Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 29 - Fokus


__ADS_3

Enam bulan kemudian di Semester Akhir


Waktu terus berlalu. Saat ini Grace berada di semester akhir kelas XII. Itu artinya tidak lama lagi akan menghadapi Ujian Nasional.


Supaya Grace bisa fokus belajar, Grace melupakan semua urusannya tentang cinta dan ia mengambil keputusan untuk keluar dari asrama.


Keputusan yang dia ambil ini agar dia benar-benar fokus belajar. Selama ini kalau di asrama, kurang fokus belajar.


"Selamat pagi Bu."


"Pagi Grace." jawab Bu Heni


"Bu, saya minta ijin untuk tidak tinggal di asrama lagi karena mau fokus belajar dulu untuk menghadapi ujian nasional bu." pamit Grace kepada Bu Heni.


"Oke, kalau itu keputusanmu Grace. Saya tidak bisa menahanmu."


"Terima kasih bu."


"Sama-sama Grace." Grace beranjak meninggalkan Bu Heni dari ruangannya.


Dari awal semester Grace sudah jarang untuk tinggal di asrama karena lebih banyak tinggal di rumah kenalannya yang sudah dianggap sebagai tantenya.


Tantenya tinggal sendiri sehingga bisa dijadikan teman dan membantu bersih-bersih rumah. Terkadang Grace juga mengajak Ita agar bisa membantu membersihkan rumahnya.


************************


Untuk sampai di sekolah, Grace harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya sehingga Grace harus bangun sepagi mungkin agar bisa sampai di sekolah tepat waktu. Hanya saja, Grace sering terlambat karena transportasi yang agak sulit. Dan, untuk pulangnya harus cepat agar bisa mengejar angkutan desa yang menuju ke rumahnya. Kalau sampai pulang sekolah sesuai jam belajar maka siap-siaplah untuk berjalan kaki dari pasar dengan waktu 40 menit yang dibutuhkan. Oleh karena itu, Grace sering bolos sekolah demi tidak jalan kaki. Karena angkutan desa itu hanya sampai jam anak-anak pulang sekolah saja. Sementara dari sekolah ke pangkalan angkutan membutuhkan waktu satu jam.


Hari ini Grace berencana untuk ijin pulang agak cepat agar tidak jalan kaki. Tetapi tentu saja tidak diijinkan oleh guru.


"Bu, saya ijin pulang duluan ya?" pamit Grace kepada Bu Upik.


"Tidak boleh. Harus ikut sampai pelajaran selesai." jawab Bu Upik.


"Yah, Bu...." Bu Upik tidak menyahut lagi. Grace pun keluar dari kantor.


"Jalan kaki deh, hari ini..." gumam Grace


Karena tidak diijinkan pulang, Grace hanya duduk-duduk di depan sekolahan dengan sudah mengenakan tas. Tiba-tiba Grace melihat Ayahnya naik salah satu bus yang lewat. Dia pun berteriak dan bus berhenti. Kemudian Grace baik bus itu mengikuti ayahnya.


Grace tidak tahu ayahnya mau kemana, yang penting ikut. Grace dibawa ke suatu rumah milik teman ayahnya yang sedang mengadakan pemilihan kepala desa.


"Ah, tau gitu tadi tidak ikut. Apalagi pulangnya sudah sampai sore begini." gumam Grace. Sementara di rumah, ibunya sudah menunggu Grace dengan gelisah karena sudah sore belum sampai di rumah. Setelah dilihat ibunya Grace pulang dengan ayahnya, barulah lega. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Esoknya Grace berangkat dengan semangat meskipun agak telat namun tetap sekolah. Sebenarnya, terkadang Grace juga sengaja untuk terlambat datang sekolah jika jiwa malasnya merontak.


Sesampainya di sekolah, Grace mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris dan ada tugas yang dikerjakan. Karena sistem kerja Grace cepat, dia masih santai tidak segera mengerjakannya.


buuuuuukkkkkkk.....


Buku mendarat di kepala Grace. Pelan namun mengagetkan.


