
Akhirnya Grace dan Ita kembali ke asrama. Di asrama akan masak besar untuk acara malam tahun baru.
"Kita akan masak rica-rica. Grace tolong ke pasar untuk beli bahan-bahan atau bumbunya ya." titah Pak Budi. Bukan sekali ini Grace diminta untuk belanja. Bahkan sekali waktu Grace pernah diajak Pak Budi belanja di waktu tengah malam sementara yang lainnya enak-enakan di dalam selimut. Waktu tengah malam itu pas para petani datang untuk membawa hasil panen mereka. Kalau langsung beli di tangan petani akan lebih murah meskipun harus membeli dalam jumlah yang cukup besar untuk kebutuhan dapur.
Grace mencatat semua bahan-bahan yang akan dipakai untuk memasak. Setelah dari pasar, mereka membersihkan bahan-bahan itu dan menghaluskannya. Butuh waktu yang agak lama untuk mereka mengerjakannya karena memang yang dibutuhkan sangat banyak.
tereeeeennnnggg!!!!
Masakan pun matang. Masing-masing mengambil nasi dan lauk sesuai dengan porsinya masing-masing. Mereka sama-sama duduk makan malam bersama. Yang benar saja, satu per satu mereka beranjak dari tempat duduk karena tidak tahan dengan pedasnya. Yah, cabe campur merica. Dua bahan yang pedas dipersatukan. Yang tersisa duduk di meja hanyalah dua orang, Pak Budi dan Grace.
"Aku nyerah." kata Ita yang langsung beranjak dari tempat duduk untuk mencari minum.
Disusul Lusi, "Aku nyerah." katanya yang lari ke dapur.
"Uha... uha.... uha.... nyerah." ucap Reni sambil mengangkat kedua tangannya.
"Nyerah." kata Yanto yang sudah berkeringat.
"Nyerah." kata Steve yang mulutnya sudah merah saking kepedasan
"Aku juga nyerah. Telingaku sudah berasap ini" disusul Rina
"Nyerah." kata Elis
"Aku nyerah." ujar yang lainnya.
Tinggallah Pak Budi dan Grace yang ngakak karena melihat mereka yang tidak tahan pedas.
Setelah makan, mereka mengikuti doa di Gereja untuk ucapan syukur karena Tuhan sudah menyertai selama satu tahun yang dilewati dan penuh harapan menyongsong tahun baru. Dalam perjalanan Grace berbincang-bincang dengan Onis karena selama ini, memang yang paling dekat dengan Onis.
"Kamu nggak pulang Nis? Mumpung libur." tanya Grace
"Tidak. Kamu sendiri kenapa tidak pulang?" tanya Onis balik.
Kemudian Grace menceritakan apa yang pernah ia ceritakan kepada Ita. "Kalau di rumah, aku nggak akan bisa kemana-mana meskipun itu tahun baru. Keluargaku bukan seperti keluarga orang lain yang tergila-gila dengan tahun baru. Yang tergila-gila dengan kembang api dan tergila-gila untuk jalan-jalan hanya sekedar lihat langit yang dihujani dengan tembakan kembang api. Keluargaku tidak pernah piknik. Jangankan untuk piknik, untuk makan saja kurang. Saya itu piknik hanya waktu ada kegiatan di sekolah saja. Makanya saya pengen malam tahun baru disini biar bisa merasakan tahun baru itu seperti apa?"
"Begitu? Trus gimana hubunganmu dengan Steve?" tanya Onis.
"Seperti yang saya kasih tahu sebelumnya ke kamu. Tidak ada apa-apa diantara kami. Aku berusaha melupakan semua. Saya tidak mau berlarut-larut dengan masalah percintaan. Cukuplah." balas Grace.
Di belakang Gereja yang mereka datangi terdapat pemakaman. Sebelum acara dimulai, Grace dan Steve berbicara disitu. Disitulah Steve menceritakan semua unek-uneknya.
"Grace, aku mau pulang." katanya.
"Kenapa emang?" tanya Grace.
"Tidak seperti yang kuinginkan." jawabnya yang membuat Grace penasaran.
