Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 25 - Kerahkan Massa


__ADS_3

Setelah dua kali menjalani hubungan dan berakhir dengan kandas, Grace mulai berhati-hati untuk tidak asal menjalin hubungan. Meskipun sebelumnya juga berhati-hati menentukan hubungan tapi kali ini dia mau lebih hati-hati dan tidak sembarangan memutuskan.


Indra telah mengirim surat kepada Grace dan Grace pun sudah membacanya. Namun Grace belum bisa menerimanya. Selain karena hati Grace tidak bisa menerima, itu juga karena nasehat dari Onis.


"Grace, jangan sampai ini jadi pelampiasan lho..... kamu baru putus sebulan yang lalu dan dia juga baru putus dengan pacarnya." kata Onis menyikapi hal ini.


"Iya sih, aku juga ngerasa gitu. Lagian aku juga tidak punya perasaan apapun sama dia. Makanya aku belum jawab. Aku nggak mau, nantinya terulang lagi. Aku mau lihat dulu dia seperti apa meskipun aku sedikit sudah tahu tentang dia." balas Grace


"Tumben otakmu encer Nis..." canda Grace


"Kamu pikir selama ini otakku beku?" tanya Onis.


"Kalau otakmu tidak beku, nggak mungkin kamu pindah beberapa kali dan dibuang di asrama ini Nis..."


"Itu karena kehebatanku." sahut Onis.


"Iya, hebat bikin dosa."


"Kok dosa?"


"La iya, emangnya kalau suka bolos sekolah itu nggak dosa?" mata Onis langsung terbelalak. "Trus uang sekolah diembat nggak dosa? Trus nggak patuh peraturan sekolah dan orang tua itu nggak dosa?" lanjut Grace.


"Cocok jadi Pendeta Grace."


"Cita-citaku Nis..." Onis langsung mengalihkan pandangannya pada Grace.


"Yakin lho....?" tanya Onis ragu.


"Bukan Pendeta Nis, setidaknya hidupku berguna untuk semua orang." pungkas Grace.


"Bagus Grace, tingkatkan!!!"


"Kamu juga harus menjadi lebih baik Nis." nasehat Grace pada Onis yang sering kesal melihat Onis seenaknya sendiri.


Terkadang Onis bisa menjadi lebih dewasa ketika menasehati Grace. Tetapi kadang menjadi kekanak-kanakan ketika bercanda.


Meskipun Onis, secara berpenampilan kelihatan lusuh tapi hatinya baik dan pengertian. Itulah mengapa Grace selalu nyaman saat berbicara dengannya dan meluapkan emosinya. Grace bersyukur bisa dekat dengan Onis. Sebenarnya Onis juga bukan anak yang suka bergaul dengan siapa pun. Itu karena sifat mindernya.


Hari demi hari, Indra selalu berusaha untuk bisa mendekati Grace tetapi Grace selalu punya alasan untuk menolak.


Sementara Indra sudah dengan sabar menunggu jawaban yang pasti dari Grace tapi Grace tidak kunjung menerimanya. Hingga dia kerahkan anggota geng yang lain untuk membantu bicara dengan Grace. Butuh perjuangan yang berat untuk mendapatkan Grace yang saat ini hatinya sudah tertutup rapat-rapat. Bukan Grace tidak melihat perjuangan Indra, Grace melihatnya namun hatinya susah terbuka.


Grace belajar dari pengalaman sebelumnya. Grace juga melihat bagaimana perlakuan Indra kepada mantannya. Grace juga melihat bagaimana sikapnya. Grace pantau itu semua. Grace tidak mau bernasib yang sama seperti mantannya Indra yang dimanfaatkan untuk mencuci baju. Pacar itu bukan istri apalagi pembantu. Jadi menurut Grace, tidak seharusnya seorang pacar mencuci bajunya. Bukan Grace pemalas tapi itu tindakan yang tidak semestinya.


"Grace, aku masih menunggu jawabanmu." itulah kata-kata Indra yang selalu dia ucapkan kepada Grace.


"Sabar. Maaf." adalah kata kunci Grace.