"Kerjakan Grace!!! Main terus kerja kamu" ucap Guru Bahasa Inggris. Grace hanya mengangkat kepalanya dan tersenyum membalas perlakuan gurunya. Gurunya Grace bukan guru yang killer tapi geram dengan sikap Grace yang santai. Apalagi gurunya masih single dan mereka dekat.


Selain pelajaran yang Grace dapatkan di sekolah, untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional, Grace membiasakan diri untuk mengerjakan soal-soal latihan. Tidak jarang Grace meminta soal sendiri kepada gurunya dan mengerjakan di rumah. Setelah dikerjakannya semua, Grace menyerahkan kepada guru untuk diperiksa.


Setiap hari Grace mengerjakan soal latihan sebelum satu bulan ujian Nasional digelar.


"Bu, boleh minta latihan soal Ulangan Nasional Bahasa Inggris Bu?"


"Bisa minta soal latihan Matematika Bu?"


"Bisa minta soal latihan Bahasa Indonesia Bu?"


Hampir setiap hari sebelum pulang sekolah, kalimat itu yang sering dilontarkan kepada guru-gurunya.


Berbeda dengan teman-temannya. Setiap hari mereka hanya menerima apa yang diberikan oleh guru dan tidak berusaha untuk menambah jam belajar. Kalau ada yang belum dimengerti, mereka akan diam saja.


Bahkan mereka masih santai dengan hal-hal yang tidak penting seperti biasanya. Duduk-duduk bercerita, bernyanyi dan berjalan entah kemana.


Esoknya, Grace akan membawa hasil kerjanya dan diserahkan kepada gurunya. Jika ada yang belum dia mengerti, maka akan diberi tanda dan menanyakan langsung kepada guru-gurunya. Setidaknya dia berusaha untuk mengerjakan terlebih dahulu.


Grace tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk belajar. Jika matahari sudah terbenam, Grace masuk kamar untuk membaca Alkitab dan berdoa, lalu mulai mengerjakan soal.

__ADS_1


Orang tua Grace mendukung apa yang dikerjakan Grace, oleh karena itu orang tua Grace tidak membebankan pekerjaan rumah. Semua keperluan sekolah Grace disiapkan oleh ibunya.


Meskipun ibu Grace tidak mengerti baca tulis namun ia ingin anaknya berhasil kelak sehingga bisa membantu keluarga agar lebih baik.


Bangun pagi ibunya sudah menyiapkan pakaian yang akan Grace kenakan dan sarapan sudah tersedia di meja.


Grace hanya perlu bangun pagi-pagi dan membersihkan diri. Semuanya sudah disiapkan.


Meskipun Grace dari keluarga yang sederhana, tapi ibunya Grace adalah seorang ibu yang tidak mengeluh. Dia akan berusaha sebisa mungkin untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarga.


Saat ini kakak Grace tidak di rumah. Dia merantau ke Kalimantan bekerja sebagai tukang bangunan. Kakak Grace hanya lulusan SMP tetapi setelah lulus ambil kursus elektronik. Tetapi karena sedang sepi dan pendapatan tidak mendukung, akhirnya ambil keputusan untuk ke Kalimantan.


Dengan kakaknya bekerja, Grace bisa membayar uang Ujian Nasional tanpa kesulitan. Kakaknya Grace membantu semua keperluan Grace sehingga Grace hanya fokus belajar.


Ketegangan telah dimulai. Mereka harus bersiap berperang mengahadapi soal-soal ujian. Bagi Grace yang sudah belajar satu bulan sebelumnya, tidak masalah dengan ujiannya. Tetapi bagi teman-temannya, ujian bagaikan berperang melawan sekutu yang tidak memiliki peralatan dan persiapan yang lengkap sedangkan lawannya sudah siap dengan peralatan lengkapnya.


Meja dan kursi sudah ditata rapi dengan jarak aman agar tidak saling menyontek. Ruangan bersih dari poster-poster pelajaran. Semua buku disingkirkan. Tidak ada yang boleh dibawa masuk. Hanya ada pensil, penghapus dan alas saja di meja.


Ujian ketat. Pengawas bermata tajam sudah memasuki ruangan. Gerah, tegang dan kuatir bercampur jadi satu.


4 hari ujian Nasional digelar. Perasaan lega dan was-was menghantui. Ujian Nasional menjadi standar kelulusan. Jika gagal, maka tidak akan lulus.


