
"Huaaaaaammmmmm" mulut terbuka lebar mengeluarkan aroma khas pagi sambil menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Bener dahhhhh ini anak. Nguap nggak pakai tata krama." celetuk Tatik kepada Grace.
"Hahahaha... Selamat pagi Tatik. Ini salah satu metode level tinggi biar kalian bangun." jawab Grace. "Ayo bangun, tu para lelaki ciptaan Tuhan sudah pada datang." sambungnya untuk mengajak mereka bangun.
"Aihhhssss.... pagi-pagi sudah ribut saja Grace." sahut Bita sambil menenggelamkan diri ke dalam selimut.
"Ampunnn deh ni Bita malah tarik selimut lagi." komentar Grace kepada Bita.
"La lagian, mana ada mereka sudah datang. Tipu-tipu kau saja itu Grace." balas Bita lagi.
"Baaahhh .... Grace .... Grace... sudah mulai keluar aslimu. Awal-awal datang diam anggun plus malu-malu kayak putri Solo." celetuk Ita
"Hahaha.... inilah asliku kalau kalian mau tahu. Ini baru 10% yang keluar. Nanti siang pasti 30% dari keaslianku pasti kutampakkan lagi." jawab Grace
Selama ini bagi orang luar pulau, orang Jawa itu terkenal lembut, anggun dan sopan. Berbeda dengan Grace. Grace memiliki temperamen yang benar-benar sanguin akut. Dia akan senang mengekspresikan dirinya, menjadi diri sendiri dan tidak munafik. Dia tidak malu kalau dikenal orang Jawa gadungan atau Jawa palsu.
"Sudah... sudah... ayo bangun." ajak Lusi sambil menarik semua selimut teman-temannya.
"Baahhhh... ini anak lagi..." komentar Bita
Akhirnya, mereka pun beranjak dari tempat kenyamanan mereka karena memang pagi itu cuaca tidak bersahabat. Dingin. Yang cocok dengan cuaca dingin yaitu berada di balik selimut.
Mereka pun berkumpul di ruang doa. Lagu dan doa mereka panjatkan dengan penuh hikmat. Semua harus serius ketika berdoa karena berkomunikasi dengan Tuhan.
Selesai doa bersama, Ketua Yayasan memberikan pengumuman bahwa hari ini akan ada kerja bakti untuk mengecor halaman, karena sudah mau musim hujan supaya tidak becek nantinya.
"Sore ini kita akan kerja bakti membantu tukang agar cepat selesai. Yang perempuan mencabut rumput di pinggir-pinggir. Yang laki-laki membantu tukang angkat-angkat adonan semen. Dan akan dilanjutkan lagi besok pagi. Siangnya yang rumahnya dekat bisa pulang." kata Pak Budi
"Baik pak" jawaban mereka yang disertai anggukan.
Setelah mereka turun dari ruangan, masing-masing anggota melakukan tugas sesuai jadwal yang telah dibuat secara berkelompok. Ada yang nyapu dan ngepel. Ada yang bersihkan halaman. Ada yang masak. Dan untuk mencuci piring, mereka mencucinya masing-masing. Untuk peralatan bekas masak dan dapur langsung dibersihkan petugas masak.
Mereka semua bekerja dengan senang dan iklas. Mereka menikmati setiap suasana dan tugas mereka. Mereka punya cara untuk menciptakan suasana yang berkesan. Meskipun sebenarnya diantara mereka ada yang kecewa karena tidak sesuai yang mereka harapkan sejak dari kampung.
*Aku pulang
Tanpa dendam
Kuterima kekalahanku
Aku pulang
Tanpa dendam
Kusalutkan kemenanganmu*
*Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita
Aku pulang
Tanpa dendam
Ku terima kekalahanku*
Suara cempreng itu terdengar dari halaman. Yang tidak lain adalah suaranya Grace. Sedangkan Kobus memegang sapunya seperti layaknya seorang gitaris handal.
*Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karena dia
Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia*
*Syu du du du du du du du
Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari kujatuh cinta padanya
Dicintai oleh dia 'ku merasa sempurna
Semua itu karena dia
Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia*
__ADS_1
Kali ini suara Dona yang menggelegar dan diiringi Gitar oleh Toni yang tidak mau kalah dengan Kobus dan Grace.