Teman-teman Indra tidak habis akal. Mereka mengambil alat rekam dan meminta Indra untuk bicara. Kemudian Indra bicara banyak hal untuk meluapkan isi hatinya kepada Grace, perasaannya kepada Grace dan usahanya untuk mendapatkan Grace. Setelah rekaman itu selesai, temannya Indra ingin memberikannya kepada Grace supaya didengar. Namun Indra mengejarnya untuk menghentikan rekaman itu diputar. Alhasil, Grace tidak jadi mendengar rekaman tersebut.


Teman Indra sangat antusias dan berusaha agar mereka berdua bisa jadian. Bukan hanya teman. Indra dibantu oleh Ibu asrama. Usaha yang tidak main-main.


Grace dipanggil oleh Ibu asrama dan diajak bicara baik-baik.


"Grace, kenapa kamu tidak mau menerima Indra." tanya Bu Heni menunggu jawaban dari Grace sedangkan Grace hanya mencerna pertanyaan itu.


"Grace..." panggil Bu Heni untuk membuyarkan lamunan Grace.


"Ya Bu... maaf Bu... saya tidak bisa menerima dia. Saya tidak suka dia." jawab Grace.


"Kenapa? hati-hati lho.... nanti justru dia yang menjadi pasangan hidupmu." canda Bu Heni.


"Nggak lah Bu.... saya kurang sreg saja. Lebih tepatnya tidak ada hati dengan dia." jelasnya.


"Kenapa tidak coba terima dia?"


"Nggak Bu. Dari pada nantinya bikin sakit hati." jawab Grace yang masih kekeh dengan keputusannya.


Hampir setiap hari Grace mendengarkan teman-teman Indra berusaha agar Grace menerima Indra.


"Ayolah, terima dia."


"Kami sudah bom dalam doa."


"Jangan siksa batinnya."


"Apa yang membuatmu tidak mau terima dia."


"Sudah putus asa lho dia."


"Ayo Grace, jangan siksa anak orang."

__ADS_1


"Dia cinta mati sama kamu lhooo.... jangan sia-siakan."


"Cintanya tulus lho..."


"Lihatlah, dia nggak tinggi-tinggi karena tertekan hatinya."


"Ayo Grace!!!"


"Terima dia Grace..."


Tiap hari bertubi-tubi serangan dari teman-temannya kepada Grace tidak berhenti-henti. Membuat Grace geram dan gerah. Seandainya bisa, ingin menutup telinganya terus. Tak henti-hentinya juga Indra terus menanyakan jawabannya. Meskipun sudah dikasih aba-aba penolakan, tetap saja maju pantang mundur. Teman-temannya dan ibu asrama terus dikerahkan.


"Ayo Bu, bantu aku supaya bisa dapatkan Grace." permohonan Indra kepada Bu Heni.


"Sudah Ndra, tapi dia nggak bisa." jawab Bu Heni.


"Ayo dong, kalian bantu aku gimana caranya hati Grace bisa luluh." teman-temannya langsung menyahut dengan lagunya Padi,


*Aku tak bisa luluhkan hatimu


Dan aku tak bisa menyentuh cintamu


Seiring jejak kakiku bergetar


Aku tlah terpaku oleh cintamu


Menelusup hariku dengan harapan


Namun kau masih terdiam membisu


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Setulusnya aku akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku


Semoga kau tau isi hatiku


Dan seiring waktu yang terus berputar


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Setulusnya aku akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Setulusnya aku akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Setulusnya aku akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Aku tak bisa luluhkan hatimu


Dan aku tak bisa menyentuh cintamu*


"Kok, kalian malah menyanyi sih?"


"Harus bagaimana lagi. Kita sudah buat rekaman, malah kamu hadang. Kita sudah bantu lho... kan kita tidak bisa paksa hati orang." jawab temannya.


"Nggak tau tu hati Grace terbuat dari apa..." celetuk Indra yang sudah frustasi.


"Sabar Ndra ,kita hanya bisa bom dalam doa, pasti hatinya meledak berkeping-keping."