"Aku kira dulu itu bukan program paket C. Aku pengennya di STM supaya bisa langsung kerja. Tau gitu aku tidak mau kesini. Aku kecewa Grace. Jauh-jauh kesini hanya Sekolah Paket C. Disana aku bisa sekolah umum." jelas Steve dan Grace hanya menyimak kata-katanya.
"Kamu tidak mau bertahan dulu? Setidaknya kamu belajar banyak hal disini." ucap Grace.
"Akan aku coba." sahutnya.
__ADS_1
"Kalau aku bersyukur bisa sekolah disini. Sekalipun hanya Paket C, setidaknya aku bisa melanjutkan sekolah. Aku belajar banyak hal. Apalagi dalam hal kerohanian." ucap Grace yang dibalas dengan senyum tipis.
Grace melanjutkan bicaranya. "Kamu tahu? Aku dari keluarga yang tidak mampu. Sejak lulus SD saja, ayahku sudah angkat tangan tidak mau sekolahku lagi untuk melanjutkan ke SMP. Ayahku sampai bilang 'sampai nangis darahpun aku tidak akan pernah menyekolahkan kamu'. Sakit. Kecewa. Mau marah? Mana bisa? Akhirnya, Pendetaku menolong. Aku hanya bertahan selama satu tahun." ucap Grace.
"Kenapa?" tanya Steve.
"Aku tertekan. Toh orang tuaku masih membantu biaya kok. Jadi lebih baik pulang. Mungkin pikir orang, aku bahagia tinggal disana. Aku menjadi lebih baik. Tapi kenyataannya tidak. Aku sering kecapekan karena harus angkat air. Tidak beneran kerja dimarahi. Bapak pendetaku diam. Tapi ibu yang benar-benar deh. Beberapa kali aku tidak mau ambil uang sakuku dari ibu pendeta dengan alasan aku tidak tahu kalau itu untukku. Apa aku punya uang? Tidak! Aku sering tidak bayar bus waktu berangkat sekolah. Kalau ditanya sama kernet jawabku sudah bayar. Kalau pagi kan yang turun di depan sekolah banyak. Jadi tidak akan ketahuan. Kalau pulang jalan kaki menempuh perjalanan selama 1 jam-an. Aku tidak pernah jajan karena tidak punya uang. Karena ibuku kerja di dekat sekolahan, kadang aku datangi dia." ucap Grace. "Bahkan Celana dalam saja cuma satu. Cuci kering pakai. Itupun karetnya sudah melar. Hampir melorot kalau dipakai." lanjut Grace dalam hati.
"Kamu tahu? bahkan aku tidak menjadi lebih baik. Aku puasa Senin Kamis bukan karena niat puasa. Tidak! Itu karena aku sungkan kalau makan. Aku nyontek saat ulangan. Parah kan? Padahal aku ikut Pendeta lho..." curhat Grace lebih lagi.
"Setelah lulus SMP pun aku tidak langsung kesini. Itu juga berat buatku. Ayahku masih tetap tidak mau sekolahkan aku. Aku kerja jadi pembantu. Pernah juga ditampar. Aku keluar dan ikut sama kakak sepupuku jadi pembantu. Jadi kalau aku bisa sampai disini itu hanya karna anugerah terindah dari Tuhan. Itu rencana Tuhan. Tidak habis pikir aku bisa sampai disini. Tuhan memberiku kesempatan. Aku tahu ada rencana Tuhan atas hidupku." sambung Grace.
"Kayaknya ibadah sudah mau mulai. Ayo masuk. Ini sudah mau gelap juga disini (pemakaman)." ajak Steve. "Nanti pulang kita bareng ya." lanjutnya dan dibalas dengan anggukan.
Mereka pun masuk Gereja untuk mengikuti ibadah tutup tahun. setelah ibadah, mereka tidak langsung pulang. Mereka pergi ke Terminal X untuk melihat kembang api yang akan menghujani langit.
"Kamu tahu? Ini pertama kalinya aku keluar rumah di malam tahun baru lho .." ucap Grace
"Kenapa?" tanya Steve yang penasaran.
