Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 24 - Berakhir


__ADS_3

Apakah keputusan yang Anes ambil?


Anes sudah geram dengan sikap Grace yang menghilang tanpa kabar dan kabar yang mengejutkan kalau Grace sudah dijodohkan oleh keluarganya. Anes mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Grace. Sakit hati, itulah yang dirasakan. Dia tidak mampu bertahan. Butuh penjelasan? Siapa yang mau menjelaskan? Sementara Grace tidak ada kabar.


Anes mengambil kertas dan ballpoint untuk menulis surat.


Shalom


Abang menulis surat ini yang terakhir buat kamu. Terima kasih sudah bersama Abang selama ini. Abang sudah tidak bisa mempertahankan hubungan ini. Silahkan lanjutkan hubungan dengan orang pilihan orang tuamu.


Bukan hanya itu, Abang mendengar kalau kamu juga jalan dengan orang dari daerah X. Kamu selingkuhi Abang.


Sebenarnya Abang ingin mendapatkan penjelasan dari kamu tetapi kamu tidak ada kabar berita. Abang telpon ke asrama untuk mencari kamu, mereka bilang kamu belum datang. Abang tunggu telpon dari kamu juga tidak pernah ada. Abang datang ke asrama tapi kamu juga tidak ada.


Abang kecewa dan sakit hati sama kamu. Kamu telah khianati Abang. Oleh karena itu, hubungan kita sampai disini.


Terima kasih untuk luka ini...


Semoga kamu bahagia dengan pilihan orang tuamu


Anes


Akankah Grace kembali?


Waktu libur telah usai, Grace harus kembali ke asrama untuk melanjutkan sekolahnya dengan perasaan yang tidak karuan. Dia ingin mempertahankan hubungannya tapi dia risih dengan sikap Anes. Grace harus siap menghadapinya.


"Grace, bang Anes telpon kamu beberapa kali cariin kamu. Dia juga sempat datang untuk cari kamu. Kenapa kamu tidak kabari dia? Kenapa tidak hubungi dia?"


Mendengar sejumlah pertanyaan itu membuat telinga Grace menjadi panas.


"Bisa nggak sih, mereka nggak usah ikut campur urusan ku." geram Grace. Sebenarnya pertanyaan temannya juga tidak ada salahnya. Hanya saja, Grace sedang dalam keadaan hatinya tidak baik.


Setelah beberapa hari Grace di asrama, Anes mengirim surat itu ke Grace melalui Bu Tri. Kata demi kata ia cermati dan yang membuat dia terkejut adalah dari mana dia tahu kalau Grace dijodohkan.


"Dari mana dia tahu kalau aku dijodohkan? Waaawwww, cepat sekali berita ini. Yang kasih tau itu, kenapa tidak kasih tau juga kalau aku tidak mau dijodohkan. Kenapa memberitahukan sesuatu yang tidak komplit? Bukankah ini suatu fitnah?" hati Grace sudah semakin panas.


"Loh.... loh... siapa lagi yang kasih tau kalau aku jalan dengan orang daerah X? Mereka tahu apa sih tentang aku? Berita murahan!!!" lanjut Grace


Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?


Grace memutuskan untuk tidak menghiraukan surat Anes yang isinya tentang perjodohan dan perselingkuhan. Grace menerima keputusan Anes untuk mengakhiri hubungan itu tanpa membalas surat itu karena memang itu yang Grace inginkan.


"Baiklah, memang ini yang kuinginkan dan kutunggu. Lebih baik dia yang mengakhiri dari pada aku yang mengakhiri."


Grace juga tidak berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Tidak perlu kujelaskan. Kalau ia cinta, seharusnya dia percaya. Tapi itu salahku. Aku tidak pernah memberi kabar. Aku memang egois. Biarkan dia terus pada pemikirannya."


Grace tidak bersedih bahkan menangis dengan putusnya hubungan dengan Anes. Ia hanya menyesalkan berita itu. Tega sekali orang yang menyebarkan berita bohong itu. Ahhh, mereka terlalu hebat. The power of gosip.