"Ya, jangan diledakkan juga... Kalau hatinya hancur bagaimana? tidak jadi dong?" balas Indra.

__ADS_1


Meskipun hari demi hari makin heboh saja, namun Grace tetap pada pendiriannya dan jawabannya untuk tidak menerima Indra. Namun tiba-tiba Grace merasakan tubuhnya panas dan demam. Inilah kesempatan Indra untuk mengambil hati Grace dengan memperhatikannya.


"Sudah minum obat?" tanya Indra yang berkunjung ke kamar atas ijin Ibu Asrama.


"Belum. Saya tidak bisa minum obat." jawab Grace.


"Bagaimana mau sembuh jika tidak minum obat? Aku belikan makan, habis itu minum obat ya..." Grace hanya mengangguk saja.


Diam-diam Grace melihat perhatian Indra mulai luluh. "Okelah, nggak ada salahnya aku terima dia." ucap Grace dalam hati. Bagi Grace jawaban itu tidak perlu diungkapkan, tapi ditunjukkan dengan sikap. Grace menerima semua perlakuan Indra dan Grace menerima cinta Indra tanpa mengucapkannya.


Sudah dua hari panas Grace tidak kunjung reda. Mual, pusing dan meriang. Akhirnya pihak Yayasan menghubungi keluarga Grace untuk memberitahukan kalau Grace sudah sakit selama dua hari dan panasnya tidak turun-turun.


Tanpa berpikir panjang, Ayah Grace meminjam mobil tetangga tepatnya mobil angkutan umum untuk menjemput Grace. Dalam perjalanan, Ayahnya Grace sempat berhenti untuk membawa penumpang. Namun kakaknya Grace menentang keras.


"Sudah tahu anak disana sakit, masih mikir cari penumpang. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" tegas Hari, kakaknya Grace dengan nada tinggi dan cemas.


Kemudian Ayahnya Grace langsung melajukan mobilnya dengan agak cepat agar lebih cepat sampai di asrama. Sesampainya di asrama begitu panik melihat Grace yang terbaring dan Ibunya Grace langsung mempersiapkan barang bawaan Grace lalu menopang Grace ke mobil.


Sesampainya di dalam mobil, Grace hanya bisa tertidur lemas kepala di pangkuan kakaknya dan kaki menjulur di tempat duduknya.


Mobil terus berjalan menempuh perjalanan 40 menit lamanya hingga akhirnya sampai di klinik langganan keluarga Grace jika sakit.


Termometer dipasang di ketiak Grace dengan diapit untuk mengetahui suhu tubuh Grace. Stetoskop di dada Grace untuk mengetahui apa yang terjadi. Kemudian sang mantri memastikan bahwa Grace terkena tipes, sakit bawaan sejak kecil.


Selama beberapa hari Grace mengikuti saran mantri kesehatan untuk meminum obat dan makan bubur secara teratur. Sebenarnya Grace adalah tipe orang yang susah minum obat karena tenggorokannya susah menelannya. Mencoba minum obat menggunakan pisang, pisangnya yang tertelan. Menggunakan air, air yang masuk. Menggunakan roti juga tidak bisa. Untuk mempermudahnya, kakaknya Grace akan menghaluskan pilnya. Sedangkan untuk kapsulnya, Grace membukanya dan ditabur di atas bubur.


Karena Grace mau teratur minum obat dan makan bubur secara teratur, Grace mengalami pemulihan dengan cepat. Hanya membutuhkan waktu seminggu, Grace sudah sehat kembali.


Sementara di asrama, Indra mengalami kecemasan karena memikirkan Grace yang tidak ada kabar berita. Dia juga tidak tahu bagaimana cara menghubungi Grace untuk mengetahui kabarnya. Cemas dan gelisah semakin meningkat karena sudah seminggu tidak ada kabar. Namun Indra hanya bersabar menunggu dan menunggu kesembuhan terlebih-lebih kedatangan Grace kembali. Ada rindu juga yang terpendam di lubuk hatinya.


