
Dengan seiringnya adanya kegiatan-kegiatan yang Grace ikuti, perlahan dia bisa melupakan Wanto dan Wanto pun sudah berhenti untuk mengejar Grace. Begitu pula dengan hubungannya dengan Peter. Grace sudah merasa terbiasa menjalani hari-harinya tanpa Peter.
Peter pernah menelepon Grace melalui telpon asrama, tetapi Grace enggan untuk menerimanya. Peter juga pernah datang mengunjungi Grace namun Grace mengabaikannya dengan pura-pura tidur. Peter membelai kening dan rambutnya yang berantakan tergeletak di bantal itu. Tapi Grace sama sekali tidak berkutik. Sebenarnya Grace tipe orang yang sensitif saat tidur. Dia akan mudah terbangun hanya dengan suara lirih apalagi sampai dibelai, tidak mungkin tidak bangun. Dia hanya pura-pura pulas tidur karena malas untuk bertemu Peter.
Memang hati Grace sedikit kejam dengan orang yang tidak disukainya tapi belum waktunya untuk memutuskan. Grace tahu jika nanti minta putus, akan membuat Peter benar-benar stress. Bisa jadi lebih stress saat dengan mantannya. Grace ingin mencari waktu yang tepat.
Dengan modal tampang Peter saja sebenarnya bisa mencari pacar yang lebih dari Grace. Tapi karena Peter sudah terlanjur cinta dan dia adalah tipe orang setia maka dari itu tidak akan mudah baginya untuk berpaling.
Semua peserta pecinta alam sedang mempersiapkan diri untuk berangkat. Begitu juga dengan Grace. Grace menyiapkan mie instan, air meneral dan pakaian yang akan dikenakan dipastikan bahwa cukup untuk membuatnya sedikit hangat dan tidak menyulitkan saat mendaki nanti.
Untuk kesempatan perjalanan pertama kali ini ada 23 orang termasuk Pak Londa & pembina pecinta alam yang akan menjadi guide, perempuan hanya ada 5 orang termasuk Grace.
Setelah semua berkumpul di depan asrama, mereka berdoa bersama-sama untuk meminta perlindungan dari Tuhan saat dalam perjalanan menuju kaki gunung hingga saat menuju puncak dan turun dari puncak.
Pembina pecinta alam juga menjelaskan Medan yang akan mereka lewati, kemungkinan yang mungkin terjadi dan cara mengatasinya, apa saja yang tidak boleh dilakukan saat mendaki dan bagaimana keadaan di puncak nantinya.
Dengan sangat antusias sore mereka berangkat dari asrama karena mendaki akan dilakukan pada waktu malam hari. Ada sukacita kegirangan dari hati mereka.
Mobil yang mengantar mereka telah siap menampung mereka. Satu per satu barang bawaan dinaikkan dan satu per satu mereka mengambil posisi yang nyaman agar tidak cepat capek sebelum waktunya.
Jalan lurus, jalan menurun, jalan menanjak dan jalan berliku-liku telah mereka lewati hingga akhirnya mereka sampai di kaki gunung, pos loket masuk.
Mereka turun dari mobil dan semua barang diturunkan. Kemudian dipastikan lagi tidak ada barang yang tertinggal di dalam mobil. Lalu mereka berkumpul di basecamp untuk menerima instruksi dan melakukan pendaftaran serta pembayaran.
Setelah urusan di loket selesai, Mereka berdoa lagi untuk pendakian meminta perlindungan dan kekuatan dari Tuhan. Kurang lebih pukul 21.00 mereka berangkat mendaki ke gunung Lawu.
Gunung Lawu merupakan gunung berapi yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketinggian Gunung Lawu mencapai 3.265 mdpl dan menjadikannya sebagai gunung tertinggi kelima di Pulau Jawa. Gunung Lawu memiliki tiga puncak yaitu Puncak Hargo Dalem, Hargo Damiling, dan Hargo Dumilah.