"Kalau di rumah, aku nggak akan bisa kemana-mana meskipun itu tahun baru. Keluargaku bukan seperti keluarga orang lain yang tergila-gila dengan tahun baru. Yang tergila-gila dengan kembang api dan tergila-gila untuk jalan-jalan hanya sekedar lihat langit yang dihujani dengan tembakan kembang api. Keluargaku tidak pernah piknik. Jangankan untuk piknik, untuk makan saja kurang. Saya itu piknik hanya waktu ada kegiatan di sekolah saja. Makanya saya pengen malam tahun baru disini biar bisa merasakan tahun baru itu seperti apa?" Grace menjawabnya seperti apa yang ia ceritakan kepada Ita dan Steve.
"Kalau begitu. nikmatilah." pinta Steve. Dibalas Grace dengan anggukan kepala.
Tepat pukul 00.00 petasan berbalas-balasan di udara berbentuk bulat-bulatan cahaya.
Steve POV On
"Grace, aku mau pulang." kataku.
"Kenapa emang?" tanya Grace.
"Tidak seperti yang kuinginkan." jawabku yang sepertinya membuat Grace penasaran.
"Aku kira dulu itu bukan program paket C. Aku pengennya di STM supaya bisa langsung kerja. Tau gitu aku tidak mau kesini. Aku kecewa Grace. Jauh-jauh kesini hanya Sekolah Paket C. Disana aku bisa sekolah umum." jelasku dan Grace hanya diam saja menyimak kata-kataku.
"Kamu tidak mau bertahan dulu? Setidaknya kamu belajar banyak hal disini." tanya Grace.
"Akan aku coba." sahutku.
"Kalau aku bersyukur bisa sekolah disini. Sekalipun hanya Paket C, setidaknya aku bisa melanjutkan sekolah. Aku belajar banyak hal. Apalagi dalam hal kerohanian." ucap Grace yang aku balas dengan senyum tipis.
Grace melanjutkan bicaranya. "Kamu tahu? Aku dari keluarga yang tidak mampu. Sejak lulus SD saja, ayahku sudah angkat tangan tidak mau sekolahku lagi untuk melanjutkan ke SMP. Ayahku sampai bilang 'sampai nangis darahpun aku tidak akan pernah menyekolahkan kamu'. Sakit. Kecewa. Mau marah? Mana bisa? Akhirnya, Pendetaku menolong. Aku hanya bertahan selama satu tahun." ucap Grace.
"Kenapa?" tanyaku yang semakin penasaran dengan Grace.
"Aku tertekan. Toh orang tuaku masih membantu biaya kok. Jadi lebih baik pulang. Mungkin pikir orang, aku bahagia tinggal disana. Aku menjadi lebih baik. Tapi kenyataannya tidak. Aku sering kecapekan karena harus angkat air. Tidak beneran kerja dimarahi. Bapak pendetaku diam. Tapi ibu yang benar-benar deh. Beberapa kali aku tidak mau ambil uang sakuku dari ibu pendeta dengan alasan aku tidak tahu kalau itu untukku. Apa aku punya uang? Tidak! Aku sering tidak bayar bus waktu berangkat sekolah. Kalau ditanya sama kernet jawabku sudah bayar. Kalau pagi kan yang turun di depan sekolah banyak. Jadi tidak akan ketahuan. Kalau pulang jalan kaki menempuh perjalanan selama 1 jam-an. Aku tidak pernah jajan karena tidak punya uang. Karena ibuku kerja di dekat sekolahan, kadang aku datangi dia." ucap Grace dan tiba-tiba dia diam sejenak. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Lalu dia melanjutkan cerita lagi.
"Kamu tahu? bahkan aku tidak menjadi lebih baik. Aku puasa Senin Kamis bukan karena niat puasa. Tidak! Itu karena aku sungkan kalau makan. Aku nyontek saat ulangan. Parah kan? Padahal aku ikut Pendeta lho..." curhat Grace lebih lagi kepadaku.
