengan menunjukkan jari jempol dan kelingking dibuka sementara jari telunjuk, jari tengah dan jari manis dilipat tanda perintah untuk terima telepon.
"Grace, suruh terima telepon tu nanti malem..." perintah Yuni
"Malessss ahhh.... Mending aku nonton TV. Acaranya bagus. Drama Korea yang baru keluar. Orangnya ganteng-ganteng bak malaikat turun dari Sorga." seronohnya.
"Dasaaar" umpat Yuni
Grace masih berharap untuk melanjutkan sekolah. Tak henti-hentinya dia berdoa agar diberikan kesempatan untuk sekolah lagi.
__ADS_1
"Tapi ini sudah tutup pendaftaran sekolah mana mungkin bisa masuk tahun ini. Ya kali tahun depan? Masa iya nganggur 2 tahun? Yang bener saja Apa otak ini masih bisa berfungsi dengan baik untuk mengingat rumus-rumus matematika?" gumam Grace dengan putus asanya. Kecewa, pastinya saat melihat anak-anak Sekolah sudah mulai ramai melewati tempatnya bekerja. Tak terasa butir-butir kristal mulai berjatuhan di pipinya.
"Kapan ya Tuhan aku bisa mewujudkan impianku bisa sekolah lagi??" gumamnya dalam hati sambil memperhatikan anak-anak sekolah yang lewat di depan tempatnya bekerja.
"Seandainya aku punya keluarga yang kaya. Seandainya ayahku tidak menjual tanahnya untuk judi. Seandainya ayahku tidak mabuk-mabukan. Seandainya ayahku punya pekerjaan yang layak... tentu saja aku tidak akan seperti ini..." lanjutnya dengan berharap masih ada harapan.
Dan butir-butiran kristal itu terus menetes membasahi pipinya.
Tiba-tiba terdengar hentakan kaki yang mulai terdengar ke arahnya. Dengan secepat mungkin Grace mengusap air matanya. Dia tidak ingin orang lain melihat kesedihannya.
"Doooooorrrrrrr !!!!!! Pagi-pagi ngalamun. Awas kesambet setan." celetuk Yuni
"iya setannya kamu..." Jawabnya dengan ngasal.
"Kerja... kerja..."
"iya ahhhh.... bawel banget punya sepupu." imbalnya dengan sedikit jengkel.
"Mba, setelah acara di rumahmu. Aku berencana tidak kembali lagi kesini." katanya sambil menoleh ke arah Yuni.
"Sudah dipikirkan matang-matang?"
Grace pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Ya sudah kalau itu keputusanmu." lanjut Yuni.
Setelah 3 bulan bekerja akhirnya Grace memutuskan untuk pulang ke kampungnya dengan sudah tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan sekolah. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa selama di rumah. Sempat mau dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pemuda yang memiliki tanah luas. Tapi Grace menolak.
"Sampai orang itu datang maka saya kabur dari rumah... Akutidak peduli. Lagian masih kecil juga disuruh nikah kayak ga laku-laku saja." gumam Grace yang masih memiliki secercah harapan bahwa pasti masih bisa lanjutkan sekolah.
Grace juga sempat disukai oleh seorang pemuda dari desa lain tapi Grace menolak. Pertama, karena berbeda keyakinan. Kedua, karena dia perokok.
Bukan sok rohani atau sok suci. Grace memang mempunyai kriteria tersendiri jika menyangkut masa depannya. Grace terus menjaga komitmennya dan masa depannya masih panjang
"Aku masih punya kesempatan untuk sekolah. Aku mau menikmati masa remajaku dengan sekolah. Tidak ada seorangpun yang boleh merenggut masa depanku." lanjutnya Grace yang memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Setelah beberapa hari di rumah, Pendeta yang pernah menolong Grace sewaktu SMP, kembali memberikan tawaran kepada Grace untuk melanjutkan sekolah lagi.
"Grace, kamu mau sekolah lagi?" Tanya Pendeta.
"Iya pak... Saya mau. Tapi ini kan sudah tutup pendaftaran sekolah pak?" Sahut Grace
" Ada sebuah asrama, tapi ada program paket C. Kamu mau?" Jelas pendeta.
"Mau banget pak!!!" jawab Grace dengan penuh semangat meskipun saat itu dia tidak tahu program Paket C itu apa.
"Ayah tidak bisa biayai kamu. Kalau mau lanjut silahkan tapi ayah tidak punya uang untuk biayai!!!" sahut ayah Grace dengan ketusnya.
"Tenang pak. Disana tidak dipungut biaya. Jadi bapak tidak perlu kuatir... Okelah Grace kamu siap-siap. Hari Senin pagi akan saya antar kamu untuk mendaftar. Saya jemput jam 07.00 pagi. Tidak perlu bawa banyak baju. Seminggu sekali kamu masih bisa pulang saat weekend."
"Baik pak. Terima kasih banyak pak." jawabnya dengan antusias.
"Sama-sama. Sabtu kamu bisa pulang dan kembali lagi ke asrama hari Senin. Disana ada peraturan yang harus ditaati" imbal Pendeta dengan senyuman
"Akhirnya bisa sekolah lagi... yes... yes... yes... hore... hore... hore" gumamnya sambil menunjukkan ekspresi senangnya dan melompat-lompat.
Ibunya yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak bungsunya.
"Grace... saat nanti di asrama, kamu jaga diri baik-baik. Jangan mudah terpengaruh dengan laki-laki. Jaga kehormatanmu sebagai perempuan. Jangan kecewakan ibu. Belajarlah yang sungguh-sungguh nak." nasehat ibu Grace
"Iya ibu..." balasnya dengan memberikan pelukan
"Ayo, kemasi barang-barangmu." imbuh ibunya
Grace pun menuruti perintah Ibunya untuk mengemasi barang-barangnya.
Ayah dan Ibunya Grace pun terpaksa melepaskan kepergian Grace tanpa kuatir karena sang Pendeta sudah menjelaskan bahwa ada peraturan ketat terutama berkenaan dengan pergaulan lawan jenis. Asrama putra dan putri dipisah. Jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan.
*Tuhan memberikan ujian sesuai porsinya masing-masing. Cobalah untuk menghadapi ujian itu dan takhlukkanlah. Jangan menghindarinya. Karena ujian bukan dihindari tapi dihadapi. Niscaya Tuhan memberikan cara-Nya sehingga kamu pun bisa melewatinya dan akhirnya kamu bisa berkata, yes!!! aku bisa!!!*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih readers, sudah membaca karya saya... 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jika ada kata-kata yang salah atau kalimat yang susah dicerna atau typo mohon koreksinya karena saya baru pemula...