
Pagi pun tiba. Semua orang sudah membuka matanya dan berduyun-duyun memasuki ruang ibadah.
Selesai ibadah, Grace tidak lupa memberikan surat balasannya kepada Peter.
"Bang, ini." sambil menyodorkan lipatan kertas.
"Terima kasih." ucap Peter
"Sama-sama." balas Grace.
Grace langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Peter menuju ke kamarnya untuk menaruh Alkitab sebelum kerja praktis.
Pekerjaannya beres. Tinggal membersihkan diri dan makan. Lalu masuk kelas.
"Selamat pagi. Hari ini ulangan Biologi." Sapa Bu upik dan umumnya.
"Belum belajar Bu." kata salah satu murid penghuni kelas dua itu.
"Belajar itu setiap hari. Bukan saat mau ulangan saja." tegas Bu Upik. "Keluarkan kertas kalian. Satu lembar saja." lanjutnya. "Lagian ulangan itu berguna untuk mengetes kalian, sejuah mana kalian mengerti pelajaran ini." pungkasnya sambil membuka soalnya yang akan diberikan.
"Belum mengerti Bu." sahut mereka.
"Jangan buat alasan supaya tidak ulangan. Kalau belum mengerti, seharusnya bilang saat ibu menjelaskan." jawab Bu Upik. "Bukankah waktu menjelaskan ibu sudah tanya apa kalian sudah mengerti? Dan kalian menjawab Ibu 'sudah'!" tegasnya.
Tanpa protes lagi mereka mengeluarkan kertas untuk Ulangan. Entah mereka bisa menjawab atau tidak tetapi mereka harus mengikuti ulangan itu. Berbeda dengan Grace yang selalu belajar meskipun banyak mainnya , setidaknya Grace meluangkan waktu sebentar untuk membuka buku dan membacanya selain mengerjakan PR.
Dengan tenang mereka mengerjakan soal-soal ujian itu karena Bu Upik tidak akan memberikan kesempatan untuk mereka ribut bertanya jawaban kepada teman-temannya apalagi menyontek.
Seselesainya mereka mengerjakan ulangan, seperti biasa mereka membahasnya sambil mengulang kembali bagi mereka yang belum mengerti sehingga ketika ujian nanti mereka bisa mengerjakan. Tidak diragukan lagi. Setelah mereka mendapatkan hasil ulangan, Grace mendapatkan nilai yang memuaskan.
Sore pun tiba. Peter menemui Grace dan mengajak Grace untuk keluar.
"Grace, kita jalan yuk." ajak Peter.
"Bentar. Mandi dulu." jawab Grace. Grace bergegas mandi dan kembali menemui Peter yang sudah menunggunya 15 menit yang lalu.
"Ajak siapa?" tanya Grace
"Rina." jawabnya balik.
Sekalipun tujuan Peter ingin menikmati moment bersama Grace, dia akan selalu mengajak teman. Setidaknya sebagai obat nyamuk dari pada setan yang menemani kan??? meskipun setan juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengintip mereka dan menggoda mereka agar jatuh ke dalam dosa.
Mereka pun meninggalkan tempat makan dimana Peter menunggu Grace dan Rina. Mereka menyusuri jalanan-jalanan kota. Jalan kaki adalah kencan yang paling murah dan menikmati keindahan lampu-lampu di pinggir jalan tidak memerlukan biaya.
Tidak seperti biasanya Grace bersikap dingin kepada Peter, kali ini ia agak hangat karena tidak lama lagi Peter akan meninggalkannya.
"Grace, bisa janji nggak bahwa kamu akan setia sama Abang?" tanya Peter yang berharap Grace tidak akan berpaling.
"Maaf bang, aku tidak bisa janji. Takutnya tidak bisa menepati. Akhirnya Abang nanti kecewa." jawab Grace.
"Kenapa kamu nggak yakin dengan dirimu sendiri? Apakah sudah ada orang yang akan menggantikan posisi Abang di hatimu?" tanya Peter lagi.
"Grace akan berusaha bang tapi Grace tidak bisa janji. Untuk saat ini Grace belum ada pengganti Abang." jawab Grace.
