Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 15 - Tanpanya


__ADS_3

Setelah kepergian Peter yang pindah asrama dan program, Grace benar-benar senang menikmati hari-harinya. Tapi bukan berarti dia tidak mempertahankan hubungannya dengan Peter. Meskipun Grace tidak cinta sama Peter, Grace tetap berusaha menjaga hatinya untuk tidak memberikan kesempatan kepada orang lain.


Dia bebas tapi bukan berarti bertindak negatif dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dia bisa melakukan apapun selama Peter tidak ada karena tidak ada yang mengomentarinya. Tetapi Grace tahu akan rambu-rambu yang harus sehingga tidak terperosok ke dalam jurang maut.


Sore itu Grace dan Dona pergi ke swalayan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tentu saja mereka harus meminta ijin karena itu sudah menjadi peraturannya. Harus tetap mengikuti aturan yang berlaku. Setelah mendapatkan ijin, mereka langsung berangkat tanpa menunda-nunda agar waktu yang diberikan cukup.


Sesampainya mereka di swalayan, mereka mencari keranjang dan siap untuk menulusuri gang-gang swalayan. Satu per satu mereka mengambil barang yang dibutuhkan seperti, sabun, sampo, pasta gigi, deterjen, dan keperluan wanita yang mendasar. Akhirnya segala kebutuhan mereka sudah masuk ke dalam keranjang. Tidak lupa dengan makanan khas ala anak-anak Kost, yaitu mie instan. Mereka tidak akan segan-segan untuk menyetok makanan favorit yang satu itu sehingga dikala kepengen makan, sudah tersedia.


Mereka mengecek lagi apa yang menjadi kebutuhan agar tidak kalang kabut saat dibutuhkan. Setelah yakin bahwa semuanya sudah tidak ada yang terlupakan, mereka berdiri di antara barisan untuk melakukan pembayaran. Tiba giliran mereka, petugas menempelkan alatnya di barang-barang belanjaan mereka. Terpampang sejumlah angka pada layar benda berbentuk persegi itu. Segitulah mereka harus mengeluarkan uang untuk membayar.


Selesai melakukan pembayaran untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari, mereka naik ke lantai dua untuk sekedar mencuci mata mereka. Dua pasang mata itu menoleh kanan kiri dan tangan kanannya menyentuh benda itu satu per satu , kali aja ada yang cocok sama barangnya dan isi sakunya. Setelah dari ujung lorong satu hingga ujung lorong yang terakhir, tidak ada satu pun barang yang cocok sesuai keinginan dan isi kantong, mereka keluar dari lorong itu dan menuruni tangga ke lantai dasar, dimana disana terdapat seorang satpam dan pintu keluar. Mereka menuju pintu yang terbuka itu dan melewatinya.


Untuk sampai ke asrama, mereka harus naik bus ke arah sana. Mereka menunggu bus itu kurang lebih hingga 10 menit. Setelah bus itu mulai mendekati mereka, dilambaikannya tangannya agar bus itu berhenti untuk membawanya.


10 menit perjalanan menuju asrama, mereka meminta kernet untuk menurunkan mereka tepat di gang yang menuju asrama. Sang kernet mengetukkan koin tanda bahwa ada yang mau turun. Sopir pun menghentikan laju busnya dan mereka menyerahkan sejumlah uang kepada kernet sesuai dengan tarif yang berlaku.


Mereka melewati gang dan beberapa rumah yang berjejer di pinggir gang itu, barulah mereka sampai di asrama yang ribut oleh suara yang melantunkan sebuah lagu yang diiringi dengan musik yang dipetik dan dipeluk itu.


**Hari ini, hari yang kau tunggu


Bertambah satu tahun, usiamu,


Bahagialah slalu


Yang kuberi, bukan jam dan cincin


Bukan seikat bunga, atau puisi,


Juga kalung hati


Maaf, bukannya pelit,


Atau nggak mau bermodal dikit


Yang ingin aku, beri padamu


Do'a s'tulus hati ...