Grace membiarkan semua berlalu. Semua itu akan hilang sendirinya bersama waktu. Hanya menunggu saja maka semua akan beres. Tidak ada dendam. Ada perasaan sedikit lega.


Ketika dalam situasi seperti ini, Onis lah yang sering memperhatikan Grace. Dia yang sering memberikan solusi dan motivasi. Meskipun sebenarnya Grace sendiri jarang cerita masalahnya. Hanya saja, Onis selalu tahu bagaimana keadaan Grace.


"Kamu kenapa Grace?" Grace mencoba menetralkan wajahnya.


"Nggak apa-apa..." ucap Grace dengan memegang kedua pipinya, dahi dan hidungnya.


"Bukan wajahmu Grace, tapi hatimu." sahut Onis menegang yang membuat kedua bola mata Grace berputar.


"Hati?? baik-baik." Grace memegang dadanya.


"Jangan bohong kamu. Ceritakan. Seenggaknya bikin kamu ringan. Nggak nanggung beban sendiri." paksa Onis.


"Hmmmmm.... kamu mau dengar?" tanya Grace


"Dari tadi juga aku tanya, Grace!!" tegas Onis.


"Jadi gini.... Aku tu sebenarnya sudah pengen jaga jarak dengan bang Anes sejak dari pemakaman Jesi." ucap Grace


"Kenapa?" potong Anes.


"Jangan dipotong, biar ku ceritain..." Onis ngangguk-ngangguk. "Aku ngerasa bang Anes itu terlalu posesif. Waktu di rumah pak Budi itu kan juga banyak teman-teman kita yang dari kampung itu datang untuk melayat. Tentu saja, kita kan jarang ketemu dengan mereka. Pas ketemu ya ngobrol tapi sepertinya Anes kurang suka. Pas aku duduk, dia peluk-peluk aku dari belakang. Aku kaget, kenapa dia peluk aku di depan banyak orang. Trus waktu malamnya pas aku tidur, dia juga peluk aku. Aku nggak suka kayak gitu. Risih dan aku nggak suka dipegang-pegang atau peluk-peluk gitu. Akhirnya setelah kami berpisah. Aku kan liburan, aku sama sekali tidak hubungi dia. Dia beberapa kali telpon ke asrama untuk tanyakan apa aku telpon, mereka bilang tidak pernah nelpon. Dia juga sempat datang ke asrama tapi aku belum datang. Nah, pas keadaan kayak gini, dia dengar kalau aku dijodohkan oleh keluargaku. Padahal, aku nolak perjodohan itu. Selain itu, dia juga mendengar kalau aku selingkuh dengan tetangga Pak Budi, salah satu dari teman kita disitu. Padahal itu tidak benar. Aku tidak ada hubungan apapun dengan salah satu dari mereka. Memang, aku pernah dikenalkan dengan seorang satpam di bank dekat terminal, cuma sekali itu saja ketemu. Setelah itu tidak ada komunikasi apapun. Akhirnya Anes minta putus. Ya sudah aku terima saja." jelas Grace panjang lebar.

__ADS_1


"Kamu tidak jelasin ke dia kalau kamu tidak suka dipeluk-peluk gitu?" tanya Anes dan Grace menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hmmmmm..... kamu tidak jelasin kalau kamu menolak perjodohan itu?" Grace kembali menjawab dengan gelengan kepala.


"Kamu tidak jelasin kalau kamu tidak ada hubungan dengan satpam itu?" tanya Onis lagi.


"Tidak. Aku tidak perlu menjelaskan apapun. Biarin aja kami putus. Lagian kenapa dia lebih percaya sama orang lain?"


"Seharusnya kamu jelasin Grace... Kamu berhutang penjelasan pada dia." ucap Onis.


"Biarin aja. Males aku Nis..." pungkas Grace.


"Terserah kamulah. Kamu tahu yang terbaik yang mana. Jangan bilang kalau kamu berniat untuk putus?" Grace menjawab dengan anggukan kepala. Onis sudah nyerah dengan keputusan Grace.


Dalam hal ini memang Grace salah. Seharusnya dia memberi penjelasan kepada Anes sehingga Anes tidak menyimpan benci, dendam dan penasaran. Sebenarnya dia berhak untuk mendapatkan penjelasan dari Grace. Tapi Grace sangat keras kepala dan berpegang teguh pada prinsipnya.