"Ampunnn dah.... itu suara anak-anak ribut banget, nyanyi sahut-sahutan sudah kayak paduan suara tingkat internasional." celetuk Ita dari dalam rumah.
"Udah biarin mereka mengekspresikan diri..." lerai Steven yang malas menanggapi kericuhan di padi hari.
Kerja praktis pun telah usai. Lalu mereka mengantri ala-ala antrian untuk mengambil jatah seperti biasanya dan makan bersama.
Jumat pagi mereka ada kelas ketrampilan. Bagi yang perempuan diwajibkan untuk mengikuti pelajaran Salon yang dimulai dengan belajar bagaimana memotong rambut. Sedangkan yang laki-laki belajar komputer.
"Oke. Kita akan memulai kelas kita. Hari ini akan belajar bagaimana memotong rambut bentuk rata ya. Kita persiapkan peralatan dulu. Peralatan yang dibutuhkan; gunting, jepit rambut 5, sisir, semprotan, dan celemek." jelas Bu Ria, guru salon.
Dengan penuh semangat dan penasaran semua anggota atau murid memperhatikan cara gurunya menjelaskan. Untuk praktek pertama kali, Dona yang menjadi modelnya.
Semua mata melotot ke arah kepala Dona bagian belakang. Mereka mulai masuk ke dalam dunia imajinasinya, seolah-olah mereka pun melakukan hal yang sama dan seolah-olah mereka berada di ruang salon miliknya.
"Rambut dibagi menjadi 5 ya. Bagian depan untuk poni. Bagian samping kanan dibagi dua. Samping kiri juga dua. Harus dibelah seperti ini menggunakan ujung sisir yang lancip ini. Semprotkan air sedikit demi sedikit ke rambut. Jangan terlalu basah. Kemudian potong dengan cara seperti ini"
Mereka pun membalas dengan anggukan tanpa mengalihkan pandangan mereka.
"Minggu depan kita akan belajar memotong rambut model oval. Masing-masing siapkan model ya. Bisa ambil model dari pemudi sekitar sini." pesan Bu Ria.
"Baik Bu." jawab mereka secara serempak.
Setelah para anggota Asrama Putri mengikuti pelajaran ketrampilan salon dan Asrama Putra mengikuti pelajaran komputer, kini mereka melanjutkan dengan makan siang bersama. Setelah itu, mereka diberikan kesempatan untuk beristirahat dulu. Pukul 15.00, mereka harus berkumpul kembali untuk melakukan kerja bakti bersama.
Akhirnya, mereka pun berkumpul untuk melakukan kerja bakti. Canda tawa mengiringi kerja mereka. Kejahilan di otak Grace mulai bangkit.
Saat Grace membersihkan rumput, ia melihat seekor cacing yang merayap menjauhi arah Grace. Sejenak otak jahilnya bekerja. Tanpa ragu dan tanpa rasa jijik, Grace pun mengambil cacing itu dan....
buuukkkkkk jatuh pas di depan Tini.
"Grace !!!!" teriak Tini sambil lompat menghindari cacing itu.
Grace mengambil cacing itu lagi dan kini mengenai Bita.
"Graaaaaacccceeeee !!!" teriaknya sekuat tenaga sampai otot-otot di leher menampakkan diri.
Grace pun melihat Yanto yang sedang berjalan ke arahnya. Dia mengambil cacing itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.
"Yan, hal apa yang membuatmu jijik di muka bumi ini?" tanya Grace
"Aku jijik kalau kamu ketahuan selingkuh." jawab Yanto
"Kalau ini jijik tidak?" tanya Grace lagi sambil mengangkat cacing itu di depan muka Yanto.
"Grace !!! Awas jangan dekat-dekat. Grace !!! Stop disitu !!! Jangan mendekat." Yanto langsung lari terbirit-birit. Ternyata yang paling menjijikkan bagi Yanto bukanlah melihat Grace selingkuh tetapi hanya seekor cacing.