Dari basecamp kami berjalan sekitar 2 jam sudah sampai di pos 1, sebuah tempat bernama Taman Sari Bawah yang berada pada ketinggian 2.237 mdpl. Saat berada di pos 1, mereka beristirahat sebentar untuk membasahi tenggorokan mereka dengan air mineral yang mereka bawa agar mendapatkan energi menuju pos 2.
Perjalanan berlanjut menuju pos 2, track semakin menanjak, pemandangan berupa hutan yang rimbun, tercium bau belerang dan terkadang suara gemuruh kawah Candradimuka terdengar di telinga. Waktu tempuh perjalanan ini sekitar 1,5 jam. Mereka pun istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga lagi.
Setelah berjalan sekitar 3 jam, maka mereka sampai di pos 3 yang ditandai dengan adanya bangunan kecil, hanya mampu menampung 1 tenda saja. Saat berada di pos yang bernama Penggik ini, mereka dapat melihat pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Grace pun terpukau melihatnya.
Menuju pos 4, masih berupa tanjakan yang lumayan menguras tenaga, mengitari sebuah bukit, disitu terdapat bunga Edelweis di pinggiran track. Di tengah perjalanan, mereka menemukan Sendang Panguripan, sebuah mata air yang sangat jernih dan menyegarkan dan dianggap keramat oleh sebagian masyarakat lereng gunung Lawu. Di Pos empat ini mereka berhenti dan menikmati mie instan yang mereka bawa dan memasaknya dengan peralatan sederhana yang mereka bawa sambil membuat minuman hangat.
"Wihhhhh..... langsung dingin ini mie dan airnya." komentar Grace saat menikmati mie yang baru keluar dari tungku api itu.
Setelah makan dan minum, mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju pos lima.
Setelah berjalan sekitar 1,5 jam, mereka sampai di pos 5, satu-satunya pos pendakian di gunung Lawu yang tidak memiliki bangunan. Di Pos ini mereka juga dapat melihat pemandangan yang sangat indah dan bunga Edelweis terbentang begitu indah yang membuat Grace tertarik untuk memetiknya. Pos dengan nama Perapatan ini merupakan persimpangan jalan. Arah kanan menuju Hargo Dumilah, kiri ke Hargo Tiling dan Lurus untuk menuju Hargo Dalem.
Dari pos 5 menuju puncak Dalem menempuh perjalanan kurang lebih selama 30 menit. Sampailah mereka di puncak Hargo Dalem, di sana terdapat petilasan Prabu Brawijaya dan warung Mbok Yem yang legendaris. Disitu juga ada sebuah warung yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman.
__ADS_1
Perjalanan menuju puncak tertinggi gunung Lawu merupakan perjalanan yang sangat berat bagi mereka terutama bagi Grace. Mereka harus menyusuri jalanan dengan kawah di sebelah kiri dan jurang di sebelah kanan. Harus hati-hati saat memilih pijakan. Disinilah Grace sempat salah pijak dan hampir terperosok ke jurang padahal dia yang sebelumnya memperingatkan temannya kalau ada jurang. Beruntung salah satu teman di belakangnya siap siaga sehingga langsung memegang tangan Grace. Grace pun terselamatkan. Waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit.
Akhirnya sampailah mereka di puncak gunung Lawu.
"Waaawwww.... sungguh indah ciptaan Tuhan." gumam Grace yang takjub melihat pemandangan ke segala arah.
Cuaca dingin merasuk menembus hingga ke tulang-tulang. Pakaian yang Grace kenakan tidak mampu menghangatkan. Dan Grace selalu punya ide gila. Dia masuk ke sarung adek kelasnya untuk mencari kehangatan. Satu sarung berdua.
Grace sangat menikmati ketika disuguhkan matahari terbit dari sebelah timur. Dia benar-benar kagum akan pemandangan itu.
"Keindahannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sungguh luar biasa. Terima kasih Tuhan atas kesempatan untuk menikmati keindahan ini." ucap Grace dalam hati yang kagum akan keindahan alam yang memanjakannya.
Sebagai kenangan, mereka pun mengabadikan dengan berfoto bersama. Tidak terkecuali dengan Grace dan Indra. Indra mengajak Grace untuk berfoto berdua.
"Grace foto yuk." ajak Indra yang langsung dijawab Grace dengan mendekatkan diri.
Saat kamera di arahkan pada mereka, tiba-tiba Indra mengangkat tangannya ke bahu Grace dan membuat Grace terkejut. Beruntungnya hanya sekali mereka melakukan prosesi berfoto itu.
Setelah dirasa puas menikmati pemandangan di puncak Lawu, akhirnya rombongan ini memutuskan untuk turun agar saat sampai di basecamp tidak terlalu larut.
"Oke semuanya kumpul... kita akan turun sekarang. Tetap bersama-sama ya. Jangan mencar. Kita berdoa dulu." ucap pembina yang memberikan peringatan singkat.
Mereka turun pada siang hari sehingga tidak terlalu kesulitan untuk melewati setiap jalan yang mereka lalui.
Saat dalam perjalanan, Indra selalu berjalan di sisi Grace yang membuat Grace bertanya-tanya kenapa Indra selalu di sampingnya. Padahal selama ini, mereka tidak cukup dekat. Apakah ada perasaan yang terpendam untuk Grace selama dalam perjalanan? Grace menepis semua pemikirannya karena hubungannya dengan Peter juga belum berakhir. Tapi Grace masih penasaran dengan sikapnya. Terkadang Indra juga mengajak Grace berbicara saat di perjalanan.
"Ayo semangat. Tinggal dikit lagi sampai di bawah." Kata Pak Londa dengan menarik tangan Grace.
Grace sepertinya mendapatkan sumbangan tenaga dari Pak Londa hingga akhirnya bisa sampai di basecamp lagi dengan selamat.
Sesampainya di basecamp, mereka beristirahat sebentar untuk meregangkan otot-otot dan menambah tenaga untuk pulang. Ada sukacita kemenangan dan keberhasilan dari wajah mereka yang sudah menaklukkan gunung Lawu tersebut. Ada sedikit perasaan bangga dalam hati meskipun capek yang dirasa.
Mobil cateran sudah datang untuk membawa mereka kembali ke asrama. Mereka pun masuk ke dalam mobil itu. Setelah dipastikan semua anggota sudah masuk, mobil itu pun dikemudikan.
Jalanan yang menurun dan berliku-liku itu telah dilalui. Cerita demi cerita keseruan mereka saat di puncak menjadi warna dalam keheningan. Tetapi ada juga yang tertidur karena kecapekan.
"Saya turun di X ya pak..." ucap Grace kepada pengemudi.
"Baik." jawab pengemudi.
Saat hampir sampai di tempat yang Grace maksudkan, Grace kembali memberitahukan kepada pengemudi agar tidak lupa. Butuh 5 menit setelah Grace memberitahu kepada pengemudi, akhirnya Grace pun sampai. Mobil yang melaju itu akhirnya berhenti.
"Terima kasih pak. Terima kasih semuanya. Sampai bertemu lagi." ucap Grace saat turun dari Mobil.
__ADS_1
Grace tidak ikut kembali ke asrama karena esoknya harus ke gereja. Sehingga Grace pulang ke tempat saudaranya agar besok pagi minta tolong untuk di antar.
Setelah jalan selama 15 menit dari jalan raya, akhirnya Grace sampai di rumah saudara sepupunya. Kakak sepupu laki-laki Grace hampir mirip dengan Yusak. Saat melihat kakak sepupunya itu, Grace sempat teringat dengan Yusak yang sudah tidak ada lagi di asrama karena sakit sehingga sudah kembali ke kotanya.