Smoga Tuhan, melindungi kamu


Serta tercapai semua angan dan cita citamu


Mudah mudahan diberi umur panjang


Sehat selama lamanya.


Selamat ulang tahun yaaa...


Semoga panjang umur selalu.


Selamat Ulang tahun ...


Selamat Ulang tahun** ..


by. zamrud


Siapa yang ulang tahun? tidak ada. Mereka hanya menyanyikan saja. Karena kalau ada yang ulang tahun, pasti sudah sejak pagi tepung berhamburan dan air membasahi di berbagai tempat. Terkadang yang tidak berulang tahun pun akan mendapatkan jatah yang sama. Sudah pasti karena mereka saling kejar mengejar.


Sampailah Grace dan Dona di kamar untuk meletakkan barang-barang belanjaan mereka. Baru menaruhkan pantatnya di sisi ranjang sebentar saja, mereka sudah dipanggil Pak Charles.

__ADS_1


"Grace... Dona ... dipanggil Pak Charles di kantor." Kata seseorang suruhan Pak Charles.


Tanpa komentar dan pertanyaan kepada orang suruhan itu, mereka kembali mengangkat pantatnya dari kenyamanannya.


"Kenapa ya.... kalau soal keluar, kan sudah minta ijin!" pertanyaannya dalam hati.


Mereka pun sampai di depan kantor, mengetuk pintu yang terbuat dari kaca itu. Disana sudah terlihat ada Pak Charles.


"Silahkan duduk Grace ... Dona...." pinta Pak Charles yang masih membuat hati mereka bertanya-tanya, ada salah apa.


"Kalian tahu kenapa kalian Bapak suruh kesini ? tanya Pak Charles.


"Tidak pak." Serentak jawab mereka berdua.


"Grace apa benar kamu pacaran dengan Peter?." deggggg Grace terkejut dengan pertanyaan itu.


"Iya Pak." jawab Grace singkat.


"Dan kamu Dona, apakah kamu juga pacaran dengan Peter?" Dona yang awalnya menundukkan kepalanya dengan pelan ia mengangkat kepalanya.


"Iya pak." jawab Dona yang singkat juga.


"Kalau begitu kalian putuskan pacar kalian. Kalian harus fokus belajar. Jangan pacaran dulu." titah Pak Charles yang tidak ada tanggapan dari mereka berdua karena mereka juga masih terkejut dengan pertanyaan dan titah itu. Bagaimana mungkin mereka harus pupus dengan tiba-tiba. Sekalipun Grace menjalani hubungan yang tidak sehat, bukan berarti setega itu memutuskan karena Pak Charles yang menyuruh.


"Oke, kalian boleh pergi. Jangan lupa putuskan pacar kalian!" ucap Pak Charles yang dibalas dengan senyuman dan "Terima kasih pak." balas mereka.


Mereka pun beranjak dari kursi panas itu dan keluar ruangan. Saat di kantor, Grace tidak komentar apapun tetapi setelah keluar dari kantor, dia mengadakan pengumuman; "yang punya pacar harus putus." teriaknya yang tidak ada satu pun yang menanggapi kecuali Pak Charles yang mengekorinya itu tersenyum manis.


Grace dan Dona memiliki pacar yang mempunyai nama sama yaitu, Peter. Peter S, adalah pacar Grace sedangkan pacar Dona, Peter J. Biasanya Peter S, dipanggil Peter Sontoloyo dan Peter J, dipanggil Peter Jinton oleh teman-temannya.


Saat malam tiba, Grace belum bisa tidur memikirkan perkataan Pak Charles. Tetapi dia juga ingin mempertahankan hubungannya. Dia ingin berusaha untuk memperbaikinya. Walaupun Grace sedikit kelihatan kejam terhadap Peter tetapi dia juga masih mempunyai hati untuk tidak semudah itu menyakitinya.


Di asrama itu terdapat satu geng yang suka buat ulah, jahil dan kompak. Jahil mereka bukan saja kepada teman-temannya tetapi juga pembina.