"Setelah lulus SMP pun aku tidak langsung kesini. Itu juga berat buatku. Ayahku masih tetap tidak mau sekolahkan aku. Aku kerja jadi pembantu. Pernah juga ditampar. Aku keluar dan ikut sama kakak sepupuku jadi pembantu. Jadi kalau aku bisa sampai disini itu hanya karna anugerah terindah dari Tuhan. Itu rencana Tuhan. Tidak habis pikir aku bisa sampai disini. Tuhan memberiku kesempatan. Aku tahu ada rencana Tuhan atas hidupku." sambung Grace.
"Kayaknya ibadah sudah mau mulai. Ayo masuk. Ini sudah mau gelap juga disini (pemakaman)." kataku. "Nanti pulang kita bareng ya." kataku yang dibalas dibalas dengan anggukan oleh Grace.
__ADS_1
Sambil berjalan meninggalkan pemakaman itu, ada yang mengusik dalam hati dan pikiranku. Aku menyadari bahwa perjalanan hidupku tidak sepahit yang Grace alami.
Selama ini dia terlihat tegar dan ceria. Tapi dibalik semuanya itu, ternyata dia juga rapuh.
Kami pun masuk Gereja untuk mengikuti ibadah tutup tahun. setelah ibadah, kami tidak langsung pulang. Kami pergi ke Terminal X untuk melihat kembang api yang akan menghujani langit pada pergantian tahun ini.
"Kamu tahu? Ini pertama kalinya aku keluar rumah di malam tahun baru lho .." ucap Grace yang seketika membuatku terkejut.
"Kenapa?" tanyaku yang penasaran.
"Kalau di rumah, aku nggak akan bisa kemana-mana meskipun itu tahun baru. Keluargaku bukan seperti keluarga orang lain yang tergila-gila dengan tahun baru. Yang tergila-gila dengan kembang api dan tergila-gila untuk jalan-jalan hanya sekedar lihat langit yang dihujani dengan tembakan kembang api. Keluargaku tidak pernah piknik. Jangankan untuk piknik, untuk makan saja kurang. Saya itu piknik hanya waktu ada kegiatan di sekolah saja. Makanya saya pengen malam tahun baru disini biar bisa merasakan tahun baru itu seperti apa?" ucap Grace untuk menjawab pertanyaan konyolku.
Tapi mengapa Grace mau menceritakan semua masa lalunya padaku. Percayakah dia padaku? Padahal aku pernah menyakiti dia.
"Kalau begitu. nikmatilah." Kataku yang dibalas Grace dengan anggukan kepala.
Tepat pukul 00.00 petasan berbalas-balasan di udara berbentuk bulat-bulatan cahaya. Aku menatap Grace yang sedang fokus melihat ke arah langit. Dia begitu tertegun melihat pemandangan itu.
Steve POV off
Grace benar-benar menikmati malam itu. Banyak orang berdatangan untuk menyaksikan petasan-petasan di atas sana. Ada juga kendaraan yang lalu lalang dari puncak dan turun dari puncak.
"Berapa duit tu habisnya? Sayang sekali uangnya dihamburkan di atas sana." gumam Grace.
Setelah menyaksikan petasan-petasan itu, pukul 01.00 Steve mengajak Grace untuk kembali ke asrama. Sesampainya di asrama ternyata sepi.
"Apa mereka sudah pada tidur? Sepi amat." batin Grace yang melihat di kamar hanya ada Lusi dan Ita.
Setelah pagi merekah, Grace masih melihat hanya Lusi dan Ita yang ada."Yang lain pada kemana?" tanyanya kepada diri sendiri dalam hati. "Wahhhh sepi dong hari ini." celetuknya lagi dalam hati.
Grace melemparkan badannya ke kasur dan menghadap ke langit-langit. "Akhirnya, aku menikmati pergantian malam tahun baru. Ini tidak akan pernah aku lupakan." Gumam Grace.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Grace untuk masuk ke dalam dunia mimpinya. Grace pun tertidur.
*Tuliskan rencanamu sebanyak-banyaknya dan berikan penghapusnya kepada Tuhan. Biarkan Tuhan menghapus yang tidak baik buat kita dan membiarkan yang terbaik buat kita. Apa yang baik dari Tuhan, pasti terbaik buat kita."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers...
Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....
Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....
Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....
Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....
Semoga hari kalian menyenangkan...
Mari saling mendukung dalam berkarya....
__ADS_1