Bukannya Grace berhenti melihat Yanto berlari, Grace malah mengejarnya. Terjadilah aksi saling kejar mengejar layaknya dalam video klip lagunya Sahrul Khan yang berjudul Kuch Kuch hota hai yang liriknya seperti ini;
Tum paasse aye, Tum paasse aye
Yun Muskurayee, Tum nena jane kya
Sapne de khaye, Aabto mera dil
NaJaane kaisa eh saas hai
Bujhti nahi hai, Kya pyaass hai
Kya nasha es pya ro kya
Mujpe sanam , Chaane laga
Koina Jaane, Kyun Chain Hota Hai
Kya Karoon haye, Kuch Kuch Hota Hai
Melihat aksi konyol mereka, gelak tawa pun terdengar menyoraki Grace dan Yanto bukan saja dari teman-temannya tetapi Pak Budi dan tukang-tukang.
"Uhhhhuuuuuu.... kalau lagi main film India, ini bukan tempatnya." Teriak Kobus yang disambut teriak yang lainnya. "uhuuuuiiiii..... cie.... cie.... tanda-tanda ini."
Grace salah tingkah karena olokan teman-temannya. Dia pun berhenti mengejar Yanto dan kembali bekerja. Tiba-tiba Grace mengingat bagaimana ia dikejar-kejar oleh kakaknya karena jijik dengan benda yang dibawanya. Bukan cacing atau binatang yang lainnya yang membuat Grace jijik. Tetapi kapas atau bulu-buluan
Flashback On
Kakaknya Grace memang jahil, tetapi tidak sejahil Grace. Sebagai kakak, memang dia banyak mengalah.
Waktu itu sedang musim kapas pohon randu. Jangankan ditakut-takuti, melihat kapas terbang atau di jalan saja dia jijik sekali.
"Grace !" panggil kakaknya yang bernama Ari. Grace pun menoleh.
"Apa ini?" tanya kakaknya sambil mengangkat kapas di depan Grace.
Tanpa ragu, Grace pun berlari sekencang mungkin sambil memanggil ibunya.
"Ibuuuuu....." teriak Grace tapi tidak didengar oleh Ibunya karena mereka sedang bermain di jalan depan rumah mereka yang sepi. Ari pun terus mengejar.
"Maaaaaassssss.... ampun! Stop!" teriaknya kepada sang kakak tetapi tidak digubrisnya.
"Ibuuuuuu...." teriaknya kembali. Kakaknya terus mengejar. Karena saking lelahnya dan kalah cepat dengan sang kakak, Grace pun tertangkap.
"Ampun.... ampun... ampun mas... ampun" isaknya. Tak terasa celana Grace sampai basah hingga air itu mengalir di aspal tempat ia duduk.
"Hahaha.... kamu ngompol." ejek Ari. Grace menangis dan malu untuk pulang ke rumah.
"Kamu kenapa Grace? Kok celana kamu basah? tanya Ibunya.
"Mas Ari kejar-kejar aku. Ditakut-takuti." jawabnya kepada sang ibu.
"Ya sudah .... mandi dan ganti sana."
Grace memang pobia terhadap kapas. Bagaimana dengan bantal? Bantal Grace berbeda dari yang lain. Isi bantal Grace hanya baju-baju bekas.
Flashback off
__ADS_1
"Bahasa Dayak Bakati 'tidur' apa?" tanya Grace kepada mereka.
"Bus." jawab Dona
"Tidur apa yang paling panjang?" tanya Grace lagi.
"Bus pariwisata" jawab Tatik
"Pinter..." sahut Lusi.
"Ayok main tebak-tebakan lagi." ajak Grace. "Ikan apa yang cowok?" lanjut Grace.
"Ikan mas!" jawab Bita
"Salah..." sahut Grace
"Lahhh ... mas itu kan cowok?" protes Bita.
"Memang iya, tapi yang benar Jawabannya: Ikan lele. Kalau cewek, namanya jadi ikan nduknduk (catatan: dalam bahasa Jawa, kata “tole” atau “le” digunakan untuk memanggil anak laki-laki, sedangkan “nduk” untuk memanggil anak perempuan)." jawab Grace yang tidak mau dikalahkan.