"Kamu tahu? Semalam waktu Abang bereskan tempat tidur, tiba-tiba Nimrod datang bantu. Ternyata ada maunya." kata Peter.
"Apa bang?" tanya Grace.
__ADS_1
"Dia bilang, "bang kalau Abang pergi nanti, bolehkah aku jadi pengganti Abang untuk menjadi pacara Grace?" ternyata mau bantu itu ada maunya." jawab Peter.
"Trus Abang jawab apa?" tanya Grace penasaran.
"Enak aja. Ga boleh!" jawab Peter.
"Gentle dia ya.... " jawab Grace dengan tertawa.
Semalam Nimrod memang membantu Peter untuk membereskan tempat tidur dengan tujuan ingin mengambil hati Peter agar menyerahkan Grace ke tangan dia. Dia berpikir Peter akan begitu saja menyerahkan Grace, apalagi Grace dan Nimrod sudah cukup dekat. Nimrodlah tempat Grace mencari hiburan, tempat dikala Grace sedang kalut. Meskipun tidak harus menceritakan masalahnya, cukup bersama dia, bercanda dan tertawa, sudah membantu Grace untuk melupakan masalahnya sejenak. Lambat laun timbul perasaan'sayang' di hati Nimrod.
Memang bukan perkara yang mudah bagi Peter untuk menghadapi teman-teman sekamarnya yang sering membahas tentang Grace. Apalagi di kamar ada Yusak, Aci dan Nimrod. Peter harus bersaing dengan mereka meskipun saat ini Peter yang menang tapi tetap waspada dengan mereka yang sebenarnya bukan level saingannya. Dari segi ketampanan, Peter lebih tampan dari mereka. Dari segi pemikiran, Peter lebih dewasa. Dari segi pengetahuan, Peter lebih pintar. Dan dari segi kerohanian, Peter tidak terkalahkan. Peter akan berada dibarisan paling depan jika menyangkut ibadah. Sementara Grace berada di barisan paling belakang.
Tetapi meskipun Peter punya kelebihan dibandingkan dengan yang lainnya, Peter masih tidak percaya diri jika soal asmara dengan Grace. Bagi Grace, bukan soal apa yang ada pada dirimu yang membuat Grace jatuh cinta. Tetapi soal hati dan bagaimana memberikan kebebasan bagi Grace.
Mereka bertiga terus berjalan. Rina berjalan di depan sementara Grace dan Peter mengekori di belakang Rina supaya lebih leluasa bercerita.
Tidak terasa mereka sudah sampai di Asrama. Hati Peter merasa senang sekali ketika bisa jalan-jalan dengan Grace. Ketika memasuki asrama, mereka mendengar lagu-lagu rohani dilantunkan dengan bersemangat.
"Apa yang terjadi?" batin Grace. Setelah melihatnya, betapa terkejutnya ia. "Ada yang orang kerasukan?"
Asrama mereka memang terkenal angker. Ada tempat-tempat yang menjadi tempat tinggal setan. Di kamar mandi laki-laki dan perempuan, kelas, ruang tingkat dua dekat ruang ibadah, pohon mangga dan pohon Kamboja.
Apong pernah mengambil bunga satu biji dari pohon Kamboja itu. Penghuninya tidak terima karena baginya itu hartanya. Kemudian Apong kerasukan dan meminta supaya bunga itu dikembalikan.
Tentu saja semua pembina dan anggota asrama tidak mau menuruti perintah setan itu. Merekapun mengambil bensin dan korek api. Kemudian menyiramkan bensin itu ke pohon dan menyulutkan api hingga pohon Kamboja itu terbakar hingga habis tak tersisa.