Hingga akhirnya, kepala sekolah memberikan pengumuman. Semua siswa dikumpulkan di ruang kelas.


"Hahaha.... saya tidak tahu harus berkata apa? Sedih kah? lucu kah? prihatin kah?" ucap Pak Irvan sebagai kepala sekolah yang sudah membuat tegang seluruh murid.


"Hasil Ujian Nasional kalian sudah keluar..." tambah Pak Irvan.


"Hasilnya pak?" tanya salah satu murid.


"Mengecewakan sih iya. Tapi mau bagaimana?" semua tambah tegang seperti duduk di kursi panas. "Hanya satu yang lulus di kelas ini." imbuh pak Irvan.


"Siapa pak?" tanya salah satu murid.


"Grace. Hanya Grace yang lulus di kelas ini." kata Pak Irvan.


"Benar ni pak?" tanya Grace. Pak Irvan hanya menganggukkan kepalanya. "Uh, terima kasih Tuhan." membuang nafas lega. Itu artinya Grace siap untuk melanjutkan kuliah jika kesempatan berpihak kepadanya.


"Selamat Grace." ucap Pak Irvan.


"Selamat Grace." ucap Dona.


"Selamat Grace." ucap Ita.


"Selamat Grace." ucap Lusi


"Selamat Grace." ucap Apong


"Selamat Grace." ucap Rina


"Selamat Grace." ucap Reni


"Selamat Grace." ucap Lusiana


"Selamat Grace." ucap Yanto


"Selamat Grace." ucap Kobus


"Selamat Grace." ucap Rius


"Selamat Grace." ucap Depi


Satu per satu mereka memberikan ucapan selamat kepada Grace sambil berjabat tangan. Mereka harus sportif.


Dari sini mereka bisa belajar bahwa untuk mencapai tujuan yang diinginkan harus bekerja keras. Tidak boleh santai-santai. Harus fokus dan berusaha.


Ketika Grace pulang ke rumah. Grace dengan penuh semangat menceritakan kepada orang tuanya kalau ia telah lulus ujian.


"Bu, bersyukur banget aku Lulus ujian Nasional ini. Hanya aku sendiri yang lulus di kelas kami. Tidak sia-sialah aku memutuskan untuk keluar dari asrama dan fokus belajar."


"Baguslah Grace. Kamu harus bersyukur kepada Tuhan karena telah menolong kamu menyelesaikan ujian dengan baik. Ingat, jangan sombong. Mentang-mentang lulus sendiri, akhirnya sombong." kata Ibunya Grace.


"Hahaha.... tidaklah Bu." sahut Grace.

__ADS_1


"Tapi kamu tidak bisa lanjut kuliah karena tidak ada biaya." balas Ayah Grace. Grace hanya bisa terdiam mendengar kata-kata ayahnya. Yang benar saja mau kuliah, rumah bambunya saja sudah mau roboh. Untuk makan saja susah apalagi kuliah.


Selang beberapa hari, Grace mendapatkan surat dari salah satu Universitas yang sedang merekrut calon perawat. Grace hanya membuka dan membacanya. Selain karena tidak tertarik biaya yang menjadi kendalanya meskipun disitu tertera ada diskon.


Grace masih tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan kuliah di bidang kerohanian seperti cita-citanya sejak kelas 6 SD. Namun, sekarang hanya pasrah saja. Menerima keadaan yang ada.


Setelah pengumuman lulus ujian, Grace masih datang ke sekolah untuk menyelesaikan administrasi dan cap tiga jari. Tetapi sudah jarang sekali mampir ke asrama untuk bertemu dengan teman-temannya.


Grace merasa sudah ada jarak antara mereka. Tidak seakrab dulu meskipun teman sekelasnya dan beberapa orang yang di program D2 masih berhubungan baik.


Sesekali Grace juga masih komunikasi dengan Ekon. Rasa cintanya kepada Ekon belum berubah masih tetap sama. Begitu juga dengan Ekon meskipun sempat terhalang oleh Mini.