"Bayangkan kamu lagi ada di perahu kecil yang bocor, hampir tenggelam, dan dikelilingi lima ekor hiu. Gimana caramu menyelamatkan diri?" tanya Hendri
"Bunuh ikan hiu." jawab Dirman
"Lahhhh mau bunuh pakai apa?" tanya Toni
"Pakai hati." jawab Dirman
"Baaahhh ga nyambung banget." balas Rina
"Tahu nggak?" tanya Hendri lagi. Semua orang tampak bingung. "Ya tinggal berhenti membayangkan, lah. Susah-susah amat." lanjut Hendri.
Tidak hanya berbalas tebak-tebakan, akhirnya mereka beralih ke pantun.
"Ayok sambung pantun..." pinta Tini.
"Pergi wisata ke kota Solo." ucap Bita.
"Asyikkk" jawab semua.
"Singgah sebentar di kota bantul." lanjut Bita
"Lanjut" jawab semua.
"Sungguh malang nasib si jomblo" lanjut Bita
"Asyikkk" teriak semua dibarengi tertawa
"Setiap malam hanya memeluk dengkul" pungkasnya.
Tidak mau kalah, Ita pun bersuara.
"Putri kemangi rambutnya kemilau" balas Ita
"Lanjut" jawab semua.
"Piara burung yang selalu berkicau" lanjut Ita.
"Lanjut" jawab semua.
"Karena ati terlalu galau" lanjutnya lagi.
"Lanjut" jawab semua."
"Cewek gendut ku sangka kerbau" pungkasnya yang disambut dengan tertawa.
"Kakak sedang memeras santan." sambung Steve
"Lanjut" jawab semua.
"Untuk makan di hari petang". lanjut Steve.
"Lanjut" jawab semua.
"Ngapain lo mikirin mantan" sambungnya lagi
"Lanjut" jawab semua.
"Mending pikirin itu utang" ucapnya mengakhiri pantunnya.
"Move on ..... move on!!" celetuk kobus
"Oke.... untuk hari ini sudah cukup dulu. Disambung lagi esok pagi. Terima kasih atas partisipasi kalian semua." kata Pak Budi
Meskipun mereka kerja sambil bercanda tetapi tidak mengurangi rasa malas mereka untuk bekerja hingga tidak terasa sudah menunjukkan pukul 17.30. Mereka pun berhenti bekerja dan makan malam bersama. Lalu, mereka kembali ke Asrama masing-masing.
Halaman yang mereka cor baru dapat setengahnya. Ketika mereka membantu, tidak lupa dari mereka menuliskan nama dan tanggal di cor tersebut sebagai kenang-kenangan.
Pukul 19.00, mereka harus berkumpul kembali untuk melakukan kegiatan doa bersama.
Seperti biasa, mereka harus mempersiapkan diri masing-masing bagi yang mendapatkan tugas untuk memimpin doa. Petugas juga memberikan kesempatan atau waktu bagi mereka yang ingin berbagi motivasi supaya tercipta keakraban, rasa saling mendukung dan menyampaikan pendapat.
Kata-kata yang diingat oleh semua anggota adalah ketika Pak Budi mengatakan, "mencari teman itu akan sulit meskipun cuma satu. Tetapi untuk mencari musuh bahkan 1000 itu gampang, hanya butuh satu kata. Maka jadilah satu yang sulit dicari itu."
Malam semakin larut dan dingin. Lelah telah terbayarkan. Bulan sudah nampak sempurna dengan keindahannya. Burung-burung hantu sudah mulai mencari mangsa. Teriakan jangkrik tidak kalah saing. Detak bunyi jarum jam mendominasi ruang kamar. Semua anggota sudah dalam posisi masing-masing dengan nafas yang teratur dan berada di alam mimpinya. Sesekali beralih posisi. Terkadang senyuman juga menghiasi wajah tidur mereka.
*Pekerjaan berat akan menjadi ringan jika dikerjakan bersama-sama. Kerjasama akan sukses apabila masing-masing pihak menyadari diri bahwa manusia itu saling membutuhkan sehingga ia melakukan pekerjaan itu dengan tanpa beban*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers, terima kasih banyak sudah membaca novel ini.....
Mohon koreksinya jika ada typo, atau kalimat yang susah dipahami......
Happy reading guys.....
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=