Satu malam Grace menginap di rumah itu dan paginya di antar kakak sepupunya sampai di gereja seperti keinginan Grace. Grace memang selalu menghabiskan weekendnya di rumah dan akan ke gereja di kampungnya.
Weekend telah berakhir. Waktu bersama teman gerejanya dan keluarganya sudah berakhir. Senin pagi Grace harus kembali ke asrama untuk melanjutkan sekolahnya.
Grace pun tiba di asrama untuk berkumpul dengan teman-temannya dan kembali ke aktivitasnya yang sesungguhnya. Terlintas Grace melihat Indra bersama dengan adek kelasnya.
"Ternyata sudah punya pacar? itu pacarnya?" tanya Grace bertubi-tubi dalam hati. "Aku harus menyelidiki dan memastikan, apakah ini benar? Jika ini benar, mengapa saat di puncak dia berjalan di sampingku, foto bersama bahkan tangannya bertengker di bahuku?" ucap Grace semakin penasaran. Bukan karena dia cemburu. Lebih tepatnya ada apa dengan Indra.
Setelah beberapa hari diperhatikan, dugaan Grace benar bahwa Indra memiliki hubungan dengan cewek itu. Itu terlihat jelas. Mereka sering duduk bersama, jalan bersama bahkan baju Indra dicuci sama perempuan itu.
"Oh, baguslah mereka pacaran. Penasaranku sudah terjawab siapa pacar Indra sebenarnya." gumam Grace yang membuatnya akhirnya puas karena sudah menemukan jawaban.
Akhirnya mereka mencetak foto hasil jepretan yang mereka lakukan di puncak. Grace pun melakukan yang sama. Tetapi Grace hanya mengambil foto yang semua anggota ada dan foto berdua bersama dengan Indra. Itu cukup untuk kenang-kenangan nanti bahwa ia pernah menaklukkan gunung Lawu.
Setelah Grace melihat hasilnya, "Puas banget. Bagus. Keren. Hahaha ini.... luar biasa. Hah, ini aku yang pakai sarung dan penutup kepala." gumam Grace mengomentari fotonya.
Setelah melihat fotonya bersama Indra, wajahnya berubah agak mengkerut.
"Bagaimana mungkin kemarin bisa berfoto dengan dia. Ah, ini tangan sembarangan taruh di bahu orang. Mungkin bagi dia sudah biasa tetapi bagiku mengundang seribu arti ini. Padahal dia sudah punya pacar. Kalau pacarnya tahu gimana? Apa nggak ngamuk? Tapi pacarnya sepertinya pendiam deh ..." komentarnya lagi melihat foto kedua.
Setelah kembali ke asrama, perasaan Grace lebih senang. Pertama, karena Peter sudah tidak ada, jarang menghubungi dan jarang datang. Kedua, karena Wanto sepertinya sudah menyerah. Jika soal Wanto, memang Grace tidak ambil pusing apalagi dia berbeda keyakinan, perokok dan pemabuk. Itu sangat bertentangan dengan kriteria dengan Grace
Tetapi soal Peter, Grace sempat mendengar kalau Peter disukai oleh seorang cewek di dekat asramanya. Kalau seandainya Peter berpaling, Grace akan relakan. Grace tidak mau repot-repot dan tidak mau mengurusi masalah percintaan. Apalagi harus berebut. Lebih baik ngalah dan ambil saja, pikir Grace. Bahkan Grace pun siap mundur dari hubungannya dengan Peter.
*Tuhan punya cara agar ciptaan-Nya mengakui bahwa hanya Dialah yang mampu menciptakan dan memberikan keindahan tanpa batas.*
*Manusia harus terus berusaha menjalani hidup meskipun melewati jalan yang berliku-liku, menurun, menanjak bahkan terjal agar dapat menikmati keindahan saat di puncaknya.*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers...
Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....
Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....
Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....
Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan...
Mari saling mendukung dalam berkarya....