Lambat laun orang-orang sudah mengetahui putusnya hubungan Grace dan Anes. Lambat laun juga berita negatif tentang Grace sudah sirna tak terdengar lagi. Tetapi Anes masih benci dengan Grace. Belum ada maaf dari Anes untuk Grace. Grace juga masih berhutang penjelasan.


Dua Minggu kemudian


Degggggg!!!!


Saat Grace di ruang makan, ia melihat Anes datang berjalan masuk arah ruang makan. Grace hanya terdiam melihatnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tetapi dia juga tidak beranjak dari tempat duduknya.


"Tukang selingkuh." kata Anes saat lewat di depan Grace. Dua kata yang membuat telinga Grace sedikit panas mendengarnya, membuat nafasnya tiba-tiba berhenti dan kedua bola matanya membelalak. Secepat mungkin Grace menetralkan itu semuanya. Ia tidak ingin kata-kata itu merusak suasana dan hatinya. Hanya bisa menerima penghakiman itu. Grace juga tidak bisa menyalahkan Anes karena Gracelah yang menyebabkan dia seperti itu.


Tiba-tiba Anes muncul dari belakang dan melihat apa yang terjadi.


"Kamu nggak apa-apa Grace?" tanya Onis untuk memastikan.


"Nggak apa-apa. Hati dan telingaku sudah kebal." Grace tidak ingin membuat Onis cemas.


"Behhhhhh..... yakin lho..."


"Yakin se-yakin-yakinnya." jawab Grace dan mata Onis melihat tajam ke wajah Grace.


"Ngapain lihat-lihat sampai kayak gitu?" lanjut Grace.


"Cuma memastikan kamu sehat." Onis menaruh punggung tangannya di dahi Grace.


"Kenapa kamu nggak cari pacar Nis?" Onis langsung menoleh ke arah Grace.


"Manalah orang mau denganku yang kucel, hitam, jelek dan bandel ini." ucap Onis yang dibalas Grace dengan menonyor jidat Onis menggunakan telunjuk jarinya.


"Jangan merendahkan diri gitu Nis..." balas Grace.


"Tidak, ini kenyataan. Nggak akan ada orang yang mau denganku." tegas Onis.


"Terserahmu Nis.... sak bahagiamu." sahut Grace dan beranjak meninggalkan Onis.


"Hey.... mau kemana kamu." teriak Onis yang ditinggal Grace.


"Mau ambil nafas Nis.... dekat kamu sumpek." Jawab Grace jujur.


"Bah.... ni orang jujur amat kalau omong nggak pakai disaring." jawab Onis


"Udah pakai saringan tahu Nis, haha..." ejek Grace.


"Kayak tau aja, saringan tahu seperti apa?"


"Seperti kamu, Nis" ceplos Grace


"Bah... ni orang makin menjadi-jadi..."


"Tua-tua keladi Nis..." jawab Grace lagi.


"Kamu yang tua..." sahut Onis.


"Ehhhh .... aku sama kamu itu tuaan kamu Nis..." bela diri sendiri.


"Mosok??"


"Ngeyel ni orang..." geram Grace

__ADS_1


"Katanya mau ambil nafas? Sudah?" tanya Onis.


"Ehhhh lupa.... ternyata dari tadi aku sudah ambil nafas." ledek Grace.


"Kirain tadi kamu sudah mati Grace." balas Onis.


"Ini kalau ngomong sembarangan. Kamu mau kalau aku mati?" tanya Grace.


"Hahahaha..... kalau kamu mati, siapa teman aku?" jawab Onis


"Setan!!!" balas Grace


"Nis, sudah ahhh... aku masuk." ucap Grace yang sudah di depan pintu masuk asrama.


"Ya sudah, jangan nangis."


"Buset dehhhh.... siapa pula yang nangis?" jawab Grace yang langsung menghilang dari pandangan Onis.


Onis memandang kepergian Grace hanya geleng-geleng kepala.