"Gimana kabarmu Grace? Apakah kamu baik-baik saja? Kapan kamu datang Grace? Aku merindukan kamu." tanyanya pada diri sendiri.


"doooooorrrrrrr..... kenapa kamu ngalamun Ndra? pasti mikirin Grace ya?" ucap Iwan teman Indra.


"Ehhhh.... iya, kenapa dia nggak datang-datang ya? Sakit apa dia ya? Kok belum sembuh-sembuh? bingung juga cara hubungin dia bagaimana.... nggak tau kabarnya. Cemas aku Wan..." balas Indra.


"Sabar Ndra." Indra hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan nasehat Iwan.


Setelah 10 hari Grace mendapatkan perawatan di rumah secara intens, Grace sudah pulih sempurna. Grace memutuskan untuk kembali ke asrama. Grace sudah merindukan suasana asrama. Bercanda, tertawa, dan bersekutu bersama menjadi warna baru dalam dunia Grace.


Sekalipun mereka tergolong anak yang masih remaja dan masih mencari jati diri, namun mereka bukanlah anak-anak yang suka berselisih atau suka bertengkar dengan sesama. Mereka bisa hidup berdampingan dan bisa mengerti satu dengan yang lainnya.


Grace sampai di asrama sudah dalam keadaan sehat bugar sehingga tidak akan menghambatnya dalam belajar dan beraktivitas di asrama.


Setelah dua hari Grace berada di asrama, Indra kembali mendekati Grace dan mengajaknya bicara.


"Grace bisa kita bicara?" Indra mengajak Grace untuk berbicara di ruang kelasnya dan Grace mengikutinya dari belakang. Mereka duduk berdua di kelas itu.


"Jadi Grace, gimana jawabanmu?" degggggg.... padahal Grace sudah menganggap pacaran, ini malah ditanyai lagi. Berarti selama ini Indra tidak peka atas balasan sikapnya terhadap Grace. Grace bingung menjawabnya karena Grace paling malas dan enggan untuk mengungkapkan sebuah perasaan. Sebenarnya selama ini Grace menganggapnya sudah sebagai pacar karena tindakan dan sikap Indra yang tanggap dan peduli saat Grace sakit.


Grace berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Indra itu. Akhirnya Grace menemukan jawabannya dan berharap Grace tidak menyakiti Indra.


"Maaf bang, saya tidak bisa." deggg deggg membuat jantung Indra berdetak kencang dan sesak seketika. Namun dia mencoba untuk bertahan dan sabar atas perkataan Grace. Sebisa mungkin menahan emosinya.


"Maaf bang..." ucap Grace lirih.


"Ya nggak apa-apa. Apapun keputusan kamu, Abang akan terima." ucap Indra yang agak lesu.


"Tapi kita masih bisa berteman bang. Tolong jangan berubah. Tetaplah dekat dengan Grace seperti ini." Grace agak egois mengenai ini. Dia menolak namun dia juga tidak ingin Indra jauh menjadi berbeda dari sebelumnya.


"Baiklah, akan kuusahakan tetap seperti ini." jawab Indra sedikit tersenyum dan Grace pun juga tersenyum.


"Terima kasih bang. Jangan marah." pinta Grace terakhir.


"Sama-sama. Abang tidak marah kok." jawab Indra. "Ayo, keluar..." ajak Indra.


Mereka keluar dari ruangan itu dengan perasaannya masing-masing. Indra sedikit kecewa atas penolakan Grace dan dia siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya. Sedangkan Grace juga masih bingung dengan keputusannya. Bagaimana mungkin seminggu yang lalu dia memutuskan untuk siap menjalani hubungan dengan Indra namun tiba-tiba setelah Indra menanyakannya, ia menolaknya. Grace juga merasa aneh dengan keputusannya. Ia menolaknya tapi tidak mau jauh darinya. Ia menolaknya namun ingin dekat dengannya. Bukankah itu sikap yang egois? jawaban tepatnya, IYA.


*Katakan apa yang kamu rasakan, karena tidak semua orang bisa mengerti dengan bahasa butuh. Sebagian orang butuh pengakuan dan ucapanmu.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2