Suatu ketika Pak Charles yang memiliki mobil baru itu dibawa ke asrama. Ide jahil mereka pun muncul. Salah satu dari mereka mengambil selembar kertas HVS dan menuliskan kata "Mobil dijual". Beruntungnya Pak Charles memiliki kesabaran tingkat tinggi sehingga dengan hal-hal seperti itu hanya dibalas dengan senyuman tipis.


Geng yang isinya semua laki-laki ini benar-benar bikin heboh satu asrama. Mereka mendesain kamar mereka dengan rapi dan sedikit lebih baik dibandingkan yang lainnya. Jika ingin masuk ke kamar mereka, harus dengan mengucapkan kata kunci yang sudah mereka sepakati. Itulah mengapa beberapa anggota asrama putri yang juga pengen dekat dengan mereka karena kekompakan mereka.


Sore harinya, seluruh anggota geng memiliki rencana untuk ke sungai X bersama-sama. Banyak anggota di luar geng yang juga tertarik untuk bergabung bersama mereka, tidak terkecuali dengan Grace. Karena memang Grace juga dekat dengan beberapa dari anggota itu. Tetapi Grace tidak memiliki ketertarikan untuk menjalin hubungan dengan satu diantaranya karena masih berhubungan dengan Peter. Namun satu orang yang membuat Grace menarik perhatiannya, Anes. Tetapi Anes ini sepertinya sedang dekat dengan seseorang, teman sekelasnya yang memiliki program yang sama.


Hampir di setiap perjalanan, Grace semakin dekat dengan Anes. Mereka berdua sering berjalan beriringan. Tiba-tiba Grace merasakan sesuatu yang tidak enak dan sudah di ujung tanduk. Tidak bisa bertahan. Apalagi mereka berjalan sampai di kampung sebrang sungai X, kampungnya Wanto. Grace juga berharap cemas agar tidak melihat Wanto. Tetapi tidak disangka-sangka ternyata bertemu Alex dan Alex hanya sekedar menyapa.


Mereka berangkatnya memilih menyebrangi sungai. Sementara pulangnya memilih jalan menyebrangi jembatan setapak. Sedangkan jika mereka kembali ke jalan yang mereka lewati tadi semakin jauh karena mereka sudah hampir sampai di jembatan dan untuk sampai di asrama masih membutuhkan waktu hampir satu jam dengan jalan kaki.


"Bang, aku pengen buang air kecil ni.... sudah tidak tahan." ucap Grace.


Anes menyapukan matanya ke segala arah dan menemukan satu tempat yang agak tertutup oleh daun-daun dan pohon.


"Itu disana saja." tunjuk Anes yang dibalas muka bingung oleh Grace. "Nggak apa-apa. Aku jagain disini. Aku nggak lihat. Dari pada ditahan bikin penyakit." lanjutnya dan di'iya'kan oleh Grace. Grace pun berjalan ke arah dedaunan itu sambil menengok ke segala arah memastikan bahwa tidak akan ada orang yang melihatnya.


"Udah?" tanya Anes saat Grace muncul dari dedaunan itu.


"Hehehe sudah. Terima kasih sudah jaga. Lega rasanya." jawab Grace sambil unjuk gigi.


"Ayo jalan, mereka sudah agak jauh di depan." ajak Anes. Grace merasakan kenyamanan saat bersama Anes. Berbeda saat bersama Peter. Tetapi Grace tetap menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta pada Anes. Apalagi sepertinya ada seseorang yang mendekati Anes. "Kalau Anes suka dengan cewek itu seharusnya ketika mereka jalan, pasti beriringan. Tapi kok tidak. Malah jalan di dekatku?" pikir Grace yang mencoba menggali jawaban dari pikirannya sendiri.


Mereka berdua semakin melajukan langkahnya agar bisa menyusul anggota yang lain.


"Kalian dari?" tanya seseorang dari mereka.

__ADS_1


"Grace buang air." jawab Anes


Dengan hati-hati mereka melewati jembatan setapak yang dilewati para pesepeda motor itu dan yang membuat mereka terheran adalah keberanian mereka untuk menyebrangi jembatan yang sedikit rapuh itu. Sedangkan mereka sendiri agak was-was kali aja jembatannya roboh dan mereka tercebur ke sungai.