"Ada teman seperti itu ya..." ucap Onis lirih


"Aku masih dengar Nis...." ucap Grace dengan menunjukkan kepalanya.


"Kenapa muncul lagi?"


"Lah, ngapain kamu ngedumel?" tanya Grace balik


"Dah, masuk sana. Tu, bantal sudah menunggunya siap diilerin..."


"Ehhh sorry ya kalau aku ngiler." Grace akhirnya benar-benar masuk ke kamar, tidak lama kemudian Onis juga masuk ke asramanya.


Grace terus berada di kamar dan berusaha agar tidak bertemu dengan Anes.


"Lebih baik, aku di kamar saja. Kalau ketemu bang Anes bisa merusak moodku yang manis ini." gumam Grace yang lagi baring-baring di tempat kesayangannya.


Grace berusaha menghindar dari Anes tapi kalau perut sudah tidak bisa kompromi karena cacing-cacing pada berteriak, mana bisa tahan. Grace tipe orang yang tidak bisa bertahan kalau soal urusan perut.


Sementara Anes juga merasa muak jika melihat Grace. Bawaannya ingin marah terus dan meluapkannya dengan kata-kata sindiran. Oleh karena itu, Grace malas kalau bertemu dengan Anes. Pasti telinganya akan panas mendengar sindiran Anes yang tak terkontrol.


Esok harinya, Anes sudah kembali ke asramanya. Grace merasa lega. Bisa menikmati hari-harinya dengan tenang. Dimana pun berada bisa tenang tanpa bayang-bayangnya yang begitu menyeramkan seperti monster yang kelaparan.


Grace menikmati dengan status barunya sebagai jomblowati. Dia bisa bergaul dengan siapapun. Bisa belajar dengan tenang dan damai. Bisa jalan dengan siapa saja.


Satu hari, satu Minggu dan satu bulan, rasanya hidup dalam alam kebebasan. Tetapi baru saja sebulan hidup tanpa status dengan siapapun, datanglah seseorang yang mulai mendekatinya. Mulai memperhatikannya.


Dia, yang pernah berfoto bersama Grace di puncak dengan menaruh tangannya di bahunya. Yang berjalan berdampingan saat di puncak. Dia yang ternyata sudah pacaran. Tetapi kenapa sekarang mendekati Grace?


Karena weekend, Grace mau pulang ke rumahnya tetapi baru keluar asrama, sosok itu menghentikannya dan mengajak Grace untuk duduk di kursi depan asrama.


"Ini ada surat. Baca ya...." tangan kanan itu memasukkan lipatan kertas ke kantong bajunya Grace. Grace hanya diam dan terkejut.


"Hmmmmm.... saya pulang." pamit Grace tanpa banyak basa-basi.


Grace mengangkat pantatnya dan melangkahkan kakinya menuju gang depan untuk menunggu bus ke arah rumahnya. Harus tiga kali naik bus untuk sampai di rumah Grace. Tetapi tidak menjadi halangan buat Grace untuk menghabiskan waktu weekend bersama keluarga meskipun tergolong bukan keluarga yang harmonis. Setidaknya Grace masih punya keluarga dan rumah untuk tempatnya pulang.


Baru bernafas sebulan setelah putus dengan Anes, kini teman satu geng dengan Anes, mengungkapkan perasaannya. Tapi Grace tidak ingin gegabah dengan mengambil keputusan yang salah. Harus hati-hati supaya tidak kecewa di belakang. Grace juga sudah mengamati gaya pacarannya sebelumnya. Semua gaya pacaran anak-anak memang tidak terlepas dari pengamatan Grace dan semua orang juga tahu, bagaimana cara pacaran mereka.


Apakah dia tipe Grace?


Apakah Grace ingin menerimanya?


*Jelaskan apa yang perlu kamu jelaskan. Diamkan apa yang perlu kamu diamkan. Tetapi jangan pernah berhutang penjelasan yang hingga akhirnya membuat orang itu menjadi marah kepada kamu. Selesaikan masalah dengan dewasa dan bijak agar tidak menimbulkan dosa bagi orang lain.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....

__ADS_1


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....


Jangan lupa like ya...


__ADS_2