Apong tidak kunjung lepas juga dari setan itu. Sampai Ketua Yayasan menamparnya karena geram dengan setan itu. Tetapi tetap saja tidak mau keluar. Hingga akhirnya Apong dibawa ke Gereja terdekat. Tapi tak kunjung lepas. Semua sudah merasa capek tetapi harus tetap terjaga. Ketika Grace megambil kesempatan untuk tidur, tiba-tiba Apong yang dikendalikan oleh setan itu bangkit dari tempatnya berbaring, berjalan ke arah tempat duduk di bagian belakang dan kemudian mendekati Grace hampir dicekik oleh Apong. Beruntung ada yang lihat dan menghentikannya dengan cepat. Lagu rohani dan doa terus dipanjatkan dengan penuh semangat dan keseriusan. Akhirnya terlepas juga dari setan sehingga semuanya bisa melakukan aktivitasnya kembali. Proses tidak akan mengkhianati hasil.
Tetapi meskipun urusan Apong telah selesai bukan berarti bahwa setan tinggal diam. Setan bertambah ngamuk karena tempat mereka dibakar. Pohon mangga pun juga ditebang habis. Semua penghuni di asrama itu bangkit semua membabi buta menyerang anngota asrama. Memang dalam keyakinan Nasrani, mereka tidak akan membiarkan setan bersarang di tempat mereka. Mereka akan melawan keinginan setan. Setan tidak layak tinggal di tempat yang ditinggali manusia.
Bukan main-main, dua puluh tiga orang kerasukan baik laki-laki maupun perempuan. Setan benar-benar ngamuk. Di kamar Grace yang berjumlah sepuluh, tujuh orang yang terkena. Satu orang dilepaskan, yang lainnya kena. Setan benar-benar mempermainkan mereka. Bagaimana penyakit virus yang menyebar begitu cepat. Satu yang terlepas, yang lain juga kena.
"Kumpulkan semua yang kerasukan kesini." perintah pembina. "Yang sudah lepas bawa keluar supaya tidak kena lagi." titahnya lagi. Mereka yang menangani hanya manggut-manggut tanda setuju atas perintah itu.
Hari yang benar-benar sibuk dan melelahkan. Mereka harus terus waspada untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Harus siaga. Jika yang sudah terlepas dari setan-setan itu mereka membawa keluar ruangan. Begitu juga yang di luar, mereka akan membawa masuk yang kerasukan.
Membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan dan melawan setan-setan itu. Mereka menjalin kerjasama dengan baik.
Oleh karena, ketekunan dan keseriusan mereka menangani masalah ini, setan-setan pun keok dan dilumpuhkan. Akhirnya mereka bisa istirahat dengan tenang karena kejadian itu terjadi hingga esok harinya. Dan setelah kejadian itu, tidak pernah lagi ada kejadian yang sama.
Besoknya Peter dan teman-temannya akan pindah ke asrama khusus yang belajar tentang otomotif. Sebenarnya Peter ingin mengajak Grace keluar untuk perpisahan. Jangan sebut Grace jika dia langsung mau pergi dan membuat alasan untuk menolak. Yah, itulah Grace. Memiliki seribu cara dan alasan untuk menolak. Tega? ya!! Sebenarnya itu cara Grace menunjukkan ketidaksukaannya dengan menolak secara halus.
Peter mencari Grace di kamarnya namun tidak ditemuinya. Ternyata Grace berada di kamar Apong. Ketika Grace menyadari Peter datang mencarinya, ia pura-pura tidur. Peter mencoba membangunkannya tapi alhasil....
"Grace, kita keluar yuk..." ajak Peter dalam posisi jongkok untuk menyamakan tingginya dengan tempat tidur itu. Namun Grace tidak menunjukkan tanda-tanda beranjak. Gerak pun tidak.
"Besok Abang mau pergi lho..." ajaknya lagi dengan memelas. Namun dia tetap tidak mendapatkan jawaban apapun dari Grace.
"Mungkin dia capek bang. Kan habis bantu kejadian tadi. Biarin lah dia istirahat. Abang harus mengerti dia juga." bela Apong yang membuat Peter akhirnya meninggalkan Grace dengan rasa kecewa. Bahkan ketika menjelang tidur pun, sepasang mata itu tidak merasakan kantuk karena hatinya benar-benar sakit bagaikan teriris pisau.