Ekon memang mempunyai ide untuk mengenalkan Mini dengan Kris tetangga kostnya dan itu berhasil. Mereka pun memiliki hubungan menjadi sepasang kekasih.


Kris sangat sayang kepada Mini. Dia akan melakukan apapun untuk membuat Mini senang. Bahkan ia rela menghabiskan tabungannya demi membahagiakan Mini.


Dengan kasus seperti ini, Ekon merasa bahwa Kris dimanfaatkan Mini. Tidak jarang Ekon juga menasehati Kris agar tidak menuruti semua kemauan Mini. Harus bijak menggunakan uang. Jangan boros, karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Bisa saja tiba-tiba membutuhkan uang. Tetapi karena demi kebahagiaan dunia dan memanjakan sang kekasih, akhirnya mengalami kesulitan.


Kris hanya bisa diam mendengarkan kata-kata demi kata yang dilontarkan oleh Ekon. Memang benar, harus bijak menggunakan uang. Jangan dibutakan oleh cinta karena cinta yang diberikan Mini belum tentu cinta sejati.


Mulai saat itulah Kris benar-benar menggunakan uangnya dengan bijak. Tidak semua kemauan Mini dituruti.


Kris merasa senang dengan nasehat yang diberikan oleh Ekon meskipun sebenarnya dia takut jika kehilangan Mini. Tetapi Ekon terus mengingatkan agar tidak buang-buang uang dengan sesuatu hal yang tidak penting. Hidup merantau itu butuh uang. Oleh karena itu harus bisa hemat.


Setelah satu Minggu Grace lulus, Grace mendapatkan jawaban atas doa dan keinginannya selama ini untuk menggapai cita-citaku.


Saat Grace sedang santai, Grace kedatangan kedua tamu. Yang satu adalah guru agamanya Grace. Yang satunya lagi adalah mahasiswa yang sedang menjalani masa praktek tiga bulan.


"Selamat pagi Grace." sapa Pak Tri yang turun dari motornya.


"Selamat pagi juga pak. Silahkan masuk pak. Maaf, rumahnya seperti ini." balas sapa Pak Tri dan mempersilahkan untuk masuk ke rumah yang hanya memiliki satu buah meja dan 4 kursi yang terbuat dari kayu. Lantai masih beralaskan tanah. Tetapi ruangan bersih karena Ibunya Grace selalu mengajarkan, meskipun rumah jelek tapi harus bersih.


Mereka pun duduk di kursi kayu tersebut.


"Kami kesini untuk menawarkan kuliah di jurusan yang selama ini kamu inginkan Grace." Kata Pak Tri. Grace masih bungkam karena terkendala dengan biaya.


"Masalah biaya jangan dipikirkan. Yang penting kamu mau dulu. Masalah biaya gampang. Tuhan pasti sediakan." lanjut mahasiswa praktek tersebut. "Jangan kuatir. Untuk ongkos nanti dibantu." imbuhnya.


"Kapan berangkatnya kak?" tanya Grace.


"Satu Minggu lagi." jawabnya.


"Baiklah, akan saya bicarakan dengan orang tua dulu. Saya pengen kuliah tapi keluarga kami seperti ini. Tidak punya uang untuk membiayai." balas Grace dengan harapan orang tua mengijinkan.


"Oke, nanti kamu kabari ya? Kalau tidak, kami akan datang kembali untuk memastikan. Kamu harus pikirkan Grace, ini adalah kesempatan terbaik buat kamu. Jangan sia-siakan." ucap Pak Tri yang memberikan semangat.


"Baik pak. Nanti akan saya kabari."


"Baiklah, kami pamit dulu. Sampaikan ke orang tua, masalah biaya jangan dipikirkan." pamit keduanya.


Mereka pun beranjak dari rumah Grace dengan harapan Grace mau menerima tawaran tersebut.


*Untuk mencapai hasil yang maksimal, kamu hanya perlu fokus dan terus belajar. Terkadang untuk mencapainya harus menghadapi kesulitan dan tantangan. Tapi kalau tetap fokus, yakinlah bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....


Jangan lupa like ya...


Support ya...


Sekali lagi Terima kasih banyak untuk partisipasinya....


Note: Tinggal beberapa episode lagi ya....

__ADS_1


__ADS_2