Setelah mereka melewati jembatan setapak itu, mereka bertemu dengan jalan setapak di pinggir lapangan. Mereka menelusuri jalan itu sambil bercanda tawa. Sesekali kaki-kaki itu menendang kerikil di depannya. Sesekali juga tangan-tangan itu meraih dedaunan yang di pinggir jalan dan merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil.


Tidak terasa gerombolan itu sampai di asrama. Masing-masing masuk ke kediamannya. Cerita demi cerita keseruan mereka saat berjalan ke sungai X tadi mereka suarakan. Sejenak Grace melupakan Peter dan bahagia bersama geng itu.


Langit sudah berubah menandakan bahwa malam akan tiba.


"Grace ada kenalanmu dari sungai X di depan gang?" kata seseorang yang membuat Grace terkejut.


"Kenapa orang ini di depan?" gumam Grace sambil berjalan ke arah kamar Yustina untuk mencari keberadaannya. Matanya menyapu bersih kamar itu dan menemukan orang yang dia cari.


"Yus, ayo ke depan sebentar." ajak Grace yang diikuti Yustina di belakangnya.


Mereka pun keluar asrama menuju gang depan pinggir jalan raya. Kesitu sudah ada dua orang yang dimaksud. Terkejutnya lagi ada Yanto juga. "Mereka habis ngobrol?" pikir Grace.


"Kenapa malam-malam kesini?" tanya Grace kepada kedua orang itu.


"Ingin bertemu kalian." jawab Wanto.


"Maaf, kami tidak bisa lama-lama karena harus belajar." pamit Grace.


"Sebentar saja." pinta Alex.


"Maaf, kami harus segera kembali ke asrama." pamit Grace lagi yang sudah pasang wajah tidak bersahabat.


"Boleh kami masuk?" tanya Wanto.


"Maaf, orang luar tidak diperbolehkan masuk." tegas Grace. "Ya sudah, kami masuk. Selamat malam. Ayo, Yus. Ini jam belajar." lanjut Grace yang menarik tangan kiri Yustina dan meninggalkan tempat itu meskipun sesampainya di asrama belum tentu juga mereka belajar. Yustina pun menuruti Grace karena tidak mau membuat masalah.


Setelah Wanto & Alex tidak terlihat lagi oleh 2 pasang mata itu, Grace melepaskan tangan Yustina. "Tidak usah temui mereka lagi. Nanti mereka nekat." ucap Grace. "Iya kak." jawab Yustina. Sebenarnya Yustina juga tidak memiliki perasaan dengan Alex. Seperti dengan Grace, Yustina hanya ingin berteman saja tetapi mereka menanggapinya berbeda.


Grace mulai was-was atas sikap Alex dan Wanto, terutama pada Wanto. Sepertinya dia akan melakukan segala cara agar tujuannya tercapai. Hal itu yang membuat Grace juga memutuskan berhenti untuk pergi ke sungai X kecuali jika laki-laki di antaranya. Pasti mereka akan melindunginya, pikir Grace. Grace mencium bau-bau ketidakberesan dalam hati Wanto. Dari sikap Wanto selama ini sangat terbaca bahwa dia punya hati kepada Grace. Demikian juga dengan Alex.


"Lebih baik kita jangan ke sungai X berdua saja kecuali jika ada laki-laki yang ikut dengan kita. Waspada saja. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." ujar Grace.


"Baik kak." jawab singkat Yustina.


Mereka pun masuk ke asrama dan ke kamar masing-masing.


*Manusia membutuhkan rambu-rambu agar bisa membatasi diri dan tidak melakukan kesalahan fatal, yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Gunakan kebebasanmu untuk melakukan hal-hal yang terpuji bukan menjadi batu sandungan.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....


Semoga hari kalian menyenangkan...


Mari saling mendukung dalam berkarya....

__ADS_1


__ADS_2