"Kenapa Grace tidak mau jalan? besok kan aku pergi. Apakah Grace benar-benar cinta sama aku? Apakah dia belum bisa memberikan hatinya untukku? Apakah sudah ada yang lain? Apakah Grace bisa setia dan menjaga hubungan ini? Apakah dengan cara meninggalkan dia demi masa depan adalah salah?" bertubi-tubi pertanyaan dilontarkannya dalam hati tanpa ada yang menjawabnya.
Keesokan harinya Peter sudah packing semua barang-barangnya dan siap untuk meninggalkan asrama dan Grace. Dia berharap saat keluar dari kamar bisa bertemu dengan Grace. Namun apa daya, Grace tidak menampakkan batang hidungnya.
"Apakah dia tidak tahu kalau aku mau pergi? Seharusnya dia tahu. Tapi mengapa dia tidak keluar? Mengapa dia tidak menemuiku? Mengapa dia tidak mengantarku?" pertanyaan demi pertanyaan demi terus terlontar dalam hatinya tanpa seorang pun yang menjawabnya.
Bukannya Grace tidak tahu kalau hari ini kepergian Peter. Dia tahu tapi enggan untuk menemuinya. Kepergian Peter tidak membuatnya sedih justru senang karena akan mendapatkan kebebasan. Apalagi Peter akan jarang sekali datang.
__ADS_1
Akhirnya Peter pergi dengan berat hati, kecewa dan sakit hati. Dia mengangkat barang bawaannya dan berjalan sambil menoleh ke belakang kali aja Grace keluar, pikirnya. Hingga memasuki mobil, Grace tetap saja tidak muncul-muncul. "Ah, ya sudahlah. Mungkin dia sibuk." pikirnya dengan positif
Ban mobil itu terus berputar membawa kerangka besi mobil dan orang yang di dalamnya sampai ke tempat tujuan tanpa halangan apapun.
Sementara itu dengan Grace, matanya berbinar-binar, hatinya memancarkan kelegaan dan kini bebas dari kekangan Peter.
"Grace, bang Peter sudah pergi kan?" tanya Rina.
"Iya." jawab singkat Grace.
"Kamu tadi tidak temui dan antar dia?" tanyanya lagi.
"Tidak." jawabnya acuh.
"Kenapa?" tanya Rina lagi sedikit geram
"Tidak apa-apa." balas Grace santai.
"Dia itu nungguin kamu lho. Berharap kamu keluar dan antar dia! kok kamu gitu. Jangan-jangan kamu mau dengan bang Peter karna dia putih dan tampan." kesal Rina.
"Tidak Rin." jawab Grace yang langsung ditinggalkan Rina.
Sore hari Grace dan Yustina ke sungai X lagi. Sudah dipastikan kalau kesana pasti Alex dan Wanto akan menemui mereka. Tetapi kali ini mereka tidak duduk di tempat biasanya. Mereka mencari tempat lain agar tidak dilihat oleh Alex dan Grace. Yang benar saja, Wanto ternyata melihat Grace, mendatangi Grace dengan membawa tentengan. Wanto sampai di tempat Grace duduk dan menyerahkan tentengan itu. Setelah dilihat, ternyata beberapa buah mangga hasil dari kebunnya.
"Aku sudah lama tunggu kamu tidak datang-datang." ucap Wanto
"Iya, kami sibuk. Terima kasih sudah membawa mangga untuk kami." jawab Grace
"Sama-sama." balas Wanto.
"Alex mana?" tanya Grace.
"Nggak tau. Aku juga belum lihat." jawab Grace.
"Ya sudah, kami pulang." Grace undur diri untuk menghindari Wanto.
"oke. hati-hati." balas Wanto.
"Terima kasih. Ayo Yus." ajak Grace.
Merekapun dari pulang tempat tetapi mereka berhenti di sebuah bendungan sebentar.
*Jangan memberikan harapan palsu kepada pasanganmu. Jika tidak suka, katakan dengan jujur. Jangan mencuri kebahagiaannya. Lepaskan dia agar mendapatkan kebahagiaan dari tempat lain yang bisa membuatnya bahagia. Jangan jadi orang yang egois.*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers...
Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....
Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....
Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....
Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....
Semoga hari kalian menyenangkan...
__ADS_1
Mari saling mendukung dalam berkarya....